Keinginan saya menulis hari ini karena salah satu TV Swasta kemarin yang meliput tentang kesenjangan kesejahteraan antara penduduk Indonesia yang tinggal diperbatasan dengan negara tetangga Malaysia di daerah Entikong Kalbar.
Mengapa daerah ini diliput? Saya yakin ini tidak lain karena santernya isu banyaknya warga Indonesia yang direkrut menjadi Laskar Wataniyah, untuk menjaga perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.
Dalam liputan...diceritakan bahwa ada sebagian yang WNI yang berpindah warga negara karena tidak kuat dengan kemiskinan yang mendera mereka tetapi...disisi lain juga dicounter dengan ada sebagian WNI yang masih tetap mencintai ke WNI annya dengan mengatakan 'walau susah bagaimanapun akan tetap mencintai negara ini'. Ironi...
Dalam liputan tersebut ..Saya menjadi trenyuh ketika menayangkan betapa dedikasi seorang guru SD negeri di Entikong yang rela mengmabil gaji 3 bulan sekali ke kecamatan karena besarnya ongkos transportasi bila mengambil gaji dilakukan 1 bulan sekali...biaya perjalan pulang pergi untuk mengambil gaji hampir mencapai 250ribuan. Tidak hanya itu sang guru yang berdedikasi ini hanya mengajar sendirian untuk murid yang hampir 120 orang dari berbagai kelas karena dua orang rekannya hengkang karena tidak kuat menahan derita, coba anda bayangkan...
Alah...mak...negaraku ini kapan majunya kalau sektor pendidikannya saja potretnya seperti itu. Syafi'i Maarif mantan ketua Muhammadiyah pernah menulis disalah satu kolom harian pagi Jakarta bahwa gaji dewan di negara tetangga tersebut lebih kecil dari gaji guru...hal yang sangat kontras dengan negara ini gaji dewan berpuluh kali lipat dibanding gaji guru ???
Saudaraku yang di Entikong, Allah menciptakan bumi ini begitu luas ... yang bisa merubah nasib kalian adalah kalian sendiri. Negara hanya sebatas sebagai pengatur administratif. Jadi berbuatlah sesuatu untuk kesejahteraan diri kalian sendiri dan jangan terpaku pada batas teritorial ataupun apalah namanya.
Saya jadi ingat pengalaman pribadi diri saya sendiri ketika saya masih kecil dan sekolah di sekolah dasar di Medan sana. Untuk berangkat sekolah saya harus bangun pagi-pagi dan ikut dengan mobil truk tentara yang membawa orang tua saya yang memang tentara untuk berangkat dinas ke kantornya. Fasilitas yang memang bisa dikatakan lebih baik ketimbang saudara saya yang di Entikong sana. Keadaan berubah ketika keluarga kami pindah ke Palembang...waduh untuk sekolah saya harus jalan kaki hampir 5 kilo pulang pergi setiap hari. Sudah begitu air bersihnya tidak ada beda dengan ketika saya di Medan. Tapi saya tidak mau menyerah...saya tinggalkan daerah tempat tinggal saya setelah saya tamat SMA dan pergi merantau ke Jawa yang katanya bergelimang fasilitas. Sebuah kesenjangan yang sudah diketahui masyarakat negara ini.
Tapi saya pun cukup miris ketika saya mengunjungi pelosok pelosok pulau Jawa ini ternyata tidak jauh berbeda..hanya mungkin fasilitas jalan jalannya saja yang sudah baik. Padahal untuk teori ini saya sudah baca beberapa tahun sebelumnya tentang teori membangun pertanian yang ditulis oleh AT Mosher bahwa hal yang paling penting bagi pemerintah adalah membangun jalan-jalan disetiap daerah.
Repotlah kawan setelah saya mengetahui pula bahwa negara ini baru tahun 2003 yang lalu, menurut berita bisa melunasi utang peninggalan kolonial Belanda yang hampir 45 triliun itu. Aduh mak....ternyata kita ini baru merdeka dari penjajahan Belanda tahun 2003.
Saudara ku yang di Entikong. Sekali lagi saya berpesan bahwa berpindah atau tidak kewarganegaraan kalian dari WNI ke yang lainnya...itu tidak akan menjadi pertanyaan malaikat ketika nanti saudara-saudara ku di kubur. Paling penting adalah bila memang anda berpindah itu dapat memperbaiki kesejahteraan saudara mengapa tidak ? Banyak orang di negara ini yang berpindah kewarganegaraan karena alasan alasan tertentu yang tidak bisa saya sebutkan di sini dan salah satunya tadi ya itu...kok gak berubah berubah nasibnya....
Agama yang saya anut Islam mengajarkan bertebaranlah kamu di muka bumi ini dan berhijrahlah kamu dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu niatkan dalam hijrah mu. Nah..artinya masalah kewarganegaraan itu adalah masalah ke 301...jadi bukan masalah yang utama. Paling penting adalah kalian yakin bahwa dengan berhijrah kalian akan lebih baik...selamat memikirkannya saudara saudara ku....
Sunday, February 24, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment