Kyai kyai politik merupakan istilah yang sebetulnya tidak baru karena kita sudah mulai sering mendengarkan ini. Menariknya adalah banyak cerita miring ketimbang cerita baiknya pada kyai kyai yang berpolitik ini. Mulai dari money politic sampai dengan 'memajaki' konstituen yang mencoba hearing. Apakah ini yang disebut dengan kita sudah memasuki zaman atau masa kyai atau ulama yang jahat ?
Berpolitik dalam pandangan Islam tidaklah tabu karena itu merupakan siasah atau siasat. Yang paling penting adalah bagaiman berpolitik dengan cara Islami bukan malah menodai perilaku politik sehingga menyeret nama Islam menjadi negatif dan tentunya tidak memanfaatkan gelar kharismatik kyai yang diberikan dengan standar yang tidak jelas untuk mencapai tujuan dengan cara-cara yang tidak simpatik.
Kyai memiliki otoritas yang mewilayahi struktur informal dalam sosiologi masyarakat yang mayoritas Islam di Indonesia. Belakangan dengan banyaknya bendera organisasi massa Islam maka banyak pulalah bermunculan para kyai (yah..ini tadi dak jelas standarnya apa seh kyai itu?). Yang mengherankan hiruk pikuk itu akan bertambah lagi ketika mendekati pemilihan umum karena para kandidat pemimpin ini merasa kyai memiliki massa yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan suara perolehannya sehingga bisa memenangkan pemilihan.
Yang lucu lagi kyainya sudah terkontaminsai dan tidak jernih penglihatan mata bathinnya sehingga kadang kadang mengarahkan massanya untuk kandidat tertentu yang justru perilakunya tidak bisa dijadikan contoh publik.
Peran organisasi massa Islam tertentu pun sudah mulai latah dengan menjagokan kyainya untuk menduduki posisi politk tertentu dengan harapan yang tidak jelas. Belakangan kita tahu bahwa katanya netral dan kembali ke 'barak' nya. Mudah-mudahan ini bukan hanya lips service saja.
Saran saya mbok ya kyai itu ngurusi pesantren saja sehingga ummat ini tambah dalam ilmu agamanya dan berikanlah contoh perilaku yang baik kepada massa sehingga 'saran' yang diberikan kyai untuk pemerintah akan didengar karena perilakunya bukan karena kata-katanya. Kedepan kyai juga harus lebih hati-hati lagi dalam menerima undangan dari orang-orang tertentu sehingga tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak jelas karena untuk urusan politik serahkanlah pada yang ahlinya dan fungsi kyai sebaiknya menjadi penasehat dengan kekuatan akhlaqnya. (ojo nesu lo pak kyai...)
Friday, February 15, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment