Saturday, September 18, 2010
Urat Nadi atau Urat Geli
Sudah tiga hari ini saya selalu melihat berita di TV selalu membahas tentang ambrolnya jalan di daerah Jakarta Utara, Jl. R.E. Martadinata. Jalan kok bisa ambrol begitu fikirku. Tapi saya tidak heran sebetulnya karena gaya hidup dari masyarakat Indonesia dan pola penegakan hukumnya yang tidak jelas telah membuat banyak orang yang jeli sebetulnya telah menduga-duga. Mungkin saya bisa memberikan analogi, bahwa jalan dari arah perempatan pasar ke daerah rumah saya itu sangat sering dilewati oleh truk-truk besar yang jelas-jelas bukan kelas jalannya. Sudah bisa diduga tentu jalan akan bergelombang karena truk itu sangat 'sarat' muatan (berlebihan), sama seperti kita lihat sepeda motor yang membawa beban apa saja yang bisa dimuat ketika keluar dari pasar, bawaannya menggunung sampai sampai penumpangnya ditempatkan diatas muatannya, mirip sirkus. Anehnyakan polisi diam saja.
Kembali ke berita tentang amblesnya jalan di Jakarta Utara tersebut, presenter TV malah menambahkan bahwa Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050. Saya bergumam mendengar itu 'biarin aja biar para koruptor disana ikut tenggelam'. Saya hanya berfikir dari sisi manajemen dan sudut pandang pertumbuhan ekonomi. Sejak saya SD Jakarta sudah menjadi magnet bagi sejumlah penduduk Indonesia karena apa? Karena uang yang beredar di kota ini katanya 80% uang yang beredar di Indonesia. Sudut pandang agamapun sudah menukil bahwa tidaklah baik uang beredar hanya pada orang kaya saja. Memang sih mungkin orang kaya tidak semua di Jakarta tetapi bisnisnya bisa saja di Jakarta, mengapa? Saya tidak akan menjawab ini tetapi saya akan mengangkat isu tentang adanya rencana pemindahan ibu kota ke kota di Kalminatan yang terus menjadi polemik.
Akan saya bandingkan dengan cerita teman saya yang bekerja di Cayman Island. Dia bilang kepada saya 'orang Indonesia itu sulit membuat keputusan karena terlalu banyak pertimbangan maunya main aman'. Mengapa begitu saya bilang. 'Bos saya orang Perancis pernah menasehati saya bahwa dalam hidup ini kita harus membuat keptusan secara cepat dan siap menerima resikonya...jadi bila itu sudah kau pilih, jalanilah,' celoteh teman saya ketika bertemu di kelas pasar modal. Dia melanjutkan 'saya pernah bertanya kepada teman saya yang orang Turki pemerintahmu kalau mau membuat peraturan selalu disosialisasikan tidak?'. Temannya yang orang Turki itu menggeleng. Kesimpulan teman saya itu, pemerintah ini terlalu bertele-tele dan seringkali mempertimbangkan resiko-resiko kecil yang mungkin tidak perlu demi mengalahkan kepentingan-kepentingan BESAR ke depan. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar ceritanya ini. Aku hanya menukas dengan filosofi yang sering aku sampaikan "terlalu banyak diskusi untuk menolong orang yang sudah sekarat dan karena kebanyakan diskusi akhirnya orang yang sekarat itu tidak tertolong dan mati sedang diskusi masih terus berlangsung dengan topik yang sudah berubah, bagaimana cara menguburkannya, diskusi masih terus berlangsung tetapi mayat telah membusuk..terus menerus berganti topik tanpa penyelesaian yang jelas'. Banyak kasus-kasus di negara ini yang tak kunjung selesai dan akhirnya membeku.
Bila jalan Martadinata itu sangat begitu pentingnya seharusnya pemerintah melalui departemen terkait memiliki target untuk memperbaikinya. Ketika saya menulis tanggal 19 dan kejadian tanggal 9 progres belum begitu terlihat. Ini menyebabkan urat geli saya terusik. Bagaimana mungkin jalan itu kan urat nadi tetapi telah banyak membuat urat geli orang terusik. Inilah mungkin perlunya mengalihkan magnet Jakarta ke daerah lain. Tidak perlu untuk diskusi terlalu lama, resiko biaya besar itu sudah pasti tetapi ini untuk kepentingan ke DEPAN generasi berikutnya bukan untuk anak cucu sendiri.
Kembali ke berita tentang amblesnya jalan di Jakarta Utara tersebut, presenter TV malah menambahkan bahwa Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050. Saya bergumam mendengar itu 'biarin aja biar para koruptor disana ikut tenggelam'. Saya hanya berfikir dari sisi manajemen dan sudut pandang pertumbuhan ekonomi. Sejak saya SD Jakarta sudah menjadi magnet bagi sejumlah penduduk Indonesia karena apa? Karena uang yang beredar di kota ini katanya 80% uang yang beredar di Indonesia. Sudut pandang agamapun sudah menukil bahwa tidaklah baik uang beredar hanya pada orang kaya saja. Memang sih mungkin orang kaya tidak semua di Jakarta tetapi bisnisnya bisa saja di Jakarta, mengapa? Saya tidak akan menjawab ini tetapi saya akan mengangkat isu tentang adanya rencana pemindahan ibu kota ke kota di Kalminatan yang terus menjadi polemik.
