Menarik Head Line koran harian pagi di Surabaya hari ini, Valentine di fatwakan HARAM!. Saya terus bertanya, kenapa kok baru sekarang ? Apa dulu belum merasakan bahwa sebetulnya semua itu adalah agenda dunia barat untuk merusak moral anak bangsa yang tidak sesuai dengan kebudayaan orang timur. Memang terkadang kita ini ‘ganjen’, semua budaya barat ditiru mentah mentah tanpa melihat sisi lain atau efek dari budaya tersebut bila diterapkan di negara ini.
Inilah mungkin tipikal anak bangsa, seharusnya memang ‘mencegah lebih baik dari pada mengobati’. Ada benarnya memang bahwa pada hari Valentine itu disalahgunakan oleh remaja ingusan yang lemah iman untuk berpesta dalam hiruk pikuk kasih sayang (katanya) yang mengarah ke pesta sex.
Aneh memang tapi itulah kenyataannya. Informasi yang menyusup sampai pelosok desapun telah membuat remaja-remaja putus sekolah saja mengerti apa itu valentine day.
Sebagai orang beragama sebenarnya perlu dipertanyakan kasih sayang itu apa cuma satu hari itu saja, tanggal 14 Februari ? Sama juga dengan hari hari yang lainnya….hari ibu, hari aids, hari bumi…..dan lain lain. Ini membuktikan bahwa manusia pada saat ini lupa bahwa sebetulnya kita memang harus mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan yang kita miliki untuk kemaslahatan bersama, setiap hari…. tidak pada hari-hari tertentu saja.
Bila kesadaran ini telah terbentuk maka banyak hal-hal yang perlu ditinggalkan karena alasan mudharatnya lebih banyak ketimbang manfaatnya. Permasalahannya adalah mengapa kyainya baru mengeluarkan fatwanya saat ini. Apa karena tekanan masyarakat akibat banyak dampak buruknya. Atau karena latah saja sebab di Saudi pemerintahannya melarang hal ini dan itu diliput media sehingga merasa tidak enak sendiri… kalau begitu di negara ini juga perlu seperti negara sana.
Timbul pertanyaan mengapa kok kyainya tidak mengeluarkan fatwa bahwa merokok itu HARAM. Seperti puisi Bung Taufiq Ismail ‘tuhan sembilan centi’. Apa karena kyainya ikut-ikutan merokok. Padahal kalau diteliti memang mudharatnya lebih banyak dari pada manfaatnya karena kandungan racunnya. Kalau sudah begini perlulah kita pertanyakan otoritas kyai di negara ini. Sekedar figur publik atau memang tokoh panutan untuk kemaslahatan ummat ??? Jawabannya yang tahu cuma kyainya sendiri. (ojo nesu karo aku lo kyai-kyai)
Wednesday, February 13, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment