Saturday, December 15, 2007
Thursday, December 13, 2007
Tuesday, December 11, 2007
1 JUTA HEKTAR LAHAN DI JAWA TIMUR
Ketika membaca pemerintah daerah Jawa TImur akan mengadakan 1 juta hektar lahan sebagai penyangga pangan untuk daerahnya saya sedikit tertegun, bukan apa-apa...dalam hati saya berkata syukurlah kalau sudah mulai sadar dari kegilaannya selama ini. Seingat saya sudah sering pemerhati petani dan lingkungan yang menyuarakan untuk melakukan land reform dengan melarang pengembang perumahan untuk mendirikan perumahan di lahan yang produktif. Tapi apa lacur...ketika uang bicara dan birokrat pembuat kebijakan tergoda...semua bisa diatur.
Ketika kini bencana melanda dan global warming mendera dunia sibuk...dan saya berfikiran positif saja bahwa kebijakan yang masih dalam wacana dan belum menjadi realita ini salah satu imbas dari semua itu. Padahal dulu sudah sering disuarakan dan sebetulnya tidak ada yang baru dalam wacana ini. Itulah sebabnya bila saya memberikan wejangan kepada adik-adik mahasiswa di institut Islam saya selalu berkata kepada mereka "tipologi manusia Indonesia kebanyakan adalah manusia yang kuratif bukan tipologi manusia yang preventif". Bila sudah terjadi 'rame sana sini". Bukannya memikirkan bagaimana nantinya ya kalau begini atau begitu ?
Mudah-mudahan 1 juta ha untuk penyangga pangan ini menjadi kenyataan dan pemerintah daerah semestinya sudah perlu memikirkan ini bila memang harus melakukan pengembangan perumahan mengapa tidak vertikal saja dan itu perlu diundangkan mungkin. Saya sendiri tidak tahu apa sudah diundangkan atau belum tentang larangan pengunaan lahan produktif untuk hal-hal yang bersifat non produktif demi memenuhi kebutuhan pangan alias swasembada pangan untuk daerahnya sendiri. Seandainya setiap pemerintah daerah melakukan hal yang sama entah apa jadinya...bisa jadi label bangkok akan menemukan kompetitor baru dengan label 'wonosalam' misalnya...masak dipasaran selalu kata bangkok yang menjadi brand yang diincar pembeli berkelas alias berduit banyak, mulai dari durian bangkok, jambu bangkok , ayam bangkok dan bangkok bangkok lainnya....saya merindukan mendengar 'durian wonosalam, ayam mojokerto, jeruk pacitan, jambu ponorogo' misalnya...kapan...???? semoga itu dapat terwujud dengan segera ..amiin.
Ketika kini bencana melanda dan global warming mendera dunia sibuk...dan saya berfikiran positif saja bahwa kebijakan yang masih dalam wacana dan belum menjadi realita ini salah satu imbas dari semua itu. Padahal dulu sudah sering disuarakan dan sebetulnya tidak ada yang baru dalam wacana ini. Itulah sebabnya bila saya memberikan wejangan kepada adik-adik mahasiswa di institut Islam saya selalu berkata kepada mereka "tipologi manusia Indonesia kebanyakan adalah manusia yang kuratif bukan tipologi manusia yang preventif". Bila sudah terjadi 'rame sana sini". Bukannya memikirkan bagaimana nantinya ya kalau begini atau begitu ?
Mudah-mudahan 1 juta ha untuk penyangga pangan ini menjadi kenyataan dan pemerintah daerah semestinya sudah perlu memikirkan ini bila memang harus melakukan pengembangan perumahan mengapa tidak vertikal saja dan itu perlu diundangkan mungkin. Saya sendiri tidak tahu apa sudah diundangkan atau belum tentang larangan pengunaan lahan produktif untuk hal-hal yang bersifat non produktif demi memenuhi kebutuhan pangan alias swasembada pangan untuk daerahnya sendiri. Seandainya setiap pemerintah daerah melakukan hal yang sama entah apa jadinya...bisa jadi label bangkok akan menemukan kompetitor baru dengan label 'wonosalam' misalnya...masak dipasaran selalu kata bangkok yang menjadi brand yang diincar pembeli berkelas alias berduit banyak, mulai dari durian bangkok, jambu bangkok , ayam bangkok dan bangkok bangkok lainnya....saya merindukan mendengar 'durian wonosalam, ayam mojokerto, jeruk pacitan, jambu ponorogo' misalnya...kapan...???? semoga itu dapat terwujud dengan segera ..amiin.
Monday, December 03, 2007
KESADARAN MANUSIA INDONESIA..KEMANA ??
MANUSIA MANUSIA INDONESIA SADARLAH.....
MENGAPA BEGITU PEDULI KELIHATANNYA
KETIKA BENCANA SUDAH MELANDA DAN MENDERA ?
MANUSIA INDONESIA SADARLAH....
KITA INI HIDUP SEMENTARA
ENTAH ESOK ENTAH LUSA
KITA KAN MENGHADAP-NYA
SELAGI MELEKAT NYAWA...
BERBUATLAH TERBAIK UNTUK BANGSA
KARENA...BILA TIDAK SEGERA
BISA JADI BANGSA INI PUNAH ?
MARI JADIKAN LINGKUNGAN SEBAGAI PENYANGGA
KEHIDUPAN KITA BERSAMA
DENGAN PEDULI TERHADAP SEMUA CIPTAAN - NYA
INSYA ALLAH ...NEGERI INI AKAN DILIMPAHI BERKAH
TAK PERCAYA ...??? BOLEH LAH DICOBA
PRIHATIN KOE
3/12/07 7:50 PM
MENGAPA BEGITU PEDULI KELIHATANNYA
KETIKA BENCANA SUDAH MELANDA DAN MENDERA ?
MANUSIA INDONESIA SADARLAH....
KITA INI HIDUP SEMENTARA
ENTAH ESOK ENTAH LUSA
KITA KAN MENGHADAP-NYA
SELAGI MELEKAT NYAWA...
BERBUATLAH TERBAIK UNTUK BANGSA
KARENA...BILA TIDAK SEGERA
BISA JADI BANGSA INI PUNAH ?
MARI JADIKAN LINGKUNGAN SEBAGAI PENYANGGA
KEHIDUPAN KITA BERSAMA
DENGAN PEDULI TERHADAP SEMUA CIPTAAN - NYA
INSYA ALLAH ...NEGERI INI AKAN DILIMPAHI BERKAH
TAK PERCAYA ...??? BOLEH LAH DICOBA
PRIHATIN KOE
3/12/07 7:50 PM
Friday, November 30, 2007
JILBAB MODIS vs SYARIAT
Sebagai muslim, saya sangat senang dengan ghirah ke Islam dari anak-anak muda saat ini yang banyak memakai busana muslim dalam kesehariannya. Saya sendiri tidak tahu ini pertanda rasa kesadaran dari diri mereka sendiri atau ikut-ikutan saja dari remaja putri khususnya dan ibu-ibu umumnya. Kalau di sekolah-sekolah Islam hal ini memang diwajibkan bagi remaja putri tetapi di sekolah-sekolah umumpun sekarang ini semakin banyak saja remaja-remaja putri yang mengenakan jilbab di kesehariannya.
Ghirah ke Islaman ini tentulah patut diapresiasi oleh orang tua dari remaja putri yang bersangkutan sebab selain merupakan syariat yang dianjurkan juga merupakan tameng dari kejahatan kejahatan seksual yang marak akhir akhir ini.
Fungsi jilbab sendiri selain sebagai penutup aurat juga sebagai penutup atau penyembunyi lekak lekuk tubuh wanita yang bisa mengundang syahwat laki-laki dewasa yang melihatnya. Sehingga orang yang mengenakan jilbab dengan benar tentu tidak dapat ditebak lekak lekuk tubuhnya karena tertutup olah pakaian yang dikenakannya. Sehingga menghilangkan 'andai andai' dari lelaki dewasa yang melihatnya.
Namun ada yang mengganjal hati saya selaku muslim ketika maraknya jilbab modis yang dikenakan oleh remaja putri akhir-akhir ini. Saya sering melihat remaja putri mengenakan jeans ketat sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas plus penutup kepala yang modis. Saya hanya bertanya apa ini yang dianjurkan agama ?
Sepertinya pemahaman remaja putri saat ini jilbab itu adalah penutup kepalanya saja sedang yang lainnya tidak....jadi mereka melupakan fungsi bahwa jilbab yang benar adalah jilbab yang longgar dan menyembunyikan lekak lekuk tubuh bukan sebaliknya.
Sudah menjadi tugas orang tua untuk memberikan pengertian kepada remaja putrinya untuk memberi tahu tentang pengenaan jilbab yang benar. Tugas orang tua WAJIB menyampaikan hal ini dan memberikan teguran KERAS bila putrinya mengenakan jilbab secara setengah setengah. Selaku orang tua hendaklah menyampaikan dan memberi teguran keras kepada putrinya bahwa bila ingin mengenakan jilbab...kenakanlah secara benar menurut tuntunan AGAMA bukan memelintirnya dengan alasan MODERNISASI jilbab.
Mudah mudahan ALLAH tidak murka dan selalu memberikan hidayah Nya kepada remaja remaja putri Islam sebagai generasi penerus ISLAM dan harapan bangsa. SEMOGA
Ghirah ke Islaman ini tentulah patut diapresiasi oleh orang tua dari remaja putri yang bersangkutan sebab selain merupakan syariat yang dianjurkan juga merupakan tameng dari kejahatan kejahatan seksual yang marak akhir akhir ini.
Fungsi jilbab sendiri selain sebagai penutup aurat juga sebagai penutup atau penyembunyi lekak lekuk tubuh wanita yang bisa mengundang syahwat laki-laki dewasa yang melihatnya. Sehingga orang yang mengenakan jilbab dengan benar tentu tidak dapat ditebak lekak lekuk tubuhnya karena tertutup olah pakaian yang dikenakannya. Sehingga menghilangkan 'andai andai' dari lelaki dewasa yang melihatnya.
Namun ada yang mengganjal hati saya selaku muslim ketika maraknya jilbab modis yang dikenakan oleh remaja putri akhir-akhir ini. Saya sering melihat remaja putri mengenakan jeans ketat sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas plus penutup kepala yang modis. Saya hanya bertanya apa ini yang dianjurkan agama ?
Sepertinya pemahaman remaja putri saat ini jilbab itu adalah penutup kepalanya saja sedang yang lainnya tidak....jadi mereka melupakan fungsi bahwa jilbab yang benar adalah jilbab yang longgar dan menyembunyikan lekak lekuk tubuh bukan sebaliknya.
Sudah menjadi tugas orang tua untuk memberikan pengertian kepada remaja putrinya untuk memberi tahu tentang pengenaan jilbab yang benar. Tugas orang tua WAJIB menyampaikan hal ini dan memberikan teguran KERAS bila putrinya mengenakan jilbab secara setengah setengah. Selaku orang tua hendaklah menyampaikan dan memberi teguran keras kepada putrinya bahwa bila ingin mengenakan jilbab...kenakanlah secara benar menurut tuntunan AGAMA bukan memelintirnya dengan alasan MODERNISASI jilbab.
Mudah mudahan ALLAH tidak murka dan selalu memberikan hidayah Nya kepada remaja remaja putri Islam sebagai generasi penerus ISLAM dan harapan bangsa. SEMOGA
Tuesday, November 27, 2007
BIROKRASI dan KERUWETAN
Ketika saya bertemu dengan ibu mertua saya ...saya melihat ada duka menghiasi wajah beliau. Saya lantas bertanya "ada apa bu...?". Ibu akhirnya bercerita bahwa setelah meninggalnya Bapak Mertua surat tanah dengan status tanah IJO yang ditempati sekarang harus di balik nama atas nama ibu.
Keruwetan muncul ketika ipar saya yang mengurus tanah tersebut bersama temannya sering menemui salah satu staf di pemerintahan kota Surabaya untuk membayar biaya yang diminta, staf tersebut berinisial 'W'. Keruwetan semakin bertambah ketika setelah beberapa bulan kok proses tidak ada progresnya. Sampai akhirnya saya tahu bahwa ternyata ada masalah dengan staf yang mengurusi proses balik nama tersebut, ternyata staf yang berinisial 'W' tadi sudah dimutasi di kecamatan Tegalsari. Mungkin inilah yang membuat ibu mertua saya sedih...karena biaya yang diminta sudah dipenuhi semua dan proses tidak ada kemajuan. Setelah ditanyakan dengan salah satu staf di pemkot jawabannya nanti akan kami bantu tetapi ketika dilacak berkas belum masuk.
Sampai akhirnya ipar saya mengadukan kasus ke polisi dengan maksud memberikan pelajaran kepada ibu tersebut. Akhirnya ibu tersebut datang ke rumah ibu mertua dengan menangis tersedu sedu sambil mengatakan bahwa berkas sebetulnya masih sama dia dan disimpannya. Walah...walah....uang sudah keluar sampai hampir sepuluh jutaan tetapi berkas mandek di tangan ibu 'W' ini. Ibu 'W' berjanji akan mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan oleh ibu mertua dengan tanda tangan di atas materai sebagai penguat.
Satu pertanyaan saya bahwa mengapa di negara ini bila kita berhubungan dengan birokrasi selalu dan banyak sekali menemui keruwetan ? Dimana permasalahannya? Sampai kapan kita terus begini? Padahal kita selalu mendengar slogan-slogan 'good governance'. Kapan itu bisa kita nikmati ?
Mungkin memang si pencipta birokrasi dulu sudah memikirkan bahwa inilah yang namanya birokrasi dan bahwa birokrasi itu selalu identik dengan keruwetan. Apa iya ya...
Atau mungkin birokrasi dianggap sebagai bentuk lain dari proyek yang menghasilkan pendapatan tambahan sehingga timbul jargon 'KALAU BISA DIPERSULIT KENAPA DIPERMUDAH' dan untuk menjadi mudah kita harus mengeluarkan ekstra fulus....fulus lagi...fulus lagi...
Apa memang begitu ya? Padahal gaji pns dinegara ini sering naik tetapi tingkat inflasi pun selalu mengikuti ketika gaji pegawai pemerintahan naik. Inilah mungkin letak permasalahannya dinegara ini? Atau mungkin pemerintah juga tidak bisa menghitung tingkat kebutuhan pegawai sehingga menggelembung seperti sekarang ini dan pemerintah tentu merasa berat bebannya melalui apbn untuk membayar gaji pegawainya? Atau juga pemerintah tidak bisa mengintervensi pasar sehingga ketika gaji pegawai naik harga tidak ikut-ikutan naik. Saya dengar dari teman-teman yang sudah berhaji beberapa kali pernah bilang bahwa harga roti ketika dia naik haji pertama kali dengan yang ke sekian sama ..padahal rentang waktunya cukup lama...saya terus bertanya dalam hati...kok bisa ya...? Kenapa kita gak bisa...?
