Sunday, December 28, 2008

PLAZA dan MASJID

Judul di atas saya ambil karena terinspirasi ketika saya ingin buang air besar sehabis dari bepergian menemani anak-anak saya untuk nonton film anak-anak yang sempat di lansir di media TV swasta.

Saya berusaha mengikuti kemauan anak-anak yang dalam pandangan saya itu positif untuk pengetahuan dan perkembangan jiwanya. Jadilah kami nonton sekeluarga. Sambil menonton saya tak henti-hentinya memberikan penjelasan kepada anak saya yang masih duduk dibangku sekolah dasar dan TK.

Dua jam tidak terasa kami lewatkan bersama di dalam cinema 21. Ketika film usai, saya sangat terdesak untuk melakukan kegiatan yang sangat alami...buang air kecil. Pergilah saya ke toilet yang kebetulan bersebelahan dengan Musholla. Wah nyaman rasanya memasuki toilet yang bersih, kering dan tidak berbau. Saya perhatikan ketika saya mengeringkan tangan pada alat pengering, di sana tertempel syarat-syarat sebuah toilet yang bersih, kering, bersih dan tidak berbau dan ada lagi satu saya lupa.

Setelah puas mengajak anak-anak ke toko buku dan bermain maka pulanglah kami. Celakanya ketika ditengah perjalan perut saya tidak bisa diajak kompromi...alahasil mampirlah saya di masjid besar yang tidak jauh dari tempat tinggal kami yah...kurang lebih 2,5 km. Saya langsung menuju ke toilet dan alamak...keinginan saya jadi tertunda karena begitu melihat kondisi toilet yang ada nafsu saya untuk membuang hajat jadi urung dan saya putuskan untuk cepat-cepat pulang ke rumah yang sudah tidak seberapa jauh.

Timbul lah fikiran dalam benak saya begitu jauhnya perbedaan antara toilet yang ada di plaza yang saya kunjungi dengan masjid besar yang saya hampiri tadi. Benak saya bermain walaupun di plaza setiap pengunjung di tarik Rp. 1000 sekali buang hajat itu sangat sebanding dengan kenyamanan yang mereka terima ketika mereka masuk ke toilet untuk membuang hajat.

Tulisan ini bukan untuk membandingkan antara kedua bangunan tersebut Plaza dan Masjid tetapi alangkah lucunya ummat Islam yang selalu diajarkan hidup bersih tetapi pengelolaan kebersihan toilet masjidnya seperti itu. Tulisan inipun menginspirasi saya bahwa sebenarnya banyak sekali masjid yang saya kunjungi tapi tolietnya jauh dari ajaran Islam yang selalu mengedepankan kebersihan. Kalau sudah begini sebetulnya ada yang salah dari ummat Islam di Indonesia.

Saya jadi berfikir apa karena takmirnya tidak diberi gaji yang layak seperti dinegara tetangga Malaysia yang katanya bayaran takmirnya perbulan bisa mencapai 5-7 juta rupiah. Wah kalau sudah membanding bandingkan begini jadi ruwet.

Ini hanya sekedar contoh dari hal-hal yang mungkin tidak terfikirkan oleh kita bahwa segala sesuatu itu hendaknya kita kelola dengan baik dan tentunya dengan mencari terobosan-terobosan baru dalam kehidupan ini sesuai dengan judul blog saya ini MANAJEMEN KEHIDUPAN.

Memang sepertinya sangat sulit untuk melihat kota-kota di negara ini bersih, teratur dan rapi karena kurangnya kesadaran dari masyarakatnya. Bagaimana tidak di Bali saja yang bersih-bersih pantai justru turis asing yang kasihan lihat pantai yang mereka kunjungi dipenuhi sampah? Artinya masyarakat kita itu masih bodoh-bodoh karena tidak bisa menghargai sang bumi yang begitu sabarnya karena telah kita injak-injak, kita kencingi, kita beraki, kita sakiti dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi karena katanya manusia itu mahluk yang tertinggi di muka bumi ini. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa bumi dan isinya ini selalu bertasbih ke pada sang Khaliq.

Ah aku tidak bisa membayangkan seandainya bumi ini marah lagi seperti tsunami di Aceh atas perintah Khaliqnya, mau apa kita?

Tuesday, November 25, 2008

NABIKU BERNAMA MUHAMMAD

Ah... ketika marak dan rame berita di televisi blog tentang kartun pelecehan Nabi Muhammad saw, pemerintah ikut ribut dan running text di salah satu tv swasta ada himbauan pemerintah untuk membuka identitas blogger pelecehan kartun nabi tersebut. Tak kurang pakar telematika Indonesia (entah siapa yang menjulukinya pakar) bung Roy Suryo memberikan komentarnya untuk menguak identitas diri blogger tersebut. Secara pribadi saya menyikapinya dengan adem ayem walau saya seorang muslim bukan karena saya tidak mencintai NABI yang diagungkan ummat Islam sak jagat ini, bukan. Tetapi saya ingin berfikir jernih.

Mari kita tengok lagi sejarah kehidupan Nabi, banyak sekali cerita yang menggambarkan bahwa Nabi dihina, di cerca bahkan di dera dengan pukulan tetapi Nabi sangat...sangat...sangat...(sangatnya banyak sekali pokoknya) bersabar. Kita tahu bagaimana sahabat sampai ikut geram dengan perlakuan kaum kafir. Apakah Nabi pernah marah? Kalau marah sih pernah tetapi marah yang bukan untuk hal-hal yang krusial untuk dakwah. Apakah Nabi pernah mendoakan kaum kafir agar celaka? Kalau itu juga pernah saya baca tetapi itu 'mungkin' sekali lagi 'mungkin' karena nabi merasa bahwa sudah sangat keterlaluan (tetapi saya tidak tahu tentang kesahihan sumbernya).

Yang sungguh fenomenal, adalah ketika sang malaikat Jibril marah dan geram melihat Nabi ketika diperlakukan oleh kaum kafir dengan tidak sepantasnya. Dalam dialog Jibril mengatakan "Ya Muhammad, minta saja apa yang kau inginkan untuk kaum kafir yang menganiaya mu itu. Apakah perlu aku tumpahkan gunung besar itu untuk mereka?". Nabi cuma menjawab kalem, "Biarlah Bril..Bril..mereka kan tidak tahu maksud saya menyampaikan Islam ini karena kalau tidak mereka, mungkin anak cucu mereka nanti yang akan terbuka mata hatinya".

Nah, dialog inilah yang membuat saya menyikapi segala bentuk penghinaan di dunia saat ini terhadap Nabi adem ayem saja. Pertama, Islam kan sudah dijamin Allah dalam kitab Qur'annya. Kedua, Semakin banyak orang mencaci dan benci kepada Islam dengan segala pernak perniknya justru membuat orang penasaran ingin mengetahui Islam dan sudah terbukti banyak yang akhirnya masuk Islam sendiri tanpa disuruh dan dipaksa. Ketiga, fenomena yang terjadi di dunia ini adalah bahwa banyak orang yang masuk Islam khususnya didunia barat adalah orang-orang yang terpelajar dan dari sisi ekonomi sudah mapan. Berbanding terbalik dengan di Indonesia ini, orang-orang yang murtad justru orang yang tidak berkecukupan dan dari sisi ekonomi bisa dikatakan 'gagal' (saya tidak punya data untuk ini hanya berdasarkan pengamatan dilapangan).

Kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan sebagai muslim yang waras? Perjuangan tiada henti sampai kita masuk ke liang lahat alias kubur. Kacamata analisis saya adalah, dengan jumlah muslim terbesar di dunia tetapi hidup dalam negara yang bukan negara agama (Islam) maka ini adalah makanan empuk bagi kaum orientalis dan zionis untuk memecah konsentrasi ummat Islam untuk membangun peradaban di Indonesia bahkan di dunia ini menuju apa yang sudah dinubuatkan Nabi yang sering dikumandangkan Hizbut Tahrir (tebak sendiri).

Bagi dunia sana, yang takut Islam maju di Indonesia dan memandang bahwa Islam itu berbahaya bagi perkembangan dunia jelas...bahwa salah satu caranya adalah merusak konsentrasi ummat dengan cara menghina Nabi yang mereka cintai yaitu MUHAMMAD SAW. Apapun akan mereka lakukan karena memang Indonesia adalah sasaran empuk untuk itu karena ummat Islamnya masih banyak yang GOBLOK (maaf lo kalau sedikit kasar). Inilah sebetulnya tugas kita, memintarkan ummat ISLAM itu agar tidak mudah terpancing emosinya hanya untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting. Maaf, kalau saya katakan tidak penting karena NABI saja dihina lebih parah dari itu masih sabarrr......sekali. Jadi saya berfikir apa ini yang dikuatirkan Nabi ketika beliau mau meninggalkan dunia yang fana ini dengan berkata "ummati...ummati...ummati...". Beliau mungkin sudah bisa melihat ke depan bahwa banyak ummatnya di Indonesia ini GOBLOK-GOBLOK sehingga perilakunya tidak membuat orang simpati pada ISLAM agama yang di ridloi ALLAH. ALLAHU AKBAR!

Analisis lain adalah bukankah kita tahu suhu politik di negara ini semakin memanas menjelang pemilu 2009. Bukankah kita tahu bahwa suara ummat Islam itu diperebutkan. Bukankah kita tahu bahwa ummat Islam di negara ini juga terpecah-pecah dalam beberapa partai yang sudah menjadi agama baru itu?

Kepedulian pemerintah dalam running text di salah satu televisi swasta seperti yang saya sebutkan di atas tadi adalah bukti bahwa pemerintah sedang menebar simpati pada ummat Islam. Sudah tentu tujuannya adalah 'tolong dong dukung kami untuk pemilu 2009' (mohon maaf ini kan analisis politik jadi asumsi asumsi seperti itu bisa saja muncul ke permukaan dan bukan barang baru lagi untuk negara Indonesia ini).

Jadi bisa saja blogger itu adalah orang dari partai tertentu, kemudian pemerintah menghimbau untuk membuka identitas blogger untuk merebut simpati dan ujung-ujungnya waktu kampanye politik nanti meminta dukungan pada ummat Islam yang 'terserak' dinegeri ini karena sudah merasa membela ummat (walau sesa'at) melalui sentimen pelecehan Nabi.

Ah...mudah-mudahan analisis saya tidak terlalu naif untuk negeri yang subur dan masyarakatnya banyak yang tidak sejahtera ini karena saya bukan seorang pakar politik dan lulusan fakultas ilmu sosial dan politik universitas terkenal yang banyak melahirkan analis-analis politik. Semoga keliru...masak keliru gak boleh. Wong Gus Dur menghimbau GOLPUT saja gak ditangkap dan tidak ada yang berani menangkap walau sudah ditantang di media oleh GUs Dur.

Hei...kamu kan bukan Gus Dur GOBLOK! Oh iya lupa.....

Saturday, October 18, 2008

HAJI DAN PERUBAHAN

Dalam kesempatan menghadiri undangan kenduri teman yang akan berangkat haji tahun ini, saya sempat tercenung dengan tausiyah yang diberikan oleh ustad mengenai haji yang merupakan ibadah istimewa ini. Mengapa istimewa? Karena sudah dijanjikan melalui hadits Rasul bahwa pahala orang yang berhaji bila memang niatnya untuk ibadah dan berziarah ke Mekkah dan Madinah karena ALLAH akan mendapat ganjaran yang berlipat-lipat dibanding bila kita beribadah di tanah air atau di rumah sendiri.

Yang membuat fikiran saya lari kemana-mana setelah mendengar tausiyah tersebut adalah, mengapa kok orang Indonesia itu berangkat haji pada saat sudah berusia (tua)? Padahal dalam tausiyah tersebut jelas sekali disinggung bahwa bila mendapat predikat haji mambrur maka Insya Allah perilakunya akan bertambah baik sepulangnya dari haji. Ini menarik untuk dikaji. Mengapa karena di Indonesia ini dengan mayoritas penduduk muslim fenomena haji selalu menjadi polemik setiap tahun, mulai kuota jamaah haji, sampai tender transportasi pengangkut jammah haji bahkan sampai pengelolaan katering di tanah suci sana. Banyak peluang ‘madu’ disini.

Tetapi bila kita berfikir tentang pertanyaan yang bermain-main di kepala saya tadi mengapa kok berangkat haji nunggu tua dulu? Maka ini ada kaitannya dengan ketersediaan ongkos untuk berangkat haji yang setiap tahun terus meningkat yang berkaitan pula dengan penghasilan dari profesi sang jamaah. Syukur akhir-akhir ini banyak yang muda-muda sudah berangkat haji.

Sebetulnya esensi dari pertanyaan saya tadi bukan berangkat hajinya tetapi adalah predikat haji mabrur nya seperti yng disampaikan ustad di atas tadi. Dengan predikat tersebut sangatlah masuk akal bahwa akan membuat sebuah gelombang perubahan di tanah air tercinta ini. Mengapa saya katakana begitu? Karena dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dan selalu terpenuhinya kuota pada tiap musim haji tentu seharusnya dapat membuat gelombang perubahan dalam kehidupan secara simultan bila dikaitkan dengan jumlah jamaah yang berangkat tiap tahunnya.

Tetapi apa lacur, yang terjadi adalah Indonesia semakin terpuruk dari sisi moral walaupun ada perbaikan disana sini dengan lambat akhir-akhir ini. Apa predikat Indonesia di mata dunia? Negara korup papan atas. Bahkan sudah bukan rahasia umum bahwa TITEL HAJI merupakan kebanggaan tersendiri layaknya TITEL DOKTOR dan bahkan katanya…katanya lo ya bila ingin menduduki jabatan tertentu titel haji tersebut semacam aturan tidak tertulis. Bahkan ada rektor yang tidak mau di tulis titel akademiknya di ijazah mahasiswa tetapi minta ditulis titel H nya alias HAJI.

Inilah warisan FEODAL yang masih melekat pada anak bangsa ini. Karena tidak ada sesi tanya jawab dalam kenduri tersebut saya tidak mengajukan pertanyaan mengenai titel haji ini karena muslimin dan muslimat di belahan Eropa atau Amerika sekalipun tidak pernah mencantumkan TITEL HAJI ini walaupun mereka sudah berziarah ke tanah suci ? Aneh bukan?

Sekarang mari kita tengok bukti empiris di lapangan tentang HAJI ini. Tidak sedikit gubernur atau bupati yang bertitel HAJI masuk penjara. Anggota DPR yang bertitel HAJI masuk bui. Di Jawa Timur banyak orang yang bertitel HAJI ternyata perilakunya preman dan mendukung organisasi tertentu yang identik dengan organisasi yang bergerak di bidang ‘kekerasan’. Kalau begitu HAJI itu apa seh? Teman saya yang lebih mengerti bilang bahwa haji itu ya ‘ZIARAH’ dengan keistimewaan pelipat gandaan pahala yang diperoleh karena keistimewaan tempat. Lha kalau begitu Mambrur itu terus apa?
Fikiran saya terus bermain main mengingat-ngingat tausiyah sang ustad tentang mambrur tadi…jadi kalau begitu…jangan jangan HAJI-HAJI di INDONESIA ini banyak yang TIDAK MAMBRUR alias HAJI MABUR (hehehe) karena niat keberangkatannya untuk menduduki posisi tertentu, karena niat keberangkatannya untuk prestis di mata masyarakat, karena niat keberangkatannya untuk syarat bisa beristri lagi (pada etnis tertentu), karena….karena…

Benarlah apa yang dikatakan RASUL bahwa pada akhir zaman nanti ummatku akan berjumlah banyak tetapi seperti buih dilautan. Mungkin ini salah satunya seperti yang terjadi di INDONESIA musliminnya banyak, kuota haji tiap tahun selalu terpenuhi bahkan untuk tahun depannya TETAPI….imbasnya untuk perubahan bangsa karena kuatnya pendirian dalam memegang nilai-nilai syariat perlu dipertanyakan?

RABB sesungguhnya Engkau sangat mengetahui isi hati kami…berikanlah kemudahan kepada teman kami, luruskanlah niatnya dalam ziarah istimewa tahun ini, dan jadikanlah ia haji yang mambrur yang dapat membawa perubahan pada lingkungan dimanapun dia berada kearah yang lebih baik lagi, mudahkanlah perjalanannya dan berikanlah keselamatan kepadanya sampai musim haji berakhir dan tiba di tanah air kembali.
RABB berikanlah pula panggilan kepada kami dan teman-teman kami yang lainnya diusia muda untuk berziarah ke tanah suci tempat yang Engkau istimewakan dan jadikanlah haji kami haji yang mambrur sehingga di sisa usia kami, kami menjadi bermanfaat bagi ummat dan dapat membawa gelombang perubahan kearah yang lebih baik dari sekarang ini. Wahai RABB yang menguasai langit dan bumi berikanlah pula hal yang kami minta pada Mu kepada jamaah haji INDONESIA seluruhnya yang berangkat pada musim haji tahun ini, amiin yaa Robbal ‘alamiin.

Selamat jalan teman….

Thursday, October 16, 2008

PADI PULITIK ??

Sebagai bangsa yang secara geografis condong ke agraris kita lupa akan akrarnya. Bagaimana tidak saya sering berjalan-jalan dan melihat bagaimana sawah-sawah produktif sudah berubah dan disulap menjadi bangunan pencakar langit dengan nilai jual yang selangit untuk ukuran kantong pegawai negeri atau petani.

Ras Asia yang dominan menyantap nasi sebagai bahan pokoknya setelah diolah dari beras tentulah perlu memikirkan ke depan nanti bagaimana ? Apalagi diversifikasi pangan belum menunjukkan hasilnya sehingga mayoritas bangasa ini masih suka menyantap nasi dan ada istilah "kalo gak makan nasi rasanya gak kenyang".

Terkait dengan nasi yang awalnya dari padi, tentulah kita memerlukan lahan untuk menanamnya agar dapat menghasilkan beras yang berkualitas. Pak tani yang setia dengan profesinya masih berusaha untuk bertahan dengan lahannya yang terkadang tidak menghasilkan keuntungan karena mereka selalu dipolitisasi. Saya masih ingat ketika dulu mengambil kuliah ekonomi pertanian, ada buku karangan Prof. Soekartawi yang sering bolak balik Malang - Philipina. Disitu dijelaskan dengan grafiknya bahwa ketika terjadi surplus atau panen padi yang berlebihan maka pemerintah akan melakukan perannya sebagai badan penyangga (BUFFER) melalui peran BULOG dengan membeli kelebihan panen padi tadi. Sehingga akan terjadi keseimbangan dan harga beras tidak akan jatuh. Ini adalah standar penjelasan dari teori atau hukum permintaan dan penawaran yang dimodifikasi melalui peran BULOG yang mengintervensi untuk membuat petani Indonesia sedikit lega.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa petani ketika panennya berhasil dan beras melimpah maka mereka tetap nelangsa karena harga gabah tidak menguntungkan. Padahal ketika musim panen tiba, untuk memenuhi sarana produksinya seperti pupuk, waduh mereka harus antri dan berjibaku untuk sekedar mendapatkan pupuk satu karung ukuran 50 kg. Apa sesungguhnya yang terjadi di negara tercinta ini?

Jadi tidak salah bila pada suatu masa nanti kita akan kekurangan lahan pertanian dan produksi beras kita akan menurun karena PETANI SUDAH BOSAN DAN SELALU DIBOHONGI TERUS. Apa buktinya? Media massa sudah menjawabnya dengan ramai-ramainya petani membakar hasil gabah mereka yang katanya akan dibeli oleh partai politik tertentu dan akan dijadikan bibit bagi petani di belahan bumi Indonesia yang lain. Masih ada lagi, produk prematur yang gagal karena syahwat politik orang - orang dekat presiden untuk mengangkat citra pemerintah melalu partai tertentu yang lagi berkuasa, dengan padi SUPER apa itu SUPER TOLOL nya yang membuat petani demam, panas dingin memikirkan kelanjutan dapurnya ngebul apa tidak.

Wong untuk menghasilkan varitas unggul saja perlu waktu bertahun-tahun dan melalui eksprimen yang tak henti-hentinya. Ini kok seperti sulapan mau pemilu terus berkoar-koar "INILAH BIBIT UNGGUL".

Petani Indonesia itu adalah petani yang selalu dibodohi sejak dulu terbukti sejak saya kecil hidup di lingkungan petani sampai saya memiliki istri dan istri saya melahirkan anak, petani yah tetap begitu saja, diBODOHI. Saran saya pada petani jangan mau dijadikan badut politik karena saya tahu bahwa petani Indonesia itu sebenarnya pandai tetapi tidak berdaya dalam ber-revolusi untuk membuat suatu perubahan. Sampai saya kadang berfikir apa jadinya kalau petani tidak menanam padi lagi terus hanya menanam singkong saja ? Bila kita kaitkan dengan statemen "kalau gak makan nasi gak kenyang".
Bagi petani mungkin tidak mengapa, karena saya tahu betul bahwa petani Indonesia itu sangat tabah dan memiliki ketahanan yang luar biasa.

Saya ingin berujar kepada petani Indonesia dalam menyongsong pesta pemilu nanti
"WAHAI PETANI INDONESIA JANGANLAH GAMPANG DIBODOHI OLEH BADUT-BADUT POLITIK WALAU BERGELAR DOKTOR SEKALIPUN. TERIMALAH UANGNYA KALAU MEREKA BERKAMPANYE PADA SAAT MENDEKATI PEMILU TAPI JANGAN KAU COBLOS GAMBARNYA BILA MEREKA TERBUKTI SUDAH MENIPU KARENA SYARAT JADI PEMIMPIN ITU ADALAH JUJUR. PETANI INDONESIA YANG AKU CINTAI, BERSABARLAH DALAM KEHIDUPAN INI KARENA SESUNGGUHNYA PROFESI KALIAN JAUH LEBIH MULIA DIMATA SANG PENCIPTA BILA KALIN MENIATINYA DENGAN IBADAH. JAUH LEBIH MULIA DARI PADA POLITIKUS BUSUK DENGAN PADI POLITIKNYA. JANGAN MAU DIJADIKAN BUDAK POLITIK MEREKA YA...PAK PETANI..."

Saya jadi teringat bagaimana seorang anak manusia yang bernama MUHAMMAD membuat suatu perubahan akhlaq dan peradaban dunia dengan KEJUJURANNYA bahkan sebelum terpilih menjadi nabi sekalipun, JUJUR adalah senjata utamanya sehingga semua orang percaya menitipkan apa saja padanya. Sungguh hebat MUHAMMAD ini. Bagaimana dengan MUHAMMAD MUHAMMAD sekarang ??

Tapi...seandainya MUHAMMAD ini menyaksikan bagaimana negara Indonesia yang begitu kayanya dan dengan mayoritas penduduk muslimnya mungkin MUHAMMAD akan menangis meratapi keadaan ummatnya. Sampai saya berfikir apa gak meratapi bangsa ini ya ketika sang MUHAMMAD ini menghadapi sakratul maut dengan berujar "UMMATI...UMMATI...UMMATI..".

Ah...mudah-mudahan MUHAMMAD mendoakan bangsa ini dari alam sana agar kaum muslimnya dan para petaninya tidak jadi korban PADI POLITIK lagi sehingga bangsa ini menjadi apa yang tertulis dalam KITAB yang dibawanya menjadi bangsa yang makmur aman sejahtera dan rakyatnya sumringah-sumringah karena apa ? Karena rakyatnya (presiden, menteri, anggota DPR dan semua warga negara ini) sudah jujur semua hehehe....kapan ya...???

Cuma ALLAH yang tahu....

Friday, October 03, 2008

REFORMASI TRANSPORTASI MASSA, HARUS !

Saya menulis ini karena gregetan, benci, muak , mangkel, geram...semua bercampur aduk menjadi satu. Sebetulnya saya ingin menulis ini sejak tiga hari yang lalu tetapi niat untuk menulis itu tertunda hanya karena waktu dan niat itu menguat kembali setelah siangnya saya menonton kabaret gado-gado politik...kok seperti apa yang saya fikirkan. Maka malam ini saya sempatkan untuk menulis. Mengapa biar emosi saya mereda dan saya merasa puas...

Kita maklum bahwa tradisi mudik ketika lebaran sudah menjadi fenomena sosial di negara ini bahkan tidak hanya bagi yang beragama Islam, yang non- muslimpun memanfaatkan kesempatan libur ini untuk mudik ke kampung halamannya atau sekedar beramai-ramai datang ke tempat pariwisata untuk melepaskan penat rutinitas yang selalu mendera...

Saya juga sudah menduga bahwa gelombang mudik tahun ini pun akan menelan korban seperti tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaan saya yang selalu bermain dibenak adalah apa penduduk negara ini yang tidak rasional atau pemerintahannya yang "DUBLEK". Mengapa saya bilang dublek ? Sudah 63 tahun merdeka tapi program transportasi massa yng murah nyaman dan aman belum terwujud hingga saat ini. Padahal disisi lain pemerintah selalu mendengungkan hemat energi namun disisi lain peningkatan jumlah kendaraan roda dua atau sepeda motor sungguh fantastis. Ini indikator bahwa transportasi massa negara ini gagal total dan tidak mendukung program pemerintah dalam hal pencanagan hemat energi oleh presiden.

Sampai saat saya menulis malam ini entah sudah berapa puluh korban berjatuhan karena fenomena mudik yang irrasional ini. Kenapa saya bilang irrasional? Dalam kacamata saya silaturahmi tidak hanya harus melulu bertemu dengan cara tatap muka walau ada pendapat bahwa fenomena mudik ini tidak dapat diukur dengan materi. Tetapi bila mudik malah membahayakan jiwa dan keluarga apakah ini bukan tindakan yang konyol?

Pemerintah juga seyogyanya belajar dari fenomena mudik ini dan sudah saatnya pemerintah melakukan reformasi dibidang transportasi massa terutama transportasi jalur darat, seperti kereta api, bus dan lainnya yang memenuhi standar 'manusiawi' manusia Indonesia yang hidupnya dijamin oleh undang undang yang berlaku di negara ini.

Fikiran nakal saya lantas menerawang kemana-mana, kok ada ya...selama beberpa tahun pemerintah negara ini membiarkan rakyatnya menderita terus menerus dalam mudik massal ketika menjelang lebaran ataukah ini rekayasa Tuhan untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk di negara ini. Rasanya kok konyol sekali bila kita tidak melakukan perubahan dalam bentuk REFORMASI TOTAL TRANSPORTASI MASSA UNTUK RAKYAT. Bagaimana pendapat anda ???

Mudah-mudahan pemerintah mau memikirkan rakyatnya bukan hanya memenuhi syahwat perutnya untuk sex, makan enak, dan meniduri selir-selir (gelap)nya. Ingat Anda juga akan MATI dan dimintai pertanggungjawaban di depan Tuhan, saya hanya bisa berdoa semoga kalian sadar agar nanti perut kalian tidak disetrika oleh malaikat hingga usus kalian terburai, ALLAHU AKBAR !

Monday, September 01, 2008

KULTUM RAMADLAN 1429 H

Alhamdulillahi rabbal ‘alamin. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama sholaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala ‘ali Ibrohim..fil ‘alamiina innaka hamidum majiid. Robbishrohli shadri wa yassirli amri wahlul uqdatam millisani yafqohu qauli. Robbizidni ilma warzuqni fahma. Watawakkal ‘alalLah wa kafa billahi wakiila. Amma ba’du.

Yang terhormat poro ‘alim ulama, poro sesepuh …pinisepuh dan yang sepeuh sepuh maneh..bapak ibu yang terhormat, adik adik yang saya cintai dan hadirin hadirot Rahima kumullah, Assalamu’alaikum wa rahmatuLlahi wa barakatuh…

Puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kita rahmat karena hari ini kita sudah sampai dan melewati hari pertama di bulan Ramadlan ini dengan sempurna. Sungguh sebuah karunia yang tak terhingga pada diri kita yang masih bisa menikmati Ramadlan kali ini karena kita diberikan kesempatan untuk beribadah dengan sungguh sungguh pada bulan yang penuh ampunan, rahmat dan berkah ini. Bagaimana tidak, banyak saudara-saudara kita yang tergolek di rumah sakit atau bahkan sudah mendahului kita menghadap Nya sehingga tidak dapat menikmati Ramadlan yang indah ini.

Hadirin Rahimakumullah, dalam kitab-kitab banyak sekali diterangkan mengenai puasa yang dapat menghapus dos kaum mukminin. Satu bulan yang sangat berarti dalam setahun dimana manusia sebagai makhluk yang lalai, lemah dan penuh dosa.
Rasullullah bersabda;

“fitnah yang dialami seseorang dalam keluarga adalah harta, anak dan tetangganya akan terhapus dengan shalat, puasa dan sedekah” (HR. Bukhari – Muslim).

Fitnah yang dimaksud dalam hal ini adalah hal-hal yang membuat kita berpaling dari ibadah karena kesibukan mengurusi keluarga, harta, anak dan tetangga yang kadang-kadang membuat kita berdosa.

Maka dari itu banyaklah memohon ampunan dan rahmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala agar kita selalu mendapatkan surga atas Rahmatnya bukan karena ibadah kita yang tidak seberapa ini. Mengapa saya bilang tidak seberapa ? karena dalam kitab minhajul abidin, setan/iblis sebelum durhaka kepada Allah telah beribadah selama 80.000 tahun.

Sekarang mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Siapa yang mengetahui umur kita ? Hanya Allah saja. Maka dari itu banyak-banyaklah mengingat akan mati. Sebagai ilustrasi bila kita diberi umur 70 tahun saja misalnya, tanyalah diri sendiri berapa tahun yang sudah kita berikan untuk beribadah kepada Allah ?

Taruhlah kita sudah berpuasa pada usia 8 tahun berarti ada 62 bulan ramadlan yang telah kita lalui atau setara dengan 5,17 tahun. Ini hanya ibadah puasa saja. Bagaimana dengan tidur kita ? mari kita ambil rata-rata kita tidur 6 jam dalam sehari, walau pada saat bayi kita bias tidur 8 jam atau lebih dalam seharinya tetapi marilah kita ambil rata-rata 6 jam saja. Ada 613.300 jam atau setara dengan 11,7 tahun atau hampir 16 persen dari usia kita untuk tidur. Padahal Rasul kita yang sudah dijamin surga saja masih terus beribadah dengan tekun, dalam riwayat diceritakan kaki Rasul sampai bengkak dengan usia yang tidak sampai 70 tahun, hanya 63 tahun. Bagaimana dengan kita?

Untuk itu marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya bulan Ramadlan kali ini untuk terus beribadah dengan ikhlas dan hanya karena Allah semata. Sebab bila bukan karena Allah semuanya akan sia sia. Karena mertua misalnya, karena pengurus masjid, karena gak enak dengan tetangga yang sudah berangkat lebih dulu untuk shalat taraweh dan banyak lagi misalnya yang lainnya.

Saya juga menhimbau kepada diri saya sendiri dan juga kepada hadirin RahimakumuLlah untuk selalu banyak berdoa karena do’a orang yang sedang berpuasa itu tidak akan ditolak. Seperti yang disabdakan Rasulullah saw,

“Tiga golongan yang tidak tertolak do’anya, orang yang sedang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doa orang-orang yang terzalimi” (Hadits hasan riwayat Ahmad).

Hadirin sekalian yakinilah puasa yang kita lakukan karena Allah dan banyaklah memohon ampun hingga dosa-dosa kita diampuni oleh Allah. Sehingga kita menjadi mahluk yang tahu diri akan segala kekurangannya dan selalu membutuhkan Allah yang sudah memberi kita hidup dengan menghirup oksigen yang gratis.

Hanya ini yang saya bisa sampaikan dalam kultum kali ini. Lebih dan kurang saya mohon maaf dan semoga hal yang sedikit ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua, amiin. Billahi taufiq wal hidayah wassalamu’alaikum wa rahmatuLlahi wa barakatuh.

Sunday, August 31, 2008

HONORER TERTUA

Cerita ini menginspirasi saya untuk menuangkannya dalam tulisan di blog yang jelek ini. Bagaimana tidak …cerita teman saya seperti judul di atas membuat dua kutub yang saling berlawnan ketika teman saya tadi membaca sebuah bulletin di salah satu kampus ternama di Surabaya.

Dalam bulletin yang memuat profil seorang doktor muda dengan segala pernak pernik prestasinya dan sudah diangkat menjadi PNS mengikuti ‘gelombang Kepres SBY’ yang mengangkat honorer-honorer menjadi PNS.

Menariknya setelah membaca bulletin tersebut teman tadi berujar (mungkin berseloroh) “saya akan membuat bulletin baru dan akan saya beri judul ‘honorer tertua’. Kontan teman diseklilingnya tertawa terbahak. Iseng ada teman yang menanyakan

‘lho memang siapa pak yang honorer tertua?’
‘ya…saya ini dan pak sekuriti itu sambil menunjuk seorang sekuriti’

Dengan iseng pula saya menyelidik ke sekuriti ‘pak umurnya berapa pak?’
‘lima tujuh’ jawab sekuriti enteng

Aku bergumam dalam hati…kasihan mereka tapi saya tidak mau berfikir panjang salah siapa sebetulnya dengan sistim kepegawaian yang ada di Negara Indonesia ini. Saya hanya mengamati bahwa dalam lingkungan kerja teman tadi kkn nya masih sangat kental…mereka yang bekerja disitu banyak yang memiliki pertalian darah yang kuat.
Inilah tipikal bangsa ini, tidak memiliki arah dan kompetensi yang jelas sehingga tidak disegani bangsa lain di dunia.

Sejak saya SD sampai saya memiliki anak dua sekarang ini, yang saya lihat rakyatnya gitu-gitu aja sejahtera tapi semu…mengapa semu? Kelihatannya memiliki asset yang banyak tapi sebetulnya dari hasil berhutang. Bagaimana tidak…berapa sih gaji honorer? Saya hanya melihat pemerintah perlu memberikan bimbingan mental pada anak bangsa ini agar banyak menjadi pengusaha dan anggota legislative biar cepat kaya …???

Wednesday, August 06, 2008

Refleksi Pagi, 7 Agustus 2008

Di tempat teman saya bekerja di salah satu universitas negeri ternama di Surabaya banyak sekali kelucuan terjadi, terutama di sistim informasi akademik nya. Bagaimana tidak menurut teman saya ini peristiwa ini sudah berlangsung bertahun-tahun tetapi tidak ada jalan keluarnya. Artinya bila ada apa-apa semua dilimpahkan ke bagian akademik selaku entrier data atau operator. Ini menyebabkan semua saling lempar kesalahan antara fihak yang semestinya bertanggung jawab dan me maintance dengan fihak end user.

Suatu ketika saya jalan-jalan ‘menyambangi’ teman saya tersebut dan saya diterima di ruangannya. Saya hanya melihat bagaimana kabel bersliweran seperti kabel listrik, dan telepon di negara ini yang semakin semrawut ketika musim layangan tiba. Ketika saya mencoba ke kamar mandinya waduh sungguh jauh dari kesan mewah…bila dibanding dengan berapa besar SPP yang harus dibayar kan mahasiswa. Ini saya tahu sendiri karena kebetulan ada anak teman saya juga yang kuliah di sana.

Dalam kacamata saya mengukur manajemen secara sederhana itu gampang saja, apalagi itu dari sebuah kantor bergengsi ataupun universitas ternama sekalipun. Cukup dari instalasi kabel dan kebersihan kamar mandinya. Bila dua variable itu tertata dengan baik bisa dipastikan manajemen di instansi atau perusahaan tersebut Insya Allah baik. Mengapa ? Jawabannya sederhana pula, karena salah satu manajemen Tuhan itu adalah planning atau perencanaan yang kemudian diduplikasi oleh pakar-pakar manajemen dengan istilah terkenal POAC nya (Planning, Organizing, Actuating and Controlling) yang saya dapatkan ketika saya dulu belajar manajemen.

Lihatlah bagaimana Allah menciptakan alam ini, perencanaannya... SubhanaLlah….indah nian kawan, bagaimana sang Pencipta ini mengorganisasinya dengan sempurna. Manusia seharusnya memperhatikan itu dan menduplikasinya dalam kehidupan sehari-hari agar dia bisa mendekati manajemen Allah tadi, walaupun jelas-jelas tidak akan mampu menyamainya tetapi Allah sudah memberikan contoh dalam kehidupan bahwa hendaknya kita punya rencana dan organisasi yang baik. Bukan begitu teman.

Hal lain yang saya perhatikan ketika saya sowan ke kantor teman saya itu adalah kebersihannya dan rambu-rambu yang harus dipatuhi semisal ‘dilarang merokok’. Waduh amburadul sekali karena saya tetap mencium aroma asap rokok walau terpampang tulisan besar diatas dinding nya DILARANG MEROKOK ! apalagi itu diruangan yang ber AC. Heheh..inilah tipikal orang Indonesia, muslim lagi… Sama ketika saya bandingkan dengan warga di tempat perumahan saya yang mayoritas muslim dan pandai sekali berdalil dengan Qur’an and hadits, tapi ketika ngurusi sampah rumah tangganya sendiri gak bisa. Bagaimana tidak, selalu menghafal “kebersihan itu sebagian dari pada iman” tetapi kalau buang sampah sembarangan.

Ini secara mikro merupakan potret makro bangsa Indonesia (sebab terkenal di dunia karena KORUPSI nya), karena sudah mengakar di atas yang berarti di bawah bukan hanya mengakar lagi tetapi sudak bertunas pula akarnya. Artinya generasi-generasi baru sudah tertular penyakit tidak mau tahu ini bahkan malah lebih hebat lagi menduplikasi dan mengembangkan penyakit masyarakat ini.

Kalau sudah begini bagaimana kira-kira jadinya bangsa ini 10 tahun ke depan nanti? Waktu yang menjawab..saya hanya berdo’a semoga ALLAH tidak segera memusnahkan dan menghancurkan bangsa ini dan menggantinya dengan ummat yang lebih baik seperti janji ALLAH dalam Al-Anbiya ayat 11,


“Dan berapa banyak penduduk negeri yang zalim yang telah Kami binasakan dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain sebagai penggantinya (AL-Anbiya: 11)”

Mudah-mudahan kita sadar dan selalu ingat akan janji ALLAH ini karena janji ALLAH tidak akan pernah meleset sedikitpun beda dengan janji manusia yang ketika berkampanye memperebutkan jabatan begitu manisnya tetapi setelah itu saudara-saudara lihat sendiri…bagaimana ?

Semoga kita selalu mendapat hidayahnya dalam mengarungi kehidupan ini sehingga kita pandai me’menej’ diri sendiri, keluarga, organisasi dan lain-lain seperti sudah di contoh kan Nya dalam alam semesta ini.

Ingatlah yang termaktub dalam surat Muhammad ayat 33 ini,

"Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang pada hari itu, seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji ALLAH adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam menta'ati ALLAH"

ANAK KECILPUN BISA BERIMAJINASI

Kalau saya mengingat peristiwa minggu lalu saya terkadang ingin tertawa sendiri kadang geli dan kadang haru. Anak saya yang berusia 4 tahun menangis sesenggukan karena mengingat cerita ku.

Yah sore itu saya pulang ke rumah lebih awal dari biasanya karena memang hari itu saya letih sekali. Sesampai di rumah aku menemui anak ku Cici sedang bermain dengan kakanya Fira. Seperti biasa aku selalu memeluk anakku dan menimangnya sambil menciuminya. Menanyakan bagaimana pelajaran di sekolah TK nya, apakah ada PR dan segala tetek bengek yang dialaminya seharian itu. Komunikasi itu tetap aku lakukan dan kujaga untuk membuat hubungan kami tidak hanya sebatas bapak dan anak tetapi juga sebagai sahabat.

Cici mengikuti ku ke kamar dan aku menggendongnya. Sambil tiduran aku bercanda bersamanya, sedang si Fira membaca saja di ruang keluarga. Kebiasaan membaca memang aku tanamkan sejak anak mulai kecil. Sering ketika libur mereka aku ajak ke toko buku hanya untuk sekedar jalan-jalan ataupun membeli buku baru cerita untuk anak yang mereka belum punya. Walau Cici belum bisa membaca dia selalu minta dibacakan cerita dari buku baru yang dipilihnya ketika sebelum tidur baik oleh kakanya Fira, mamanya ataupun saya sendiri. Saya terkadang tersenyum sendiri dibuatnya ketika dia kadang-kadang membaca buku sendiri lagaknya orang yang sudah pandai membaca dengan melihat gambar di buku dan meramu kata katanya berdasarkan daya ingat yang dimilikinya ketika dia menyimak mendengarkan cerita yang dibacakan kakaknya, mamanya ataupun aku sendiri. Itulah Cici dengan segala gaya dan celotehnya.

