Cerita ini menginspirasi saya untuk menuangkannya dalam tulisan di blog yang jelek ini. Bagaimana tidak …cerita teman saya seperti judul di atas membuat dua kutub yang saling berlawnan ketika teman saya tadi membaca sebuah bulletin di salah satu kampus ternama di Surabaya.
Dalam bulletin yang memuat profil seorang doktor muda dengan segala pernak pernik prestasinya dan sudah diangkat menjadi PNS mengikuti ‘gelombang Kepres SBY’ yang mengangkat honorer-honorer menjadi PNS.
Menariknya setelah membaca bulletin tersebut teman tadi berujar (mungkin berseloroh) “saya akan membuat bulletin baru dan akan saya beri judul ‘honorer tertua’. Kontan teman diseklilingnya tertawa terbahak. Iseng ada teman yang menanyakan
‘lho memang siapa pak yang honorer tertua?’
‘ya…saya ini dan pak sekuriti itu sambil menunjuk seorang sekuriti’
Dengan iseng pula saya menyelidik ke sekuriti ‘pak umurnya berapa pak?’
‘lima tujuh’ jawab sekuriti enteng
Aku bergumam dalam hati…kasihan mereka tapi saya tidak mau berfikir panjang salah siapa sebetulnya dengan sistim kepegawaian yang ada di Negara Indonesia ini. Saya hanya mengamati bahwa dalam lingkungan kerja teman tadi kkn nya masih sangat kental…mereka yang bekerja disitu banyak yang memiliki pertalian darah yang kuat.
Inilah tipikal bangsa ini, tidak memiliki arah dan kompetensi yang jelas sehingga tidak disegani bangsa lain di dunia.
Sejak saya SD sampai saya memiliki anak dua sekarang ini, yang saya lihat rakyatnya gitu-gitu aja sejahtera tapi semu…mengapa semu? Kelihatannya memiliki asset yang banyak tapi sebetulnya dari hasil berhutang. Bagaimana tidak…berapa sih gaji honorer? Saya hanya melihat pemerintah perlu memberikan bimbingan mental pada anak bangsa ini agar banyak menjadi pengusaha dan anggota legislative biar cepat kaya …???
Sunday, August 31, 2008
Wednesday, August 06, 2008
Refleksi Pagi, 7 Agustus 2008
Di tempat teman saya bekerja di salah satu universitas negeri ternama di Surabaya banyak sekali kelucuan terjadi, terutama di sistim informasi akademik nya. Bagaimana tidak menurut teman saya ini peristiwa ini sudah berlangsung bertahun-tahun tetapi tidak ada jalan keluarnya. Artinya bila ada apa-apa semua dilimpahkan ke bagian akademik selaku entrier data atau operator. Ini menyebabkan semua saling lempar kesalahan antara fihak yang semestinya bertanggung jawab dan me maintance dengan fihak end user.
Suatu ketika saya jalan-jalan ‘menyambangi’ teman saya tersebut dan saya diterima di ruangannya. Saya hanya melihat bagaimana kabel bersliweran seperti kabel listrik, dan telepon di negara ini yang semakin semrawut ketika musim layangan tiba. Ketika saya mencoba ke kamar mandinya waduh sungguh jauh dari kesan mewah…bila dibanding dengan berapa besar SPP yang harus dibayar kan mahasiswa. Ini saya tahu sendiri karena kebetulan ada anak teman saya juga yang kuliah di sana.
Dalam kacamata saya mengukur manajemen secara sederhana itu gampang saja, apalagi itu dari sebuah kantor bergengsi ataupun universitas ternama sekalipun. Cukup dari instalasi kabel dan kebersihan kamar mandinya. Bila dua variable itu tertata dengan baik bisa dipastikan manajemen di instansi atau perusahaan tersebut Insya Allah baik. Mengapa ? Jawabannya sederhana pula, karena salah satu manajemen Tuhan itu adalah planning atau perencanaan yang kemudian diduplikasi oleh pakar-pakar manajemen dengan istilah terkenal POAC nya (Planning, Organizing, Actuating and Controlling) yang saya dapatkan ketika saya dulu belajar manajemen.
Lihatlah bagaimana Allah menciptakan alam ini, perencanaannya... SubhanaLlah….indah nian kawan, bagaimana sang Pencipta ini mengorganisasinya dengan sempurna. Manusia seharusnya memperhatikan itu dan menduplikasinya dalam kehidupan sehari-hari agar dia bisa mendekati manajemen Allah tadi, walaupun jelas-jelas tidak akan mampu menyamainya tetapi Allah sudah memberikan contoh dalam kehidupan bahwa hendaknya kita punya rencana dan organisasi yang baik. Bukan begitu teman.
Hal lain yang saya perhatikan ketika saya sowan ke kantor teman saya itu adalah kebersihannya dan rambu-rambu yang harus dipatuhi semisal ‘dilarang merokok’. Waduh amburadul sekali karena saya tetap mencium aroma asap rokok walau terpampang tulisan besar diatas dinding nya DILARANG MEROKOK ! apalagi itu diruangan yang ber AC. Heheh..inilah tipikal orang Indonesia, muslim lagi… Sama ketika saya bandingkan dengan warga di tempat perumahan saya yang mayoritas muslim dan pandai sekali berdalil dengan Qur’an and hadits, tapi ketika ngurusi sampah rumah tangganya sendiri gak bisa. Bagaimana tidak, selalu menghafal “kebersihan itu sebagian dari pada iman” tetapi kalau buang sampah sembarangan.
Ini secara mikro merupakan potret makro bangsa Indonesia (sebab terkenal di dunia karena KORUPSI nya), karena sudah mengakar di atas yang berarti di bawah bukan hanya mengakar lagi tetapi sudak bertunas pula akarnya. Artinya generasi-generasi baru sudah tertular penyakit tidak mau tahu ini bahkan malah lebih hebat lagi menduplikasi dan mengembangkan penyakit masyarakat ini.
Kalau sudah begini bagaimana kira-kira jadinya bangsa ini 10 tahun ke depan nanti? Waktu yang menjawab..saya hanya berdo’a semoga ALLAH tidak segera memusnahkan dan menghancurkan bangsa ini dan menggantinya dengan ummat yang lebih baik seperti janji ALLAH dalam Al-Anbiya ayat 11,
“Dan berapa banyak penduduk negeri yang zalim yang telah Kami binasakan dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain sebagai penggantinya (AL-Anbiya: 11)”
Mudah-mudahan kita sadar dan selalu ingat akan janji ALLAH ini karena janji ALLAH tidak akan pernah meleset sedikitpun beda dengan janji manusia yang ketika berkampanye memperebutkan jabatan begitu manisnya tetapi setelah itu saudara-saudara lihat sendiri…bagaimana ?
Semoga kita selalu mendapat hidayahnya dalam mengarungi kehidupan ini sehingga kita pandai me’menej’ diri sendiri, keluarga, organisasi dan lain-lain seperti sudah di contoh kan Nya dalam alam semesta ini.
Ingatlah yang termaktub dalam surat Muhammad ayat 33 ini,
"Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang pada hari itu, seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji ALLAH adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam menta'ati ALLAH"
Suatu ketika saya jalan-jalan ‘menyambangi’ teman saya tersebut dan saya diterima di ruangannya. Saya hanya melihat bagaimana kabel bersliweran seperti kabel listrik, dan telepon di negara ini yang semakin semrawut ketika musim layangan tiba. Ketika saya mencoba ke kamar mandinya waduh sungguh jauh dari kesan mewah…bila dibanding dengan berapa besar SPP yang harus dibayar kan mahasiswa. Ini saya tahu sendiri karena kebetulan ada anak teman saya juga yang kuliah di sana.
Dalam kacamata saya mengukur manajemen secara sederhana itu gampang saja, apalagi itu dari sebuah kantor bergengsi ataupun universitas ternama sekalipun. Cukup dari instalasi kabel dan kebersihan kamar mandinya. Bila dua variable itu tertata dengan baik bisa dipastikan manajemen di instansi atau perusahaan tersebut Insya Allah baik. Mengapa ? Jawabannya sederhana pula, karena salah satu manajemen Tuhan itu adalah planning atau perencanaan yang kemudian diduplikasi oleh pakar-pakar manajemen dengan istilah terkenal POAC nya (Planning, Organizing, Actuating and Controlling) yang saya dapatkan ketika saya dulu belajar manajemen.
