Euforia Sriwijaya FC nampak begitu bingar ketika kuli tinta menjepretkan kamera kesana kemari. Itu nampak jelas pada saat seremoni penyerahanan piala dan hadiah uang diserahkan. Tangis bahagia bercampur menjadi satu. Berbeda dengan tim lawan si ayam kinantan, pemain mereka sedih…terutama pemain asing mereka James, mereka larut dalam kekecewaan. Tapi itulah permainan harus ada yang menang dan kalah tetapi sportivitas harus tetap dijunjung tinggi. Sayangnya final ini ternoda oleh ulah supporter pada pertandingan semifinal sebelumnya sehingga final kali ini sepi dari penonton.
Di belahan dunia lain klub sepakbola merupakan industri yang dikelola secara profesional karena tanpa penonton fanatik dan sponsor yang mensupport dunia sepakbola akan mati rasa. Di Indonesia bedanya mungkin sang sponsor adalah perusahaan rokok yang itu akan menjadi tabu untuk sponsor olah raga di belahan dunia lain.
Apapun hasilnya Sriwijaya FC telah menunjukkan kualitasnya sehingga menjadi juara di dua ajang laga COPA dan LIGA. Tetapi semoga saja Sriwijaya FC tidak seperti tim tim sebelumnya yang setelah meraih juara liga terus terpuruk ke papan tengah atau bahkan terdegradasi. Belajar dari itu semua apa yang menyebabkannya?
Biasanya setelah menjadi juara Liga banyak pemain inti menjadi incaran klub klub lain yang menginginkan perbaikan peringkat dalam ajang laga berikutnya. Walaupun soal transfer mentransfer pemain dalam liga sepakbola itu biasa tetapi perlu dicermati bahwa hal ini bila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan efek yang buruk bagi klub-klub papan atas. Mengapa? Keterbatasan jumlah pemain berkualitas dan iming-iming gaji yang lebih menggiurkan akan membuat mental pemain goyah sehingga membuat mereka bisa lepas kontrol dan berpindah ke klub lain.
Disinilah perlunya manajemen yang baik dari klub terutama official dan dewan pembina untuk pandai mengelola hati pemain. Gaji masih merupakan faktor penentu di Indonesia. Berbeda dengan dunia sana dimana iklim klub dan fanatisme supporter ikut mempengaruhi secara signifikan untuk membuat pemain terbaik tetap membela klub yang sama dalam jangka waktu cukup lama. Ada hal lain bila kita menonton berita di televisi bahwa klub-klub raksasa di belahan dunia sana selalu memiliki stok pemain muda dari klub anak bawang (anak gawang) mereka sehingga bila sudah waktunya bisa diorbitkan maka pemain yang bersangkutan akan naik kelas menjadi pemain inti. Di Indonesia…????
Harapan saya pada Sriwijaya FC, mudah-mudahan hal ini dicermati sehingga nasib Sriwijaya FC tidak seperti klub lainnya setelah juara terus terpuruk atau bahkan terdegradasi. Sriwijaya FC juga telah membuka mata orang Indonesia karena mereka yang selama ini pengetahuan geografinya kurang bagus akan tahu bahwa Sriwijaya FC itu klubnya orang Sumatera Selatan alias Palembang.
Pemilihan nama Sriwijaya FC juga patut diacungi jempol karena telah menghidupkan fanatisme kebesaran sejarah masa lampau bahwa dahulu kala ada kerajaan besar yang menguasai wilayah nusantara ini yang sampai saat ini pusat kerajaannya masih diperdebatkan dari sisi ilmu antropologi. Kerajaan itu adalah KERAJAAN SRIWIJAYA.
Tidak hanya itu semoga Sriwijaya FC ini nantinya akan menjadi klub yang diperhitungkan di percaturan Liga Indonesia, Asia dan bahkan dunia. Walau sedikit gamang saya juga berharap semoga ke depan muatan pemain lokal lebih dipertimbangkan sebagai atmosfer baru untuk menggugah anak-anak bumi Sriwijaya menggilai bola dan tentunya juga sebagai gantungan hidup alias sebagai pekerjaan. Sehingga bukan tidak mungkin nanti KTP anak-anak Sriwijaya berbunyi “Atlet Sriwijaya FC” pada kolom pekerjaan. Semoga, amiin….
Monday, February 11, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment