Friday, July 10, 2009

Her-Registrasi & Database

Pagi ini saya ingin menulis lagi setelah lama tidak menulis. Tulisan ini terinspirasi oleh status Facebook teman saya yang mengajak ku untuk berfikir bahwa her-registrasi itu tidak efektif dan pemborosan. Setelah saya fikir-fikir saya perlu menulis untuk menuangkan analisis ngawur saya tentang her-registrasi.

Ketika kita mengantarkan anak kita sekolah untuk pertama kalinya setelah diterima dari hasil tes penerimaan (kalau ada) biasanya kita dimintai untuk melunasi semua beban biaya yang telah ditetapkan oleh fihak sekolah. Kalaupun tidak mampu melunasi sekaligus biasanya fihak sekolah akan menawarkan pembayaran dalam beberapa term.

Ketika kita sudah mendaftarkan diri ingin mengikuti atau mengahadiri seminar maka kita diminta panitia penyelenggara untuk menuliskan nama pada hari H seminar berlangsung sebelum kita masuk ke ruang seminar.

Ketika kita menghadiri undangan teman kita yang menikahkan anaknya di sebuah gedung dalam perhelatan resepsi nikah maka kita akan diminta oleh penerima tamu untuk menuliskan nama dan lamat kita dan tak lupa setelah itu biasanya kita akan memasukkan 'amplop bowo' (istilah Jawa).

Ketika pilpres alias pilihan presiden ataupun pilihan legislatif dinegeri ini kitapun akan registrasi ke panitia yang ditunjuk sebelum kita mendapatkan kertas suara dan mencontreng pilihan yang sesuai dengan kehendak kita.

Dari contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari tadi nampaknya memang her registrasi ataupun apalah namanaya merupakan kegiatan yang sudah menjadi tuntutan umum bahwa memang itulah yang harus dilakukan bila kita ingin mengikuti atau menghadiri acara yang sedang berlangsung. Apa gunanya ? Mungkin, tak lain dan tak bukan bahwa panitia penyelenggara atau fihak sekolah ingin memastikan bahwa kita menghadiri dan sebagai bahan crosscheck berapa orang atau manusia yang hadir dan berapa yang tidak dari sejumlah undangan yang laku, yang disebar, yang ingin meneruskan sekolah. Sepertinya panitia hanya ingin memastikan saja.

Pandangan saya bahwa her-registrasi itu ada benarnya juga, mungkin sekali lagi mungkin untuk melihat keseriusan kita. Tetapi bagaimana dengan sekolah yang mewajibkan murid atau mahasiswanya untuk melakukan registrasi ulang? Inilah letak dari 'benar tidaknya' databse dari sekolah tersebut disamping tingkat melek aplikasi teknologi informasi dari sekolah yang bersangkutan. Di zaman yang serba ingin cepat ini, orang tua murid atau siswa khususnya sekolah dasar dan menengah pertama akan merasa malas untuk antri berjam-jam dalam melakukan her-registrasi.

Tetapi substansi yang saya tangkap adalah bahwa orang tua murid atau mahasiswa 'keberatan' dengan biaya registrasi ulang karena database siswa jelas sudah menjadi kewajiban fihak sekolah untuk meng up date nya. PErtanyaannya itukan hanya dikemanakan uang her-registrai itu ? Karena memang selama ini tidak ada penjelasan dari fihak sekolah...seandainya siswa naik kelas kan sudah jelas dia akan masuk ke kelas yang lebih tinggi tanpa perlu registrai ulang...seandainyapun siswa tidak meneruskan sekolah kan juga akan jelas...bahwa dalam waktu tertentu siswa akan tidak kelihatan di sekolahnya.

Disinilah permasalahannya barangkali, bahwa dengan tidak melakukan registrasi ulang ada anggapan bahwa nanti fihak sekolah akan dianggap tidak serius dan mereka akan tidak dapat mengupdate data statistik siswa mereka dan mungkin parahnya lagi mereka tidak dapat mengetahui student body nya dengan cepat.

Dengan tidak mengetahui jumlah tamu yang datang fihak yang mengadakan perhelatan resepsi pernikahan merasa cemas 'jangan-jangan nanti menu yang mereka sajikan kurang'. Dengan tidak mengetahui jumlah peserta seminar panitia penyelenggara tidak dapat mengukur dengan jelas bagaimana materi yang mereka sajikan menarik dan pembicaranya memiliki potensi dalam menguraikan keingintahuan peserta seminar. Ketika panitia pemilu tidak mengetahui berapa jumlah peserta yang tidak menggunakan hak pilihnya maka mereka akan dibuat repot untuk memastikan berapa besar prosentrase dari pemilih didaerahnya yang menggunakan hak pilihnya