Dari situlah timbul ide menulis ini karena saya berkesimpulan memang birokrasi diciptakan untuk keruwetan. Di institusi institusi lain pun sering saya menemukan hal-hal seperti ini. Yang paling saya herankan adalah bahwa sebetulnya dalam pengamatan sekilas bahwa jenis pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh 2 orang saja tetapi yang mengerjakan bisa sampai 5 orang. Nah dari ketidak efisienan inilah sudah terlihat benih-benih keruwetan karena kita terkadang menemui benturan nyata di lapangan bahwa untuk membuat efisien waktu dan tenaga kita harus mengeluarkan ekstra fulus yang telah saya sebutkan di muka....sebetulnya ini sangat menarik untuk diteliti...tetapi akhirnya timbul juga pertanyaan...apa karena pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan ?
Menjawab itu..saat ini dikampus kampus marak dengan kurikulum kewirauasahaan dengan harapan yang lulus dari kampus tersebut bisa membuat pekerjaan sendiri dan menyerap pengangguran sehingga membantu pemerintah.
Sudah terbukti memang bahwa Jepang dengan penduduknya yang 2% pengusaha terus jadi negara yang bingung mau ngutangin siapa besok. Timbul lagi pertanyaan apakah terus presiden republik ini harus dari pengusaha biar segala sesuatunya dibuat seperti model kerja pengusaha?
Sebagai bahan perbandingan di Kabupaten Sragen katanya bupatinya dari pengusaha dan perkembangan daerahnya pesat sekali bahkan menjadi model nasional untuk pelayanan terpadu satu atap...terus di Lamongan sama juga peningkatakan kemajuan daerahnya cukup signifikan ketika pimpinannya seorang pengusaha. Ah...ini masih perlu dibuktikan lewat penelitian...yang jelas menurut bupati Sragen...bila kebijakan pusat gak bisa diterima akal maka dia akan menerobosnya dengan kebijakan sendiri yang itu sudah difikirkan demi kemajuan daerahnya, nah lo...!
Apa ada bupati yang berani seperti bupati Sragen ini? Kebanyakan yang saya amati masih tetap mengekor dengan kebijakan pusat yang tidak memiliki implikasi untuk kemajuan daerah dengan otonominya itu. Kalau begitu buat apa dong otonomi...kalau bungkusnya beda isinya sama ??? Kalau sudah begini apa kita perlu mengkampanyekan presiden berikutnya dari kalangan pengusaha ? Terserah Anda....!!
Bila kita ingin melihat republik ini maju mari kita berbuat sesuatu dengan modal kejujuran dan keberanian untuk membela kepentingan publlik. Berani !!!
Sebab kalau tidak begitu ...sila ke 5 Pancasila hanya akan menjadi slogan entah sampai kapan....coba renungkan mengapa bencana selalu menimpa negara ini...renungkanlah....renungkanlah....renungkanlah....sampai kau menemukan jawabannya
Keruwetan muncul ketika ipar saya yang mengurus tanah tersebut bersama temannya sering menemui salah satu staf di pemerintahan kota Surabaya untuk membayar biaya yang diminta, staf tersebut berinisial 'W'. Keruwetan semakin bertambah ketika setelah beberapa bulan kok proses tidak ada progresnya. Sampai akhirnya saya tahu bahwa ternyata ada masalah dengan staf yang mengurusi proses balik nama tersebut, ternyata staf yang berinisial 'W' tadi sudah dimutasi di kecamatan Tegalsari. Mungkin inilah yang membuat ibu mertua saya sedih...karena biaya yang diminta sudah dipenuhi semua dan proses tidak ada kemajuan. Setelah ditanyakan dengan salah satu staf di pemkot jawabannya nanti akan kami bantu tetapi ketika dilacak berkas belum masuk.
Sampai akhirnya ipar saya mengadukan kasus ke polisi dengan maksud memberikan pelajaran kepada ibu tersebut. Akhirnya ibu tersebut datang ke rumah ibu mertua dengan menangis tersedu sedu sambil mengatakan bahwa berkas sebetulnya masih sama dia dan disimpannya. Walah...walah....uang sudah keluar sampai hampir sepuluh jutaan tetapi berkas mandek di tangan ibu 'W' ini. Ibu 'W' berjanji akan mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan oleh ibu mertua dengan tanda tangan di atas materai sebagai penguat.
Satu pertanyaan saya bahwa mengapa di negara ini bila kita berhubungan dengan birokrasi selalu dan banyak sekali menemui keruwetan ? Dimana permasalahannya? Sampai kapan kita terus begini? Padahal kita selalu mendengar slogan-slogan 'good governance'. Kapan itu bisa kita nikmati ?
Mungkin memang si pencipta birokrasi dulu sudah memikirkan bahwa inilah yang namanya birokrasi dan bahwa birokrasi itu selalu identik dengan keruwetan. Apa iya ya...
Atau mungkin birokrasi dianggap sebagai bentuk lain dari proyek yang menghasilkan pendapatan tambahan sehingga timbul jargon 'KALAU BISA DIPERSULIT KENAPA DIPERMUDAH' dan untuk menjadi mudah kita harus mengeluarkan ekstra fulus....fulus lagi...fulus lagi...
Apa memang begitu ya? Padahal gaji pns dinegara ini sering naik tetapi tingkat inflasi pun selalu mengikuti ketika gaji pegawai pemerintahan naik. Inilah mungkin letak permasalahannya dinegara ini? Atau mungkin pemerintah juga tidak bisa menghitung tingkat kebutuhan pegawai sehingga menggelembung seperti sekarang ini dan pemerintah tentu merasa berat bebannya melalui apbn untuk membayar gaji pegawainya? Atau juga pemerintah tidak bisa mengintervensi pasar sehingga ketika gaji pegawai naik harga tidak ikut-ikutan naik. Saya dengar dari teman-teman yang sudah berhaji beberapa kali pernah bilang bahwa harga roti ketika dia naik haji pertama kali dengan yang ke sekian sama ..padahal rentang waktunya cukup lama...saya terus bertanya dalam hati...kok bisa ya...? Kenapa kita gak bisa...?
Dari situlah timbul ide menulis ini karena saya berkesimpulan memang birokrasi diciptakan untuk keruwetan. Di institusi institusi lain pun sering saya menemukan hal-hal seperti ini. Yang paling saya herankan adalah bahwa sebetulnya dalam pengamatan sekilas bahwa jenis pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh 2 orang saja tetapi yang mengerjakan bisa sampai 5 orang. Nah dari ketidak efisienan inilah sudah terlihat benih-benih keruwetan karena kita terkadang menemui benturan nyata di lapangan bahwa untuk membuat efisien waktu dan tenaga kita harus mengeluarkan ekstra fulus yang telah saya sebutkan di muka....sebetulnya ini sangat menarik untuk diteliti...tetapi akhirnya timbul juga pertanyaan...apa karena pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan ?
Menjawab itu..saat ini dikampus kampus marak dengan kurikulum kewirauasahaan dengan harapan yang lulus dari kampus tersebut bisa membuat pekerjaan sendiri dan menyerap pengangguran sehingga membantu pemerintah.
Sudah terbukti memang bahwa Jepang dengan penduduknya yang 2% pengusaha terus jadi negara yang bingung mau ngutangin siapa besok. Timbul lagi pertanyaan apakah terus presiden republik ini harus dari pengusaha biar segala sesuatunya dibuat seperti model kerja pengusaha?
Sebagai bahan perbandingan di Kabupaten Sragen katanya bupatinya dari pengusaha dan perkembangan daerahnya pesat sekali bahkan menjadi model nasional untuk pelayanan terpadu satu atap...terus di Lamongan sama juga peningkatakan kemajuan daerahnya cukup signifikan ketika pimpinannya seorang pengusaha. Ah...ini masih perlu dibuktikan lewat penelitian...yang jelas menurut bupati Sragen...bila kebijakan pusat gak bisa diterima akal maka dia akan menerobosnya dengan kebijakan sendiri yang itu sudah difikirkan demi kemajuan daerahnya, nah lo...!
Apa ada bupati yang berani seperti bupati Sragen ini? Kebanyakan yang saya amati masih tetap mengekor dengan kebijakan pusat yang tidak memiliki implikasi untuk kemajuan daerah dengan otonominya itu. Kalau begitu buat apa dong otonomi...kalau bungkusnya beda isinya sama ??? Kalau sudah begini apa kita perlu mengkampanyekan presiden berikutnya dari kalangan pengusaha ? Terserah Anda....!!
Bila kita ingin melihat republik ini maju mari kita berbuat sesuatu dengan modal kejujuran dan keberanian untuk membela kepentingan publlik. Berani !!!
Sebab kalau tidak begitu ...sila ke 5 Pancasila hanya akan menjadi slogan entah sampai kapan....coba renungkan mengapa bencana selalu menimpa negara ini...renungkanlah....renungkanlah....renungkanlah....sampai kau menemukan jawabannya
Tuesday, November 20, 2007
MACET LAGI MACET LAGI
Menyikapi kemacetan yang ada di kota kota besar di Indonesia saya sempat geleng geleng kepala karena, katanya negara kita ini miskin tapi kok kendaraan di jalan raya banyak sekali. Kalau sudah begini yang keliru itu ekonom atau hasil survey nya ?? Disisi lain kota-kota di luar Jakarta tidak mau belajar dari kemacetan Jakarta yang sudah terkenal itu.
Surabaya sekarang juga sudah mulai menuai hasil dari pembangunan yang tidak mengindahkan kenyamanan publik dengan tekanan kenyamanan publik. Mengapa ? Karena semua merasa membayar pajak mungkin atau juga karena pemerintahnya tidak mengerti bagaimana cara mengelola uang publik untuk kepentingan dan kenyamanan publik.
Saya sempat berkata kepada teman saya dinegara ini bila menjadi RI-1 itu seharusnya sudah siap mati baik mati secara wajar ataupun tidak wajar alias disantet. Mengapa disantet karena banyaknya lawan politik dan pengusaha yang tidak terakomodasi kepentingannya sehingga berulah.
Sudah 62 tahun merdeka PEMERINTAH tidak berani mengeluarkan kebijakan tentang pelayanan dan kenyamanan publik. Misal kendaraan bermotor yang lebih dari 10 tahun harus dimusnahkan dan didaur ulang. Angkutan publik diperbaiki armada dan kualitas layanannya. Yang melanggar aturan lalu lintas ditindak tegas dengan tidak boleh mengendarai selama 1 tahun tergantung berat ringannya pelanggaran.
Setelah saya amati kadang-kadang kebijakannya sudah benar tapi tindakan untuk melakukan dan mengamankan kebijakan itu tidak tegas? Kenapa ya ? Apa karena wajah peradilan kita ? Atau karena negara ini tidak punya panutan dengan meminjam istilah bung EMHA Ainun Najib bahwa dinegara ini semuanya sesat.
Pemimpin merupakan simbol sebuah negara dan mau dibawa kemana negara ini tergantung pemimpinnya. Lihatlah bagaimana mantan presiden India yang diminta untuk berbicara di Jakarta baru-baru ini dengan memaparkan bagaiman negaranya membangun sistim informasi sehingga menjadi negara modern dengan sistim informasinya saat ini.
Negara yang penuh dengan orang pintar tetapi terpuruk dari sisi kesejahteraan tentunya ada yang salah dan tidak beres. Sampai kapan ini akan berakhir ??? Mungkinkah tidak berakhir sampai ALLAH menurunkan azab kubronya sehingga hanya menyisakan orang-orang baik dinegeri ini? Wallahu'alam....
Surabaya sekarang juga sudah mulai menuai hasil dari pembangunan yang tidak mengindahkan kenyamanan publik dengan tekanan kenyamanan publik. Mengapa ? Karena semua merasa membayar pajak mungkin atau juga karena pemerintahnya tidak mengerti bagaimana cara mengelola uang publik untuk kepentingan dan kenyamanan publik.
Saya sempat berkata kepada teman saya dinegara ini bila menjadi RI-1 itu seharusnya sudah siap mati baik mati secara wajar ataupun tidak wajar alias disantet. Mengapa disantet karena banyaknya lawan politik dan pengusaha yang tidak terakomodasi kepentingannya sehingga berulah.
Sudah 62 tahun merdeka PEMERINTAH tidak berani mengeluarkan kebijakan tentang pelayanan dan kenyamanan publik. Misal kendaraan bermotor yang lebih dari 10 tahun harus dimusnahkan dan didaur ulang. Angkutan publik diperbaiki armada dan kualitas layanannya. Yang melanggar aturan lalu lintas ditindak tegas dengan tidak boleh mengendarai selama 1 tahun tergantung berat ringannya pelanggaran.
Setelah saya amati kadang-kadang kebijakannya sudah benar tapi tindakan untuk melakukan dan mengamankan kebijakan itu tidak tegas? Kenapa ya ? Apa karena wajah peradilan kita ? Atau karena negara ini tidak punya panutan dengan meminjam istilah bung EMHA Ainun Najib bahwa dinegara ini semuanya sesat.
Pemimpin merupakan simbol sebuah negara dan mau dibawa kemana negara ini tergantung pemimpinnya. Lihatlah bagaimana mantan presiden India yang diminta untuk berbicara di Jakarta baru-baru ini dengan memaparkan bagaiman negaranya membangun sistim informasi sehingga menjadi negara modern dengan sistim informasinya saat ini.
Negara yang penuh dengan orang pintar tetapi terpuruk dari sisi kesejahteraan tentunya ada yang salah dan tidak beres. Sampai kapan ini akan berakhir ??? Mungkinkah tidak berakhir sampai ALLAH menurunkan azab kubronya sehingga hanya menyisakan orang-orang baik dinegeri ini? Wallahu'alam....
Wednesday, November 07, 2007
DEBAT KUSIR DI TV
Sungguh nikmat rasanya ketika saya menikmati debat antara menhut ms ka'ban, manajer humas kehutanan walhi propinsi sumatera utara, anggota DPR komisi Iv dan dari fihak kepolisian dengan pangkat irjen.
Yang membuat saya menikmatinya adalah antara ketidak puasan dari fihak WALHI dan KEPOLISIAN terhadap lepasnya atau diputus bebasnya sang AL tersangka kasus pembalakan liar di hutan lindung mandailing natal sumut. Sungguh terlihat perbedaan sudut pandang antara fihak kepolisian, menhut dan walhi sedang si anggota DPR sebagai fihak pengamat.
Satu hal yang saya lihat bahwa sebagai konsumsi publik debat ini menarik dan membuat saya menduga-duga karena ketidak seragaman sudut pandang dalam memandang masalah pembalakan liar...tapi terlepas dari itu semua yang jelas memang di republik ini sulit sekali untuk berkoordinasi. Mulai zaman pemerintahan orde baru sampai saat ini selalu saja saling tuding sepertinya memang setiap departemen itu memiliki kekuatan sendiri-sendiri sehingga tidak mau berinteraksi secara 'arif' untuk memperbaiki keadaan republik sehingga kami-kami rakyat ini merasakan perbaikan dari sisi kebijakan dan tindakan nyata dari hasil penerapan kebijakan. PERLU PEMBACA KETAHUI BAHWA REPUBLIK INI MEMANG MILIK SEGELINTIR ORANG YANG MEMILIKI KUASA DAN UANG. PERLU DICATAT ITU !!!
Yang jelas dari kacamata saya justru dari debat kusir itulah kelihatan bahwa pemerintah kurang serius dalam melindungi hutan yang katanya sebagai aset dunia sehingga orang luar pun ikut memperdulikan hutan republik ini sebab hutan mereka sudah habis ditebangi ketika revolusi industri dulu.
Satu hal yang membuat saya sangat terkesan dari debat publik ini bahwa ketika anda memiliki uang anda bisa melakukan segala galanya di republik ini termasuk membeli KEKUASAAN. Karena itulah seorang budayawan sampai bersumpah dengan menyebut DEMI ALLAH bahwa seluruh pemimpin dunia bersatu untuk memperbaiki keadaan di republik ini pasti mereka tidak akan mampu karena pelik dan kompleksnya permasalahan yang ada dan sebagai orang yang beragama sang budayawan berkata hanya ALLAH yang dapat mengubah republik ini ke arah yang lebih baik.
Kalau sudah begitu akhirnya saya berfikir bahwa dengan aktifnya beberapa gunung api akhir akhir ini mungkinkah itu sebagai skenario ALLAH untuk menumpas orang-orang jahat di bumi pertiwi ini dengan ledakan secara berbarengan (semoga) dan akhirnya menyisakan orang-orang baik untuk perbaikan dan kelangsungan republik ini ? Wallahu 'alam...tetapi dari debat ini semua publik tahu bagaimana kualitas pemerintahan kita sekarang ini dalam memerangi dan menangani kasus pembalakan liar.
Kalau sudah begitu timbul lagi pertanyaan apakah nanti anak cucu kita nanti masih dapat merasakan segarnya udara pagi ketika bangun dari tidur...karena bukan tidak mungkin ketika hutan sudah habis maka pohon pohon di dalam kota pun ditebangi semua oleh para pengusaha yang katanya memiliki izin itu...semoga itu tidak terjadi.
Yang membuat saya menikmatinya adalah antara ketidak puasan dari fihak WALHI dan KEPOLISIAN terhadap lepasnya atau diputus bebasnya sang AL tersangka kasus pembalakan liar di hutan lindung mandailing natal sumut. Sungguh terlihat perbedaan sudut pandang antara fihak kepolisian, menhut dan walhi sedang si anggota DPR sebagai fihak pengamat.
Satu hal yang saya lihat bahwa sebagai konsumsi publik debat ini menarik dan membuat saya menduga-duga karena ketidak seragaman sudut pandang dalam memandang masalah pembalakan liar...tapi terlepas dari itu semua yang jelas memang di republik ini sulit sekali untuk berkoordinasi. Mulai zaman pemerintahan orde baru sampai saat ini selalu saja saling tuding sepertinya memang setiap departemen itu memiliki kekuatan sendiri-sendiri sehingga tidak mau berinteraksi secara 'arif' untuk memperbaiki keadaan republik sehingga kami-kami rakyat ini merasakan perbaikan dari sisi kebijakan dan tindakan nyata dari hasil penerapan kebijakan. PERLU PEMBACA KETAHUI BAHWA REPUBLIK INI MEMANG MILIK SEGELINTIR ORANG YANG MEMILIKI KUASA DAN UANG. PERLU DICATAT ITU !!!
Yang jelas dari kacamata saya justru dari debat kusir itulah kelihatan bahwa pemerintah kurang serius dalam melindungi hutan yang katanya sebagai aset dunia sehingga orang luar pun ikut memperdulikan hutan republik ini sebab hutan mereka sudah habis ditebangi ketika revolusi industri dulu.
Satu hal yang membuat saya sangat terkesan dari debat publik ini bahwa ketika anda memiliki uang anda bisa melakukan segala galanya di republik ini termasuk membeli KEKUASAAN. Karena itulah seorang budayawan sampai bersumpah dengan menyebut DEMI ALLAH bahwa seluruh pemimpin dunia bersatu untuk memperbaiki keadaan di republik ini pasti mereka tidak akan mampu karena pelik dan kompleksnya permasalahan yang ada dan sebagai orang yang beragama sang budayawan berkata hanya ALLAH yang dapat mengubah republik ini ke arah yang lebih baik.
Kalau sudah begitu akhirnya saya berfikir bahwa dengan aktifnya beberapa gunung api akhir akhir ini mungkinkah itu sebagai skenario ALLAH untuk menumpas orang-orang jahat di bumi pertiwi ini dengan ledakan secara berbarengan (semoga) dan akhirnya menyisakan orang-orang baik untuk perbaikan dan kelangsungan republik ini ? Wallahu 'alam...tetapi dari debat ini semua publik tahu bagaimana kualitas pemerintahan kita sekarang ini dalam memerangi dan menangani kasus pembalakan liar.
Kalau sudah begitu timbul lagi pertanyaan apakah nanti anak cucu kita nanti masih dapat merasakan segarnya udara pagi ketika bangun dari tidur...karena bukan tidak mungkin ketika hutan sudah habis maka pohon pohon di dalam kota pun ditebangi semua oleh para pengusaha yang katanya memiliki izin itu...semoga itu tidak terjadi.
Monday, November 05, 2007
Teknologi dan Kemacetan
Sering sekali saya melihat di jalan mobil-mobil dan sepeda motor saling berlomba membunyikan bel kendaraannya. Itu karena mobil di depannya jalannya melambat dan tanpa merasa bersalah tidak memberikan kesempatan kepada kendaraan lain yang ada di belakangnya untuk dapat mendahuluinya dengan cara meminggirkan kendaraan atau sedikit menepi. Mengapa itu terjadi ?
Ternyata setelah diamati dengan asyiknya sang pengendara memencet mencet keypad handphone nya ber SMS ria dengan rasa tanpa bersalah yang telah mengakibat kan pengendara lainnya sedikit melambat dan membentuk antrian panjang ke belakang.
Hal seperti ini sering terjadi di jalanan di republik ini, apa sebabnya ? Selain karena ketidakmengertian tentang safety di jalanan dan menghormati kepentingan publik tapi ada hal lain yang sebetulnya bisa dibilang 'kemaruk teknologi'. Kemaruk teknologi maksudnya bisa beli tetapi tidak mengerti atau tidak familiar dalam penggunaannya.
Selain tidak memanfaatkan aksesoris pelengkap handset/HP ini juga karena perlakuan hukum yang tidak tegas. Ini tugas dari polisi untuk memberikan sanksi pada pelaku yang tidak memperhatikan tingkat safety pengguna jalan lainnya di jalanan. Kepada user Hp juga sebaiknya mengerti bahwa untuk menggunakan HP di jalanan sebaiknya bila sedang berkendara gunakanlah aksesoris pelengkap seperti handsfree, earphonr ataupun yang lainnya seperti yang banyak beredar di pasaran dan canggih canggih lagi. Herannya sang 'pelaku' biasanya orang yang dari sisi ekonomi dan pendidikan cukup maju tapi cara berfikirnya mundur. Apa Anda juga ingin di cap sebagai orang yang memiliki cara berfikir mundur ?
Ternyata setelah diamati dengan asyiknya sang pengendara memencet mencet keypad handphone nya ber SMS ria dengan rasa tanpa bersalah yang telah mengakibat kan pengendara lainnya sedikit melambat dan membentuk antrian panjang ke belakang.
Hal seperti ini sering terjadi di jalanan di republik ini, apa sebabnya ? Selain karena ketidakmengertian tentang safety di jalanan dan menghormati kepentingan publik tapi ada hal lain yang sebetulnya bisa dibilang 'kemaruk teknologi'. Kemaruk teknologi maksudnya bisa beli tetapi tidak mengerti atau tidak familiar dalam penggunaannya.
Selain tidak memanfaatkan aksesoris pelengkap handset/HP ini juga karena perlakuan hukum yang tidak tegas. Ini tugas dari polisi untuk memberikan sanksi pada pelaku yang tidak memperhatikan tingkat safety pengguna jalan lainnya di jalanan. Kepada user Hp juga sebaiknya mengerti bahwa untuk menggunakan HP di jalanan sebaiknya bila sedang berkendara gunakanlah aksesoris pelengkap seperti handsfree, earphonr ataupun yang lainnya seperti yang banyak beredar di pasaran dan canggih canggih lagi. Herannya sang 'pelaku' biasanya orang yang dari sisi ekonomi dan pendidikan cukup maju tapi cara berfikirnya mundur. Apa Anda juga ingin di cap sebagai orang yang memiliki cara berfikir mundur ?
Thursday, November 01, 2007
Profesor...oh profesor..
Ketika ngobrol serius dengan salah satu profesor baru dari salah satu universitas negeri di Jawa Timur saya kaget dan memberikan ucapan selamat karena yang bersangkutan tidak pernah menceritakan kalau yang bersangkutan sudah dikukuhkan menjadi guru besar (apa memang selama ini masih guru kecil hehe). Obrolan berlanjut dengan basa basi biasa dan si profesor pamit.
Tak lama kemudian datanglah si doktor yang sering saya motivasi untuk segera mengurus segala keperluan yang dibutuhkan untuk segera dikukuhkan menjadi guru besar. Setelah ngobrol ngalor ngidul saya berkomentar bahwa di perguruan tinggi A banyak profesornya ya... Si doktor terus berkomentar bahwa di PT A itu enak karena bila ingin mengumpulkan kum sang kandidat guru besar bisa menyantolkan kum untuk penelitiannya pada rekan sejawat atau mahasiswa bimbingannya (apa boleh ya...??)
Sang doktorpun berkomentar ada lagi perguruan tinggi negeri di daerah B bahwa profesornya lebih banyak lagi yah sama karena sistim cantol menyantol (kayak listrik saja) sering dilakukan sehingga pengumpulan kum dari penelitian lebih cepat terkumpul.
Saya hanya jadi bertanya-tanya apa memang harus begitu sih untuk menjadi guru besar sebagai panutan mahasiswa ? Atau karena motif lain sehingga rating nya meningkat bila diundang seminar karena keguru besarannya atau juga karena motif motif lain secara ekonomi tadi sehingga terkadang untuk cantol menyantolpun dilakukan? Atau juga karena di fakultas di PT tersebut kering dengan guru besar, alah mak...
Setahu saya yang namanya guru besar itu selain merupakan jenjang kepangkatan juga karena kepakaran dibidang ilmunya. Cobalah kita lihat bagaimana dan berapa banyak buku yang diterbitkan oleh profesor profesor kita ? Selain mengajar tugas profesor yah memang meneliti dan menerbitkannya dalam jurnal sehingga diakui kepakarannya.
Tapi mungkin zaman sudah bergeser sehingga untuk mendapatkan predikat guru besar seorang kandidat profesor gampang mengumpulkan kum karena kebaikan kolega ataupun karena merasa membimbing mahasiswanya sehingga menganggap bahwa itupun menjadi penelitiannya dan bukan karya mahasiswa sepenuhnya yang memiliki ide dasar ? Bener gak sih....?? Bingung aku....
Tak lama kemudian datanglah si doktor yang sering saya motivasi untuk segera mengurus segala keperluan yang dibutuhkan untuk segera dikukuhkan menjadi guru besar. Setelah ngobrol ngalor ngidul saya berkomentar bahwa di perguruan tinggi A banyak profesornya ya... Si doktor terus berkomentar bahwa di PT A itu enak karena bila ingin mengumpulkan kum sang kandidat guru besar bisa menyantolkan kum untuk penelitiannya pada rekan sejawat atau mahasiswa bimbingannya (apa boleh ya...??)
Sang doktorpun berkomentar ada lagi perguruan tinggi negeri di daerah B bahwa profesornya lebih banyak lagi yah sama karena sistim cantol menyantol (kayak listrik saja) sering dilakukan sehingga pengumpulan kum dari penelitian lebih cepat terkumpul.
Saya hanya jadi bertanya-tanya apa memang harus begitu sih untuk menjadi guru besar sebagai panutan mahasiswa ? Atau karena motif lain sehingga rating nya meningkat bila diundang seminar karena keguru besarannya atau juga karena motif motif lain secara ekonomi tadi sehingga terkadang untuk cantol menyantolpun dilakukan? Atau juga karena di fakultas di PT tersebut kering dengan guru besar, alah mak...
Setahu saya yang namanya guru besar itu selain merupakan jenjang kepangkatan juga karena kepakaran dibidang ilmunya. Cobalah kita lihat bagaimana dan berapa banyak buku yang diterbitkan oleh profesor profesor kita ? Selain mengajar tugas profesor yah memang meneliti dan menerbitkannya dalam jurnal sehingga diakui kepakarannya.
Tapi mungkin zaman sudah bergeser sehingga untuk mendapatkan predikat guru besar seorang kandidat profesor gampang mengumpulkan kum karena kebaikan kolega ataupun karena merasa membimbing mahasiswanya sehingga menganggap bahwa itupun menjadi penelitiannya dan bukan karya mahasiswa sepenuhnya yang memiliki ide dasar ? Bener gak sih....?? Bingung aku....
Wednesday, October 31, 2007
Mari Mentertawakan Diri Sendiri
Ditempat saya bekerja banyak hal-hal yang membuat saya tertawa, sehingga kalau saya sedang istirahat dan teringat hal-hal tersebut maka saya jadi tersenyum sendiri dibuatnya. Ada saja kejadian kejadian lucu setiap harinya yang membuat saya kadang tertawa sendiri dibuatnya mulai dari adanya beberapa karyawan yang suami istri satu kantor sehingga kadang kadang masalah dalam rumah tangganya dibawa bawa ke kantor dan akhirnya mempengaruhi perilaku kerja alias kinerjanya. Ada lagi yang tidak tahu harus berbuat apa sehingga kerjanya justru menyalurkan hobi memasaknya dan menyediakan teman-teman makan siang. Adalagi yang selalu membela pasangannya karena merasa punya posisi strategis sehingga sangatlah menyolok bila yang bersangkutan selalu berusaha membela pasangan hidupnya yang satu kantor tapi beda posisi.
Itulah kondisi kantor tempat saya bekerja. Saya sangat menikmatinya bahkan ada pimpinan bila ditanya selalau memberikan jawaban yang ragu dan tidak pernah membuat keputusan secara tegas. Ada lagi yang selalu berlindung di balik topeng atasannya dengan kalimat "Kata Ibu Anu...kata Pak Anu..." Insentif diberikan dengan dasar yang tidak jelas dan lebih cenderung 'like and dislike'.Padahal tempat saya bekerja itu institusi pendidikan yang cukup ternama, saya bilang cukup ternama ... tetapi pola kerja dan budayanya tidak mencerminkan institusinya.
Bila kita membaca tulisan pendiri Primagama bung Purdie Candra beliau tidak mempermasalahkan bila dalam satu kantor terdapat pasangan suami istri tetapi yang dimaksud Bung PC tersebut adalah tetap proporsional dan profesional.
Bila merujuk tulisan dan iklan dari bung Rhenald Kasali disalah satu TV swasta maka beliau selalu menganjurkan 'think out the box', berfikir lah diluar batasan kotak dimana kita berada, dengan lugas beliau menjelaskan bila kita bekerja atau melakukan kegiatan rutin dalam satu institusi maka cobalah kita untuk keluar dari kegiatan rutin sehari-hari maka Anda akan menemukan sesuatu yang dapat memberikan pencerahan dalam diri Anda.
Itulah bedanya dengan kebanyakan orang dari rekan-rekan dimana saya bekerja, ataupun mungkin mereka sudah menganggap diri mereka hebat sendiri sehingga tidak pernah keluar dari kotaknya dan melihat dunia luar? Ada apa di dunia luar sana?
Masih menurut pakar manajemen bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan makanya banyak sekali sekarang ini beredar di pasaran buku buku manajemen perubahan. Sekarang tergantung kita mau berubah secara ekstrim atau secara perlahan tapi pasti. Artinya orang yang tidak pernah keluar dari kotaknya dan hanya selalu berkutat di kotak nya sendiri maka orang tersebut bisa di bilang seperti katak di bawah tempurung dan bisa dipastikan dunia nya hanya sempit sesempit kotaknya.
Sering saya mengatakan kepada teman teman tentang kotak ini tetapi semua kan bergantung pada sipenerima pesan. Dalam dunia nyata atau kehidupan kita sehari hari di masyarakat yang begitu majemuk banyak sekali perkembangan yang terjadi. Bila di kampung ada orang yang membuat terobosan baru maka bisa dipastikan bahwa akan menemui kendala dari orang-orang yang tidak mau keluar dari kotaknya alias alergi terhadap perubahan karena bisa dipastikan itu bagian dari cara berfikirnya. Masak sih ???
Itulah kondisi kantor tempat saya bekerja. Saya sangat menikmatinya bahkan ada pimpinan bila ditanya selalau memberikan jawaban yang ragu dan tidak pernah membuat keputusan secara tegas. Ada lagi yang selalu berlindung di balik topeng atasannya dengan kalimat "Kata Ibu Anu...kata Pak Anu..." Insentif diberikan dengan dasar yang tidak jelas dan lebih cenderung 'like and dislike'.Padahal tempat saya bekerja itu institusi pendidikan yang cukup ternama, saya bilang cukup ternama ... tetapi pola kerja dan budayanya tidak mencerminkan institusinya.
Bila kita membaca tulisan pendiri Primagama bung Purdie Candra beliau tidak mempermasalahkan bila dalam satu kantor terdapat pasangan suami istri tetapi yang dimaksud Bung PC tersebut adalah tetap proporsional dan profesional.
Bila merujuk tulisan dan iklan dari bung Rhenald Kasali disalah satu TV swasta maka beliau selalu menganjurkan 'think out the box', berfikir lah diluar batasan kotak dimana kita berada, dengan lugas beliau menjelaskan bila kita bekerja atau melakukan kegiatan rutin dalam satu institusi maka cobalah kita untuk keluar dari kegiatan rutin sehari-hari maka Anda akan menemukan sesuatu yang dapat memberikan pencerahan dalam diri Anda.
Itulah bedanya dengan kebanyakan orang dari rekan-rekan dimana saya bekerja, ataupun mungkin mereka sudah menganggap diri mereka hebat sendiri sehingga tidak pernah keluar dari kotaknya dan melihat dunia luar? Ada apa di dunia luar sana?
Masih menurut pakar manajemen bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan makanya banyak sekali sekarang ini beredar di pasaran buku buku manajemen perubahan. Sekarang tergantung kita mau berubah secara ekstrim atau secara perlahan tapi pasti. Artinya orang yang tidak pernah keluar dari kotaknya dan hanya selalu berkutat di kotak nya sendiri maka orang tersebut bisa di bilang seperti katak di bawah tempurung dan bisa dipastikan dunia nya hanya sempit sesempit kotaknya.
Sering saya mengatakan kepada teman teman tentang kotak ini tetapi semua kan bergantung pada sipenerima pesan. Dalam dunia nyata atau kehidupan kita sehari hari di masyarakat yang begitu majemuk banyak sekali perkembangan yang terjadi. Bila di kampung ada orang yang membuat terobosan baru maka bisa dipastikan bahwa akan menemui kendala dari orang-orang yang tidak mau keluar dari kotaknya alias alergi terhadap perubahan karena bisa dipastikan itu bagian dari cara berfikirnya. Masak sih ???
Sunday, October 28, 2007
LURAH KAGET
Sebetulnya saya agak jengah juga ingin menulis tulisan ini tetapi yah sekedar...tambah tambah pengalaman buat yang membacanya.
Ketika saya ditelpon teman-teman di tempat saya tinggal untuk kumpul bersama saya pun mendatangi undangan tersebut dengan senang hati. Teman yang mengundang ternyata mengajak makan bersama teman-teman lain yang diundang juga. Ketika bersantap panganan tradisi daerah Lamongan (nasi boran, saya juga gak pasti boran atau borang hehehehhe) teman teman berdiskusi kecil memperbincangkan tentang lingkungan kita tnggal sambil berkelakar sembari dibumbui lelucon lelucon yang cukup menyegarkan susana.
Pada saat sampai ketika memperbincangkan pemerintahan desa dengan lurah yang baru tibalah kelucuan itu menjadi menjadi. Ada yang cerita kalau istri lurah yang baru menanyakan ke lurah yang lama sebetulnya gaji lurah itu berapa ? Jawaban lurah yang lama dengan bahasa jawa "cangkulen bengkok iku sampe geger mu bongkok". Istri lurah yang lama dapatlah menangkap maksud tersebut artinya lurah tidak digaji dan gajinya dari tanah bengkok desa yang tidak subur dan kurang menguntungkan. Sampai akhirnya ada lagi cerita yang sangat menggelikan ketika lurah yang baru katanya didatangi oleh penduduk secara beramai ramai karena lurah menjual pohon randu dipinggir jalan tanpa kompromi lagi. Temen saya yang pengurus kampung menyeletuk "Wah lurahe bingung yok opo carane nggolek duit gae mbalekno bondo ketika proses pemilihan lurah" (Lurahnya bingung bagaimana caranya cari uang buat mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan ketika proses pemilihan lurah).
Ada lagi yang cerita ketika rapat dibalai desa terlontar pembicaraan dari lurah secara eksplisit ingin menjual kali yang dilewati lahan developer yang sedang mengembangkan perumahan. Semua orang banyak tertawa termasuk juga BPD nya....hehehehe
Saudara saudara ku lihat lah kualitas lurah dan proses pemilihan lurah di desa, yang saya dengar mertuanya membantu proses biaya pemilihan dengan menjual sawahnya bagaimana dengan proses pemilihan presiden ? Mungkin bukan sawah yang dijual oleh mertuanya calon presiden tetapi pengusaha-pengusaha yang melingkarinya bersiap membantu dan tentunya dengan KOMPENSASI KOMPENSASI KUE baik itu melalui kebijakan politik maupun yang lainnya, ah ANDA kan tau sendirilah...hehehehe
Begitulah kalau kita sudah mendewakan uang dan uang menjadi segalanya segala proses proses politik harus dengan uang untuk menghasilkan pemimpin dan juga kebijakan yang akhirnya tidak memihak pada kepentingan rakyat banyak tetapi lebih pada kepentingan bisnis kaum tertentu..WADUW...kepalaku sakit...
Ketika saya ditelpon teman-teman di tempat saya tinggal untuk kumpul bersama saya pun mendatangi undangan tersebut dengan senang hati. Teman yang mengundang ternyata mengajak makan bersama teman-teman lain yang diundang juga. Ketika bersantap panganan tradisi daerah Lamongan (nasi boran, saya juga gak pasti boran atau borang hehehehhe) teman teman berdiskusi kecil memperbincangkan tentang lingkungan kita tnggal sambil berkelakar sembari dibumbui lelucon lelucon yang cukup menyegarkan susana.
Pada saat sampai ketika memperbincangkan pemerintahan desa dengan lurah yang baru tibalah kelucuan itu menjadi menjadi. Ada yang cerita kalau istri lurah yang baru menanyakan ke lurah yang lama sebetulnya gaji lurah itu berapa ? Jawaban lurah yang lama dengan bahasa jawa "cangkulen bengkok iku sampe geger mu bongkok". Istri lurah yang lama dapatlah menangkap maksud tersebut artinya lurah tidak digaji dan gajinya dari tanah bengkok desa yang tidak subur dan kurang menguntungkan. Sampai akhirnya ada lagi cerita yang sangat menggelikan ketika lurah yang baru katanya didatangi oleh penduduk secara beramai ramai karena lurah menjual pohon randu dipinggir jalan tanpa kompromi lagi. Temen saya yang pengurus kampung menyeletuk "Wah lurahe bingung yok opo carane nggolek duit gae mbalekno bondo ketika proses pemilihan lurah" (Lurahnya bingung bagaimana caranya cari uang buat mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan ketika proses pemilihan lurah).
Ada lagi yang cerita ketika rapat dibalai desa terlontar pembicaraan dari lurah secara eksplisit ingin menjual kali yang dilewati lahan developer yang sedang mengembangkan perumahan. Semua orang banyak tertawa termasuk juga BPD nya....hehehehe
Saudara saudara ku lihat lah kualitas lurah dan proses pemilihan lurah di desa, yang saya dengar mertuanya membantu proses biaya pemilihan dengan menjual sawahnya bagaimana dengan proses pemilihan presiden ? Mungkin bukan sawah yang dijual oleh mertuanya calon presiden tetapi pengusaha-pengusaha yang melingkarinya bersiap membantu dan tentunya dengan KOMPENSASI KOMPENSASI KUE baik itu melalui kebijakan politik maupun yang lainnya, ah ANDA kan tau sendirilah...hehehehe
Begitulah kalau kita sudah mendewakan uang dan uang menjadi segalanya segala proses proses politik harus dengan uang untuk menghasilkan pemimpin dan juga kebijakan yang akhirnya tidak memihak pada kepentingan rakyat banyak tetapi lebih pada kepentingan bisnis kaum tertentu..WADUW...kepalaku sakit...
Friday, October 26, 2007
Gajah Berkelahi siapa yang mati...?
Ketika saya menulis tulisan ini saya tidak memiliki pretensi apa apa tetapi saya sangat miris dengan nasib obyek penderitanya. Di TV dan kehidupan nyata baik itu kehidupan selebritis maupun kehidupan awam banyak kita jumpai berita yang istilah dalam pepatah melayu "gajah berkelahi pelanduk mati di tengah'. Ketika saya nonton berita gosip dua selebritis di republik ini yang berseteru tanpa henti maka yang saya bayangkan adalah anak hasil buah cinta mereka sebagai rasa kasih cinta Tuhan juga. Kepala dingin sudah dikalahkan oleh emosi dan syahwat. Walau pun dengan sebab yang beragam tetapi sepertinya mereka tidak memikirkan buah hati dan tidak jarang perebutan buah hatipun berlangsung ramai. Anehnya lagi tayangan ini ditayangkan pada pagi, siang dan sore hari yang anak-anak kecil pun dapat contoh yang tidak baik. Terkadang saya miris melihatnya karena anak-anak kecil lebih tahu tentang hal ini ketimbang belajar menghafal kali-kalian untuk memudahkan pelajaran matematika di sekolahnya.
Tayangan ini akan menjadi preseden buruk bagi yang lainnya tetapi yang ingin saya tulis adalah bagaimana nasib anak-anak yang masih belum mengerti apa-apa itu? Padahal sang buah hati sangat memerlukan kasih sayang dari kedua orang tua yang seharusnya menyanyangi dan melindungi mereka dengan pelukan dan ciuman kasih sayang sebagai penguat hati ketika mereka membutuhkannya.
Apalah jadinya ketika mereka hanya menemukan pertengkaran demi pertengkaran yang tiada henti sedangkan yang mereka butuhkan kedamaian ? Apalah jadinya perkembangan jiwa mereka ketika nanti beranjak ke remaja dan dewasa ?
Anak adalah peniru yang baik ....(katanya)..tetapi memang iya sih cobalah Anda amati anak Anda sendiri ketika sedang menonton televisi bagaimana lagak dan gayanya ketika dia ingin meniru gerakan dari penyanyi cilik yang dilihatnya,sungguh lucu dan menyenangkan sekali.
Wahai orang tua - orang tua yang sedang berseteru tidak kah kalian ingin menyaksikan kelucuan anak-anak Anda dengan bercengkrama bersama mereka ? Tidak kah senyum ompong mereka yang membuat kalian cepat-cepat pulang ke rumah untuk segera memeluk dan menciumnya sambil mendengarkan celoteh mereka karena mereka ingin didengarkan juga? Tidakkah rengek mereka yang selalu manja dan selalu minta digendong bila mereka merasakan badan mereka agak kurang sehat ? Tidakkah kalian merasakan kangen dengan tingkah mereka yang terkadang menjengkelkan ?
Cobalah merenungi diri...dan buanglah perasaan gengsi dan ego jauh jauh. Adakah kalian temukan jawaban bahwa tugas dan tanggung jawab kalian dalam membesarkan anak-anak sebagai titipan Tuhan di dunia ini akan dimintai pertanggung jawaban ketika kehidupan setelah kematian datang ? Bila kalian tidak menemukan jawabannya cobalah tanya pada diri kalian; Apakah dalam hidup ini kalian sudah mengikuti tuntunan agama yang kalian anut? Hanya kalian yang bisa menjawabnya wahai bapak dan ibu, papa dan mama, bapak dan emak, abak dan emak ? Ditangan kalianlah karakter penerus akan terbentuk dengan segala kehendak Tuhan sebagai pemegang hak dalam merubah kehendak kalian para orang tua?
Bagi yang membaca tulisan ini mudah-mudahan kalian tergugah karena "Anaklah yang membuat kita termotivasi untuk berbuat lebih dan ingat kita harus mempersiapkan mereka dengan memberikan bekal yang sesuai dengan zamannya"
Tayangan ini akan menjadi preseden buruk bagi yang lainnya tetapi yang ingin saya tulis adalah bagaimana nasib anak-anak yang masih belum mengerti apa-apa itu? Padahal sang buah hati sangat memerlukan kasih sayang dari kedua orang tua yang seharusnya menyanyangi dan melindungi mereka dengan pelukan dan ciuman kasih sayang sebagai penguat hati ketika mereka membutuhkannya.
Apalah jadinya ketika mereka hanya menemukan pertengkaran demi pertengkaran yang tiada henti sedangkan yang mereka butuhkan kedamaian ? Apalah jadinya perkembangan jiwa mereka ketika nanti beranjak ke remaja dan dewasa ?
Anak adalah peniru yang baik ....(katanya)..tetapi memang iya sih cobalah Anda amati anak Anda sendiri ketika sedang menonton televisi bagaimana lagak dan gayanya ketika dia ingin meniru gerakan dari penyanyi cilik yang dilihatnya,sungguh lucu dan menyenangkan sekali.
Wahai orang tua - orang tua yang sedang berseteru tidak kah kalian ingin menyaksikan kelucuan anak-anak Anda dengan bercengkrama bersama mereka ? Tidak kah senyum ompong mereka yang membuat kalian cepat-cepat pulang ke rumah untuk segera memeluk dan menciumnya sambil mendengarkan celoteh mereka karena mereka ingin didengarkan juga? Tidakkah rengek mereka yang selalu manja dan selalu minta digendong bila mereka merasakan badan mereka agak kurang sehat ? Tidakkah kalian merasakan kangen dengan tingkah mereka yang terkadang menjengkelkan ?