Lihatlah bagaimana Allah menciptakan alam ini, perencanaannya... SubhanaLlah….indah nian kawan, bagaimana sang Pencipta ini mengorganisasinya dengan sempurna. Manusia seharusnya memperhatikan itu dan menduplikasinya dalam kehidupan sehari-hari agar dia bisa mendekati manajemen Allah tadi, walaupun jelas-jelas tidak akan mampu menyamainya tetapi Allah sudah memberikan contoh dalam kehidupan bahwa hendaknya kita punya rencana dan organisasi yang baik. Bukan begitu teman.
Hal lain yang saya perhatikan ketika saya sowan ke kantor teman saya itu adalah kebersihannya dan rambu-rambu yang harus dipatuhi semisal ‘dilarang merokok’. Waduh amburadul sekali karena saya tetap mencium aroma asap rokok walau terpampang tulisan besar diatas dinding nya DILARANG MEROKOK ! apalagi itu diruangan yang ber AC. Heheh..inilah tipikal orang Indonesia, muslim lagi… Sama ketika saya bandingkan dengan warga di tempat perumahan saya yang mayoritas muslim dan pandai sekali berdalil dengan Qur’an and hadits, tapi ketika ngurusi sampah rumah tangganya sendiri gak bisa. Bagaimana tidak, selalu menghafal “kebersihan itu sebagian dari pada iman” tetapi kalau buang sampah sembarangan.
Ini secara mikro merupakan potret makro bangsa Indonesia (sebab terkenal di dunia karena KORUPSI nya), karena sudah mengakar di atas yang berarti di bawah bukan hanya mengakar lagi tetapi sudak bertunas pula akarnya. Artinya generasi-generasi baru sudah tertular penyakit tidak mau tahu ini bahkan malah lebih hebat lagi menduplikasi dan mengembangkan penyakit masyarakat ini.
Kalau sudah begini bagaimana kira-kira jadinya bangsa ini 10 tahun ke depan nanti? Waktu yang menjawab..saya hanya berdo’a semoga ALLAH tidak segera memusnahkan dan menghancurkan bangsa ini dan menggantinya dengan ummat yang lebih baik seperti janji ALLAH dalam Al-Anbiya ayat 11,
“Dan berapa banyak penduduk negeri yang zalim yang telah Kami binasakan dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain sebagai penggantinya (AL-Anbiya: 11)”
Mudah-mudahan kita sadar dan selalu ingat akan janji ALLAH ini karena janji ALLAH tidak akan pernah meleset sedikitpun beda dengan janji manusia yang ketika berkampanye memperebutkan jabatan begitu manisnya tetapi setelah itu saudara-saudara lihat sendiri…bagaimana ?
Semoga kita selalu mendapat hidayahnya dalam mengarungi kehidupan ini sehingga kita pandai me’menej’ diri sendiri, keluarga, organisasi dan lain-lain seperti sudah di contoh kan Nya dalam alam semesta ini.
Ingatlah yang termaktub dalam surat Muhammad ayat 33 ini,
"Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang pada hari itu, seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji ALLAH adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam menta'ati ALLAH"
ANAK KECILPUN BISA BERIMAJINASI
Kalau saya mengingat peristiwa minggu lalu saya terkadang ingin tertawa sendiri kadang geli dan kadang haru. Anak saya yang berusia 4 tahun menangis sesenggukan karena mengingat cerita ku.
Yah sore itu saya pulang ke rumah lebih awal dari biasanya karena memang hari itu saya letih sekali. Sesampai di rumah aku menemui anak ku Cici sedang bermain dengan kakanya Fira. Seperti biasa aku selalu memeluk anakku dan menimangnya sambil menciuminya. Menanyakan bagaimana pelajaran di sekolah TK nya, apakah ada PR dan segala tetek bengek yang dialaminya seharian itu. Komunikasi itu tetap aku lakukan dan kujaga untuk membuat hubungan kami tidak hanya sebatas bapak dan anak tetapi juga sebagai sahabat.
Cici mengikuti ku ke kamar dan aku menggendongnya. Sambil tiduran aku bercanda bersamanya, sedang si Fira membaca saja di ruang keluarga. Kebiasaan membaca memang aku tanamkan sejak anak mulai kecil. Sering ketika libur mereka aku ajak ke toko buku hanya untuk sekedar jalan-jalan ataupun membeli buku baru cerita untuk anak yang mereka belum punya. Walau Cici belum bisa membaca dia selalu minta dibacakan cerita dari buku baru yang dipilihnya ketika sebelum tidur baik oleh kakanya Fira, mamanya ataupun saya sendiri. Saya terkadang tersenyum sendiri dibuatnya ketika dia kadang-kadang membaca buku sendiri lagaknya orang yang sudah pandai membaca dengan melihat gambar di buku dan meramu kata katanya berdasarkan daya ingat yang dimilikinya ketika dia menyimak mendengarkan cerita yang dibacakan kakaknya, mamanya ataupun aku sendiri. Itulah Cici dengan segala gaya dan celotehnya.
Entah dari mana asalnya pernyataan Cici sore itu tiba-tiba dia mengemukakan
“Ayah aku ingin keliling dunia”
“Ho…bagus itu dik…tapi kalau mau keliling dunia adik harus rajin belajar dan pandai membaca dan tentunya harus berprestasi di sekolah,” jawabku sambil memeluknya.
“Kalau nanti berprestasi di sekolah dan bahasa asingnya bagus, adik nanti bisa sekolah gratis karena dapat beasiswa. Beasiswa dari luar negeri banyak lo dik…nanti akan ayah carikan informasi,” jawabku. Aku lantas menirukan dengan pura-pura membaca surat panggilan diterima nya anakku Cici di salah satu universitas di Amerika, Ohio State University. Dengan bahasa Inggris ku yang gratal gratul aku membaca sekenaku. Anakku Cici hanya melongo memperhatikan ku.
“Terus nanti adik..ayah uruskan paspornya, visanya dan pada saatnya berangkat ayah akan antar adik ke bandara,” celotehku dengan sangat menjiwai peran ku sebagai seorang ayah.
Ketika akan berangkat ayah akan memeluk adik
“Ayah …akan sangat merindukan mu dik,” kataku sambil memeluk anak ku sungguhan. Dengan mimik terharu dan meneteskan air mata aku melanjutkan
“Jaga diri baik-baik ya nak…di rantau… jangan lupa sholat dan mengajinya…ayah akan bangga pada adik dan sekolahlah yang rajin. Jangan lupa kirim kabar bila nanti sudah tiba di Amerika,” celoteh ku sambil sesenggukan.
“Sampai di Amerika adik terus kirim kabar ke ayah dan mama melalui kcanggihan teknologi bisa internet bisa telepon atau nanti bisa pake teknologi baru yang belum dikenal saat ini,” lanjutku.
“Halo ayah..hallo mama adik sudah sampai di Amerika di sekolah Adik dan tinggal di asrama…adik baik-baik saja dan disini udaranya sangat dingin gak kayak di Indonesia,” aku sambil menirukan suara anak perempuan kecil.
Keletihan membuatku tidak melanjutkan ceritaku…tapi yang terjadi kemudian Cici anakku nyeletuk
“Ayah terus aku kalau udah selesai sekolah pulang ke Surabaya dan kerja di Surabaya kan?” tanyanya meyakinkan ku
“Oh iya…dik,” jawabku
“Ayah aku sedih…HUA..HUA..HUA….,” aku kaget dibuatnya.
Aku mengira giliran anakku ini yang akting…gak tahunya betulan dia nangis sungguhan dan sesenggukan sambil teriak “MAMAAA….MAMAA….heng…heng…,” aku kalang kabut dibuatnya.
Kugendong anakku… tangisnya tak mau berhenti juga…akhirnya aku minta bantuan emak yang biasa membantu kami di rumah untuk menggendongnya sebentar…sembari aku mengerjakan kewajibanku sholat Asyar. Sampai aku selesai sholat tangis anakku ini belum berhenti juga. Aku lantas memanggil anakku Cici untuk datang kepadaku. Ini biasa kulakukan selesai sholat fardu untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anakku sambil meniupkannya di kening mereka.
Sambil kugendong aku berdo’a dan meniupkan ke ubun-ubun Cici yang masih sesenggukan. Aku lantas berfikir apa yang salah ya….akhirnya aku punya ide untuk melanjutkan cerita yang belum selesai tadi.
