Judul di atas saya ambil karena terinspirasi ketika saya ingin buang air besar sehabis dari bepergian menemani anak-anak saya untuk nonton film anak-anak yang sempat di lansir di media TV swasta.
Saya berusaha mengikuti kemauan anak-anak yang dalam pandangan saya itu positif untuk pengetahuan dan perkembangan jiwanya. Jadilah kami nonton sekeluarga. Sambil menonton saya tak henti-hentinya memberikan penjelasan kepada anak saya yang masih duduk dibangku sekolah dasar dan TK.
Dua jam tidak terasa kami lewatkan bersama di dalam cinema 21. Ketika film usai, saya sangat terdesak untuk melakukan kegiatan yang sangat alami...buang air kecil. Pergilah saya ke toilet yang kebetulan bersebelahan dengan Musholla. Wah nyaman rasanya memasuki toilet yang bersih, kering dan tidak berbau. Saya perhatikan ketika saya mengeringkan tangan pada alat pengering, di sana tertempel syarat-syarat sebuah toilet yang bersih, kering, bersih dan tidak berbau dan ada lagi satu saya lupa.
Setelah puas mengajak anak-anak ke toko buku dan bermain maka pulanglah kami. Celakanya ketika ditengah perjalan perut saya tidak bisa diajak kompromi...alahasil mampirlah saya di masjid besar yang tidak jauh dari tempat tinggal kami yah...kurang lebih 2,5 km. Saya langsung menuju ke toilet dan alamak...keinginan saya jadi tertunda karena begitu melihat kondisi toilet yang ada nafsu saya untuk membuang hajat jadi urung dan saya putuskan untuk cepat-cepat pulang ke rumah yang sudah tidak seberapa jauh.
Timbul lah fikiran dalam benak saya begitu jauhnya perbedaan antara toilet yang ada di plaza yang saya kunjungi dengan masjid besar yang saya hampiri tadi. Benak saya bermain walaupun di plaza setiap pengunjung di tarik Rp. 1000 sekali buang hajat itu sangat sebanding dengan kenyamanan yang mereka terima ketika mereka masuk ke toilet untuk membuang hajat.
Tulisan ini bukan untuk membandingkan antara kedua bangunan tersebut Plaza dan Masjid tetapi alangkah lucunya ummat Islam yang selalu diajarkan hidup bersih tetapi pengelolaan kebersihan toilet masjidnya seperti itu. Tulisan inipun menginspirasi saya bahwa sebenarnya banyak sekali masjid yang saya kunjungi tapi tolietnya jauh dari ajaran Islam yang selalu mengedepankan kebersihan. Kalau sudah begini sebetulnya ada yang salah dari ummat Islam di Indonesia.
Saya jadi berfikir apa karena takmirnya tidak diberi gaji yang layak seperti dinegara tetangga Malaysia yang katanya bayaran takmirnya perbulan bisa mencapai 5-7 juta rupiah. Wah kalau sudah membanding bandingkan begini jadi ruwet.
Ini hanya sekedar contoh dari hal-hal yang mungkin tidak terfikirkan oleh kita bahwa segala sesuatu itu hendaknya kita kelola dengan baik dan tentunya dengan mencari terobosan-terobosan baru dalam kehidupan ini sesuai dengan judul blog saya ini MANAJEMEN KEHIDUPAN.
Memang sepertinya sangat sulit untuk melihat kota-kota di negara ini bersih, teratur dan rapi karena kurangnya kesadaran dari masyarakatnya. Bagaimana tidak di Bali saja yang bersih-bersih pantai justru turis asing yang kasihan lihat pantai yang mereka kunjungi dipenuhi sampah? Artinya masyarakat kita itu masih bodoh-bodoh karena tidak bisa menghargai sang bumi yang begitu sabarnya karena telah kita injak-injak, kita kencingi, kita beraki, kita sakiti dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi karena katanya manusia itu mahluk yang tertinggi di muka bumi ini. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa bumi dan isinya ini selalu bertasbih ke pada sang Khaliq.
Ah aku tidak bisa membayangkan seandainya bumi ini marah lagi seperti tsunami di Aceh atas perintah Khaliqnya, mau apa kita?
Sunday, December 28, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