Cobalah merenungi diri...dan buanglah perasaan gengsi dan ego jauh jauh. Adakah kalian temukan jawaban bahwa tugas dan tanggung jawab kalian dalam membesarkan anak-anak sebagai titipan Tuhan di dunia ini akan dimintai pertanggung jawaban ketika kehidupan setelah kematian datang ? Bila kalian tidak menemukan jawabannya cobalah tanya pada diri kalian; Apakah dalam hidup ini kalian sudah mengikuti tuntunan agama yang kalian anut? Hanya kalian yang bisa menjawabnya wahai bapak dan ibu, papa dan mama, bapak dan emak, abak dan emak ? Ditangan kalianlah karakter penerus akan terbentuk dengan segala kehendak Tuhan sebagai pemegang hak dalam merubah kehendak kalian para orang tua?
Bagi yang membaca tulisan ini mudah-mudahan kalian tergugah karena "Anaklah yang membuat kita termotivasi untuk berbuat lebih dan ingat kita harus mempersiapkan mereka dengan memberikan bekal yang sesuai dengan zamannya"
Thursday, October 25, 2007
BAYARLAH PAJAK DAN AWASI PENGGUNAANNYA ???
Sungguh menarik iklan yang ditayangkan televisi swasta dalam rangka sosialisasi kepada warga negara republik ini untuk taat membayar pajak dengan embel-embel awasi penggunaannya. Berarti selama ini penggunaannya tidak diawasi ya ??? Trus dana yang digunakan oleh anggota dewan untuk studi banding ngelencer itu apa ada dana nya dari hasil pungutan pajak gak ya ???
Pajak memberikan kontribusi terbesar pada pendapatan negara republik ini sampai dengan 73% dan penggunaannya tidak pernah dipublikasikan maksudnya sekian persen dialokasikan untuk bidang A sekian persen dialokasikan untuk bidang B dan sekian persen untuk bidang C.
Yang jelas kontribusi pajak untuk kepentingan publik dan mencerdaskan bangsa ini kurang signifikan. Bagaimana tidak, lha wong untuk pendidikan saja anggaran pemerintah tidak mengalokasikan sebesar 20% bagaimana yang lainnya ?? Alasannya nanti takut diselewengkan, YAH AWASI DONG PENGGUNAANNYA DAN TINDAK TEGAS PENYELEWENGANNYA !
Wong sudah merdeka 62 tahun saja jalur mudik pantura selalu menelan korban nyawa yang begitu banyak, artinya pemerintah belum mampu memberikan fasilitas transportasi massa pada rakyatnya. Ini terbukti dengan banyaknya rakyat yang memilih pulang dengan menggunakan kendaraan roda dua padahal perjalanan yang ditempuh lebih dari 100 km wah....kasihan benar bangsa ini selalu saja musibah datang silih berganti. Apa juga ini sebagai bukti kalau bangsa yang katanya mayoritas muslim ini belum baik shalatnya ? karena kalau sudah baik shalatnya mungkin gak gitu, saya agak aneh karena tiap tahun republik ini selalu memberangkatkan jemaah haji yang banyak. Tapi ada juga haji-haji yang ditangkap polisi karena terlibat kasus kasus kriminal.
Kalau sudah begitu dapatlah dikaji dan disimpulkan sementara bahwa shalat nya bangsa ini secara kumulatif belum baik dan belum sempurna. Kalau pajak kita diminta mengawasinya tapi kalau shalat tidak perlu kita mengawasinya karena yang lebih berhak MENGAWASI nya gak pernah tidur.
Semoga bangsa ini sadar dan kembali bangkit dari keterpurukannya, amiin.
Pajak memberikan kontribusi terbesar pada pendapatan negara republik ini sampai dengan 73% dan penggunaannya tidak pernah dipublikasikan maksudnya sekian persen dialokasikan untuk bidang A sekian persen dialokasikan untuk bidang B dan sekian persen untuk bidang C.
Yang jelas kontribusi pajak untuk kepentingan publik dan mencerdaskan bangsa ini kurang signifikan. Bagaimana tidak, lha wong untuk pendidikan saja anggaran pemerintah tidak mengalokasikan sebesar 20% bagaimana yang lainnya ?? Alasannya nanti takut diselewengkan, YAH AWASI DONG PENGGUNAANNYA DAN TINDAK TEGAS PENYELEWENGANNYA !
Wong sudah merdeka 62 tahun saja jalur mudik pantura selalu menelan korban nyawa yang begitu banyak, artinya pemerintah belum mampu memberikan fasilitas transportasi massa pada rakyatnya. Ini terbukti dengan banyaknya rakyat yang memilih pulang dengan menggunakan kendaraan roda dua padahal perjalanan yang ditempuh lebih dari 100 km wah....kasihan benar bangsa ini selalu saja musibah datang silih berganti. Apa juga ini sebagai bukti kalau bangsa yang katanya mayoritas muslim ini belum baik shalatnya ? karena kalau sudah baik shalatnya mungkin gak gitu, saya agak aneh karena tiap tahun republik ini selalu memberangkatkan jemaah haji yang banyak. Tapi ada juga haji-haji yang ditangkap polisi karena terlibat kasus kasus kriminal.
Kalau sudah begitu dapatlah dikaji dan disimpulkan sementara bahwa shalat nya bangsa ini secara kumulatif belum baik dan belum sempurna. Kalau pajak kita diminta mengawasinya tapi kalau shalat tidak perlu kita mengawasinya karena yang lebih berhak MENGAWASI nya gak pernah tidur.
Semoga bangsa ini sadar dan kembali bangkit dari keterpurukannya, amiin.
Friday, September 28, 2007
Chauvinisme KORPS
Di TV atau di lingkungan sekitar kita sering kita mendengar tentara dan polisi saling baku hantam. Baru-baru ini di Ambon terjadi perkelahian antara aparat polisi dan tentara. Entah mana yang benar tetapi kejadian ini sering terjadi di masyarakat kita mungkin juga di belahan dunia lain. Saya msih ingat ketika masih SMP banyak orang tua yang sering bilang "Gak usah jadi polisi nak banyak musuhnya dan nanti kalau pensiun tidak akan dihargai rakyat lagi". Tetapi ada juga orang tua yang berkata pada anaknya "Cukup bapak saja yang susah nak..kalau kamu ingin jada aparat jadilah polisi biar gak susah kayak bapak alias kaya".
Mungkin teman saya mengikuti perkataan yang kedua dari orang tua terhadap anaknya, sehingga teman saya itu begitu selesai SMA terus mendaftar ke polisi dan diterima melalui jalur bintara. Tapi ada juga teman saya yang tetap berpendirian teguh dengan pendiriannya bahwa tentara tetap yang terbaik sehingga ketika selesai SMA masuk AKABRI dan diterima.
Menilik perkataan kedua orang tua yang menasehati anaknya tadi tentulah orang tua yang berpangkat bintara ke bawah. Tetapi kalau orang tuanya jenderal tentu perkataannya akan beda. Apapun itu yang jelas dua korps ini selalu saja bentrok di lapangan karena merasa bangga dengan korpsnya masing-masing. Bukan rahasia lagi bila ada anaknya atau keponakannya yang ditilang polisi maka yang mengambilnya tentara. Sepertinya tentara berada pada posisi yang superior tanpa melihat duduk permasalahannya, benar atau salah.
Citra ini terus berlangsung sampai saat ini sehingga menimbulkan tanda tanya bahwa apakah paradigma itu masih tetap akan berlaku hingga akhir zaman ? Wallahu 'alam.
Padahal bila ditilik dari sejarah kedua korps tersebut sama berjasanya dalam perjuangan dan mengisi sejarah kemerdekaan republik. Pada operasi militer pun sering polisi melalui brigade mobilnya turun tangan mengatasi kerusuhan dan kejahatan yang sifatnya sudah mengancam kedaulatan negara.
Itulah bila pengkultusan korps sudah mendarah daging sehingga mengalahkan cara kerja otak pemberian Tuhan yang semestinya dapat memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah dengan saringan yang bernama 'hati'. Semoga kedua korps ini bisa rukun ya...tapi entah kapan...???
Mungkin teman saya mengikuti perkataan yang kedua dari orang tua terhadap anaknya, sehingga teman saya itu begitu selesai SMA terus mendaftar ke polisi dan diterima melalui jalur bintara. Tapi ada juga teman saya yang tetap berpendirian teguh dengan pendiriannya bahwa tentara tetap yang terbaik sehingga ketika selesai SMA masuk AKABRI dan diterima.
Menilik perkataan kedua orang tua yang menasehati anaknya tadi tentulah orang tua yang berpangkat bintara ke bawah. Tetapi kalau orang tuanya jenderal tentu perkataannya akan beda. Apapun itu yang jelas dua korps ini selalu saja bentrok di lapangan karena merasa bangga dengan korpsnya masing-masing. Bukan rahasia lagi bila ada anaknya atau keponakannya yang ditilang polisi maka yang mengambilnya tentara. Sepertinya tentara berada pada posisi yang superior tanpa melihat duduk permasalahannya, benar atau salah.
Citra ini terus berlangsung sampai saat ini sehingga menimbulkan tanda tanya bahwa apakah paradigma itu masih tetap akan berlaku hingga akhir zaman ? Wallahu 'alam.
Padahal bila ditilik dari sejarah kedua korps tersebut sama berjasanya dalam perjuangan dan mengisi sejarah kemerdekaan republik. Pada operasi militer pun sering polisi melalui brigade mobilnya turun tangan mengatasi kerusuhan dan kejahatan yang sifatnya sudah mengancam kedaulatan negara.
Itulah bila pengkultusan korps sudah mendarah daging sehingga mengalahkan cara kerja otak pemberian Tuhan yang semestinya dapat memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah dengan saringan yang bernama 'hati'. Semoga kedua korps ini bisa rukun ya...tapi entah kapan...???
Wednesday, September 05, 2007
Dokter Spesialis
Saya pernah membaca bahwa di banding vietnam perbandingan jumlah penduduk dengan dokter spesialis di negara ini sangat jauh dari harapan. Padahal vietnam itu kan baru agak tenangan sedikit dibanding negara ini yang sudah tenang sejak 60 tahuanan yang lalu. Apa yang salah kira-kira ya... Katanya kita membutuhkan 80 ribu dokter spesialis bahkan lebih. Ternyata ketika saya menjemput istri saya dan ngobrol di jalanan yang penuh debu terjawab sudah. Kebetulan istri saya bekerja sebagai hrd di salah satu rumah sakit swasta di surabaya. Istri saya bilang dokter si "A" itu sudah berulang kali tes di Surabaya, di Yogyakarta dan bahkan sampai Semarang tetapi tetap tidak diterima. Dokter "A" ini sudah lama praktek sebagai dokter di ugd rumah sakit tersebut dan berencana meningkatkan skillnya melalui sekolah mengambil spesialisasi.
Usut punya usut ternyata dokter "A" ini bukan lulusan universitas negeri tetapi lulusan universitas kedokteran swasta yang cukup di kenal di surabaya. Istri saya melanjutkan bahwa ada yang baru lulus S-1 tetapi karena anak dokter dan bekingannya profesor maka langsung diterima melanjutkan ke spesialisasi. Saya sebagai orang awam sangat tidak mengerti dengan hal-hal seperti ini tetapi mungkin untuk kalangan orang-orang yang berkecimpung dalam rumah sakit sangatlah maklum.
Yang saya mengerti cuma begini kalau memang orang tersebut mampu dari sisi akademis dan finansiil mengapa kok tidak diberi kesempatan untuk meningkatkan skill nya melalui sekolah spesialsisasi ? Apa karena lulusan S-1 dari swasta?
Terkecuali memang tidak memiliki kompetensi dua-duanya dan banyak terjadi mal praktek barangkali ini bisa dimaklumi. Kalau sudah begini timbul lagi pertanyaan "BUAT APA SEKOLAH SWASTA DIDIRIKAN?". Padahal harus kita akui banyak sekolah swasta yang lebih bermutu dari negeri untuk fakultas-fakultas tertentu.
Ah..negeri ku masih sakit...banyak memang yang perlu dibenahi sehingga anak bangsa ini bisa berkompetisi dengan fair, sportif sehingga dapat menciptakan mobilitas sosial yang tinggi yang dapat membuat bangsa ini lebih maju dan berkompetensi dengan bangsa lain di dunia. Kapan....ya.....????
Mungkin nunggu kucing keluar tanduknya kale....
Usut punya usut ternyata dokter "A" ini bukan lulusan universitas negeri tetapi lulusan universitas kedokteran swasta yang cukup di kenal di surabaya. Istri saya melanjutkan bahwa ada yang baru lulus S-1 tetapi karena anak dokter dan bekingannya profesor maka langsung diterima melanjutkan ke spesialisasi. Saya sebagai orang awam sangat tidak mengerti dengan hal-hal seperti ini tetapi mungkin untuk kalangan orang-orang yang berkecimpung dalam rumah sakit sangatlah maklum.
Yang saya mengerti cuma begini kalau memang orang tersebut mampu dari sisi akademis dan finansiil mengapa kok tidak diberi kesempatan untuk meningkatkan skill nya melalui sekolah spesialsisasi ? Apa karena lulusan S-1 dari swasta?
Terkecuali memang tidak memiliki kompetensi dua-duanya dan banyak terjadi mal praktek barangkali ini bisa dimaklumi. Kalau sudah begini timbul lagi pertanyaan "BUAT APA SEKOLAH SWASTA DIDIRIKAN?". Padahal harus kita akui banyak sekolah swasta yang lebih bermutu dari negeri untuk fakultas-fakultas tertentu.
Ah..negeri ku masih sakit...banyak memang yang perlu dibenahi sehingga anak bangsa ini bisa berkompetisi dengan fair, sportif sehingga dapat menciptakan mobilitas sosial yang tinggi yang dapat membuat bangsa ini lebih maju dan berkompetensi dengan bangsa lain di dunia. Kapan....ya.....????
Mungkin nunggu kucing keluar tanduknya kale....
Thursday, August 30, 2007
Ramadhan dan harga kebutuhan
Ketika pagi tadi saya menyaksikan berita yang menyiarkan meningkatnya harga kebutuhan pokok untuk keperluan sehari-hari sangat menggugah saya untuk menulis. Dalam pandangan saya apapun alasannya bahwa menjelang bulan Ramadhan biasanya harga akan terus meningkat sampai menjelang akhir tahun adalah sesuatu yang aneh. Kenapa aneh, khususnya di bulan Ramadhan karena berarti selama ini kita tidak mengerti filosofi yang dalam dari Ramadhan itu sendiri (tentunya bagi yang menjalaninya). Mengapa begitu ? Karena harga pasar ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran berarti permintaan akan suatu barang pada menjelang Ramadhan ini meningkat pesat sehingga terjadi kelangkaan barang di pasaran. Bisa jadi juga ada yang menumpuk barang untuk nanti dijual kembali menjelang hari raya dengan harga yang tinggi.