Akan saya bandingkan dengan cerita teman saya yang bekerja di Cayman Island. Dia bilang kepada saya 'orang Indonesia itu sulit membuat keputusan karena terlalu banyak pertimbangan maunya main aman'. Mengapa begitu saya bilang. 'Bos saya orang Perancis pernah menasehati saya bahwa dalam hidup ini kita harus membuat keptusan secara cepat dan siap menerima resikonya...jadi bila itu sudah kau pilih, jalanilah,' celoteh teman saya ketika bertemu di kelas pasar modal. Dia melanjutkan 'saya pernah bertanya kepada teman saya yang orang Turki pemerintahmu kalau mau membuat peraturan selalu disosialisasikan tidak?'. Temannya yang orang Turki itu menggeleng. Kesimpulan teman saya itu, pemerintah ini terlalu bertele-tele dan seringkali mempertimbangkan resiko-resiko kecil yang mungkin tidak perlu demi mengalahkan kepentingan-kepentingan BESAR ke depan. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar ceritanya ini. Aku hanya menukas dengan filosofi yang sering aku sampaikan "terlalu banyak diskusi untuk menolong orang yang sudah sekarat dan karena kebanyakan diskusi akhirnya orang yang sekarat itu tidak tertolong dan mati sedang diskusi masih terus berlangsung dengan topik yang sudah berubah, bagaimana cara menguburkannya, diskusi masih terus berlangsung tetapi mayat telah membusuk..terus menerus berganti topik tanpa penyelesaian yang jelas'. Banyak kasus-kasus di negara ini yang tak kunjung selesai dan akhirnya membeku.
Bila jalan Martadinata itu sangat begitu pentingnya seharusnya pemerintah melalui departemen terkait memiliki target untuk memperbaikinya. Ketika saya menulis tanggal 19 dan kejadian tanggal 9 progres belum begitu terlihat. Ini menyebabkan urat geli saya terusik. Bagaimana mungkin jalan itu kan urat nadi tetapi telah banyak membuat urat geli orang terusik. Inilah mungkin perlunya mengalihkan magnet Jakarta ke daerah lain. Tidak perlu untuk diskusi terlalu lama, resiko biaya besar itu sudah pasti tetapi ini untuk kepentingan ke DEPAN generasi berikutnya bukan untuk anak cucu sendiri.
Saturday, August 22, 2009
GERBONG TAMBAHAN
“Hoi…jam berapa buka loketnya ! Inikan sudah jam lapan! Pinggang sudah pegal-pegal ini !”, teriak seorang ibu yang sudah berumur di belakang saya.
Ya itulah pengalaman saya ketika bulan Juli 2009 antri tiket kereta dengan tujuan Surabaya dari stasiun Gambir di Jakarta.
Wajar memang kalau ibu itu berteriak keras karena memang kita sudah antri sejak jam tujuh malam kurang sepuluh menit. Saya sendiri waktu itu juga jengkel karena pas saya di depan loket dan mau membayar tiba tiba loket ditutup dan kemudian oleh sang penjaga loket diberi tulisan ”TIKET HABIS”. Waduh betapa kagetnya saya...wah bisa bengkak lagi ini biaya hidup di Jakarta kalau harus menginap lagi. Setelah saya tanyakan, sang penjaga loket memberikan informasi bahwa akan ada tambahan satu gerbong tetapi loket akan dibuka pukul 8 malam. Karena saya nomor antrian jadi, nomor satu ..akhirnya saya menunggu di depan loket sambil mengobrol dengan teman yang mengantarkan saya. Padahal sebelumnya kita sudah berjanji akan makan martabak Palembang di daerah Roxy, itu menurut teman saya yang paling mirip taste nya dengan martabak yang menjadi makanan khas orang di kota Palembang, kota Pempek. Alahasil saya harus menahan keinginan menyantap martabak bersama teman saya ini.
Waktu terus berlalu sampai akhirnya ketika waktu telah menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit saya menanyakan ke penjaga loket ”Bagaimana Pak, apa bisa dibuka loketnya ?”. Sang penjaga loket menjawab ”Nunggu berita dari Manggarai Mas, keretanya sudah siap apa belum”. Haduh...seandainya kereta belum siap terus gimana dong tanyaku dalam hati...sia-sialah aku menunggu sekian lama, mana sudah batal makan martabak lagi.
Waktu menunjukkan pukul 8 tepat, tanda-tanda loket dibuka belum juga kelihatan. Jam 8 lebih 5 menit masih juga belum kelihatan tanda-tanda kehidupan loket akan dibuka....jam 8 lebih 10 menit...masih sama saja...akhirnya ibu yang mengantri jauh dibelakang saya berteriak seperti kalimat di atas tadi hehehehehe....