Entah dari mana asalnya pernyataan Cici sore itu tiba-tiba dia mengemukakan
“Ayah aku ingin keliling dunia”
“Ho…bagus itu dik…tapi kalau mau keliling dunia adik harus rajin belajar dan pandai membaca dan tentunya harus berprestasi di sekolah,” jawabku sambil memeluknya.
“Kalau nanti berprestasi di sekolah dan bahasa asingnya bagus, adik nanti bisa sekolah gratis karena dapat beasiswa. Beasiswa dari luar negeri banyak lo dik…nanti akan ayah carikan informasi,” jawabku. Aku lantas menirukan dengan pura-pura membaca surat panggilan diterima nya anakku Cici di salah satu universitas di Amerika, Ohio State University. Dengan bahasa Inggris ku yang gratal gratul aku membaca sekenaku. Anakku Cici hanya melongo memperhatikan ku.
“Terus nanti adik..ayah uruskan paspornya, visanya dan pada saatnya berangkat ayah akan antar adik ke bandara,” celotehku dengan sangat menjiwai peran ku sebagai seorang ayah.
Ketika akan berangkat ayah akan memeluk adik
“Ayah …akan sangat merindukan mu dik,” kataku sambil memeluk anak ku sungguhan. Dengan mimik terharu dan meneteskan air mata aku melanjutkan
“Jaga diri baik-baik ya nak…di rantau… jangan lupa sholat dan mengajinya…ayah akan bangga pada adik dan sekolahlah yang rajin. Jangan lupa kirim kabar bila nanti sudah tiba di Amerika,” celoteh ku sambil sesenggukan.
“Sampai di Amerika adik terus kirim kabar ke ayah dan mama melalui kcanggihan teknologi bisa internet bisa telepon atau nanti bisa pake teknologi baru yang belum dikenal saat ini,” lanjutku.
“Halo ayah..hallo mama adik sudah sampai di Amerika di sekolah Adik dan tinggal di asrama…adik baik-baik saja dan disini udaranya sangat dingin gak kayak di Indonesia,” aku sambil menirukan suara anak perempuan kecil.

Keletihan membuatku tidak melanjutkan ceritaku…tapi yang terjadi kemudian Cici anakku nyeletuk
“Ayah terus aku kalau udah selesai sekolah pulang ke Surabaya dan kerja di Surabaya kan?” tanyanya meyakinkan ku
“Oh iya…dik,” jawabku
“Ayah aku sedih…HUA..HUA..HUA….,” aku kaget dibuatnya.
Aku mengira giliran anakku ini yang akting…gak tahunya betulan dia nangis sungguhan dan sesenggukan sambil teriak “MAMAAA….MAMAA….heng…heng…,” aku kalang kabut dibuatnya.

Kugendong anakku… tangisnya tak mau berhenti juga…akhirnya aku minta bantuan emak yang biasa membantu kami di rumah untuk menggendongnya sebentar…sembari aku mengerjakan kewajibanku sholat Asyar. Sampai aku selesai sholat tangis anakku ini belum berhenti juga. Aku lantas memanggil anakku Cici untuk datang kepadaku. Ini biasa kulakukan selesai sholat fardu untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anakku sambil meniupkannya di kening mereka.

Sambil kugendong aku berdo’a dan meniupkan ke ubun-ubun Cici yang masih sesenggukan. Aku lantas berfikir apa yang salah ya….akhirnya aku punya ide untuk melanjutkan cerita yang belum selesai tadi.

“Ketika adik selesai kuliah di Amerika..adik terus telpon ayah mengabarkan bahwa adik sudah selesai kuliah dan akan segera pulang ke Surabaya,” aku bercerita terus dan Cici mulai diam dari tangisnya dengan terus menyimak ceritaku.
“Ayah, mama dan kak Fira menjemput kedatangan adik di bandara,” lanjutku
“Harap-harap cemas ayah memperhatikan setiap penumpang yang keluar di pintu kedatangan dan ayah sungguh pangling ketika melihat adik Cici yang lebih tinggi badannya dan lebih putih dengan mata sedikit kebiru-biruan mungkin karena kebanyakan makan keju di sana, “ kataku sambil memencet hidungnya.

“Adik ! hei …ini Ayah….,” kataku sambil menirukan gaya melambaikan tangan.
“Ayah memeluk adik. Oh….ayah sungguh merindukan mu adik…terus mama juga memeluk adik..dan kak Fira juga memeluk adik,” kataku melanjutkan
“Terus adik cari kerja di Surabaya dan diterima. Waktu adik dapat gaji pertama kali adik ngajak ayah, mama dan kak Fira makan bersama di restoran, nraktir ayah, mama dan kak Fira,” kataku.

Anak ku ini mulai tersenyum, aku mengakhiri cerita…tapi ternyata anakku ini nyeletuk
“Ayah besok-besok jangan cerita yang sedih lagi ya…adik ikut sedih…terutama ketika ayah nganter ke bandara,” aku kaget mendengar komentarnya.

Anak ku anak ku…mudah-mudahan keinginan mu terkabul ingin keliling dunia hehehe ternyata anak kecil juga bisa diajak berimajinasi. Semoga cita-citamu terkabul nak…amiinn

Monday, July 21, 2008

KEJAHATAN JALANAN & PRESTASI

Sering kali saya melihat bahwa kemacetan lalu lintas itu akibat ulah segelintir orang yang tidak disiplin dan sedikit bersabar menunggu antrian. Walau harus juga diakui bahwa semua itu juga karena volume kendaraan yang berlebihan dari volume jalan. Tiap pagi saya melihat kejahatan di jalanan ini. Mulai dari menyerobot sampai berzig zag meliuk liuk dengan kecepatan tinggi dikeramaian lalu lintas.

Sambil merenung saya terus berfikir kenapa ya...tidak ada pembalap dunia di kelas Grand Prix tidak ada yang dari Indonesia? Sampai di tempat kerjaan saya diskusikan hal ini dengan teman. Teman saya bilang kalau orang Indonesia itu banyak yang jago kandang, banyak lo... Setelah saya telaah berdasarkan nalar dan kemampuan saya dalam menyerap informasi ada benarnya juga. Paling yang banyak mendunia akhir akhir ini adalah cuma olimpiade sains. Putra-putra bangsa banyak mengharumkan nama negara ini...tapi untuk ajang balapan Grand Prix baik yang 250 cc maupun 500 cc kok belum ya...apalagi balapan formula 1. Jauh kayaknya....??? Kesimpulan saya adalah tidak adanya relevansi antara kejahatan jalanan dengan prestasi olah raga balap motor atau balap mobil. Rentetan logika berfikir saya akhirnya merambat pada tataran kebijakan yang punya kuasa di negara ini....mungkin perlu ada pemandu bakat bagi pelaku kejahatan jalanan ini untuk disalurkan ke tempat yang membuat mereka bisa berprestasi di tingkat dunia dengan mengharumkan bangsa yang sudah sejak lama membusuk ini sehingga mereka tidak kebut kebutan lagi dijalanan, karena apa nafsunya sudah tersalurkan...semoga

Monday, July 07, 2008

Menjadi Pemimpin tidak GAMPANG

Saya hanya ingin menulis kejadian di seputar kita sehari harinya. Saya hanya mengamati banyak sekali seorang pemimpin yang ragu dalam membuat dan mengambil keputusan. Bahkan cenderung pada mengambil jalan pintas untuk keselamatn diri sendiri. Ini artinya obyektivitas dalam mengambil sebuah keputusan sangatlah dibutuhkan bila Anda seorang pemimpin sehingga dalam bertindak tidak ragu-ragu.

Ketika dihadapkan pada kondisi ‘mengorbankan satu orang untuk kepentingan banyak orang’ banyak sekali pemimpin yang salah dalam bertindak (dalam kaca mata saya). Apalagi satu orang tadi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kepemimpinannya tetapi tindakannya sudah banyak merugikan orang banyak ataupun organisasi.

Untuk itu saya mengingatkan diri saya sendiri dan saudara-saudara sekalian bahwa keberanian membuat keputusan publik demi kemaslahatan manusia dalam skala yang besar jauh lebih adil (sekali lagi dalam kacamata saya) ketimbang membuat keputusan untuk ‘memenangkan’ orang-orang dekat kita yang malah banyak merugikan fihak lain atau membuat organisasi berjalan di tempat.

Walau tidak segampang yang diucapkan, tetapi itulah resiko bila ANDA menjadi pemimpin atau sudah di anggap PEMIMPIN oleh komunitas saudara dengan resiko pahit sekalipun. Bagaimana menurut Anda ?

Thursday, May 22, 2008

63 tahun sudah merdeka …

Menyikapi rencana pemerintah menaikkan harga bbm, banyak polemik yang bermunculan mulai politisi gaek yang masih memiliki syahwat untuk mencalonkan presiden dalam pemilu berikutnya sampai dengan lurah yang rame-rame mengembalikan kartu tanda penerima BLT alias bantuan langsung tunai yang saya plesetkan bantuan lagi tapi….

Pemerintah terpaksa menaikkan harga bbm karena harga minyak mentah dunia yang terus melonjak bahkan pada saat tulisan ini dibuat di Asia harga sudah tembus 135 dolar per barel. Celakanya dalam kondisi ekonomi yang belum begitu baik dan banyaknya pengangguran dan bayi yang terkena gizi buruk pemerintah kurang cerdas dalam menelurkan kebijakan yang berfihak pada rakyat.

Kata rakyat yang akrab pada saat kampanye mendulang suara untuk mencapai cita-cita menjadi orang nomor satu di Negara yang kaya ini menjadi hilang dengan sendirinya ketika para pengusaha asing yang berinvestasi eksplorasi minyak dan memiliki SPBU di Negara ini.

Sudah 63 tahun Negara ini merdeka selalu BBM menjadi isu menarik untuk diperbincangkan tetapi coba tengok di jalan bagaimana mobil-mobil mewah berseliweran dan kendaraan roda dua yang sudah menyesakkan jalan. Penghematan ! penghematan ! itulah kampanye yang selalu pemerintah kumandangkan tetapi apa kebijakan untuk mendukung penghematan ini ? Rakyat kecil yang selalu menjadi korban.

Saya pernah melihat bahwa orang Indonesia ini banyak yang putus urat malunya bagaimana tidak orang yang pake kendaraan mercy saja antri premium karena merasa pertamax mahal (?). Kalo pemerintah ingin memberikan subsidi mengapa pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan dengan mengeluarkan peraturan pemerintah untuk kendaraan pribadi harus menggunakan pertamax dengan harga yang ditetapkan dan membangun transportasi publik yang nyaman. Untuk transportasi publik ini harus benar-benar professional, on time, murah, dan beroperasi 24 jam dengan interval waktu yang diatur secara professional pula. Subsidi silang ala begini saya kira akan sangat menguntungkan Negara ini dalam jangka panjang, biaya yang dibayarkan orang kaya pemilik kendaraan pribadi dengan harga bahan bakar yang mahal diperuntukkan bagi rakyat yang kekurangan dengan transportasi publik yang sudah disebutkan di atas tadi.

Sudah 63 tahun kita merdeka. Masih saja rakyat banyak menderita…apa yah yang salah ? Dalam kacamata saya memang ada unsur kesengajaan memiskinkan rakyat kebanyakan secara struktural. Mengapa ? Coba lihat di lapangan bila BBM naik apa yang terjadi ? semua harga barang naik kan ? Bagaimana pendidikan di negeri ini ? Mahal atau murah ? Apakah sudah menyentuh semua lapisan ? Masih segar dalam ingatan saya tahun lalu bahwa ada anak cerdas yang tidak jadi sekolah di perguruan tinggi negeri yang bergengsi hanya karena mahalnya biaya pendidikan dan akhirnya ditampung oleh perguruan tinggi swasta yang cukup ternama di Surabaya. Allahu Akbar.

Seandainya pemerintah setelah 63 tahun merdeka ini bisa menyediakan pendidikan murah dan bermutu dengan gaji guru dan dosen yang memadai, transportasi massal yang murah, nyaman dan aman serta on time dan harga bahan pokok murah. Kalau saja pemerintah bisa seperti ini maka rakyat sudah sangat terbantu dengan pendapatan mereka yang minim dan tidak sebandingnya kenaikan gaji mereka dengan realitas tuntutan dari biaya-biaya yang harus di penuhi di lapangan sebagai manusia yang ingin maju untuk meningkatkan status sosialnya. Bisakah pemerintah mengevaluasi ini ?

Sudah 63 tahun kita merdeka. Pemerintah semestinya memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk itu semua tapi apa daya ada yang salah dalam sistim pemerintahan di republik ini. Timbul pertanyaan sistimnya atau manusianya ? Apa perlu diganti sitim pemerintah ini dengan sistim sosialis, atau komunis sekalian ? Ah…hanya Allah yang tahu manusia dengan segala isi hatinya karena memang manusia itu ditakdirkan untuk selalu serakah, inilah mungkin pangkal penyebab dari semuanya, Allahu ‘alam.

Monday, May 12, 2008

Minyak, hutan gundul dan banjir

Malam hari teman saya sempat menelpon menawarkan lahan sebagai plasma untuk perkebunan kelapa sawit di daerah Sumatera Selatan sana. Selang beberapa minggu saya juga ketemu dengan teman yang membuka lahan serupa di daerah Sulawesi. Teman yang dari daerah Sulawesi ini menawarkan harga yang lebih murah, se perempat dari harga lahan yang ada di Sumatera Selatan sana.

