Saturday, October 18, 2008

HAJI DAN PERUBAHAN

Dalam kesempatan menghadiri undangan kenduri teman yang akan berangkat haji tahun ini, saya sempat tercenung dengan tausiyah yang diberikan oleh ustad mengenai haji yang merupakan ibadah istimewa ini. Mengapa istimewa? Karena sudah dijanjikan melalui hadits Rasul bahwa pahala orang yang berhaji bila memang niatnya untuk ibadah dan berziarah ke Mekkah dan Madinah karena ALLAH akan mendapat ganjaran yang berlipat-lipat dibanding bila kita beribadah di tanah air atau di rumah sendiri.

Yang membuat fikiran saya lari kemana-mana setelah mendengar tausiyah tersebut adalah, mengapa kok orang Indonesia itu berangkat haji pada saat sudah berusia (tua)? Padahal dalam tausiyah tersebut jelas sekali disinggung bahwa bila mendapat predikat haji mambrur maka Insya Allah perilakunya akan bertambah baik sepulangnya dari haji. Ini menarik untuk dikaji. Mengapa karena di Indonesia ini dengan mayoritas penduduk muslim fenomena haji selalu menjadi polemik setiap tahun, mulai kuota jamaah haji, sampai tender transportasi pengangkut jammah haji bahkan sampai pengelolaan katering di tanah suci sana. Banyak peluang ‘madu’ disini.

Tetapi bila kita berfikir tentang pertanyaan yang bermain-main di kepala saya tadi mengapa kok berangkat haji nunggu tua dulu? Maka ini ada kaitannya dengan ketersediaan ongkos untuk berangkat haji yang setiap tahun terus meningkat yang berkaitan pula dengan penghasilan dari profesi sang jamaah. Syukur akhir-akhir ini banyak yang muda-muda sudah berangkat haji.

Sebetulnya esensi dari pertanyaan saya tadi bukan berangkat hajinya tetapi adalah predikat haji mabrur nya seperti yng disampaikan ustad di atas tadi. Dengan predikat tersebut sangatlah masuk akal bahwa akan membuat sebuah gelombang perubahan di tanah air tercinta ini. Mengapa saya katakana begitu? Karena dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dan selalu terpenuhinya kuota pada tiap musim haji tentu seharusnya dapat membuat gelombang perubahan dalam kehidupan secara simultan bila dikaitkan dengan jumlah jamaah yang berangkat tiap tahunnya.

Tetapi apa lacur, yang terjadi adalah Indonesia semakin terpuruk dari sisi moral walaupun ada perbaikan disana sini dengan lambat akhir-akhir ini. Apa predikat Indonesia di mata dunia? Negara korup papan atas. Bahkan sudah bukan rahasia umum bahwa TITEL HAJI merupakan kebanggaan tersendiri layaknya TITEL DOKTOR dan bahkan katanya…katanya lo ya bila ingin menduduki jabatan tertentu titel haji tersebut semacam aturan tidak tertulis. Bahkan ada rektor yang tidak mau di tulis titel akademiknya di ijazah mahasiswa tetapi minta ditulis titel H nya alias HAJI.

Inilah warisan FEODAL yang masih melekat pada anak bangsa ini. Karena tidak ada sesi tanya jawab dalam kenduri tersebut saya tidak mengajukan pertanyaan mengenai titel haji ini karena muslimin dan muslimat di belahan Eropa atau Amerika sekalipun tidak pernah mencantumkan TITEL HAJI ini walaupun mereka sudah berziarah ke tanah suci ? Aneh bukan?

Sekarang mari kita tengok bukti empiris di lapangan tentang HAJI ini. Tidak sedikit gubernur atau bupati yang bertitel HAJI masuk penjara. Anggota DPR yang bertitel HAJI masuk bui. Di Jawa Timur banyak orang yang bertitel HAJI ternyata perilakunya preman dan mendukung organisasi tertentu yang identik dengan organisasi yang bergerak di bidang ‘kekerasan’. Kalau begitu HAJI itu apa seh? Teman saya yang lebih mengerti bilang bahwa haji itu ya ‘ZIARAH’ dengan keistimewaan pelipat gandaan pahala yang diperoleh karena keistimewaan tempat. Lha kalau begitu Mambrur itu terus apa?
Fikiran saya terus bermain main mengingat-ngingat tausiyah sang ustad tentang mambrur tadi…jadi kalau begitu…jangan jangan HAJI-HAJI di INDONESIA ini banyak yang TIDAK MAMBRUR alias HAJI MABUR (hehehe) karena niat keberangkatannya untuk menduduki posisi tertentu, karena niat keberangkatannya untuk prestis di mata masyarakat, karena niat keberangkatannya untuk syarat bisa beristri lagi (pada etnis tertentu), karena….karena…