Saya hanya bergumam dalam hati....inilah kinerja orang Indonesia. Saya menoleh ke belakang dan melihat antrian sudah begitu panjang dan saya dengar kapasitas 1 gerbong kurang lebih 52 tempat duduk. Melihat antrian yang begitu panjang dan kapasitas gerbong sepertinya akan ada orang yang tidak kebagian tiket. Akhirnya loket dibuka pada pukul 8 hampir 15 menit ..saya lega...karena berhasil mendapatkan tiket pulang ke Surabaya.
Akhirnya melihat waktu keberangkatan 21.30 yang kurang satu jam lebih saya dan teman saya mengurungkan niat untuk makan martabak dan makan di kantin saja sambil mendiskusikan peristiwa barusan yang saya alamai. Teman saya bilang, kasihan yang punya dana terbatas karena dia tidak akan memiliki alternatif selain menunggu dan menunggu. Waktu itu teman saya juga menawarkan untuk go show ke bandara untuk melalui jalur udara tapi setelah saya dan teman saya berhitung dengan waktu maka kita putuskan untuk tetap menunggu di depan loket karena nomor antrian satu dan terus berdo’a semoga ada tambahan gerbong. Pukul 9 malam lebih 15 menit saya berpamitan pada teman saya. Apa boleh buat ..mungkin karena gerbong tambahan ya...agak kurang nyaman kursinya dan baunya juga agak pesing hihihihi..padahal katanya kereta paling mahal..lha terus bagaimana kalau kereta paling murah ?
Inilah potret pelayanan publik di negeri tercinta ini, sudah 64 tahun merdeka masih saja terseok-seok dalam memberikan pelayanan pada rakyatnya dari sektor transportasi massa. Apa hendak dikata, bolehlah kita amati bagaimana sektor-sektor pelayanan publik di negeri ini dalam melayani publik lebih banyak TIDAK PUASNYA dari pada PUASNYA. Mudah-mudahan ada perbaikan ....... amien.
Gambir, 23-7-09
Ya itulah pengalaman saya ketika bulan Juli 2009 antri tiket kereta dengan tujuan Surabaya dari stasiun Gambir di Jakarta.
Wajar memang kalau ibu itu berteriak keras karena memang kita sudah antri sejak jam tujuh malam kurang sepuluh menit. Saya sendiri waktu itu juga jengkel karena pas saya di depan loket dan mau membayar tiba tiba loket ditutup dan kemudian oleh sang penjaga loket diberi tulisan ”TIKET HABIS”. Waduh betapa kagetnya saya...wah bisa bengkak lagi ini biaya hidup di Jakarta kalau harus menginap lagi. Setelah saya tanyakan, sang penjaga loket memberikan informasi bahwa akan ada tambahan satu gerbong tetapi loket akan dibuka pukul 8 malam. Karena saya nomor antrian jadi, nomor satu ..akhirnya saya menunggu di depan loket sambil mengobrol dengan teman yang mengantarkan saya. Padahal sebelumnya kita sudah berjanji akan makan martabak Palembang di daerah Roxy, itu menurut teman saya yang paling mirip taste nya dengan martabak yang menjadi makanan khas orang di kota Palembang, kota Pempek. Alahasil saya harus menahan keinginan menyantap martabak bersama teman saya ini.
Waktu terus berlalu sampai akhirnya ketika waktu telah menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit saya menanyakan ke penjaga loket ”Bagaimana Pak, apa bisa dibuka loketnya ?”. Sang penjaga loket menjawab ”Nunggu berita dari Manggarai Mas, keretanya sudah siap apa belum”. Haduh...seandainya kereta belum siap terus gimana dong tanyaku dalam hati...sia-sialah aku menunggu sekian lama, mana sudah batal makan martabak lagi.
Waktu menunjukkan pukul 8 tepat, tanda-tanda loket dibuka belum juga kelihatan. Jam 8 lebih 5 menit masih juga belum kelihatan tanda-tanda kehidupan loket akan dibuka....jam 8 lebih 10 menit...masih sama saja...akhirnya ibu yang mengantri jauh dibelakang saya berteriak seperti kalimat di atas tadi hehehehehe....
Saya hanya bergumam dalam hati....inilah kinerja orang Indonesia. Saya menoleh ke belakang dan melihat antrian sudah begitu panjang dan saya dengar kapasitas 1 gerbong kurang lebih 52 tempat duduk. Melihat antrian yang begitu panjang dan kapasitas gerbong sepertinya akan ada orang yang tidak kebagian tiket. Akhirnya loket dibuka pada pukul 8 hampir 15 menit ..saya lega...karena berhasil mendapatkan tiket pulang ke Surabaya.
Akhirnya melihat waktu keberangkatan 21.30 yang kurang satu jam lebih saya dan teman saya mengurungkan niat untuk makan martabak dan makan di kantin saja sambil mendiskusikan peristiwa barusan yang saya alamai. Teman saya bilang, kasihan yang punya dana terbatas karena dia tidak akan memiliki alternatif selain menunggu dan menunggu. Waktu itu teman saya juga menawarkan untuk go show ke bandara untuk melalui jalur udara tapi setelah saya dan teman saya berhitung dengan waktu maka kita putuskan untuk tetap menunggu di depan loket karena nomor antrian satu dan terus berdo’a semoga ada tambahan gerbong. Pukul 9 malam lebih 15 menit saya berpamitan pada teman saya. Apa boleh buat ..mungkin karena gerbong tambahan ya...agak kurang nyaman kursinya dan baunya juga agak pesing hihihihi..padahal katanya kereta paling mahal..lha terus bagaimana kalau kereta paling murah ?
Inilah potret pelayanan publik di negeri tercinta ini, sudah 64 tahun merdeka masih saja terseok-seok dalam memberikan pelayanan pada rakyatnya dari sektor transportasi massa. Apa hendak dikata, bolehlah kita amati bagaimana sektor-sektor pelayanan publik di negeri ini dalam melayani publik lebih banyak TIDAK PUASNYA dari pada PUASNYA. Mudah-mudahan ada perbaikan ....... amien.
Gambir, 23-7-09
Friday, July 10, 2009
Her-Registrasi & Database
Pagi ini saya ingin menulis lagi setelah lama tidak menulis. Tulisan ini terinspirasi oleh status Facebook teman saya yang mengajak ku untuk berfikir bahwa her-registrasi itu tidak efektif dan pemborosan. Setelah saya fikir-fikir saya perlu menulis untuk menuangkan analisis ngawur saya tentang her-registrasi.
Ketika kita mengantarkan anak kita sekolah untuk pertama kalinya setelah diterima dari hasil tes penerimaan (kalau ada) biasanya kita dimintai untuk melunasi semua beban biaya yang telah ditetapkan oleh fihak sekolah. Kalaupun tidak mampu melunasi sekaligus biasanya fihak sekolah akan menawarkan pembayaran dalam beberapa term.
Ketika kita sudah mendaftarkan diri ingin mengikuti atau mengahadiri seminar maka kita diminta panitia penyelenggara untuk menuliskan nama pada hari H seminar berlangsung sebelum kita masuk ke ruang seminar.
Ketika kita menghadiri undangan teman kita yang menikahkan anaknya di sebuah gedung dalam perhelatan resepsi nikah maka kita akan diminta oleh penerima tamu untuk menuliskan nama dan lamat kita dan tak lupa setelah itu biasanya kita akan memasukkan 'amplop bowo' (istilah Jawa).
Ketika pilpres alias pilihan presiden ataupun pilihan legislatif dinegeri ini kitapun akan registrasi ke panitia yang ditunjuk sebelum kita mendapatkan kertas suara dan mencontreng pilihan yang sesuai dengan kehendak kita.
Dari contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari tadi nampaknya memang her registrasi ataupun apalah namanaya merupakan kegiatan yang sudah menjadi tuntutan umum bahwa memang itulah yang harus dilakukan bila kita ingin mengikuti atau menghadiri acara yang sedang berlangsung. Apa gunanya ? Mungkin, tak lain dan tak bukan bahwa panitia penyelenggara atau fihak sekolah ingin memastikan bahwa kita menghadiri dan sebagai bahan crosscheck berapa orang atau manusia yang hadir dan berapa yang tidak dari sejumlah undangan yang laku, yang disebar, yang ingin meneruskan sekolah. Sepertinya panitia hanya ingin memastikan saja.
Pandangan saya bahwa her-registrasi itu ada benarnya juga, mungkin sekali lagi mungkin untuk melihat keseriusan kita. Tetapi bagaimana dengan sekolah yang mewajibkan murid atau mahasiswanya untuk melakukan registrasi ulang? Inilah letak dari 'benar tidaknya' databse dari sekolah tersebut disamping tingkat melek aplikasi teknologi informasi dari sekolah yang bersangkutan. Di zaman yang serba ingin cepat ini, orang tua murid atau siswa khususnya sekolah dasar dan menengah pertama akan merasa malas untuk antri berjam-jam dalam melakukan her-registrasi.
Tetapi substansi yang saya tangkap adalah bahwa orang tua murid atau mahasiswa 'keberatan' dengan biaya registrasi ulang karena database siswa jelas sudah menjadi kewajiban fihak sekolah untuk meng up date nya. PErtanyaannya itukan hanya dikemanakan uang her-registrai itu ? Karena memang selama ini tidak ada penjelasan dari fihak sekolah...seandainya siswa naik kelas kan sudah jelas dia akan masuk ke kelas yang lebih tinggi tanpa perlu registrai ulang...seandainyapun siswa tidak meneruskan sekolah kan juga akan jelas...bahwa dalam waktu tertentu siswa akan tidak kelihatan di sekolahnya.