Dalam diskusi dengan teman yang dari Sulawesi ini saya hanya menggunakan logika bahwa lahan yang dibuka ini merupakan hutan produktif. Pembebasan lahan yang ratusan bahkan ribuan hektar ini tentunya akan berdampak dan merusak ekologi lingkungan disekitarnya. Semua ini dilakukan karena mahalnya CPO di dunia sebagai energi alternative mengantikan energi fosil yang sudah semakin langka dan menggila harganya.

Hal lain yang saya fikirkan adalah dampak dari penggundulan hutan untuk kepentingan ekonomi dengan dalih perkebunan kelapa sawit. Dalam diskusi saya melontarkan pertanyaan yang langsung menohok bahwa apakah pembukaan lahan untuk kepentingan emas hitam ini telah memberikan kontribusi terhadap banjir di daerah Sulawesi ? Dengan sedikit berat teman saya itu menjawab bahwa hal itu bisa dibenarkan.

Kalau sudah begini jelaslah bahwa kepentingan pembangunan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mencari energi alternative lain selain minyak fosil telah mengakibatkan warga atau rakyat menderita karena banjir bah yang melanda daerah pemukiman mereka. Tidak hanya itu infrastruktur yang juga sudah dibangun selama ini telah rusak binasa akibat yang ditimbulkan banjir ‘alternatif’ ini.

Allah sudah mengingatkan kita bahwa energi air ternyata besar dan dahsyat juga terbukti dengan tsunami di Aceh. Apakah kita yang tidak bisa menangkap semua perumpamaan alam ini ? tinggal kita bagaimana mengolahnya, WalLahu alam bis sawab

Wednesday, April 02, 2008

MARI RENUNGKAN ...

BILA POLITISI SUDAH BERPERILAKU SEPERTI SEKARANG INI
LANTAS APA TUJUAN PARTAI POLITIK ITU DIDIRIKAN ?
PADAHAL..DALAM ISLAM BERPOLITIK ITU SAH !
TAPI...BILA TUJUAN MENDIRIKAN PARTAI
HANYA UNTUK KEKUASAAN SEMATA

MAKA PERBAIKAN MACAM APA YANG KITA HARAPKAN DARI BANGSA
YANG KATANYA BESAR INI ?
SEJAHTERA ?
BANGSA YANG PINTAR ?
BANGSA YANG BERPENDIDIKAN ?
ATAU BANGSA YANG 'NAKAL' ?

CUMA PEMBACA DAN TUHAN YANG TAHU

PEMILU SUDAH SEMAKIN MENDEKAT
PARTAI BERLOMBA MENDEKATI MASSA
TETAPI HANYA PADA MUSIM PEMILU SAJA

BILA TELAH MENDUDUKI KURSI PARLEMEN
MANA TERIAKAN MEREKA KE PEMERINTAH
UNTUK MEMBELA
GIZI BURUK
ANTRI MINYAK TANAH
MAHALNYA MINYAK GORENG
HARGA BARANG KEBUTUHAN YANG SEMAKIN NAIK
MAN ? MANA ?

JADI MEMANG POLITIK ITU SUDAH MELENCENG
DARI TUJUAN SEMULA
KARENA APA ?
KARENA UNTUK DUDUK DIPARLEMEN BUKAN PERKARA MUDAH
PALING TIDAK ANDA HARUS MENGHABISKAN
UANG MILIARAN RUPIAH...

GENERASI MUDA INDONESIA
SATUKANLAH LANGKAH UNTUK
MENDOBRAK KEKUASAAN KAPITALIS INI
DENGAN DARAH BILA PERLU !!!
MERDEKA !!!

Sebutan itu tidak penting

Saya jadi terbahak bila ingat cerita teman saya yang mengikuti rapat ketika divisi nya bergabung dengan divisi yang lebih besar walau masih dalam satu atap. Ketika pimpinan mempresentasikan struktur organisasi yang baru banyak karyawan yang resah dan merasa ada rasa takut kehilangan kewenangan bagi yang sudah mapan pada organisasi yang lama.

Ketika tiba pada sesi tanya jawab maka ada pertanyaan dari salah satu temen saya tadi yang merasa bahwa posisi nya akan turun satu tingkat dengan proses 'merger' ini. Pada saat itulah temen saya ini nyeletuk "bagi saya sebutan ataupun apa itu tidak penting yang penting adalah salary nya". Kontan ruangan rapat jadi gerr....

Memang dalam kehidupan kerja tidak beda jauh dengan kehidupan politik dengan segala triknya. Ada yang lebih senang dengan posisi jabatannya walau salary tidak sebanding dengan sebutan dan tanggung jawab yang disandangnya.

Untuk hal ini saya juga kadang diskusi dengan istri saya yang sudah cukup lama berkecimpung dalam bidang sumberdaya manusia. Saya sangat jadi mengerti bahwa yang menentukan besar tidak salary seseorang selain karena keahlian yang didukung pendidikannya juga karena pengalaman yang pernah dijalaninya serta hal lain-lain juga seperti job deskripsi yang jelas menyangkut tanggung jawab. Hal lain yang penting adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan kesejahteraan pada karyawannya.

Filosofi yang saya pegang adalah bahwa dimanapun kita bekerja kondisi kerja yang kita temui akan sama saja. Tergantung bagaimana kita membawa diri dan berusaha seprofesional mungkin dalam menjalankan tugas, maka semua akan datang dengan sendirinya. Walaupun banyak penelitian tentang kepuasan kerja khususnya di Indonesia yang menemukan masih dominannya faktor seseorang berpindah kerja karena tawaran salary yang lebih baik, manusiawi bukan.

Jadi saya tidak bisa menyalahkan celetukan teman saya tersebut ketika diskusi rapat seperti di atas tadi bahwa sebutan itu tidak penting yang penting adalah gaji 'salary' nya. Dalam pandangan teman saya tersebut percuma saja sebutannya mentereng tetapi gaji atau salary yang diterima hanya sekelas staf biasa di luar perusahaannya apalagi tanpa fasilitas yang menyertainya ? Kalau sudah begini semua kembali kepada individu masing-masing bagaimana sebetulnya seseorang itu menghargai hidupnya, bahwa hidup adalah perjuangan itu sangat betul.

Bagaimana menurut Anda ?

Sunday, March 30, 2008

OBROLAN SIANG HARI

Sehabis mengikuti sepeda santai dengan rute yang cukup melelahkan saya mampir ke toko sepeda dimana saya membeli sepeda dulu untuk menyerviskan sepeda. Alih-alih sambil menunggu sepeda dayung saya diproses maka saya berbincang-bincang dengan pemilik toko. Saya menatap ke jalanan yang semakin ramai saja dan sepertinya jalanan sekarang sebagai ajang balap bagi kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Akhir-akhir ini memang jalanan di Surabaya semakin padat saja sepertinya semua kendaraan serba ingin cepat dan tumpah ruah kejalan dan bahkan kadang memakan bahu jalan sehingga menakutkan bagi pejalan kaki yang memang pedestriannya tidak mencukupi.

Saya berkata ke pemilik toko sepeda dayung tersebut bahwa semakin ramai kendaraan di jalanan membuat saya semakin takut untuk bersepeda, apalagi setelah saya tunjukkan gigi saya yang patah karena kecorobohan lalu lintas. Tak lama berselang maka datanglah seorang pelanggan pemilik toko tersebut untuk menyerviskan sepeda dayungnya yang pelek belakangnya rusak akibat diseruduk mobil dari belakang. Ini lagi bukti bahwa pengendara di Surabaya semakin ‘ganas’ saja.

Saya bercerita bahwa dari internet saya mendapat informasi bahwa di Belanda rakyatnya rata-rata memiliki tiga sampai empat sepeda untuk satu orang. Betapa nyamannya bersepeda disana yaa…bayangan saya. Pemilik toko lantas menjawab bahwa tidak usah jauh jauh pak di Singapura saja bersepeda sangat menyenangkan dan bikin awet muda karena pemandangannya bagus. Wah…saya tidak tahu itu karena saya memang belum pernah ke Singapura.

Pemilik toko lantas terus bercerita hal lain tentang pengobatan di sana yang ‘ciamiikkk’ karena pengalaman oranga tuanya yang harus dikemoterapi dengan diagnosis mengidap penyakit leukimia oleh dokter di Surabaya. Waduh akhirnya sang pemilik toko membawa orang tuanya ke Singapura untuk berobat di sana. Alhasil…orang tuanya bukan terkena penyakit leukimia hanya infeksi usus…setelah menjalani operasi untuk potong usus dan menetap tiga hari di Singapura orang tuanya sudah bisa jalan-jalan dan makan seperti orang normal. “Waduh pak…soro dengan dokter disini…hati-hati pak karena sering salah diagnosis”. Saya jadi ingat cerita keluarga selebriti Helmi Yahya yang menceritakan tentang anaknya yang juga salah diagnosis oleh dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta..tetapi untungnya Helmi Yahya mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain yang vonisnya lebih menyejukkan…alah…maakkkk….bisa bisa banyak anak bangsa ini mati sia-sia karena kesalahan diagnosis ini alias malpraktik.

Singkat cerita kami masih meneruskan ngobrol sambil menunggu sepeda saya selesai diservis…”Wah negara kita ini bobrok pak dan sama saja dengan negara Afrika”. Waduh saya …saya tidak kaget ..karena memang saya mengamati sudah banyak sekali terjadi kemunduran dalam banyak bidang di republik ini. Lantas kami berdiskusi bagaimana cara mengurangi kendaraan yang semakin banyak di jalanan yang sudah tidak mencukupi untuk mengisi badan jalan dan over volume. Kami akhirnya sepakat bahwa pemerintah sebaiknya memberikan fasilitas transportasi massal bagi publik yang aman, nyaman, murah dan on time. Waduh kalau ni mah…saya sering tulis dan diskusikan ke teman-teman…tetapi yang perlu dipertanyakan adalah sampai kapan pemerintah ini peduli ? (dengan tanda tanya besar). Kamipun sepakat bahwa bila transportasi itu aman dan nyaman, murah serta on time maka akhirnya hasilnya akan tampak sendiri ….PERLU DICOBA INI PARA GUBERNUR dan PRESIDEN !

Saturday, March 29, 2008

Kasih Judul Sendiri lah...

Saya teringat cerita teman saya bahwa betapa ruwetnya cara berfikir orang Indonesia ini...entah karena ewuh pakewuh...sungkan atau segan...sehingga birokrasi menjadi bertele tele. Bagaimana tidak, dalam sebuah organisasi posisi wakil tentunya sebagai backup dari pimpinan tertinggi bila sang pemimpin tidak berada di tempat.

Tetapi yang dialami organisasi dimana teman saya bekerja beda..budaya sungkan menyungkan itu masih sangat dipegang teguh..bila sang pemimpin tidak ada ditempat maka harus menunggu pimpinan datang...lah pertanyaannya kalau itu urgent bagaimana?
Yah..kalau masih besok hari harus ditunggulah...akibatnya tentunya menghambat alur proses gerak laju perjalanan sebuah birokrasi. Kalau sudah begini apa tidak jalan di tempat namanya?

Meneruskan cerita teman tadi yang minta tandatangan akhirnya menunggu sang pemimpin tiba dari tugas luar kotanya dan teman tadi diminta datang kerumah untuk tandatangan pengesahan. Saya tertawa tawa mendengar cerita ini sambil bergurau saya nyeletuk "kalau sudah begitu buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk tanda tangan pengesahan saja tidak ada pendelegasian, yang penting kan tidak merubah substansi dari isi yang harus dipertanggungjawabkan".

Alaamaakkk kalau sudah begini bagaimana bangsa ini mau maju dan berkembang apalagi ngomong efisien....(mimpiii...kaleeee)

Tuesday, March 25, 2008

LAKI-LAKI MEMANG EGOIS, WANITA...???

Banyak peristiwa dikehidupan kita sehari-hari yang menggambarkan judul di atas walaupun tidak absolut memang. Tetapi haruslah diakui sebagai laki-laki memang terkadang kita egois. Mengapa ini terjadi? Karena sebagai laki-laki kita merasa superior dan sangat gampang tersulut harga dirinya bila terusik.

Disisi lain statistik menunjukkan bahwa laki-laki sekarang jumlahnya lebih sedikit dibanding perempuan...bolehlah coba datang ke rumah sakit. Tanyakan berapa bayi laki-laki yang lahir pada hari itu dan berapa pula bayi perempuan? Walaupun saya tidak memiliki data yang akurat, tetapi inilah nubuat yang telah disampaikan oleh Baginda RaullulLah SAW bahwa pada akhir zaman nanti jumlah wanita akan lebih banyak dari pada jumlah pria. Bahkan akan datang satu masa dimana ada empat puluh wanita yang mendatangi seorang laki-laki untuk meminta perlindungannya.

Akibat surplus jumlah wanita ini maka tentunya lapangan kerja sekarang ini banyak diisi oleh wanita yang lebih memiliki tingkat ketelitian yang lebih baik, kerapihan dan familiar. coba saja lihat SPG SPG yang ada di plaza atau mall mall bisa dibilang 90% adalah wanita.

Saat inipun pendidikan kaum wanita telah lebih baik lagi karena kesempatan lebih terbuka...berbeda dengan tahun-tahun awal kemerdekaan negara ini bukan. Kita bisa lihat sekarang berbagai sektor sudah dirambah oleh kaum wanita. Banyak juga bidang pekerjaan yang bergengsi sudah pula di genggam oleh kaum wanita.

Pergeseran-pergeseran semacam ini pun telah melanda kehidupan rumah tangga dimana pada saat ini banyak sekali keluarga yang baik suami maupun istrinya bekerja. Walau ada juga yang beralasan karena tuntutan ekonomi tetapi ada juga yang beralasan karena 'sayang kalau ijazah' tidak bermanfaat bagi mahluk Tuhan di bumi ini.
Bagaimana tanggapan kaum pria tentang hal ini ? Ada yang berpendapat bahwa 'pokoknya kerjaan rumah tangga tidak terbengkalai dan anak anak tidak terlantar ya...gak papa'. Ada juga laki-laki yang melarang istrinya bekerja dengan alasan bahwa 'sudah kewajiban laki-laki untuk memenuhi kewajibannya untuk mencukupi kehidupan rumah tangganya'. Ada lagi yang bilang nanti timbul fitnah karena wanita itu gampang tergoda.