Benarlah apa yang dikatakan RASUL bahwa pada akhir zaman nanti ummatku akan berjumlah banyak tetapi seperti buih dilautan. Mungkin ini salah satunya seperti yang terjadi di INDONESIA musliminnya banyak, kuota haji tiap tahun selalu terpenuhi bahkan untuk tahun depannya TETAPI….imbasnya untuk perubahan bangsa karena kuatnya pendirian dalam memegang nilai-nilai syariat perlu dipertanyakan?

RABB sesungguhnya Engkau sangat mengetahui isi hati kami…berikanlah kemudahan kepada teman kami, luruskanlah niatnya dalam ziarah istimewa tahun ini, dan jadikanlah ia haji yang mambrur yang dapat membawa perubahan pada lingkungan dimanapun dia berada kearah yang lebih baik lagi, mudahkanlah perjalanannya dan berikanlah keselamatan kepadanya sampai musim haji berakhir dan tiba di tanah air kembali.
RABB berikanlah pula panggilan kepada kami dan teman-teman kami yang lainnya diusia muda untuk berziarah ke tanah suci tempat yang Engkau istimewakan dan jadikanlah haji kami haji yang mambrur sehingga di sisa usia kami, kami menjadi bermanfaat bagi ummat dan dapat membawa gelombang perubahan kearah yang lebih baik dari sekarang ini. Wahai RABB yang menguasai langit dan bumi berikanlah pula hal yang kami minta pada Mu kepada jamaah haji INDONESIA seluruhnya yang berangkat pada musim haji tahun ini, amiin yaa Robbal ‘alamiin.

Selamat jalan teman….

Thursday, October 16, 2008

PADI PULITIK ??

Sebagai bangsa yang secara geografis condong ke agraris kita lupa akan akrarnya. Bagaimana tidak saya sering berjalan-jalan dan melihat bagaimana sawah-sawah produktif sudah berubah dan disulap menjadi bangunan pencakar langit dengan nilai jual yang selangit untuk ukuran kantong pegawai negeri atau petani.

Ras Asia yang dominan menyantap nasi sebagai bahan pokoknya setelah diolah dari beras tentulah perlu memikirkan ke depan nanti bagaimana ? Apalagi diversifikasi pangan belum menunjukkan hasilnya sehingga mayoritas bangasa ini masih suka menyantap nasi dan ada istilah "kalo gak makan nasi rasanya gak kenyang".

Terkait dengan nasi yang awalnya dari padi, tentulah kita memerlukan lahan untuk menanamnya agar dapat menghasilkan beras yang berkualitas. Pak tani yang setia dengan profesinya masih berusaha untuk bertahan dengan lahannya yang terkadang tidak menghasilkan keuntungan karena mereka selalu dipolitisasi. Saya masih ingat ketika dulu mengambil kuliah ekonomi pertanian, ada buku karangan Prof. Soekartawi yang sering bolak balik Malang - Philipina. Disitu dijelaskan dengan grafiknya bahwa ketika terjadi surplus atau panen padi yang berlebihan maka pemerintah akan melakukan perannya sebagai badan penyangga (BUFFER) melalui peran BULOG dengan membeli kelebihan panen padi tadi. Sehingga akan terjadi keseimbangan dan harga beras tidak akan jatuh. Ini adalah standar penjelasan dari teori atau hukum permintaan dan penawaran yang dimodifikasi melalui peran BULOG yang mengintervensi untuk membuat petani Indonesia sedikit lega.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa petani ketika panennya berhasil dan beras melimpah maka mereka tetap nelangsa karena harga gabah tidak menguntungkan. Padahal ketika musim panen tiba, untuk memenuhi sarana produksinya seperti pupuk, waduh mereka harus antri dan berjibaku untuk sekedar mendapatkan pupuk satu karung ukuran 50 kg. Apa sesungguhnya yang terjadi di negara tercinta ini?