“Ketika adik selesai kuliah di Amerika..adik terus telpon ayah mengabarkan bahwa adik sudah selesai kuliah dan akan segera pulang ke Surabaya,” aku bercerita terus dan Cici mulai diam dari tangisnya dengan terus menyimak ceritaku.
“Ayah, mama dan kak Fira menjemput kedatangan adik di bandara,” lanjutku
“Harap-harap cemas ayah memperhatikan setiap penumpang yang keluar di pintu kedatangan dan ayah sungguh pangling ketika melihat adik Cici yang lebih tinggi badannya dan lebih putih dengan mata sedikit kebiru-biruan mungkin karena kebanyakan makan keju di sana, “ kataku sambil memencet hidungnya.
“Adik ! hei …ini Ayah….,” kataku sambil menirukan gaya melambaikan tangan.
“Ayah memeluk adik. Oh….ayah sungguh merindukan mu adik…terus mama juga memeluk adik..dan kak Fira juga memeluk adik,” kataku melanjutkan
“Terus adik cari kerja di Surabaya dan diterima. Waktu adik dapat gaji pertama kali adik ngajak ayah, mama dan kak Fira makan bersama di restoran, nraktir ayah, mama dan kak Fira,” kataku.
Anak ku ini mulai tersenyum, aku mengakhiri cerita…tapi ternyata anakku ini nyeletuk
“Ayah besok-besok jangan cerita yang sedih lagi ya…adik ikut sedih…terutama ketika ayah nganter ke bandara,” aku kaget mendengar komentarnya.
Anak ku anak ku…mudah-mudahan keinginan mu terkabul ingin keliling dunia hehehe ternyata anak kecil juga bisa diajak berimajinasi. Semoga cita-citamu terkabul nak…amiinn
Yah sore itu saya pulang ke rumah lebih awal dari biasanya karena memang hari itu saya letih sekali. Sesampai di rumah aku menemui anak ku Cici sedang bermain dengan kakanya Fira. Seperti biasa aku selalu memeluk anakku dan menimangnya sambil menciuminya. Menanyakan bagaimana pelajaran di sekolah TK nya, apakah ada PR dan segala tetek bengek yang dialaminya seharian itu. Komunikasi itu tetap aku lakukan dan kujaga untuk membuat hubungan kami tidak hanya sebatas bapak dan anak tetapi juga sebagai sahabat.
Cici mengikuti ku ke kamar dan aku menggendongnya. Sambil tiduran aku bercanda bersamanya, sedang si Fira membaca saja di ruang keluarga. Kebiasaan membaca memang aku tanamkan sejak anak mulai kecil. Sering ketika libur mereka aku ajak ke toko buku hanya untuk sekedar jalan-jalan ataupun membeli buku baru cerita untuk anak yang mereka belum punya. Walau Cici belum bisa membaca dia selalu minta dibacakan cerita dari buku baru yang dipilihnya ketika sebelum tidur baik oleh kakanya Fira, mamanya ataupun saya sendiri. Saya terkadang tersenyum sendiri dibuatnya ketika dia kadang-kadang membaca buku sendiri lagaknya orang yang sudah pandai membaca dengan melihat gambar di buku dan meramu kata katanya berdasarkan daya ingat yang dimilikinya ketika dia menyimak mendengarkan cerita yang dibacakan kakaknya, mamanya ataupun aku sendiri. Itulah Cici dengan segala gaya dan celotehnya.
Entah dari mana asalnya pernyataan Cici sore itu tiba-tiba dia mengemukakan
“Ayah aku ingin keliling dunia”
“Ho…bagus itu dik…tapi kalau mau keliling dunia adik harus rajin belajar dan pandai membaca dan tentunya harus berprestasi di sekolah,” jawabku sambil memeluknya.
“Kalau nanti berprestasi di sekolah dan bahasa asingnya bagus, adik nanti bisa sekolah gratis karena dapat beasiswa. Beasiswa dari luar negeri banyak lo dik…nanti akan ayah carikan informasi,” jawabku. Aku lantas menirukan dengan pura-pura membaca surat panggilan diterima nya anakku Cici di salah satu universitas di Amerika, Ohio State University. Dengan bahasa Inggris ku yang gratal gratul aku membaca sekenaku. Anakku Cici hanya melongo memperhatikan ku.
“Terus nanti adik..ayah uruskan paspornya, visanya dan pada saatnya berangkat ayah akan antar adik ke bandara,” celotehku dengan sangat menjiwai peran ku sebagai seorang ayah.
Ketika akan berangkat ayah akan memeluk adik
“Ayah …akan sangat merindukan mu dik,” kataku sambil memeluk anak ku sungguhan. Dengan mimik terharu dan meneteskan air mata aku melanjutkan
“Jaga diri baik-baik ya nak…di rantau… jangan lupa sholat dan mengajinya…ayah akan bangga pada adik dan sekolahlah yang rajin. Jangan lupa kirim kabar bila nanti sudah tiba di Amerika,” celoteh ku sambil sesenggukan.
“Sampai di Amerika adik terus kirim kabar ke ayah dan mama melalui kcanggihan teknologi bisa internet bisa telepon atau nanti bisa pake teknologi baru yang belum dikenal saat ini,” lanjutku.
“Halo ayah..hallo mama adik sudah sampai di Amerika di sekolah Adik dan tinggal di asrama…adik baik-baik saja dan disini udaranya sangat dingin gak kayak di Indonesia,” aku sambil menirukan suara anak perempuan kecil.
Keletihan membuatku tidak melanjutkan ceritaku…tapi yang terjadi kemudian Cici anakku nyeletuk
“Ayah terus aku kalau udah selesai sekolah pulang ke Surabaya dan kerja di Surabaya kan?” tanyanya meyakinkan ku
“Oh iya…dik,” jawabku
“Ayah aku sedih…HUA..HUA..HUA….,” aku kaget dibuatnya.
Aku mengira giliran anakku ini yang akting…gak tahunya betulan dia nangis sungguhan dan sesenggukan sambil teriak “MAMAAA….MAMAA….heng…heng…,” aku kalang kabut dibuatnya.
Kugendong anakku… tangisnya tak mau berhenti juga…akhirnya aku minta bantuan emak yang biasa membantu kami di rumah untuk menggendongnya sebentar…sembari aku mengerjakan kewajibanku sholat Asyar. Sampai aku selesai sholat tangis anakku ini belum berhenti juga. Aku lantas memanggil anakku Cici untuk datang kepadaku. Ini biasa kulakukan selesai sholat fardu untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anakku sambil meniupkannya di kening mereka.
Sambil kugendong aku berdo’a dan meniupkan ke ubun-ubun Cici yang masih sesenggukan. Aku lantas berfikir apa yang salah ya….akhirnya aku punya ide untuk melanjutkan cerita yang belum selesai tadi.
“Ketika adik selesai kuliah di Amerika..adik terus telpon ayah mengabarkan bahwa adik sudah selesai kuliah dan akan segera pulang ke Surabaya,” aku bercerita terus dan Cici mulai diam dari tangisnya dengan terus menyimak ceritaku.
“Ayah, mama dan kak Fira menjemput kedatangan adik di bandara,” lanjutku
“Harap-harap cemas ayah memperhatikan setiap penumpang yang keluar di pintu kedatangan dan ayah sungguh pangling ketika melihat adik Cici yang lebih tinggi badannya dan lebih putih dengan mata sedikit kebiru-biruan mungkin karena kebanyakan makan keju di sana, “ kataku sambil memencet hidungnya.
“Adik ! hei …ini Ayah….,” kataku sambil menirukan gaya melambaikan tangan.
“Ayah memeluk adik. Oh….ayah sungguh merindukan mu adik…terus mama juga memeluk adik..dan kak Fira juga memeluk adik,” kataku melanjutkan
“Terus adik cari kerja di Surabaya dan diterima. Waktu adik dapat gaji pertama kali adik ngajak ayah, mama dan kak Fira makan bersama di restoran, nraktir ayah, mama dan kak Fira,” kataku.
Anak ku ini mulai tersenyum, aku mengakhiri cerita…tapi ternyata anakku ini nyeletuk
“Ayah besok-besok jangan cerita yang sedih lagi ya…adik ikut sedih…terutama ketika ayah nganter ke bandara,” aku kaget mendengar komentarnya.
Anak ku anak ku…mudah-mudahan keinginan mu terkabul ingin keliling dunia hehehe ternyata anak kecil juga bisa diajak berimajinasi. Semoga cita-citamu terkabul nak…amiinn
Subscribe to:
Posts (Atom)