Apapun alasannya cobalah tengok bagaimana seandainya seorang wanita yang bekerja didalam keluarganya mendapat posisi yang lebih baik ? Bagaimana kira-kira sikap suaminya? Manusiawi memang...laki-laki merasa cemburu tetapi ada hal lain yang terkadang saya lihat bahwa dalam kehidupan berumah tangga banyak laki-laki yang tidak mau mengerti kondisi istrinya. Padahal RASULULLAH sudah mencontoh kan sendiri dengan belanja ke pasar, menjahit sendiri bajunya yang robek dan lain-lainnya. Tetapi kebanyakan laki-laki gengsi untuk melakukan semua itu, maka jadilah istrinya seperti babu dalam rumah tangganya.

Sisi lain, bila wanita sudah pandai mencari uang maka dia lupa akan tugasnya sebagai istri sehingga suaminya 'seperti kambing congek' dibuatnya. Semua main perintah dia lupa bahwa bagaimanapun bila itu di dalam rumah tangga suaminya adalah suami yang ingin diperlakukan wajar dan sejajar bukan pula sebagai babunya.

Akhirnya...Tuhan mencipatakan laki-laki dan wanita itu agar dunia ini seimbang bukan untuk gagah-gagahan. Tidak ada yang merasa superior dibanding yang lain walau banyak penelitian psikologi yang menyatakan bahwa laki-laki lebih rasional dibanding wanita itu sah-sah saja. Coba Tuhan menciptakan laki laki semua...saya tidak bisa membayangkan, begitu pula sebaliknya. Sebagai seorang muslim, isu feminism dan kesetaraan gender itu kuno karena Islam telah mengajarkan (kalau kita mau mengkaji) bahwa antara laki-laki dan wanita dimata Tuhannya sama...sama-sama mahluk Nya dan yang membedakannya hanya taqwanya.

Wednesday, March 12, 2008

Kemaruk Politik

Akhir akhir ini kemiskinan menjadi konsumsi bagi pemirsa televisi. Mulai dari kasus gizi buruk sampai yang meninggal bunuh diri karena kelaparan. SubhanAlLah....Ujian apa lagi yang akan Engkau timpakan pada bangsa ini ya ALLAH...

Inikah keberhasilan pembangunan yang kita banggakan? Inikah sistem demokrasi pada pemilihan pemimipin dinegeri ini yang dielu elukan pers BARAT? Atau inikah sistem pemerintahan presidensil yang di tuhankan itu? Ataukah ini yang diperjuangkan oleh para wakil rakyat di Senayan dengan segala macam pernak perniknya?

Apa para pemimpin dinegeri ini tidak tersentuh melihat betapa banyaknya rakyat negeri ini yang menderita kelaparan dikantung-kantung daerah yang rawan bencana maupun yang tidak ? Allahu Akbar....

Yang diributkan negeri ini selalu saja politik. Suksesi kepemimpinan negeri ini hiruk pikuk ketika mendekati pesta demokrasi pemilihan umum. Tapi mereka lupa bahwa banyak yang mesti diperhatikan oleh pemimpin negeri ini...cobalah tengok berapa rakyat yang tidak bisa makan 3x sehari? Mereka itulah yang butuh santunan dan tuntunan merubah hidup mereka ke arah yang lebih baik .....

Apakah para pemimpin negeri ini pernah berfikir seandainya itu menimpa keluarga mereka? Mudahan-mudahan saja....bagi mereka yang tidak peka hatinya...
Saya jadi teringat guru ngaji yang bercerita bagaimana zaman kekhalifahan salah seorang sahabat RASUL ketika tahu rakyatnya ada yang merintih kelaparan di malam hari dan beliau sendiri yang memikul gandum dipundaknya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya yang menderita kelaparan....bukan malah ribut-ribut mencari dukungan untuk pemilihan umum yang masih satu tahun lagi...

Mudah-mudahan mereka para pemimpin negeri ini sadar dari kekhilafannya sehingga mereka kembali kejalan yang benar...jalan ALLAH dan RASUL NYA bukan jalan politik yang menuhankan materi akibat tekanan kapitalis dunia sehingga para pemimpin negeri ini sudah menyembah taghut taghut baru berupa fasilitas jabatan yang mereka terima sementara rakyatnya mau makan saja tidak bisa.

Ya ALlah sadarkanlah pemimpin negeri ini agar mereka kembali ke jalan Mu ya Allah...jalan yang Engkau ridloi...dan bila mereka tidak sadar dan tiada peka hatinya bila melihat kesengsaraan rakyatnya maka hinakanlah mereka Ya Allah...amiin....

MENGANTI SAJA SUDAH MULAI MACET...

Menganti enam tahun yang lalu merupakan tempat yang menarik saya untuk membeli rumah dengan cara mencicil. Bagaimana tidak, ketika pagi hari kita masih bisa menikmati kabut dan suara burung secara alami bukan burung dalam sangkar piaraan. Lucunya lagi kalau saya berangkat kerja jam tujuh pagi rasanya saya kok kepagian sekali karena jalanan terasa lengang. Begitu pula pulangnya kalau saya jam delapan malam di jalan rasanya kok sepi sekali sepertinya kok saya sendiri. Air tanahnya masih bagus dan jernih walau dengan kandungan kapurnya tinggi. Harus diakui bahwa airnya lebih jernih dari air PDAM.

Saya masih ingat ketika pertama kali saya mengangkuti barang untuk pindah ke rumah baru saya ini...kami sempat dihadang di depan kuburan oleh sekelompok pemuda mabuk untuk dikompasi uang. Beruntung kami lolos dari hadangan itu karena driver kendaraan yang saya tumpangi Pak Sutrisno memilih untuk tetap menjaga mobil tetap melaju dan memilih untuk menabrak mereka. Para pemuda tersebut akhirnya memilih minggir dan saya melihat dari kaca belakang bahwa mereka tidak mengejar mobil yang kami tumpangi. Untungnya saya saat itu bersama teman laki-laki saja. Kalau saja ada istri saya mungkin dia memilih tidak untuk menempati rumah dulu sampai keadaan ramai atau aman dan tidak rawan seperti saat itu.

Pernah juga saya pulang malam sekitar pukul satu malam dari Surabaya sehabis kunjungan di Paiton Power Gen saya menyuruh pak driver Taxi yang saya tumpangi untuk memacu kendaraan secepat mungkin karena saya mengkhawatirkan kondisi istri saya yang hamil tua sendirian di rumah. Saya memang berpesan kepada istri saya kalau ada yang mengetuk rumah jangan hiraukan baik laki-laki maupun perempuan. Memang saat itu rumah yang kami tinggali belum kami pagari dengan pagar karena menurut saya belum perlu. Waktu itu memang perumahan yang kami tempati baru dihuni keluarga kurang lebih hanya 40 KK saja. Alhamdulillah akhirnya saya sampai di rumah dan saya lihat istri saya sehat-sehat saja..

Hari ini saya berangkat kerja seperti biasa, jam tujuh pagi.... tapi ada sesuatu yang lain dalam satu tahun terakhir ini karena saya sedikit bingung kemana arah kendaraan yang berlawanan arah dengan saya ? Apakah ini karena dampak dari LUMPUR LAPINDO ? Memang Menganti yang berjarak kurang lebih 30 km dari Surabaya bisa menjadi jalur alternatif bagi yang tidak mau terjebak kemacetan bagi kendaraan yang menuju ke Surabaya dan ke Malang atau Mojokerto. Sedangkan sisi lain yang saya amati, kendaraan yang roda dua khususnya yang searah dengan saya ke Surabaya seperti semut berarak-arakan di jalanan. Saya geleng geleng kepala dibuatnya. Kenapa? Karena saya bandingkan dengan satu tahun sebelumnya...tidak seperti ini jalanan menuju ke Surabaya dan kembali ke Menganti Gresik.

Memang perkembangan dua tahun terakhir ini Menganti Gresik mendapatkan imbas dari perkembangan Surabaya Barat. Apalagi setelah Ciputra membangun Citra Landnya yang sempat terhenti pada saat penguasa ordebaru lengser.

Pembangunan yang sekarang ini begitu pesat. Di Surabaya Barat Apartemen bermunculan dan Mall tempat berbelanja berdiri dengan megahnya. Satu hal yang saya cermati penduduk sekitar yang memiliki lahan menjadi orang kaya baru karena lahan mereka dibeli oleh pengembang untuk mengembangkan bisnis mereka. Saya kuatir saja bahwa orang kaya baru ini tidak pandai mengelola uangnya dan akhirnya akan menjadi orang miskin baru. Sisi lain positifnya pengembangan Surabaya Barat membuat harga lahan disekitar meningkat tajam dan pengembang perumahan rumah sederhana menggeliat dan penjualan meningkat.

Tapi saya tidak ingin membahas ini...tentang developer yang banyak mengais keuntungan dari sektor propertinya. Saya ingin membahas tentang semrawutnya kendaraan di jalanan menuju ke Surabaya. Saya cuma berfikir apa ini karena gampangnya konsumen mendapatkan fasilitas kredit dengan perang 'gampangnya' memperoleh kendaraan roda dua dari dealer? Atau karena kemampuan ekonomi masyarakat yang meningkat? Atau karena mahalnya ongkos angkutan umum? Atau karena macetnya jalanan? Atau .....atau....

Saya cuma mau mencermati bahwa pada saat krisis energi seperti sekarang ini pemerintah kok tidak bersikap melihat banyaknya keluhan masyarakat tentang macetnya jalan ini? Timbul pertanyaan yang sangat besar dalam kepala saya? Atau karena memang para pejabatnya sudah pada TULI semua ? Atau karena pejabatnya tidak peka akan lingkungan sekitar? Bisa Anda bayangkan kalau pemerintahnya peka dan mengeluarkan kebijakan publik untuk moda transportasi masal sehingga berapa energi yang sudah dihemat dan ini tentunya tidak memberatkan APBN yang sudah direvisi karena keteteran akibat harga minyak dunia yang meningkat.

Semestinya moda transportasi bus dengan jalur khusus itu perlu dimasalkan dengan diikuti aturan pembatasan usia kendaraan dan menaikkan pajak kendaraan bermotor sampai tujuh kali lipatnya. Juga dengan diikuti oleh dicabutnya atau membatasi izin trayek angkutan umum. Saya sangat yakin bahwa dampaknya akan sangat terasa dalam dua atau tiga tahun ke depan.

Memang kebijakan sebaik apapun tentu akan menimbulkan kerugian dan keuntungan tetapi yang namanya kebijakan publik tentunya harus tetap berfihak pada publik. Bila keuntungan untuk publik dirasa lebih banyak itu berarti memang begitulah seharusnya sehingga tidak usah kaget dan takut akan di demo oleh supir dan pemilik angkot misalnya.

Dari hasil survey terakhir di Surabaya, satu diantara empat orang laki-laki memiliki kendaraan sepeda motor. Seandainya 30 persen saja dari jumlah penduduk Surabaya yang 3 jutaan itu laki-laki maka ada 900 sepeda motor yang telah berhemat dengan BBM. Bila 900 sepeda motor ini satu hari menghabiskan rata-rata 2 liter BBM berarti kita sudah menghebat BBM 1800 liter dan silahkan konversikan sendiri berapa rupiahnya ? Ini baru kendaraan roda dua saja. Belum lagi ditambah kendaraan roda empat pribadi yang pemiliknya tergiur dengan ramahnya moda transportasi masal yang disediakan pemerintah. Berapa BBM yang bisa kita hemat ? Sehingga ini akan berdampak secara makro untuk perekonomian secara nasional dan tentunya APBN pun akan semakin berdaya guna untuk kemaslahatan rakyat Indonesia ini. Ini bila satu kota saja. Bila itu diterapkan untuk semua kota di kota-kota Indonesia? Berapa yang bisa kita hemat ? Hitung sendirilah....artinya apa pemerintah bisa melakukan itu bila pemerintah berani dan sekali lagi BERANI mengeluarkan kebijakan publik yang bermafaat untuk publik! MERDEKA OIIIIII.......KAPAN MERDEKA SUNGGUHAN......?????

Sunday, March 02, 2008

Manajemen Kehidupan: Korban Kecerobohan Lalu Lintas#links

Manajemen Kehidupan: <strong>Korban Kecerobohan Lalu Lintas</strong>#links

Korban Kecerobohan Lalu Lintas

Keinginan saya menulis kali ini...karena tiga hari sebelumnya saya mengalami kecelakaan akibat kecerobohan berlalu lintas para pengguna jalan di Surabaya.

Kejadian berawal ketika saya ingin membawa sepeda Polygon saya pulang ke rumah setelah seminggu sebelumnya mengikuti Fun bike yang diadakan oleh BI Syariah. Sepeda memang beberapa hari saya biarkan di kantor karena memang kondisi saya masih belum memungkinkan untuk mengayuh dengan jarak yang lumayan jauh sekitar 30 km. Apalagi ditambah bila sore hari Surabaya selalu diguyur hujan....

Nah...saya sudah berniat bahwa saya akan membawa sepeda saya pada Sabtu 1 Maret nya...jadi ketika Jum'at malam tanggal 29 Februari saya sudah membawa perlengkapan berupa pakaian dan celana yang biasa saya gunakan bila berkendaraan bersepeda 'ontel'. Ketika melihat cuaca malam yang bagus dan udara tidak terlalu berangin maka saya memutuskan untuk mengontel sepeda saya malam hari itu juga Jum'at 29 Februari 2008. Jadilah saya mengontel...