Jadi tidak salah bila pada suatu masa nanti kita akan kekurangan lahan pertanian dan produksi beras kita akan menurun karena PETANI SUDAH BOSAN DAN SELALU DIBOHONGI TERUS. Apa buktinya? Media massa sudah menjawabnya dengan ramai-ramainya petani membakar hasil gabah mereka yang katanya akan dibeli oleh partai politik tertentu dan akan dijadikan bibit bagi petani di belahan bumi Indonesia yang lain. Masih ada lagi, produk prematur yang gagal karena syahwat politik orang - orang dekat presiden untuk mengangkat citra pemerintah melalu partai tertentu yang lagi berkuasa, dengan padi SUPER apa itu SUPER TOLOL nya yang membuat petani demam, panas dingin memikirkan kelanjutan dapurnya ngebul apa tidak.

Wong untuk menghasilkan varitas unggul saja perlu waktu bertahun-tahun dan melalui eksprimen yang tak henti-hentinya. Ini kok seperti sulapan mau pemilu terus berkoar-koar "INILAH BIBIT UNGGUL".

Petani Indonesia itu adalah petani yang selalu dibodohi sejak dulu terbukti sejak saya kecil hidup di lingkungan petani sampai saya memiliki istri dan istri saya melahirkan anak, petani yah tetap begitu saja, diBODOHI. Saran saya pada petani jangan mau dijadikan badut politik karena saya tahu bahwa petani Indonesia itu sebenarnya pandai tetapi tidak berdaya dalam ber-revolusi untuk membuat suatu perubahan. Sampai saya kadang berfikir apa jadinya kalau petani tidak menanam padi lagi terus hanya menanam singkong saja ? Bila kita kaitkan dengan statemen "kalau gak makan nasi gak kenyang".
Bagi petani mungkin tidak mengapa, karena saya tahu betul bahwa petani Indonesia itu sangat tabah dan memiliki ketahanan yang luar biasa.

Saya ingin berujar kepada petani Indonesia dalam menyongsong pesta pemilu nanti
"WAHAI PETANI INDONESIA JANGANLAH GAMPANG DIBODOHI OLEH BADUT-BADUT POLITIK WALAU BERGELAR DOKTOR SEKALIPUN. TERIMALAH UANGNYA KALAU MEREKA BERKAMPANYE PADA SAAT MENDEKATI PEMILU TAPI JANGAN KAU COBLOS GAMBARNYA BILA MEREKA TERBUKTI SUDAH MENIPU KARENA SYARAT JADI PEMIMPIN ITU ADALAH JUJUR. PETANI INDONESIA YANG AKU CINTAI, BERSABARLAH DALAM KEHIDUPAN INI KARENA SESUNGGUHNYA PROFESI KALIAN JAUH LEBIH MULIA DIMATA SANG PENCIPTA BILA KALIN MENIATINYA DENGAN IBADAH. JAUH LEBIH MULIA DARI PADA POLITIKUS BUSUK DENGAN PADI POLITIKNYA. JANGAN MAU DIJADIKAN BUDAK POLITIK MEREKA YA...PAK PETANI..."

Saya jadi teringat bagaimana seorang anak manusia yang bernama MUHAMMAD membuat suatu perubahan akhlaq dan peradaban dunia dengan KEJUJURANNYA bahkan sebelum terpilih menjadi nabi sekalipun, JUJUR adalah senjata utamanya sehingga semua orang percaya menitipkan apa saja padanya. Sungguh hebat MUHAMMAD ini. Bagaimana dengan MUHAMMAD MUHAMMAD sekarang ??

Tapi...seandainya MUHAMMAD ini menyaksikan bagaimana negara Indonesia yang begitu kayanya dan dengan mayoritas penduduk muslimnya mungkin MUHAMMAD akan menangis meratapi keadaan ummatnya. Sampai saya berfikir apa gak meratapi bangsa ini ya ketika sang MUHAMMAD ini menghadapi sakratul maut dengan berujar "UMMATI...UMMATI...UMMATI..".