Disinilah permasalahannya barangkali, bahwa dengan tidak melakukan registrasi ulang ada anggapan bahwa nanti fihak sekolah akan dianggap tidak serius dan mereka akan tidak dapat mengupdate data statistik siswa mereka dan mungkin parahnya lagi mereka tidak dapat mengetahui student body nya dengan cepat.
Dengan tidak mengetahui jumlah tamu yang datang fihak yang mengadakan perhelatan resepsi pernikahan merasa cemas 'jangan-jangan nanti menu yang mereka sajikan kurang'. Dengan tidak mengetahui jumlah peserta seminar panitia penyelenggara tidak dapat mengukur dengan jelas bagaimana materi yang mereka sajikan menarik dan pembicaranya memiliki potensi dalam menguraikan keingintahuan peserta seminar. Ketika panitia pemilu tidak mengetahui berapa jumlah peserta yang tidak menggunakan hak pilihnya maka mereka akan dibuat repot untuk memastikan berapa besar prosentrase dari pemilih didaerahnya yang menggunakan hak pilihnya
Ketika kita mengantarkan anak kita sekolah untuk pertama kalinya setelah diterima dari hasil tes penerimaan (kalau ada) biasanya kita dimintai untuk melunasi semua beban biaya yang telah ditetapkan oleh fihak sekolah. Kalaupun tidak mampu melunasi sekaligus biasanya fihak sekolah akan menawarkan pembayaran dalam beberapa term.
Ketika kita sudah mendaftarkan diri ingin mengikuti atau mengahadiri seminar maka kita diminta panitia penyelenggara untuk menuliskan nama pada hari H seminar berlangsung sebelum kita masuk ke ruang seminar.
Ketika kita menghadiri undangan teman kita yang menikahkan anaknya di sebuah gedung dalam perhelatan resepsi nikah maka kita akan diminta oleh penerima tamu untuk menuliskan nama dan lamat kita dan tak lupa setelah itu biasanya kita akan memasukkan 'amplop bowo' (istilah Jawa).
Ketika pilpres alias pilihan presiden ataupun pilihan legislatif dinegeri ini kitapun akan registrasi ke panitia yang ditunjuk sebelum kita mendapatkan kertas suara dan mencontreng pilihan yang sesuai dengan kehendak kita.
Dari contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari tadi nampaknya memang her registrasi ataupun apalah namanaya merupakan kegiatan yang sudah menjadi tuntutan umum bahwa memang itulah yang harus dilakukan bila kita ingin mengikuti atau menghadiri acara yang sedang berlangsung. Apa gunanya ? Mungkin, tak lain dan tak bukan bahwa panitia penyelenggara atau fihak sekolah ingin memastikan bahwa kita menghadiri dan sebagai bahan crosscheck berapa orang atau manusia yang hadir dan berapa yang tidak dari sejumlah undangan yang laku, yang disebar, yang ingin meneruskan sekolah. Sepertinya panitia hanya ingin memastikan saja.
Pandangan saya bahwa her-registrasi itu ada benarnya juga, mungkin sekali lagi mungkin untuk melihat keseriusan kita. Tetapi bagaimana dengan sekolah yang mewajibkan murid atau mahasiswanya untuk melakukan registrasi ulang? Inilah letak dari 'benar tidaknya' databse dari sekolah tersebut disamping tingkat melek aplikasi teknologi informasi dari sekolah yang bersangkutan. Di zaman yang serba ingin cepat ini, orang tua murid atau siswa khususnya sekolah dasar dan menengah pertama akan merasa malas untuk antri berjam-jam dalam melakukan her-registrasi.
Tetapi substansi yang saya tangkap adalah bahwa orang tua murid atau mahasiswa 'keberatan' dengan biaya registrasi ulang karena database siswa jelas sudah menjadi kewajiban fihak sekolah untuk meng up date nya. PErtanyaannya itukan hanya dikemanakan uang her-registrai itu ? Karena memang selama ini tidak ada penjelasan dari fihak sekolah...seandainya siswa naik kelas kan sudah jelas dia akan masuk ke kelas yang lebih tinggi tanpa perlu registrai ulang...seandainyapun siswa tidak meneruskan sekolah kan juga akan jelas...bahwa dalam waktu tertentu siswa akan tidak kelihatan di sekolahnya.
Disinilah permasalahannya barangkali, bahwa dengan tidak melakukan registrasi ulang ada anggapan bahwa nanti fihak sekolah akan dianggap tidak serius dan mereka akan tidak dapat mengupdate data statistik siswa mereka dan mungkin parahnya lagi mereka tidak dapat mengetahui student body nya dengan cepat.
Dengan tidak mengetahui jumlah tamu yang datang fihak yang mengadakan perhelatan resepsi pernikahan merasa cemas 'jangan-jangan nanti menu yang mereka sajikan kurang'. Dengan tidak mengetahui jumlah peserta seminar panitia penyelenggara tidak dapat mengukur dengan jelas bagaimana materi yang mereka sajikan menarik dan pembicaranya memiliki potensi dalam menguraikan keingintahuan peserta seminar. Ketika panitia pemilu tidak mengetahui berapa jumlah peserta yang tidak menggunakan hak pilihnya maka mereka akan dibuat repot untuk memastikan berapa besar prosentrase dari pemilih didaerahnya yang menggunakan hak pilihnya
Saturday, February 28, 2009
KRESEK dan TIKUS
Dua tahun belakangan ini sangat sering kita jumpai kantung plastik hitam di tengah jalan dengan bangkai tikus di dalamnya. Saya sendiri heran mengapa kok itu bisa terjadi. Lebih mengherankan lagi saya sangat meyakini bahwa itu adalah sebuah unsur kesengajaan karena tikus tidak mungkin masuk sendiri ke dalam kantong plastik hitam seperti terjebak dan kemudian lari ke tengah jalan karena kebingungan dan akhirnya terlindas kendaraan yang melintas. Kalau dikatakan kemungkinan jelas kemungkinan itu sangat kecil sekali dan hanya tikus-tikus bodoh saja yang mau melakukan hal seperti itu karena frustasi.
Tikus dan kresek (bahasa jawa: untuk menyebut kantong plastik tipis yang biasa digunakan penjual di pasar untuk membungkus belanjaan pembeli) seolah sudah menjadi teman akrab yang sering kita jumpai di tengah jalan dengan kondisi tikus yang sudah terburai ususnya dan lama kelamaan menjadi pipih karena seringnya dilindas oleh kendaraan bermotor dan akhirnya hilang dengan sendirinya seiring waktu.
Kita sepertinya tidak perduli dengan pemandangan seperti ini. Seringnya pemandangan seperti ini membuat kita terbiasa karena sudah dianggap sebagai budaya kalau boleh dikatakan begitu. Aneh bin ajaib.
Kita mungkin lupa bahwa bangkai tikus di tengah jalan itu akan menyebarkan bibit penyakit ke setiap orang yang melindasnya ataupun pejalan kaki yang lewat disekitarnya. Mengapa begitu ? Ketika roda kendaraan bermotor lewat dan melindas bangkai tikus maka roda tersebut telah dihinggapi ribuan bibit penyakit dan ketika di parkir di halaman rumah maka telah terjadi imigrasi bibit penyakit dari jalanan ke rumah. Kelihatan sepele.
Tetapi yang lebih aneh lagi adalah mengapa kok masyarakat kita berperilaku seperti ini? Saya hanya berfikir bahwa apa karena unsur malas untuk menguburnya, apa karena tidak memiliki lahan berupa halaman di pekarangan rumah atau di belakang rumah untuk mengubur bangkai tikus tersebut, atau karena sudah dihinggapi penyakit ketidak pedulian pada sesama mahluk ciptaan Allah. Lebih parah lagi karena tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sehingga tidak pernah berfikir panjang efek dari membuang bangkai tikus di jalanan.
Penulis mengutip dari sumber kompas yang menyebutkan Ada 16 jenis kuman Leptospira yang bisa menginfeksi manusia. Namun, yang cukup banyak ditemukan di Indonesia sebanyak tujuh jenis. Kuman ini awalnya menginfeksi binatang mamalia, salah satunya tikus. Tikus yang terinfeksi akan mengeluarkan air kencing yang mengandung kuman tersebut. Kuman Leptospira dari tikus kemudian bisa terbawa aliran air sungai, selokan, dan lainnya.
Kuman ini biasa masuk melalui kulit yang luka atau selaput lendir tenggorokan dan mata. Ketika berada dalam tubuh manusia, kuman akan mengebor jaringan tubuh dan menghasilkan enzim tertentu, lalu masuk ke daerah otak, jantung, hati, atau organ tubuh lainnya.
Kerusakan organ inilah yang menyulitkan dan memperparah sakit si pasien. Organ yang rusak harus diperbaiki melalui berbagai terapi. Namun, jika cukup parah, kerusakan organ bisa menyebabkan kematian. Itu sebabnya, penyakit ini harus segera ditangani. Jika pendeteksiannya cepat, sesungguhnya leptospirosis mudah disembuhkan dan antibiotiknya tersedia dengan harga murah. Gejala leptospirosis antara lain demam mendadak, kulit kemerahan, dan pegal otot.
Leptospirosis tidak menular dari manusia ke manusia. Untuk mencegahnya, kita cukup membiasakan hidup bersih, menutup semua makanan dan air minum dengan rapi untuk menghindari dimakan atau dilewati tikus, serta membiasakan memasak makanan dan minuman dengan baik. Kalau sanitasinya bagus, kemunculan penyakit ini bisa dicegah.