Pembahasan kali ini lebih menekankan pada filosofi makna dari Ramadhan itu sendiri. Pada Ramadhan kita diperintahkan oleh Al Quran untuk menahan diri dari lapar dan dahaga, artinya tentu konsumsi kita akan lebih sedikit dibanding hari biasanya. Kan aneh kalau justru pada saat Ramadhan konsumsi kita meningkat sehingga menyebabkan barang langka di pasaran dan akhirnya harga melambung tinggi.
Keberhasilan kita dalam menjalani Ramadhan seprti hari hari biasanya merupakan puncak pemahaman filosofi mendalam terhadap perintah agama yang telah pula di lakoni oleh para pendahulu kita. Memang banyak kita lihat dalam kehidupan sehari-hari pada bulan Ramadhan ...terutama menu pada saat berbuka bahwa kita mengada adakan panganan yang pada hari biasanya tidak pernah ada. Padahal kita diperintahkan untuk menahan diri dalam arti yang sesungguhnya dan luas pengertiannya.
Untuk itu saya menyerukan kepada kaum muslimin dan muslimat yang melaksanakan Ramadhan untuk berbuat seperti biasanya, seperti hari biasa ketika tidak Ramadhan dalam pola konsumsi karena seperti itulah Insya Allah yang diajarkan oleh Islam kepada ummatnya. Bukannya malah merubah pola konsumsi sehingga mubazir dan tidak bermakna yang menyebabkan barang langka di pasaran dan akhirnya harganya melangit.
Tentunya kita harus lebih bijak dalam menyikapi Ramadhan kali ini dan juga kita patut bersyukur karena kita diberikan kesempatan untuk menjalaninya kembali, tentunya dengan lebih mengerti makna akan Ramdhan yang sesungguhnya.
Pembahasan kali ini lebih menekankan pada filosofi makna dari Ramadhan itu sendiri. Pada Ramadhan kita diperintahkan oleh Al Quran untuk menahan diri dari lapar dan dahaga, artinya tentu konsumsi kita akan lebih sedikit dibanding hari biasanya. Kan aneh kalau justru pada saat Ramadhan konsumsi kita meningkat sehingga menyebabkan barang langka di pasaran dan akhirnya harga melambung tinggi.
Keberhasilan kita dalam menjalani Ramadhan seprti hari hari biasanya merupakan puncak pemahaman filosofi mendalam terhadap perintah agama yang telah pula di lakoni oleh para pendahulu kita. Memang banyak kita lihat dalam kehidupan sehari-hari pada bulan Ramadhan ...terutama menu pada saat berbuka bahwa kita mengada adakan panganan yang pada hari biasanya tidak pernah ada. Padahal kita diperintahkan untuk menahan diri dalam arti yang sesungguhnya dan luas pengertiannya.
Untuk itu saya menyerukan kepada kaum muslimin dan muslimat yang melaksanakan Ramadhan untuk berbuat seperti biasanya, seperti hari biasa ketika tidak Ramadhan dalam pola konsumsi karena seperti itulah Insya Allah yang diajarkan oleh Islam kepada ummatnya. Bukannya malah merubah pola konsumsi sehingga mubazir dan tidak bermakna yang menyebabkan barang langka di pasaran dan akhirnya harganya melangit.
Tentunya kita harus lebih bijak dalam menyikapi Ramadhan kali ini dan juga kita patut bersyukur karena kita diberikan kesempatan untuk menjalaninya kembali, tentunya dengan lebih mengerti makna akan Ramdhan yang sesungguhnya.
Tuesday, August 28, 2007
Minyak Tanah dan Gas
Di negeri ini apa yang tidak membuat rakyat kecil menanggung semua beban akibat kerakusan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa berkuasa atas segala sesuatu di dunia dan merasa tidak akan mati ?
Waktu saya, untuk menonton TV adalah waktu untuk menonton berita mengikuti perkembangan negeri ini, MAU KEMANA... perkembangan yang terjadi tentang konversi energi dari minyak ke gas membuat sebagian besar kecil ikut menanggung beban derita...entah itu karena ditarik bayaran untuk ongkos lelah petugas entah itu antre karena minyak langka...lengkaplah sudah bukti buruknya manajemen negeri ini dalam hal layanan publik. Sementara di sisi lain banyak saya melihat spanduk membentang yang berbunyi "warga yang bijak adalah warga yang taat membayar pajak". Padahal kata orang-orang pintar bahwa pajak dari rakyat itulah yang digunakan untuk kepentingan dan layanan publik. Kalo begitu ada yang salah dari manajemen negeri ini.
Bagaimana tidak,....lalu lintas macet, kecelakaan transportasi yang sering terjadi sampai pada naiknya harga barang menjelang hari-hari besar agama tertentu dan menjelang akhir tahun. Padahal ada yang bilang di Arab Saudi harga roti dari dulu sampai sekarang (itu roti yang buat nampar kepala orang bisa pingsan-roti prancis) tetap 1 real. Ada lagi yang salah sama kita kan kalo begitu ..salahnya begini kalau orang lain bisa kenapa kita tidak ????
Ngomong-ngomong kembali masalah konversi dari minyak ke gas masyarakatlah yang selalu jadi korban kebijakan. Pada posisi ekonomi yang sulit seperti ini dan tingginya angka pengangguran tentu jadi masalah tersendiri.
Saya sempat memikirkan bagaimana jalan keluarnya dengan fikiran yang konyol bahwa satu keluarga itu sebetulnya bisa memasak dengan menggunakan gas pemberian Tuhan hanya tinggal bagaimana menciptakan alat yang dapat menyimpan dan mengubah bentuk energi dari 'gas buangan perut' menjadi gas yang setara dengan LNG atau yang buat masak itu. Kalau itu bisa dijamin...satu keluarga akan sangat hemat dengan kondisi ekonomi sekarang ini karena bila akan buang (maaf) kentut pastilah akan sayang bila terbuang percuma dan ditampung dalam tabung untuk kemudian diproses dan dikonversi menjadi gas apa ya...metan kali agar dapat digunakan untuk memasak.
Bila ini bisa terjadi maka saya sangat yakin rakyat negeri ini bisa sedikit berhemat untuk pengeluaran belanja keluarga. Hanya saja saya jadi bertanya-tanya berapa banyak atau berapa kali kentut yang harus ditampung dalam gas untuk mencukupi kebutuhan memasak dalam satu bulan ? Bila itu terjadi kesejahteraan rakyat negeri ini akan sedikit terangkat dengan sendirinya karena bila kita menunggu janji-janji "KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI MASYARAKAT INDONESIA" entah sampai kapan wong sampai saat ini saja ada yang masih belum menikmati listrik. Generasi ketiga saya pun belum tentu dapat menikmati sejahtera yang sesungguhnya karena apa?
Mungkin analisis saya keliru "karena politik dinegeri ini menjadi panglima dalam segala hal dan kekuatan itu selalu tarik menarik dan merasa paling hebat sendiri sehingga lupa BAHWA POLITIK ITU SESUNGGUHNYA ALAT UNTUK MENCAPAI VISI DAN MISI BAPAK BANGSA NEGERI INI DULU SESUAI DENGAN BUNYI SILA KELIMA yang selalu didengung-dengungkan ketika kita upacara memperingati hari kemerdekaan setiap tahunnya.
ala mak ...sampai kapan...rakyat negeri ini mencicipi sejahtera yang sesungguhnya ?? Allahu 'alam....
Waktu saya, untuk menonton TV adalah waktu untuk menonton berita mengikuti perkembangan negeri ini, MAU KEMANA... perkembangan yang terjadi tentang konversi energi dari minyak ke gas membuat sebagian besar kecil ikut menanggung beban derita...entah itu karena ditarik bayaran untuk ongkos lelah petugas entah itu antre karena minyak langka...lengkaplah sudah bukti buruknya manajemen negeri ini dalam hal layanan publik. Sementara di sisi lain banyak saya melihat spanduk membentang yang berbunyi "warga yang bijak adalah warga yang taat membayar pajak". Padahal kata orang-orang pintar bahwa pajak dari rakyat itulah yang digunakan untuk kepentingan dan layanan publik. Kalo begitu ada yang salah dari manajemen negeri ini.
Bagaimana tidak,....lalu lintas macet, kecelakaan transportasi yang sering terjadi sampai pada naiknya harga barang menjelang hari-hari besar agama tertentu dan menjelang akhir tahun. Padahal ada yang bilang di Arab Saudi harga roti dari dulu sampai sekarang (itu roti yang buat nampar kepala orang bisa pingsan-roti prancis) tetap 1 real. Ada lagi yang salah sama kita kan kalo begitu ..salahnya begini kalau orang lain bisa kenapa kita tidak ????
Ngomong-ngomong kembali masalah konversi dari minyak ke gas masyarakatlah yang selalu jadi korban kebijakan. Pada posisi ekonomi yang sulit seperti ini dan tingginya angka pengangguran tentu jadi masalah tersendiri.
Saya sempat memikirkan bagaimana jalan keluarnya dengan fikiran yang konyol bahwa satu keluarga itu sebetulnya bisa memasak dengan menggunakan gas pemberian Tuhan hanya tinggal bagaimana menciptakan alat yang dapat menyimpan dan mengubah bentuk energi dari 'gas buangan perut' menjadi gas yang setara dengan LNG atau yang buat masak itu. Kalau itu bisa dijamin...satu keluarga akan sangat hemat dengan kondisi ekonomi sekarang ini karena bila akan buang (maaf) kentut pastilah akan sayang bila terbuang percuma dan ditampung dalam tabung untuk kemudian diproses dan dikonversi menjadi gas apa ya...metan kali agar dapat digunakan untuk memasak.
Bila ini bisa terjadi maka saya sangat yakin rakyat negeri ini bisa sedikit berhemat untuk pengeluaran belanja keluarga. Hanya saja saya jadi bertanya-tanya berapa banyak atau berapa kali kentut yang harus ditampung dalam gas untuk mencukupi kebutuhan memasak dalam satu bulan ? Bila itu terjadi kesejahteraan rakyat negeri ini akan sedikit terangkat dengan sendirinya karena bila kita menunggu janji-janji "KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI MASYARAKAT INDONESIA" entah sampai kapan wong sampai saat ini saja ada yang masih belum menikmati listrik. Generasi ketiga saya pun belum tentu dapat menikmati sejahtera yang sesungguhnya karena apa?
Mungkin analisis saya keliru "karena politik dinegeri ini menjadi panglima dalam segala hal dan kekuatan itu selalu tarik menarik dan merasa paling hebat sendiri sehingga lupa BAHWA POLITIK ITU SESUNGGUHNYA ALAT UNTUK MENCAPAI VISI DAN MISI BAPAK BANGSA NEGERI INI DULU SESUAI DENGAN BUNYI SILA KELIMA yang selalu didengung-dengungkan ketika kita upacara memperingati hari kemerdekaan setiap tahunnya.
ala mak ...sampai kapan...rakyat negeri ini mencicipi sejahtera yang sesungguhnya ?? Allahu 'alam....
Thursday, August 16, 2007
BPOM
Badan Pengawas Obat dan Makanan...akhir-akhir ini rajin sekali memberikan informasi dan peringatan kepada konsumen untuk tidak mengkonsumsi produk-produk yang memiliki izin edar dan tidak yang membahayakan kesehatan manusia. Tidak hanya itu produk tersebut pun tidak boleh ada di etalase toko-toko alias ditarik dari peredaran. Saya cuma melihat geliat kinerja mereka akhir-akhir ini cukup meningkat. Syukur lah...ini membuat konsumen faham dan mengetahui informasi bahwa zat-zat tertentu kandungan dari makanan atau minuman yang dijual di pasaran baik produk lokal maupun produk impor berbahaya bagi kesehatan bila dikonsumsi. Atau saya saja ya..yang tidak mengetahui informasi ini. Dalam pandangan saya senmestinya informasi ini disebar luaskan melalui media agar lebih efektif dan media itu adalah media audio visual. Pemerintah semestinya merespon dengan regulasi bahwa 'produk yang berbahaya tidak boleh di iklankan di media apapun dan dimanapun di wilayah republik ini'. Ini baru efektif.
Saya melihat dan baru tahu berita dari internet bahwa setelah saya baca masih juga itu ada produk yang di iklankan di TV tetapi sebetulnya produk tersebut berbahaya bila dikonsumsi manusia dan berakibat rusaknya organ-organ tertentu tubuh manusia.
Kalau sudah begini semestinya yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI) pun mengikuti jejak langkah dari BPOM lebih giat lagi sehingga terjadi sinergi antara kedua badan ini dalam melindungi konsumen.
Efeknya adalah bahwa generasi republik ini akan sehat dan cerdas dengan tidak mengkonsumsi makanan, minuman dan obat-obat yang mengandung bahan tertentu yang melebihi ambang batas toleransi. Kalau sudah begitu tentu anak bangsa republik ini akan semakin sadar dan tentunya menjadikan bangsa ini kuat dari sisi sumberdaya manusianya. Satu hal yang patut dicatat adalah mungkin perlu kiranya 'aturan yang tidak memperbolehkan merokok di tempat umum lebih ketat lagi'. Semoga.....hidup republik.......
Saya melihat dan baru tahu berita dari internet bahwa setelah saya baca masih juga itu ada produk yang di iklankan di TV tetapi sebetulnya produk tersebut berbahaya bila dikonsumsi manusia dan berakibat rusaknya organ-organ tertentu tubuh manusia.
Kalau sudah begini semestinya yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI) pun mengikuti jejak langkah dari BPOM lebih giat lagi sehingga terjadi sinergi antara kedua badan ini dalam melindungi konsumen.
Efeknya adalah bahwa generasi republik ini akan sehat dan cerdas dengan tidak mengkonsumsi makanan, minuman dan obat-obat yang mengandung bahan tertentu yang melebihi ambang batas toleransi. Kalau sudah begitu tentu anak bangsa republik ini akan semakin sadar dan tentunya menjadikan bangsa ini kuat dari sisi sumberdaya manusianya. Satu hal yang patut dicatat adalah mungkin perlu kiranya 'aturan yang tidak memperbolehkan merokok di tempat umum lebih ketat lagi'. Semoga.....hidup republik.......
Wednesday, August 15, 2007
DEMO KADES
Pagi ini saya menonton dari salah satu TV swasta yang memberitakan demo kepala desa di PATI jateng tentang minta segera dicairkan dana bantuan desa. Saya jadi teringat bahwa beberapa hari sebelumnya pergi ke desa perbatasan antara gresik dan lamongan. Disana saya diminta adik adik mahasiswa untuk memberikan motivasi dan bimbingan kepada warga desa tersebut dimana mereka melakukan tugas KKN. Pada akhir acara saya berbincang-bincang dengan pak kadesnya dan disitulah saya baru tahu bahwa dana bantuan desa belum turun. Saya bilang kalau ditempat desa saya yang masih sama-sama Gresik nya sudah turun.
Kelihatan sekali pola yang tidak seragam dalam satu kabupaten. Saya hanya bertanya mengapa itu bisa terjadi dan apa yang menyebabkan itu semua ? Saya tidak akan mencari jawabannya karena kita tahu sendiri kan bagaimana sebetulnya bantuan-bantuan di republik ini dalam prosesnya selalu saja ada yang tidak beres. Pertanyaan muncul lagi yang tidak beres itu alirannya atau orangnya?