Ah...mudah-mudahan MUHAMMAD mendoakan bangsa ini dari alam sana agar kaum muslimnya dan para petaninya tidak jadi korban PADI POLITIK lagi sehingga bangsa ini menjadi apa yang tertulis dalam KITAB yang dibawanya menjadi bangsa yang makmur aman sejahtera dan rakyatnya sumringah-sumringah karena apa ? Karena rakyatnya (presiden, menteri, anggota DPR dan semua warga negara ini) sudah jujur semua hehehe....kapan ya...???

Cuma ALLAH yang tahu....

Friday, October 03, 2008

REFORMASI TRANSPORTASI MASSA, HARUS !

Saya menulis ini karena gregetan, benci, muak , mangkel, geram...semua bercampur aduk menjadi satu. Sebetulnya saya ingin menulis ini sejak tiga hari yang lalu tetapi niat untuk menulis itu tertunda hanya karena waktu dan niat itu menguat kembali setelah siangnya saya menonton kabaret gado-gado politik...kok seperti apa yang saya fikirkan. Maka malam ini saya sempatkan untuk menulis. Mengapa biar emosi saya mereda dan saya merasa puas...

Kita maklum bahwa tradisi mudik ketika lebaran sudah menjadi fenomena sosial di negara ini bahkan tidak hanya bagi yang beragama Islam, yang non- muslimpun memanfaatkan kesempatan libur ini untuk mudik ke kampung halamannya atau sekedar beramai-ramai datang ke tempat pariwisata untuk melepaskan penat rutinitas yang selalu mendera...

Saya juga sudah menduga bahwa gelombang mudik tahun ini pun akan menelan korban seperti tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaan saya yang selalu bermain dibenak adalah apa penduduk negara ini yang tidak rasional atau pemerintahannya yang "DUBLEK". Mengapa saya bilang dublek ? Sudah 63 tahun merdeka tapi program transportasi massa yng murah nyaman dan aman belum terwujud hingga saat ini. Padahal disisi lain pemerintah selalu mendengungkan hemat energi namun disisi lain peningkatan jumlah kendaraan roda dua atau sepeda motor sungguh fantastis. Ini indikator bahwa transportasi massa negara ini gagal total dan tidak mendukung program pemerintah dalam hal pencanagan hemat energi oleh presiden.

Sampai saat saya menulis malam ini entah sudah berapa puluh korban berjatuhan karena fenomena mudik yang irrasional ini. Kenapa saya bilang irrasional? Dalam kacamata saya silaturahmi tidak hanya harus melulu bertemu dengan cara tatap muka walau ada pendapat bahwa fenomena mudik ini tidak dapat diukur dengan materi. Tetapi bila mudik malah membahayakan jiwa dan keluarga apakah ini bukan tindakan yang konyol?

Pemerintah juga seyogyanya belajar dari fenomena mudik ini dan sudah saatnya pemerintah melakukan reformasi dibidang transportasi massa terutama transportasi jalur darat, seperti kereta api, bus dan lainnya yang memenuhi standar 'manusiawi' manusia Indonesia yang hidupnya dijamin oleh undang undang yang berlaku di negara ini.

Fikiran nakal saya lantas menerawang kemana-mana, kok ada ya...selama beberpa tahun pemerintah negara ini membiarkan rakyatnya menderita terus menerus dalam mudik massal ketika menjelang lebaran ataukah ini rekayasa Tuhan untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk di negara ini. Rasanya kok konyol sekali bila kita tidak melakukan perubahan dalam bentuk REFORMASI TOTAL TRANSPORTASI MASSA UNTUK RAKYAT. Bagaimana pendapat anda ???

Mudah-mudahan pemerintah mau memikirkan rakyatnya bukan hanya memenuhi syahwat perutnya untuk sex, makan enak, dan meniduri selir-selir (gelap)nya. Ingat Anda juga akan MATI dan dimintai pertanggungjawaban di depan Tuhan, saya hanya bisa berdoa semoga kalian sadar agar nanti perut kalian tidak disetrika oleh malaikat hingga usus kalian terburai, ALLAHU AKBAR !