Apa itu Leptospirosis? Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman leptospira patogen yang disebabkan bakteri yang mengenai manusia dan binatang. Penjangkitan leptospirosis biasanya disebabkan terkontaminasinya air oleh urine binatang yang terinfeksi. Banyak jenis binatang yang membawa bakteri; mereka mungkin akan sakit tetapi terkadang tidak memiliki gejala sama sekali. Dimana saja ditemukan Organisme Leptospirosis? Organisme leptospira telah ditemukan di dalam lembu, babi, kuda, anjing, binatang pengerat, dan binatang liar. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan air, makanan, atau tanah yang mengandung urine dari binatang yang terinfeksi.
Agama Islam menganjurkan kita untuk membunuh tikus seperti yang diriwayatkan dalam hadis sbb.:
Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Hafshah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Ada lima jenis binatang yang tidak berdosa jika seseorang membunuhnya, yaitu gagak, burung rajawali, tikus, kalajengking, dan anjing gila.’”
Dari Maimunah istri Nabi Muhammad SAW,bahwa ada seekor tikus yang jatuh ke dalam samin (sejenis mentega), lalu mati. Kemudian hal itu ditanyakan kepada Nabi dan beliau menjawab: “Buanglah tikus dan samin yang ada di sekitarnya, dan makanlah (samin yang tersisa)” Riwayat Bukhari.
Islam menganjurkan umatnya menjaga kebersihan. Dalam hadis di atas, menjelaskan bahwa jika tikus jatuh ke dalam samin, maka buanglah tikus dan sekitarnya jika samin itu beku, dan janganlah mendekatinya bila samin itu cair.
Pertanyaannya adalah apakah ummat Islam atau masyarakat lainnya sadar akan hal ini? Penulis menganalisa ini karena sistim hidup masyarakat kita yang sudah sangat dipengaruhi oleh budaya instant sehingga telah membunuh karakter kemanusiaan mereka untuk berfikir lebih jauh efek dari perbuatannya. Sederhana sekali kelihatannya tetapi dalam kacamata penulis ini adalah sebuah penyakit sosial dalam masyarakat kita sebagai akumulasi dari sistem sosial yang sakit sehingga membuang bangkai tikus dalam kresek sama sahnya seperti mereka membuang sampah biasa di jalanan. Kalau sudah begini siapa yang disalahkan?
Padahal pemerintah mencanangkan Indonesia sehat 2010 tetapi perilaku masyarakatnya seperti ini. Apakah ini tidak bertolak belakang? Mungkinkah ini karena kesulitan hidup yang menghimpit sehingga menjadikan mereka berfikir sempit ? Ah…Cuma Tuhan yang tahu…
Tikus dan kresek (bahasa jawa: untuk menyebut kantong plastik tipis yang biasa digunakan penjual di pasar untuk membungkus belanjaan pembeli) seolah sudah menjadi teman akrab yang sering kita jumpai di tengah jalan dengan kondisi tikus yang sudah terburai ususnya dan lama kelamaan menjadi pipih karena seringnya dilindas oleh kendaraan bermotor dan akhirnya hilang dengan sendirinya seiring waktu.
Kita sepertinya tidak perduli dengan pemandangan seperti ini. Seringnya pemandangan seperti ini membuat kita terbiasa karena sudah dianggap sebagai budaya kalau boleh dikatakan begitu. Aneh bin ajaib.
Kita mungkin lupa bahwa bangkai tikus di tengah jalan itu akan menyebarkan bibit penyakit ke setiap orang yang melindasnya ataupun pejalan kaki yang lewat disekitarnya. Mengapa begitu ? Ketika roda kendaraan bermotor lewat dan melindas bangkai tikus maka roda tersebut telah dihinggapi ribuan bibit penyakit dan ketika di parkir di halaman rumah maka telah terjadi imigrasi bibit penyakit dari jalanan ke rumah. Kelihatan sepele.
Tetapi yang lebih aneh lagi adalah mengapa kok masyarakat kita berperilaku seperti ini? Saya hanya berfikir bahwa apa karena unsur malas untuk menguburnya, apa karena tidak memiliki lahan berupa halaman di pekarangan rumah atau di belakang rumah untuk mengubur bangkai tikus tersebut, atau karena sudah dihinggapi penyakit ketidak pedulian pada sesama mahluk ciptaan Allah. Lebih parah lagi karena tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sehingga tidak pernah berfikir panjang efek dari membuang bangkai tikus di jalanan.
Penulis mengutip dari sumber kompas yang menyebutkan Ada 16 jenis kuman Leptospira yang bisa menginfeksi manusia. Namun, yang cukup banyak ditemukan di Indonesia sebanyak tujuh jenis. Kuman ini awalnya menginfeksi binatang mamalia, salah satunya tikus. Tikus yang terinfeksi akan mengeluarkan air kencing yang mengandung kuman tersebut. Kuman Leptospira dari tikus kemudian bisa terbawa aliran air sungai, selokan, dan lainnya.