Banyak bantuan-bantuan yang turun dari pemerintah itu selalu saja menimbulkan masalah. Kalau saya lihat sepertinya kurang informasi dan sosialisasi sehingga terkadang yang tahu dana itu sudah dan akan turun hanya orang-orang tertentu saja. Padahal dana itu dibutuhkan desa untuk mendukung program pengembangan desanya. Kalau bantuan nya saja selalu bermasalah bagaimana desanya mau maju dan berubah menjadi DESA YANG TIDAK TERTINGGAL ?
Nasib...nasib...
Kelihatan sekali pola yang tidak seragam dalam satu kabupaten. Saya hanya bertanya mengapa itu bisa terjadi dan apa yang menyebabkan itu semua ? Saya tidak akan mencari jawabannya karena kita tahu sendiri kan bagaimana sebetulnya bantuan-bantuan di republik ini dalam prosesnya selalu saja ada yang tidak beres. Pertanyaan muncul lagi yang tidak beres itu alirannya atau orangnya?
Banyak bantuan-bantuan yang turun dari pemerintah itu selalu saja menimbulkan masalah. Kalau saya lihat sepertinya kurang informasi dan sosialisasi sehingga terkadang yang tahu dana itu sudah dan akan turun hanya orang-orang tertentu saja. Padahal dana itu dibutuhkan desa untuk mendukung program pengembangan desanya. Kalau bantuan nya saja selalu bermasalah bagaimana desanya mau maju dan berubah menjadi DESA YANG TIDAK TERTINGGAL ?
Nasib...nasib...
PASPOR
Paspor ini mirip buku rapot (begitu kita menyebutnya ketika naik-naikan kelas jaman dulu. Kecil dan mudah untuk disimpan disaku. Ngomong-ngomong soal paspor saya jadi teringat ketika tanya-tanya calo di daerah Surabaya sewaktu mau membikin paspor. Bervariasi harga yang ditawarkan. Untuk 48an halaman ada yng menawarkan 450an rebu sampai 500an rebu. "Resminya ini sih cuma 300rebu pak", begitulah kata salah satu calo yang menawarkan jasa. Dengan uang segitu kita tinggal datang diambil sidik jari dan foto katanya. Waduh marjin yang mereka ambil lumayan juga yah...makanya ada wartawan yang beralih profesi ketika melihat manisnya uang yang berputar di kantor imigrasi di salah satu daerah Surabaya tersebut. Waduh mak....
Saya jadi menduga-duga bahwa apa yang menyebabkan itu semua dan saya sangat meyakini jelas percaloan ada 'main' dengan orang dalam. Sebab katanya kalau tidak begitu kita mengurus sendiri 'agak lama'. Mengapa ? Cuma mereka yang tahu. Atau pegawai kantor tersebut kurang 'kenyang' dan masih lapar karena gaji pegawai di Indonesia ini kan tidak begitu baik. Jadi kalau ada pegawai yang memiliki mobil dan rumah mewah dan itu tidak sepadan dengan pangkatnya maka bisa jadi bahan omongan kiri kanan.
Saya jadi menduga-duga sampai kapan ini akan berlangsung kalau katanya kita menggalakkan penggilasan korupsi ? Wong pejabat yang vokal saja bisa cepat dimutasi apalagi ada orang 'kecil' yang berusaha menyuarakan kebenaran maka dia akan dianggap pahlawan kesiangan alias mimpi disiang bolong.
Saya jadi berhitung pendapatan calo-calo tersebut secara kotor dari satu orang yang mengurus paspor bersih dia dapat 50 rebu setelah setor sana setor sini maka bila dia mendapatkan 5 orang saja sehari, berarti dalam sebulan dengan 25 hari kerja dia akan mengantongi 6 juta 250 rebu. Wah gaji profesor saja kalah yang cuma 2 jutaan. Makanya bangsa ini tidak menjadi bangsa yang berbudaya dan cerdas karena gaji profesor lebih kecil dari gaji seorang calo. (Maaf lho ?)
Saya jadi menduga-duga bahwa apa yang menyebabkan itu semua dan saya sangat meyakini jelas percaloan ada 'main' dengan orang dalam. Sebab katanya kalau tidak begitu kita mengurus sendiri 'agak lama'. Mengapa ? Cuma mereka yang tahu. Atau pegawai kantor tersebut kurang 'kenyang' dan masih lapar karena gaji pegawai di Indonesia ini kan tidak begitu baik. Jadi kalau ada pegawai yang memiliki mobil dan rumah mewah dan itu tidak sepadan dengan pangkatnya maka bisa jadi bahan omongan kiri kanan.
Saya jadi menduga-duga sampai kapan ini akan berlangsung kalau katanya kita menggalakkan penggilasan korupsi ? Wong pejabat yang vokal saja bisa cepat dimutasi apalagi ada orang 'kecil' yang berusaha menyuarakan kebenaran maka dia akan dianggap pahlawan kesiangan alias mimpi disiang bolong.
Saya jadi berhitung pendapatan calo-calo tersebut secara kotor dari satu orang yang mengurus paspor bersih dia dapat 50 rebu setelah setor sana setor sini maka bila dia mendapatkan 5 orang saja sehari, berarti dalam sebulan dengan 25 hari kerja dia akan mengantongi 6 juta 250 rebu. Wah gaji profesor saja kalah yang cuma 2 jutaan. Makanya bangsa ini tidak menjadi bangsa yang berbudaya dan cerdas karena gaji profesor lebih kecil dari gaji seorang calo. (Maaf lho ?)
Monday, August 13, 2007
PLTN
PLTN, pembangkit listrik tenaga nuklir yang rencananya dibangun di daerah jawa tengah menggelitik saya untuk berfikir positif tentang etos kerja anak bangsa ini terutama yang duduk dipemerintahan. Mengapa karena kita harus ingat efek nuklir sangatlah membahayakan kehidupan manusia bila terjadi kebocoran. Disisi lain pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai sangatlah membuat manusia efisien dari sisi ekonomi. Saya memiliki alternatif pemikiran tentang proyek ini bila itu jadi dilakukan
pertama, Amerika akan mengimplankan mata-matanya di Indonesia dan terus mengamati penggunaannya apakah betul digunakan untuk kepentingan sipil atau untuk kepentingan militer. Sejarah membuktikan sampai saat ini kita sendiri belum tahu bahwa negara Iran memanfaatkan nuklir untuk kepentingan sipil atau militer tetapi Amerika terus membentuk opini dunia bahwa nuklir yang dikembangkan Iran di reaktornya untuk kepentingan militer. Kita harus sadari bahwa selain negara ini memiliki jumlah muslim terbesar di dunia kita juga sudah memaklumi bahwa Amerika sepertinya tidak ingin bila suatu negara muslim memiliki dan memanfaatkan energi alam yang dahsyat untuk kepentingan manusia guna menekan biaya dan membuat sesuatu menjadi efisien. Di harian pagi di Surabaya di sebutkan bahwa harga listrik dengan menggunakan teknologi nuklir akan menjadi jauh lebih murah dibanding yang lainnya berkisar 350-400 rupiah per kwh nya. Saya kuatir Amerika juga akan membentuk opini dunia bahwa Indonesia yang kaya ini telah menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Terutama kepada negara tetangga yang akhir-akhir ini hubungan bilateralnya sedikit terganggu.
Padahal sebetulnya Amerika itu Islamopobia.
Kedua, Menimbulkan budaya baru etos kerja bagi anak bangsa yang dari sembrono dan indisipliner menjadi sangat teliti dan disiplin tinggi. Lha...bagaimana tidak kalau bocor siapa yang menanggung? Sebetulnya kan itu yang banyak dipertanyakan orang-orang ketika teknologi ini ditangguhkan beberapa tahun yang lalu.
Mudah-mudahan ini membias ke arah yang positif pada bidang lain sehingga bangsa ini menjadi dikenal memiliki budaya disiplin yang tinggi.
Ketiga, Membuat bangsa ini sadar bahwa ternyata teknologi nuklir itu sangat efisien dan negara ini memiliki kandungan tambang uranium yang belum banyak dieksplorasi. Bahkan saya mendengar katanya di freeport Papua itu selain emas sebetulnya banyak uraniumnya dan bangsa ini kecolongan dengan kontrak yang sebetulnya merugikan negara ini ketika era Mbah dulu. Allahu 'alam.
Setelah sadar anak bangsa ini akan lebih fokus mengembangkan teknologi nuklir sehingga perkembangannya membuat bangsa ini lebih efisien dari sisi ekonomi dan yah..sapalah yang gak mau sejahtera....
Keempat, perlu diingat bahwa Indonesia termasuk negara yang rawan gempa semoga ini diantisipasi secermat mungkin walaupun itu gejala alam tetapi paling tidak bisa meminimalisir dampak buruknya ke depan. KAlau saya selaku anak bangsa sangat mendukung program ini
Terakhir, mudah-mudahan saja anak bangsa ini sadar dengan segala kelemahannya dan segala kebodohannya selama ini sehingga bangkit untuk membangun negerinya dan membuat para pejuang bangsa dahulu tersenyum...karena anak-anak Indonesia sudah banyak yang pintar dan bayi-bayinya sudah tidak kekurangan gizi lagi karena busung lapar...karena sudah sangat mampu membeli susu yang mahal sekalipun, amiin...
pertama, Amerika akan mengimplankan mata-matanya di Indonesia dan terus mengamati penggunaannya apakah betul digunakan untuk kepentingan sipil atau untuk kepentingan militer. Sejarah membuktikan sampai saat ini kita sendiri belum tahu bahwa negara Iran memanfaatkan nuklir untuk kepentingan sipil atau militer tetapi Amerika terus membentuk opini dunia bahwa nuklir yang dikembangkan Iran di reaktornya untuk kepentingan militer. Kita harus sadari bahwa selain negara ini memiliki jumlah muslim terbesar di dunia kita juga sudah memaklumi bahwa Amerika sepertinya tidak ingin bila suatu negara muslim memiliki dan memanfaatkan energi alam yang dahsyat untuk kepentingan manusia guna menekan biaya dan membuat sesuatu menjadi efisien. Di harian pagi di Surabaya di sebutkan bahwa harga listrik dengan menggunakan teknologi nuklir akan menjadi jauh lebih murah dibanding yang lainnya berkisar 350-400 rupiah per kwh nya. Saya kuatir Amerika juga akan membentuk opini dunia bahwa Indonesia yang kaya ini telah menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Terutama kepada negara tetangga yang akhir-akhir ini hubungan bilateralnya sedikit terganggu.
Padahal sebetulnya Amerika itu Islamopobia.
Kedua, Menimbulkan budaya baru etos kerja bagi anak bangsa yang dari sembrono dan indisipliner menjadi sangat teliti dan disiplin tinggi. Lha...bagaimana tidak kalau bocor siapa yang menanggung? Sebetulnya kan itu yang banyak dipertanyakan orang-orang ketika teknologi ini ditangguhkan beberapa tahun yang lalu.
Mudah-mudahan ini membias ke arah yang positif pada bidang lain sehingga bangsa ini menjadi dikenal memiliki budaya disiplin yang tinggi.
Ketiga, Membuat bangsa ini sadar bahwa ternyata teknologi nuklir itu sangat efisien dan negara ini memiliki kandungan tambang uranium yang belum banyak dieksplorasi. Bahkan saya mendengar katanya di freeport Papua itu selain emas sebetulnya banyak uraniumnya dan bangsa ini kecolongan dengan kontrak yang sebetulnya merugikan negara ini ketika era Mbah dulu. Allahu 'alam.
Setelah sadar anak bangsa ini akan lebih fokus mengembangkan teknologi nuklir sehingga perkembangannya membuat bangsa ini lebih efisien dari sisi ekonomi dan yah..sapalah yang gak mau sejahtera....
Keempat, perlu diingat bahwa Indonesia termasuk negara yang rawan gempa semoga ini diantisipasi secermat mungkin walaupun itu gejala alam tetapi paling tidak bisa meminimalisir dampak buruknya ke depan. KAlau saya selaku anak bangsa sangat mendukung program ini
Terakhir, mudah-mudahan saja anak bangsa ini sadar dengan segala kelemahannya dan segala kebodohannya selama ini sehingga bangkit untuk membangun negerinya dan membuat para pejuang bangsa dahulu tersenyum...karena anak-anak Indonesia sudah banyak yang pintar dan bayi-bayinya sudah tidak kekurangan gizi lagi karena busung lapar...karena sudah sangat mampu membeli susu yang mahal sekalipun, amiin...
Sunday, August 12, 2007
PDAM=Perusahaan tiDak Akan Makmur
Hari ini aku agak sumpek berurusan dengan PDAM di temapat aku tinggal. Sebetulnya bulan sebelumnya aku sudah komplain ke PDAM ini karena pencatatan dari petugas meter tidak akurat. Komplain diterima...bahkan saya menawarkan diri untuk menelpon saja setiap bulannya ketimbang nanti saya harus bolak balik lagi ngurusi tetapi ditolak petugas dengan alasan akan saya benahi petugas bagian pencatat meter. Eh..ternyata bulan berikutnya berulang kembali ...padahal di depan rumah sudah saya beri papan pengumuman yang banyak dijual berbahan mirip spon padat. Ternyata tak berguna...mungkin petugas pencatat meter PDAM perlu dididik bagaimana memuaskan pelanggan. Atau petugas pencatat meter ini sangat ahli dibidang nya sehingga dia berfikir bahwa gak mungkin pelanggan lari karena yang butuh mereka bukan PDAM.
Itulah fakta bila usaha yang berbau pemerintah bersifat monopoli. Seandainya perusahaan pemerintah ini memiliki perusahaan pesaing katakanlah perusahaan swasta maka mungkin kinerjanya akan beda...karena bila mereka tidak memberikan layanan terbaik maka konsumen bisa beralih ke perusahaan lain. Kendalanya mungkin air tidak seperti penyedia jasa telekomunikasi berbasis wirekabel sehingga kita tidak bisa mengganti secepat yang kita harapkan. Mungkin kah berubah layanan PDAM negeri ini khususnya di tempat wilayah saya bermukim, GRESIK ?
Ah susah hidup dinegara yang mental birokrasinya gak pernah berubah walaupun sudah 62 tahun merdeka, payah...payah...kalau sudah begini apakah nasionalisme masih melekat didada?
Itulah fakta bila usaha yang berbau pemerintah bersifat monopoli. Seandainya perusahaan pemerintah ini memiliki perusahaan pesaing katakanlah perusahaan swasta maka mungkin kinerjanya akan beda...karena bila mereka tidak memberikan layanan terbaik maka konsumen bisa beralih ke perusahaan lain. Kendalanya mungkin air tidak seperti penyedia jasa telekomunikasi berbasis wirekabel sehingga kita tidak bisa mengganti secepat yang kita harapkan. Mungkin kah berubah layanan PDAM negeri ini khususnya di tempat wilayah saya bermukim, GRESIK ?
Ah susah hidup dinegara yang mental birokrasinya gak pernah berubah walaupun sudah 62 tahun merdeka, payah...payah...kalau sudah begini apakah nasionalisme masih melekat didada?