Satu kilo meter pertama saya lewati dengan gembira karena memang lalu lintas biarpun ramai tapi teratur rapi...Ketika memasuki kilometer ke 5 mulailah kejadian itu, waktu saya berbelok di depan taman bungkul dan melewati rumah dinas Pangdam V Brawijaya dan berbelok lagi ke kiri menuju arah ke jalan Kutai...karena posisi lampu sudah hijau maka saya tetap mengayuh sepeda dengan kecepatan stabil...dan lalu lintas dari jalan Diponegoro jelas jelas sudah menunjukkan lampu merah...tanpa dinyana kendaraan yang sudah melaju dan pengendara memacu kendaraannya mendadak mengerem yang mengeluarkan bunyi decitan...ternyata ada pengendara sepeda ontel yang nyelonong saja...Nah saya yang berada disisi kiri jalan mengira bahwa saya akan diberikan jalan lebih dulu karena pengendara yang nyelonong persis berhenti di tengah jalan 'safety body' dan sudah mau memasuki ruas jalan yang aman...posisi saya sendiri sudah dipertengahan jalan...tanpa dinyana dan diduga si penyelonong terus saja..yah...namanya juga nyelonong....nah inilah yang membuat saya kaget sehingga sepeda saya rem dengan kuat ...berbarengan belakang dan depan...maka yang terjadi ban sepeda ontel saya yang belakang naik keatas (mumbul istilah Jawanya) dan saya seperti ditumpahkan ke depan.
Dalam posisi begitu saya refleks dan menjatuhkan tangan kiri saya dulu sebagai tumpuan dan kemudian dada kanan sedikit untuk mengurangi hentakan...malangnya...saya sedikit kehilangan keseimbangan dan akhirnya bibir saya duluan nyium aspal ...akibatnya dua gigi saya patah ditempat, kontan dan lunas. Saya pun masih sempat sadar dan bergumam dalam hati "wah gigi saya protol". Saya bangkit dan membawa sepeda saya menyeberangi jalan. Darah yang terus mengucur dari mulut saya membuat saya memutuskan untuk ke UGD Rumah Sakit RKZ atau Santo Paulo yang ada di depan. Saya minta perawatan...singkat cerita bibir saya dijahit sembilan jahitan...

Gigi yang patah dua saya ikhlaskan..dan esoknya setelah dipijat saya cek ke dokter gigi dan dokonsulkan ke ortodontist sore harinya. Karena gigi yang satu sering terasa ngilu akhirnya syarafnya diambil atau dimatikan dengan begitu saya tidak tersiksa bila ingin makan....AlhamdulilLah.

Minggunya saya sudah bisa olah raga kembali bermain badminton bersama teman-teman karena kebetulan klub saya mengadakan latih tanding persahabatan dengan klub dari daerah Tanjung Sari surabaya. aktivitas saya sudah seperti biasa walau dengan bibir diplester itu tidak membuat saya malu...pe de aja lage...

Hikmah yang saya petik dari peristiwa ini yah itu...tadi walaupun posisi kita ketika di traffic light sudah pada posisi hijau jangan anggap aman bahwa kita bisa melenggang dengan enaknya karena di Indonesia itu banyak pengendara yang tidak terdidik dan saya tidak mau membahas mengenai mengapa ini kok bisa? Ruwet membahasnya atau nanti akan saya sediakan sendiri tulisan mengenai analisis mengapa lalu lintas di Indonesia ruwet ??

Yang jelas akibat keruwetan ini akan banyak orang yang menjadi korban dari kecerobohan pengendara yang itu bisa berakibat fatal, celaka permanen atau bahkan kematian......bagaimana ini penguasa ...??? please deh..tegas dan keras...tapi tetap sopan....

Tuesday, February 26, 2008

PLN lagi.....insentif DisinsentiF ?

Pagi sebelum saya berangkat kerja, saya menonton berita bahwa PLN akan memberlakukan program insentif dan disinsentif bagi pelanggannya khususnya rumah tangga. Bagi pelanggan yang memakai tidak lebih dari 75KWH per bulannya maka akan mendapat insentif sebaliknya yang menggunakan lebih dari 75KWH akan dikenakan disinsentif berupa yang gak jelas,tarif khusus mungkin. Dalam tayangan bagaimana tanggapan konsumen, seorang ibu rumah tangga mengatakan tidak setuju dan keberatan karena rasanya gak mungkin bisa berhemat sampai segitu dan itu hanya akal-akalan PLN saja katanya.

Kenapa seh akhir-akhir ini kita selalu diributkan masalah bidang energi? Mengapa baru terfikirkan sekarang? Terus selama ini ngapain saja? Apa program ini mendapat dukungan pemerintah melalui DPR? Apa program ini sudah terintegrasi secara sistemik diseluruh jajaran bidang usaha milik pemerintah lainnya. Secara sederhana saya bisa katakan bahwa masalah energi memang tambah pelik akhir-akhir ini karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Jawa dan Bali sangat rawan krisis pada akhir-akhir ini terutama PLTU karena tidak mampunya kapal tongkang memenuhi kuota aman untuk operasi PLTU. Nah lo....? Banyak yang menyayangkan hal ini karena cuaca kan bisa diprediksikan jauh hari melalui BMG. Inilah salah satu jawaban yang saya pertanyakan di atas.

Dari sisi politis saya menilai keadaan yang memanas ditingkat bawah akibat tidak menentunya keadaan ditambah dengan proses mendekati pemilu membuat saya menilai lain. Walaupun harus diakui bahwa pemerintah sebenarnya tidak tegas dalam menerapkan kebijakannya untuk penghematan energi, semisal saja bahwa setiap kantor harus memiliki bus karyawan sendiri dan karyawan dilarang menggunakan mobil pribadi untuk ke kantor tetapi memang harus dibarengi dengan fasilitas yang memadai terutama transportasi publiknya. Ini saja gak bisa...koq !

Proses penghematan energi tidak semudah yang kita bayangkan karena anak bangsa ini sudah terbiasa boros karena mencontoh pemimpinnya juga. Seperti kata pepatah 'Pemimpin kencing berdiri rakyat kencing sprint'. Disisi lain apa pernah anak anak SD diajari cara berhemat untuk bidang apapun? Karena itulah nanti potret bangsa 15 tahun ke depan.

Saya cuma berfikir bahwa kitapun perlu mengkhayal bahwa PLN menerapkan model ponsel operator yang bisa beli pulsa untuk beli listrik. Jadi rumah tangga bisa beli listrik 75KWH perbulan dan bila itu habis maka gelap lah rumahnya. Apa mungkin ? Atau listrik ditransfer seprti frekuensi ke rumah-rumah begitu ya...???

Apapun namanya program penghematan ini bila tidak dikaji secara matang akan selalu menjadikan kami rakyat-rakyat kecil menjadi korban karena rakyat selalu menjadi bahan 'kambing congek' percobaan kebijakan petinggi di pusat. Jangan salahkan rakyatnya bila nanti mereka bedemo dan meminta pemerintahan yang sah dibubarkan saja dan mereka minta merdeka sendiri-sendiri. Bukankah pemerintahan itu sah bila diakui rakyatnya?

Itu tadi fikiran ekstrim, tapi apapun itu mbok ya tolonglah dikaji secara matang jangan sampai seperti pengalihan bahan bakar minyak tanah ke gas sekarang ini yang banyak menimbulkan masalah....siapa yang jadi korban ? Ya...rakyatnya lah...
Bila pemerintah tak pernah memikirkan rakyatnya dan tidak pernah mendengarkan mereka percayalah dengan tulisan saya ini...negara ini akan selalu begini sampai kiamat dan tidak akan pernah maju dan berubah...

Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kami pemimpin pemimpin yang amanah bukan pemimpin yang serakah. Ya Allah...ambil dan cabutlah pemimpin pemimpin kami yang serakah dan tidak mendengarkan rintihan rakyatnya sekarang dari bumi Indonesia ini dan jadikanlah mereka penghuni kubur dengan siksa yang berat sampai nanti menunggu hari kebangkitan yang Kau janjikan, amiinnnn...

Sunday, February 24, 2008

Kesenjangan di ENTIKONG KALBAR

Keinginan saya menulis hari ini karena salah satu TV Swasta kemarin yang meliput tentang kesenjangan kesejahteraan antara penduduk Indonesia yang tinggal diperbatasan dengan negara tetangga Malaysia di daerah Entikong Kalbar.

Mengapa daerah ini diliput? Saya yakin ini tidak lain karena santernya isu banyaknya warga Indonesia yang direkrut menjadi Laskar Wataniyah, untuk menjaga perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

Dalam liputan...diceritakan bahwa ada sebagian yang WNI yang berpindah warga negara karena tidak kuat dengan kemiskinan yang mendera mereka tetapi...disisi lain juga dicounter dengan ada sebagian WNI yang masih tetap mencintai ke WNI annya dengan mengatakan 'walau susah bagaimanapun akan tetap mencintai negara ini'. Ironi...

Dalam liputan tersebut ..Saya menjadi trenyuh ketika menayangkan betapa dedikasi seorang guru SD negeri di Entikong yang rela mengmabil gaji 3 bulan sekali ke kecamatan karena besarnya ongkos transportasi bila mengambil gaji dilakukan 1 bulan sekali...biaya perjalan pulang pergi untuk mengambil gaji hampir mencapai 250ribuan. Tidak hanya itu sang guru yang berdedikasi ini hanya mengajar sendirian untuk murid yang hampir 120 orang dari berbagai kelas karena dua orang rekannya hengkang karena tidak kuat menahan derita, coba anda bayangkan...

Alah...mak...negaraku ini kapan majunya kalau sektor pendidikannya saja potretnya seperti itu. Syafi'i Maarif mantan ketua Muhammadiyah pernah menulis disalah satu kolom harian pagi Jakarta bahwa gaji dewan di negara tetangga tersebut lebih kecil dari gaji guru...hal yang sangat kontras dengan negara ini gaji dewan berpuluh kali lipat dibanding gaji guru ???

Saudaraku yang di Entikong, Allah menciptakan bumi ini begitu luas ... yang bisa merubah nasib kalian adalah kalian sendiri. Negara hanya sebatas sebagai pengatur administratif. Jadi berbuatlah sesuatu untuk kesejahteraan diri kalian sendiri dan jangan terpaku pada batas teritorial ataupun apalah namanya.

Saya jadi ingat pengalaman pribadi diri saya sendiri ketika saya masih kecil dan sekolah di sekolah dasar di Medan sana. Untuk berangkat sekolah saya harus bangun pagi-pagi dan ikut dengan mobil truk tentara yang membawa orang tua saya yang memang tentara untuk berangkat dinas ke kantornya. Fasilitas yang memang bisa dikatakan lebih baik ketimbang saudara saya yang di Entikong sana. Keadaan berubah ketika keluarga kami pindah ke Palembang...waduh untuk sekolah saya harus jalan kaki hampir 5 kilo pulang pergi setiap hari. Sudah begitu air bersihnya tidak ada beda dengan ketika saya di Medan. Tapi saya tidak mau menyerah...saya tinggalkan daerah tempat tinggal saya setelah saya tamat SMA dan pergi merantau ke Jawa yang katanya bergelimang fasilitas. Sebuah kesenjangan yang sudah diketahui masyarakat negara ini.

Tapi saya pun cukup miris ketika saya mengunjungi pelosok pelosok pulau Jawa ini ternyata tidak jauh berbeda..hanya mungkin fasilitas jalan jalannya saja yang sudah baik. Padahal untuk teori ini saya sudah baca beberapa tahun sebelumnya tentang teori membangun pertanian yang ditulis oleh AT Mosher bahwa hal yang paling penting bagi pemerintah adalah membangun jalan-jalan disetiap daerah.

Repotlah kawan setelah saya mengetahui pula bahwa negara ini baru tahun 2003 yang lalu, menurut berita bisa melunasi utang peninggalan kolonial Belanda yang hampir 45 triliun itu. Aduh mak....ternyata kita ini baru merdeka dari penjajahan Belanda tahun 2003.

Saudara ku yang di Entikong. Sekali lagi saya berpesan bahwa berpindah atau tidak kewarganegaraan kalian dari WNI ke yang lainnya...itu tidak akan menjadi pertanyaan malaikat ketika nanti saudara-saudara ku di kubur. Paling penting adalah bila memang anda berpindah itu dapat memperbaiki kesejahteraan saudara mengapa tidak ? Banyak orang di negara ini yang berpindah kewarganegaraan karena alasan alasan tertentu yang tidak bisa saya sebutkan di sini dan salah satunya tadi ya itu...kok gak berubah berubah nasibnya....

Agama yang saya anut Islam mengajarkan bertebaranlah kamu di muka bumi ini dan berhijrahlah kamu dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu niatkan dalam hijrah mu. Nah..artinya masalah kewarganegaraan itu adalah masalah ke 301...jadi bukan masalah yang utama. Paling penting adalah kalian yakin bahwa dengan berhijrah kalian akan lebih baik...selamat memikirkannya saudara saudara ku....

Friday, February 15, 2008

Kyai Politik

Kyai kyai politik merupakan istilah yang sebetulnya tidak baru karena kita sudah mulai sering mendengarkan ini. Menariknya adalah banyak cerita miring ketimbang cerita baiknya pada kyai kyai yang berpolitik ini. Mulai dari money politic sampai dengan 'memajaki' konstituen yang mencoba hearing. Apakah ini yang disebut dengan kita sudah memasuki zaman atau masa kyai atau ulama yang jahat ?

