Tuesday, February 26, 2008

PLN lagi.....insentif DisinsentiF ?

Pagi sebelum saya berangkat kerja, saya menonton berita bahwa PLN akan memberlakukan program insentif dan disinsentif bagi pelanggannya khususnya rumah tangga. Bagi pelanggan yang memakai tidak lebih dari 75KWH per bulannya maka akan mendapat insentif sebaliknya yang menggunakan lebih dari 75KWH akan dikenakan disinsentif berupa yang gak jelas,tarif khusus mungkin. Dalam tayangan bagaimana tanggapan konsumen, seorang ibu rumah tangga mengatakan tidak setuju dan keberatan karena rasanya gak mungkin bisa berhemat sampai segitu dan itu hanya akal-akalan PLN saja katanya.

Kenapa seh akhir-akhir ini kita selalu diributkan masalah bidang energi? Mengapa baru terfikirkan sekarang? Terus selama ini ngapain saja? Apa program ini mendapat dukungan pemerintah melalui DPR? Apa program ini sudah terintegrasi secara sistemik diseluruh jajaran bidang usaha milik pemerintah lainnya. Secara sederhana saya bisa katakan bahwa masalah energi memang tambah pelik akhir-akhir ini karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Jawa dan Bali sangat rawan krisis pada akhir-akhir ini terutama PLTU karena tidak mampunya kapal tongkang memenuhi kuota aman untuk operasi PLTU. Nah lo....? Banyak yang menyayangkan hal ini karena cuaca kan bisa diprediksikan jauh hari melalui BMG. Inilah salah satu jawaban yang saya pertanyakan di atas.

Dari sisi politis saya menilai keadaan yang memanas ditingkat bawah akibat tidak menentunya keadaan ditambah dengan proses mendekati pemilu membuat saya menilai lain. Walaupun harus diakui bahwa pemerintah sebenarnya tidak tegas dalam menerapkan kebijakannya untuk penghematan energi, semisal saja bahwa setiap kantor harus memiliki bus karyawan sendiri dan karyawan dilarang menggunakan mobil pribadi untuk ke kantor tetapi memang harus dibarengi dengan fasilitas yang memadai terutama transportasi publiknya. Ini saja gak bisa...koq !

Proses penghematan energi tidak semudah yang kita bayangkan karena anak bangsa ini sudah terbiasa boros karena mencontoh pemimpinnya juga. Seperti kata pepatah 'Pemimpin kencing berdiri rakyat kencing sprint'. Disisi lain apa pernah anak anak SD diajari cara berhemat untuk bidang apapun? Karena itulah nanti potret bangsa 15 tahun ke depan.

Saya cuma berfikir bahwa kitapun perlu mengkhayal bahwa PLN menerapkan model ponsel operator yang bisa beli pulsa untuk beli listrik. Jadi rumah tangga bisa beli listrik 75KWH perbulan dan bila itu habis maka gelap lah rumahnya. Apa mungkin ? Atau listrik ditransfer seprti frekuensi ke rumah-rumah begitu ya...???

Apapun namanya program penghematan ini bila tidak dikaji secara matang akan selalu menjadikan kami rakyat-rakyat kecil menjadi korban karena rakyat selalu menjadi bahan 'kambing congek' percobaan kebijakan petinggi di pusat. Jangan salahkan rakyatnya bila nanti mereka bedemo dan meminta pemerintahan yang sah dibubarkan saja dan mereka minta merdeka sendiri-sendiri. Bukankah pemerintahan itu sah bila diakui rakyatnya?

Itu tadi fikiran ekstrim, tapi apapun itu mbok ya tolonglah dikaji secara matang jangan sampai seperti pengalihan bahan bakar minyak tanah ke gas sekarang ini yang banyak menimbulkan masalah....siapa yang jadi korban ? Ya...rakyatnya lah...
Bila pemerintah tak pernah memikirkan rakyatnya dan tidak pernah mendengarkan mereka percayalah dengan tulisan saya ini...negara ini akan selalu begini sampai kiamat dan tidak akan pernah maju dan berubah...

Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kami pemimpin pemimpin yang amanah bukan pemimpin yang serakah. Ya Allah...ambil dan cabutlah pemimpin pemimpin kami yang serakah dan tidak mendengarkan rintihan rakyatnya sekarang dari bumi Indonesia ini dan jadikanlah mereka penghuni kubur dengan siksa yang berat sampai nanti menunggu hari kebangkitan yang Kau janjikan, amiinnnn...

2 comments:

Anonymous said...

Sebenarnya kalau mau keluar dari massalah beban listrik disubsidi terus menerus solusinya gampang: pemerintah dan PLN tinggal beralih dari pembangkitan listrik berdasarkan bahan bakar, ke sumber-sumber lainnya yang gratisan.

Indonesia kaya akan panas bumi, bahkan katanya bagaikan Iraknya dunia kalau soal geothermal. Jadi PLN tinggal membangun pembangkit listrik geothermal di berbagai daerah di seluruh nusantara. Lalu calon pelanggan yang tinggal jauh di pedalaman, yang tidak terjangkau kabel PLN, bisa pakai listrik tenaga surya.

Kalau sudah begitu, listrik nggak perlu disubsidi lagi, karena tetap murah (biaya hanya untuk peralatan yang mengubah panas bumi jadi menggerakkan turbin PLN, panas buminya sendiri gratis), tidak tergantung harga BBM, dan tidak akan terganggu pasokan BBM! Harga BBM mau naik terus, harga listrik tidak boleh ikut-ikutan.

Nah, subsidinya bisa disalurkan untuk Depdikbud, buat menggaji guru lebih baik dan membuat sekolah jadi gratis buat seluruh generasi penerus kita.

Kapan kita punya pemerintah yang bijaksana? Kalau sudah menyadari uang rakyat itu bukan dana nganggur, yang boleh dibawa pulang, atau hangus kalau tidak dipakai sendiri...

Anonymous said...

Sebenarnya kalau mau keluar dari massalah beban listrik disubsidi terus menerus solusinya gampang: pemerintah dan PLN tinggal beralih dari pembangkitan listrik berdasarkan bahan bakar, ke sumber-sumber lainnya yang gratisan.

Indonesia kaya akan panas bumi, bahkan katanya bagaikan Iraknya dunia kalau soal geothermal. Jadi PLN tinggal membangun pembangkit listrik geothermal di berbagai daerah di seluruh nusantara. Lalu calon pelanggan yang tinggal jauh di pedalaman, yang tidak terjangkau kabel PLN, bisa pakai listrik tenaga surya.

Kalau sudah begitu, listrik nggak perlu disubsidi lagi, karena tetap murah (biaya hanya untuk peralatan yang mengubah panas bumi jadi menggerakkan turbin PLN, panas buminya sendiri gratis), tidak tergantung harga BBM, dan tidak akan terganggu pasokan BBM! Harga BBM mau naik terus, harga listrik tidak boleh ikut-ikutan.

Nah, subsidinya bisa disalurkan untuk Depdikbud, buat menggaji guru lebih baik dan membuat sekolah jadi gratis buat seluruh generasi penerus kita.

Kapan kita punya pemerintah yang bijaksana? Kalau sudah menyadari uang rakyat itu bukan dana nganggur, yang boleh dibawa pulang, atau hangus kalau tidak dipakai sendiri...