Thursday, August 09, 2007
Orang miskin pun dilarang bertindak kriminal
Terilhami menonton berita pagi dari salah satu stasiun tv swasta yang memberitakan 'mantan pejabat di salah satu kabupaten jawa timur bebas menjadi tahanan kota karena telah memberikan uang jaminan yang tidak sepadan dengan nilai yang telah dikorup'. Saya jadi tertawa dalam hati...inilah negara yang mungkin sebentar lagi akan diazab oleh ALLAH dengan azab yang lebih besar lagi. Bagaimana tidak ditengah kondisi masyarakat yang terpuruk kondisi ekonominya peradilan negara ini masih saja seperti ketika saya SMP dulu masih tetap uang lebih banyak berbicara ketika di peradilan. Ala hasil timbullah sebuah anekdot 'melaporkan kehilangan kambing malah kehilangan sapi'.
Wajah peradilan dunia di negara ini memang aneh dan susahnya menebak keputusan hakim yang menyatakan kemenangan dari si penggugat karena merasa harga dirinya terinjak. Putih bisa jadi hitam dan sebaliknya. Benarlah profesi yang diingatkan oleh Nabi bahwa profesi yang harus sangat berhati-hati dalam menjalankannya ini. Saya juga jadi miris ketika menonton berita lanjutan bahwa dua orang pemuda dihajar massa sampai babak belur dan hampir saja dibakar massa, untung aparat keamanan cepat datang dan menyelamatkan dua pemuda tersebut yang ketahuan mencuri uang 20.000 rupiah buat mabuk menurut pengakuan dua pemuda tersebut.
Apa relevansi hukum yang diberlakukan untuk pejabat dan dua pemuda tadi merupakan gambaran carut marutnya wajah hukum di negara ini yang katanya menjunjung tinggi hukum. Allahu Akbar !! Analisis saya bisa jadi terorisme yang ditudingkan pada pelakunya selama ini juga erat kaitannya dengan pelaksanaan hukum di negara ini karena ada PERASAAN TIDAK PUAS yang terlalu lama sehingga mengkristal dan mengendap menjadi butiran keras yang membuat banyak rakyat negeri ini menjadi dendam dan tidak taat untuk memenuhi aturan negara yang harus dan wajib dilaksanakan oleh rakyat.
Banyak contoh-contoh kasus yang terjadi di masyarakat yang sangat tidak mencerminkan bahwa hukum dinegara ini tidak berjalan dengan baik. Kalau sudah begini bagaimana jadinya wajah negara ini 10 tahun kedepan ?? Tengok saja bila ada pejabat yang berusaha memberantas praktek-praktek korupsi bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan tidak akan lama menjabat di daerah tersebut dan biasanya tidak lama kemudian akan dimutasi. Mudah-mudahan pemerintah memiliki keberanian untuk memperbaiki negara ini dan membuat aturan hukum yang bijak serta berani pula membuat produk hukum sendiri, tidak harus mengekor pada produk hukum yang masih warisan belanda itu.
Saya terkadang merenung kapan ya...wajah peradilan di negara ini menghasilkan kebijakan dengan berpijak pada asas kebenaran dan keadilan ??
Allah yang Maha Tahu.....
Wajah peradilan dunia di negara ini memang aneh dan susahnya menebak keputusan hakim yang menyatakan kemenangan dari si penggugat karena merasa harga dirinya terinjak. Putih bisa jadi hitam dan sebaliknya. Benarlah profesi yang diingatkan oleh Nabi bahwa profesi yang harus sangat berhati-hati dalam menjalankannya ini. Saya juga jadi miris ketika menonton berita lanjutan bahwa dua orang pemuda dihajar massa sampai babak belur dan hampir saja dibakar massa, untung aparat keamanan cepat datang dan menyelamatkan dua pemuda tersebut yang ketahuan mencuri uang 20.000 rupiah buat mabuk menurut pengakuan dua pemuda tersebut.
Apa relevansi hukum yang diberlakukan untuk pejabat dan dua pemuda tadi merupakan gambaran carut marutnya wajah hukum di negara ini yang katanya menjunjung tinggi hukum. Allahu Akbar !! Analisis saya bisa jadi terorisme yang ditudingkan pada pelakunya selama ini juga erat kaitannya dengan pelaksanaan hukum di negara ini karena ada PERASAAN TIDAK PUAS yang terlalu lama sehingga mengkristal dan mengendap menjadi butiran keras yang membuat banyak rakyat negeri ini menjadi dendam dan tidak taat untuk memenuhi aturan negara yang harus dan wajib dilaksanakan oleh rakyat.
Banyak contoh-contoh kasus yang terjadi di masyarakat yang sangat tidak mencerminkan bahwa hukum dinegara ini tidak berjalan dengan baik. Kalau sudah begini bagaimana jadinya wajah negara ini 10 tahun kedepan ?? Tengok saja bila ada pejabat yang berusaha memberantas praktek-praktek korupsi bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan tidak akan lama menjabat di daerah tersebut dan biasanya tidak lama kemudian akan dimutasi. Mudah-mudahan pemerintah memiliki keberanian untuk memperbaiki negara ini dan membuat aturan hukum yang bijak serta berani pula membuat produk hukum sendiri, tidak harus mengekor pada produk hukum yang masih warisan belanda itu.
Saya terkadang merenung kapan ya...wajah peradilan di negara ini menghasilkan kebijakan dengan berpijak pada asas kebenaran dan keadilan ??
Allah yang Maha Tahu.....
Orang Miskin tidak boleh pintar
Saya tergugah untuk menulis setelah melihat judul buku "orang miskin tidak boleh sakit". Analog dengan itu saat ini banyak masyarakat yang ditindihi hutang karena keinginan nya untuk memperbaiki nasib generasi berikutnya. Betapa tidak untuk menyekolahkan anak saat ini tidaklah murah...bagaimana mungkin untuk sekolah TK pinggiran saja ada yang harus membayar uang sampai hampir 2 jutaan untuk uang pertama masuknya. Waduh ...saya tidak bisa membayangkan apakah saya juga nanti mampu menyekolahkan anak saya sampai ke jenjang yang paling tinggi sampai tingkat doktoral. Iseng iseng saya suka berselancar di dunia maya dan membanding-bandingkan bagaiman sih biaya pendidikan di negara tetangga Malaysia dan Singapura. Ternyata bila dibandingkan dengan di negara kita jauh lebih murah. Sampai pada suatu ketika saya bertemu dengan seorang ibu yang berdinas di instansi pemerintah bercerita,
"Wah kalau di Jakarta pak ibu-ibu banyak yang menyekolahkan anaknya ke Malaysia bila mau masuk SMA karena di sana semuanya jelas rincian uang yang harus kita bayarkan" celoteh sang ibu. "Saya tidak bisa membayangkan pak...bila ibu-ibu kita ini memiliki pemikiran yang sama bagaimana jadinya? Padahal dulu Malaysia itu mengirimkan guru-gurunya ke negara kita sekarang malah terbalik". Saya mengangguk-angguk setuju...benar juga ibu ini dalam hati saya.
Saya bukannya tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi tetapi realita yang ada saat ini memungkinkan setiap ibu-ibu berfikiran dan berperilaku sama pada anaknya demi masa depan generasi berikutnya. Kalau sudah begitu apa jadinya ya...???
Coba tengoklah potret pendidikan kita...mulai dari kurikulum yang sering berganti-ganti sampai dengan standar mutu yang gak jelas maksudnya sampai-sampai ada anak SMP yang bunuh diri karena gagal dan stres akibat diterapkannya standar mutu yang belum teruji tersebut. Saya terkadang miris melihat kondisi ini...sebagai bahan perbandingan...dulu ketika saya sekolah saya masih bisa menggunakan buku mbak saya...seperti anak saya yang kecil masih bisa make baju kakaknya. Sekarang setiap tahun buku bisa berganti yang membuat orang tua harus memutar otaknya untuk cari pinjaman karena pendapatannya tidak memungkinkan untuk mengcover biaya studi anaknya.
Wah repot juga ya...memikirkannya...semoga pemerintah mendapatkan jalan keluar untuk kemajuan anak bangsa sehingga semakin tua negara ini umurnya semakin cerdas dalam menyikapi permasalahan rakyatnya. Dan tentunya apa yang dicita-citakan mbah-mbah pendiri bangsa ini dapat terwujud,semoga.....tapi kapan ya...???
"Wah kalau di Jakarta pak ibu-ibu banyak yang menyekolahkan anaknya ke Malaysia bila mau masuk SMA karena di sana semuanya jelas rincian uang yang harus kita bayarkan" celoteh sang ibu. "Saya tidak bisa membayangkan pak...bila ibu-ibu kita ini memiliki pemikiran yang sama bagaimana jadinya? Padahal dulu Malaysia itu mengirimkan guru-gurunya ke negara kita sekarang malah terbalik". Saya mengangguk-angguk setuju...benar juga ibu ini dalam hati saya.
Saya bukannya tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi tetapi realita yang ada saat ini memungkinkan setiap ibu-ibu berfikiran dan berperilaku sama pada anaknya demi masa depan generasi berikutnya. Kalau sudah begitu apa jadinya ya...???
Coba tengoklah potret pendidikan kita...mulai dari kurikulum yang sering berganti-ganti sampai dengan standar mutu yang gak jelas maksudnya sampai-sampai ada anak SMP yang bunuh diri karena gagal dan stres akibat diterapkannya standar mutu yang belum teruji tersebut. Saya terkadang miris melihat kondisi ini...sebagai bahan perbandingan...dulu ketika saya sekolah saya masih bisa menggunakan buku mbak saya...seperti anak saya yang kecil masih bisa make baju kakaknya. Sekarang setiap tahun buku bisa berganti yang membuat orang tua harus memutar otaknya untuk cari pinjaman karena pendapatannya tidak memungkinkan untuk mengcover biaya studi anaknya.
Wah repot juga ya...memikirkannya...semoga pemerintah mendapatkan jalan keluar untuk kemajuan anak bangsa sehingga semakin tua negara ini umurnya semakin cerdas dalam menyikapi permasalahan rakyatnya. Dan tentunya apa yang dicita-citakan mbah-mbah pendiri bangsa ini dapat terwujud,semoga.....tapi kapan ya...???
Manajemen "Jarno"
Sebetulnya judul di atas sedang saya buat untuk sebuah tulisan menjadi buku tapi belum kelar-kelar karena sibuk sehingga tidak fokus.
Manajemen jarno ini merupakan jargon sindiran bagi siapa saja yang berusaha untuk tidak menuntaskan tanggung jawab yang seharusnya dia lakukan sehingga sebuah permasalahan itu menjadi selesai. Jarno sendiri dari bahasa jawa yang artinya biarkan. Kita harus jujur mengakui bahwa hal ini banyak terjadi dan dapat kita rekam dalam otak kita yang kadang kadang kita sendiri tidak menyadarinya bahwa itu masuk kategori jargon tadi hehehe....
Di kampung tempat saya tinggal saya memiliki teman yang pintar tapi menggelikan...mengapa begitu karena kalau diundang rapat jarang datang tetapi bila kesepakatan sudah dicapai maka dia belagak pilon mengusulkan usulan yang sepertinya harus diterima dan kadang kadang membuat suasana menjadi tidak kondusif lagi. Untuk mengatasi hal ini teman-teman kadang membiarkannya alias menjarnokannya. Saya terkadang emosi dibuatnya...saya sudah bilang pintar di atas karena dia berpendidikan dan saya juga bilang oon karena dia sepertinya tidak memahami mekanisme rapat yang sebenarnya. Ini yang membuat orang lain terkadang geleng-geleng kepala karena heran....mari sejenak kita geleng geleng kepala dulu untuk menghilangkan penat. Saya beri aba-aba satu....dua.....tiga....
Dalam lingkup kehidupan sosial...kita terkadang sering dibuat gregetan karena lambannya penyelesaian masalah yang sering membuat sengsara atau tidak adanya kepastian bagi sebagian rakyat yang dikategorikan miskin, bagaimana tidak...kasus pengungsi yang terkena dampak lumpur saja sampai sekarang belum selesai padahal sudah satu tahunan.
Di Surabaya pembangunan yang paling kelihatan hasilnya cuma pertamanan lainnya tak kelihatan karena memang pengguna jalan dapat merasakan kian asrinya jalan-jalan di Surabaya dengan tamannya yang mulai dan sudah merimbun. Anehnya ini kok tidak diikuti oleh yang lainnya misalnya dinas perhubungannya yang menyediakan angkutan publik yang nyaman sehingga untuk menurunkan tingkat polusi di Surabaya dapat lebih cepat lagi karena para pekerja tentu lebih memilih angkutan umum yang nyaman dan murah serta tepat waktu. Ah...biarkan saja...mungkin begitu jawab dari sang birokrat ya...? Nanti juga diam sendiri (kalau ada yang protes....hihihihi)
Negaraku yang sudah 60 tahunan merdeka kok masih saja belum baik dalam memberikan pelayanan publik padahal katanya pejabatnya sering bertandang ke luar negeri untuk studi banding. Lha...kalau sering sering studi banding tetapi sampai saat ini ndak ada hasilnya ya...mending uangnya buat beli cendol. Anak-anak yatim yang ada di seluruh pelosok Surabaya dikumpulkan dan di beri semangkuk cendol...jauh lebih bermanfaat ketimbang pejabat nya jalan-jalan tapi gak ada hasil.
Tentulah anak-anak yatim itu akan bergembira karena semangkuk cendol...sambil mengusap mulut dengan ujung baju mereka dan berdoa semoga pejabat-pejabat lebih sering menjamu mereka karena si pejabat kekayaannya semakin bertambah.
Beruntung masih ada juga orang yang peduli dengan kemajuan bangsanya sehingga ada warga yang didaerah rungkut membuat masyarakatnya menjadi melek informasi dengan kampung cyber nya. Dengan semangat patriotisme yang tinggi dia rela menjual mobilnya untuk melengkapi peralatan yang harus disediakan untuk mensupport cita-citanya menjadikan kampung mereka kampung cyber.
Kalau mau menunggu pemerintah...kapan...inilah seperti yang dikatakan Soekarno si presiden pertama "jangan tanya apa yang negara berikan kepada engkau tetapi tanyalah apa yang sudah engkau berikan buat negara". Saya bukan tidak setuju tetapi saya harus mengkoreksi perkataan yang sudah tidak populer lagi itu, saya koreksi karena pemerintah juga harus peduli pada rakyatnya dan bertanggung jawab dong...kan rakyat sudah bayar pajak; pemerintah juga harus bersih dong...kan rakyat sudah mati-matian bayar pajak ....kalau pemerintah tidak memperdulikan rakyatnya atau menjarnokan rakyatnya ya...tidak boleh marah kalau ada yang ingin merdeka sendiri-sendiri karena merasa bahwa sebetulnya kekayaan yang mereka miliki bila dikelola sendiri mampu membuat mereka sejahtera dan kaya.
Lihat negara tetangga yang gak punya sumberdaya alam saja seperti Singapura itu kok sejahteranya luar biasa ya....?? Berarti ada yang JARNO dalam sistim kehidupan berbangsa dan sosial dalam masyarakat kita ??? AH masa...!!! (ini sih kata pejabat)
Subscribe to:
Posts (Atom)