Berpolitik dalam pandangan Islam tidaklah tabu karena itu merupakan siasah atau siasat. Yang paling penting adalah bagaiman berpolitik dengan cara Islami bukan malah menodai perilaku politik sehingga menyeret nama Islam menjadi negatif dan tentunya tidak memanfaatkan gelar kharismatik kyai yang diberikan dengan standar yang tidak jelas untuk mencapai tujuan dengan cara-cara yang tidak simpatik.

Kyai memiliki otoritas yang mewilayahi struktur informal dalam sosiologi masyarakat yang mayoritas Islam di Indonesia. Belakangan dengan banyaknya bendera organisasi massa Islam maka banyak pulalah bermunculan para kyai (yah..ini tadi dak jelas standarnya apa seh kyai itu?). Yang mengherankan hiruk pikuk itu akan bertambah lagi ketika mendekati pemilihan umum karena para kandidat pemimpin ini merasa kyai memiliki massa yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan suara perolehannya sehingga bisa memenangkan pemilihan.

Yang lucu lagi kyainya sudah terkontaminsai dan tidak jernih penglihatan mata bathinnya sehingga kadang kadang mengarahkan massanya untuk kandidat tertentu yang justru perilakunya tidak bisa dijadikan contoh publik.

Peran organisasi massa Islam tertentu pun sudah mulai latah dengan menjagokan kyainya untuk menduduki posisi politk tertentu dengan harapan yang tidak jelas. Belakangan kita tahu bahwa katanya netral dan kembali ke 'barak' nya. Mudah-mudahan ini bukan hanya lips service saja.

Saran saya mbok ya kyai itu ngurusi pesantren saja sehingga ummat ini tambah dalam ilmu agamanya dan berikanlah contoh perilaku yang baik kepada massa sehingga 'saran' yang diberikan kyai untuk pemerintah akan didengar karena perilakunya bukan karena kata-katanya. Kedepan kyai juga harus lebih hati-hati lagi dalam menerima undangan dari orang-orang tertentu sehingga tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak jelas karena untuk urusan politik serahkanlah pada yang ahlinya dan fungsi kyai sebaiknya menjadi penasehat dengan kekuatan akhlaqnya. (ojo nesu lo pak kyai...)

Wednesday, February 13, 2008

Valentine Day HARAM ! Rokok ???

Menarik Head Line koran harian pagi di Surabaya hari ini, Valentine di fatwakan HARAM!. Saya terus bertanya, kenapa kok baru sekarang ? Apa dulu belum merasakan bahwa sebetulnya semua itu adalah agenda dunia barat untuk merusak moral anak bangsa yang tidak sesuai dengan kebudayaan orang timur. Memang terkadang kita ini ‘ganjen’, semua budaya barat ditiru mentah mentah tanpa melihat sisi lain atau efek dari budaya tersebut bila diterapkan di negara ini.

Inilah mungkin tipikal anak bangsa, seharusnya memang ‘mencegah lebih baik dari pada mengobati’. Ada benarnya memang bahwa pada hari Valentine itu disalahgunakan oleh remaja ingusan yang lemah iman untuk berpesta dalam hiruk pikuk kasih sayang (katanya) yang mengarah ke pesta sex.

Aneh memang tapi itulah kenyataannya. Informasi yang menyusup sampai pelosok desapun telah membuat remaja-remaja putus sekolah saja mengerti apa itu valentine day.
Sebagai orang beragama sebenarnya perlu dipertanyakan kasih sayang itu apa cuma satu hari itu saja, tanggal 14 Februari ? Sama juga dengan hari hari yang lainnya….hari ibu, hari aids, hari bumi…..dan lain lain. Ini membuktikan bahwa manusia pada saat ini lupa bahwa sebetulnya kita memang harus mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan yang kita miliki untuk kemaslahatan bersama, setiap hari…. tidak pada hari-hari tertentu saja.

Bila kesadaran ini telah terbentuk maka banyak hal-hal yang perlu ditinggalkan karena alasan mudharatnya lebih banyak ketimbang manfaatnya. Permasalahannya adalah mengapa kyainya baru mengeluarkan fatwanya saat ini. Apa karena tekanan masyarakat akibat banyak dampak buruknya. Atau karena latah saja sebab di Saudi pemerintahannya melarang hal ini dan itu diliput media sehingga merasa tidak enak sendiri… kalau begitu di negara ini juga perlu seperti negara sana.

Timbul pertanyaan mengapa kok kyainya tidak mengeluarkan fatwa bahwa merokok itu HARAM. Seperti puisi Bung Taufiq Ismail ‘tuhan sembilan centi’. Apa karena kyainya ikut-ikutan merokok. Padahal kalau diteliti memang mudharatnya lebih banyak dari pada manfaatnya karena kandungan racunnya. Kalau sudah begini perlulah kita pertanyakan otoritas kyai di negara ini. Sekedar figur publik atau memang tokoh panutan untuk kemaslahatan ummat ??? Jawabannya yang tahu cuma kyainya sendiri. (ojo nesu karo aku lo kyai-kyai)

tuhan Sembilan Senti

tuhan Sembilan Senti
oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, dikantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan
cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di
toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat
merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang
merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI
sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan
bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi,orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab
ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari
tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya,
putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan
kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan
tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul
yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh
itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi
mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging
khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya
rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang
diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap
rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan
sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan
fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap
tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Tuesday, February 12, 2008

MBAH SANI

Ketika habis subuh saya menaiki anak tangga ke tempat jemuran yang berada dilantai 1,5 rumah saya. Tak sengaja saya melihat Mbah Sani sedang mengais tong sampah dengan memikul karung plastik yang sepertinya sudah berisi barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan untuk dijual ke penadah.

Mbah Sani, biasa kami memanggilnya, beliau merupakan pengurus Musholla di tempat tinggal kami. Orangnya sudah berusia 70 tahunan, saya sendiri tidak mengetahui dengan pasti usia Mbah Sani ini karena saya merasa tidak enak bila ingin menanyakan usianya sudah berapa. Sama seperti Mbah Sani, sebagai pengurus Mushollah Baitul Jannah di lingkungan tempat kami tinggal saya selalu melibatkan Mbah Sani dalam setiap musyawarah.

Yang membuat saya ingin menulis tentang Mbah Sani ini adalah ketika Idul Adha tahun 1428 H kemarin, Mbah Sani salah satu jamaah kami yang turut berpartisipasi dalam memberikan hewan kurban pada Musholla kami. Saya memang sempat dibisiki oleh Mbah Sani bahwa dia berkeinginan untuk kurban pada tahun itu. Saya menyarankan untuk menemui Pak Yasin yang biasa mencarikan hewan kurban untuk jamaah.

Pada hari H, sebelum sholat dimulai panitia membacakan laporan berapa banyak hewan kurban yang diperoleh panitia. Salah satunya Mbah Sani. Bagi saya pemberitahuan ini adalah hal biasa karena memang sudah menjadi kebiasaan setempat. Menjadi tidak biasa adalah ketika saya bersama pengurus lain sedang sibuk mengurusi kurban datanglah pengurus lainnya yang bernama Pak Khusnun untuk mengajak saya menghitung kotak infaq yang didapat pada hari itu. Tanpa sengaja Pak Khusnun berguman “Wah aku kalah sama Mbah Sani. Mbah Sani bisa kurban saya tidak”. Saya sedikit kaget tetapi saya tidak menampakkan ekspresi itu dan saya menanggapinya dengan perkataan yang membesarkan hati Pak Khusnus “Wah mudah-mudahan tahun depan Bapak bisa seperti Mbah Sani”.

Iri pak Khusnun ini adalah iri yang baik dan sangat dianjurkan dalam agama. Iri untuk berbuat kebaikan sama atau bahkan lebih dari sesama kaum mukmin merupakan sebuah penampakan secara lahiriah iman seseorang. Allah lah yang akan menilai hatinya, ikhlas atau tidak.

Kalimat Pak Khusnun sempat saya maknai ‘masak kalah sama tukang pungut sampah’. Yah…memang begitulah kenyataannya. Mbah Sani selain diberi upah lelah sebagai pengurus Musholla dengan tugas menutup dan membuka pintu serta membersihkan Musholla memiliki pendapatan sampingan dengan memungut plastik bekas, kardus bekas, atau barang rongsokan lain yang sudah tidak digunakan warga perumahan dimana kami tinggal. Bahkan terkadang jamaah ada yang memberikan langsung kepada Mbah Sani atau juga menyuruh Mbah Sani datang kerumah jamaah untuk mengambil barang yang sudah tidak dipergunakan lagi. Oleh Mbah Sani barang-barang tersebut dijual kepada langganannya yang secara ajek mengambil barang bekas tersebut. Mbah Sani pun memperoleh penghasilan tambahan.

Hal lain yang saya tangkap dari Mbah Sani selain sederhana dalam hidup juga zuhud terhadap dunia dan kuat dalam niat sehingga apa yang menjadi ‘keinginannya’ dapat terkabul. Allahu Akbar.

Sosok Mbah Sani ini memberikan pelajaran pada diri saya khususnya bahwa segala sesuatu yang kita inginkan dapat berhasil bila kita ulet, kerja keras dan hemat. Semoga Mbah Sani sebagai penyemangat hidup saya dan jamaah lainnya menjadi contoh nyata dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Itulah sosok sederhana Mbah Sani yang selalu mengumandangkan azan diwaktu subuh untuk memanggil kaum muslimin berjamaah di Musholla. (Yang muda-muda kapan mau jadi muadzin ???)

Monday, February 11, 2008

Laskar Wong Kito (Galo) Double Winner

Euforia Sriwijaya FC nampak begitu bingar ketika kuli tinta menjepretkan kamera kesana kemari. Itu nampak jelas pada saat seremoni penyerahanan piala dan hadiah uang diserahkan. Tangis bahagia bercampur menjadi satu. Berbeda dengan tim lawan si ayam kinantan, pemain mereka sedih…terutama pemain asing mereka James, mereka larut dalam kekecewaan. Tapi itulah permainan harus ada yang menang dan kalah tetapi sportivitas harus tetap dijunjung tinggi. Sayangnya final ini ternoda oleh ulah supporter pada pertandingan semifinal sebelumnya sehingga final kali ini sepi dari penonton.

Di belahan dunia lain klub sepakbola merupakan industri yang dikelola secara profesional karena tanpa penonton fanatik dan sponsor yang mensupport dunia sepakbola akan mati rasa. Di Indonesia bedanya mungkin sang sponsor adalah perusahaan rokok yang itu akan menjadi tabu untuk sponsor olah raga di belahan dunia lain.

Apapun hasilnya Sriwijaya FC telah menunjukkan kualitasnya sehingga menjadi juara di dua ajang laga COPA dan LIGA. Tetapi semoga saja Sriwijaya FC tidak seperti tim tim sebelumnya yang setelah meraih juara liga terus terpuruk ke papan tengah atau bahkan terdegradasi. Belajar dari itu semua apa yang menyebabkannya?

Biasanya setelah menjadi juara Liga banyak pemain inti menjadi incaran klub klub lain yang menginginkan perbaikan peringkat dalam ajang laga berikutnya. Walaupun soal transfer mentransfer pemain dalam liga sepakbola itu biasa tetapi perlu dicermati bahwa hal ini bila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan efek yang buruk bagi klub-klub papan atas. Mengapa? Keterbatasan jumlah pemain berkualitas dan iming-iming gaji yang lebih menggiurkan akan membuat mental pemain goyah sehingga membuat mereka bisa lepas kontrol dan berpindah ke klub lain.

Disinilah perlunya manajemen yang baik dari klub terutama official dan dewan pembina untuk pandai mengelola hati pemain. Gaji masih merupakan faktor penentu di Indonesia. Berbeda dengan dunia sana dimana iklim klub dan fanatisme supporter ikut mempengaruhi secara signifikan untuk membuat pemain terbaik tetap membela klub yang sama dalam jangka waktu cukup lama. Ada hal lain bila kita menonton berita di televisi bahwa klub-klub raksasa di belahan dunia sana selalu memiliki stok pemain muda dari klub anak bawang (anak gawang) mereka sehingga bila sudah waktunya bisa diorbitkan maka pemain yang bersangkutan akan naik kelas menjadi pemain inti. Di Indonesia…????

Harapan saya pada Sriwijaya FC, mudah-mudahan hal ini dicermati sehingga nasib Sriwijaya FC tidak seperti klub lainnya setelah juara terus terpuruk atau bahkan terdegradasi. Sriwijaya FC juga telah membuka mata orang Indonesia karena mereka yang selama ini pengetahuan geografinya kurang bagus akan tahu bahwa Sriwijaya FC itu klubnya orang Sumatera Selatan alias Palembang.

Pemilihan nama Sriwijaya FC juga patut diacungi jempol karena telah menghidupkan fanatisme kebesaran sejarah masa lampau bahwa dahulu kala ada kerajaan besar yang menguasai wilayah nusantara ini yang sampai saat ini pusat kerajaannya masih diperdebatkan dari sisi ilmu antropologi. Kerajaan itu adalah KERAJAAN SRIWIJAYA.

Tidak hanya itu semoga Sriwijaya FC ini nantinya akan menjadi klub yang diperhitungkan di percaturan Liga Indonesia, Asia dan bahkan dunia. Walau sedikit gamang saya juga berharap semoga ke depan muatan pemain lokal lebih dipertimbangkan sebagai atmosfer baru untuk menggugah anak-anak bumi Sriwijaya menggilai bola dan tentunya juga sebagai gantungan hidup alias sebagai pekerjaan. Sehingga bukan tidak mungkin nanti KTP anak-anak Sriwijaya berbunyi “Atlet Sriwijaya FC” pada kolom pekerjaan. Semoga, amiin….