Kuman ini biasa masuk melalui kulit yang luka atau selaput lendir tenggorokan dan mata. Ketika berada dalam tubuh manusia, kuman akan mengebor jaringan tubuh dan menghasilkan enzim tertentu, lalu masuk ke daerah otak, jantung, hati, atau organ tubuh lainnya.
Kerusakan organ inilah yang menyulitkan dan memperparah sakit si pasien. Organ yang rusak harus diperbaiki melalui berbagai terapi. Namun, jika cukup parah, kerusakan organ bisa menyebabkan kematian. Itu sebabnya, penyakit ini harus segera ditangani. Jika pendeteksiannya cepat, sesungguhnya leptospirosis mudah disembuhkan dan antibiotiknya tersedia dengan harga murah. Gejala leptospirosis antara lain demam mendadak, kulit kemerahan, dan pegal otot.
Leptospirosis tidak menular dari manusia ke manusia. Untuk mencegahnya, kita cukup membiasakan hidup bersih, menutup semua makanan dan air minum dengan rapi untuk menghindari dimakan atau dilewati tikus, serta membiasakan memasak makanan dan minuman dengan baik. Kalau sanitasinya bagus, kemunculan penyakit ini bisa dicegah.
Apa itu Leptospirosis? Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman leptospira patogen yang disebabkan bakteri yang mengenai manusia dan binatang. Penjangkitan leptospirosis biasanya disebabkan terkontaminasinya air oleh urine binatang yang terinfeksi. Banyak jenis binatang yang membawa bakteri; mereka mungkin akan sakit tetapi terkadang tidak memiliki gejala sama sekali. Dimana saja ditemukan Organisme Leptospirosis? Organisme leptospira telah ditemukan di dalam lembu, babi, kuda, anjing, binatang pengerat, dan binatang liar. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan air, makanan, atau tanah yang mengandung urine dari binatang yang terinfeksi.
Agama Islam menganjurkan kita untuk membunuh tikus seperti yang diriwayatkan dalam hadis sbb.:
Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Hafshah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Ada lima jenis binatang yang tidak berdosa jika seseorang membunuhnya, yaitu gagak, burung rajawali, tikus, kalajengking, dan anjing gila.’”
Dari Maimunah istri Nabi Muhammad SAW,bahwa ada seekor tikus yang jatuh ke dalam samin (sejenis mentega), lalu mati. Kemudian hal itu ditanyakan kepada Nabi dan beliau menjawab: “Buanglah tikus dan samin yang ada di sekitarnya, dan makanlah (samin yang tersisa)” Riwayat Bukhari.
Islam menganjurkan umatnya menjaga kebersihan. Dalam hadis di atas, menjelaskan bahwa jika tikus jatuh ke dalam samin, maka buanglah tikus dan sekitarnya jika samin itu beku, dan janganlah mendekatinya bila samin itu cair.
Pertanyaannya adalah apakah ummat Islam atau masyarakat lainnya sadar akan hal ini? Penulis menganalisa ini karena sistim hidup masyarakat kita yang sudah sangat dipengaruhi oleh budaya instant sehingga telah membunuh karakter kemanusiaan mereka untuk berfikir lebih jauh efek dari perbuatannya. Sederhana sekali kelihatannya tetapi dalam kacamata penulis ini adalah sebuah penyakit sosial dalam masyarakat kita sebagai akumulasi dari sistem sosial yang sakit sehingga membuang bangkai tikus dalam kresek sama sahnya seperti mereka membuang sampah biasa di jalanan. Kalau sudah begini siapa yang disalahkan?
Padahal pemerintah mencanangkan Indonesia sehat 2010 tetapi perilaku masyarakatnya seperti ini. Apakah ini tidak bertolak belakang? Mungkinkah ini karena kesulitan hidup yang menghimpit sehingga menjadikan mereka berfikir sempit ? Ah…Cuma Tuhan yang tahu…
Monday, February 16, 2009
FASUM, PEMKOT/PEMKAB dan REI
Seminggu belakangan ini berita di harian pagi di Surabaya diramaikan dengan turunnya tim pemberantas korupsi KPK dalam mengusut fasilitas umum (fasum) dan sosial (fasos) yang seharusnya diberikan pengembang untuk kepentingan publik seperti lahan/ruang terbuka hijau, lahan bermain, tempat pemakaman dan lain sebagainya. Menurut berita juga semenjak pejabat baru yang tentunya didukung walikota menginventarisir asset-aset pemkot. Dalam prosesnya itulah baru diketahui bahwa banyak asset-aset pemkot yang beralih tangan ke fihak lain dan sudah pasti beralih fungsi yang seharusnya untuk kepentingan publik malah menjadi tidak jelas.
Saya tidak tahu persis berapa prosentase lahan yang harus diberikan atau diserahkan oleh pengembang dari total luas lahan sebagai fasilitas umum (fasum) dalam proses serah terima dari pengembang ke pemkot atau pemkab. Yang pasti sangat sedikit sekali pengembang yang terbuka dalam hal ini dan menyerahkan prosentase yang seharusnya pada pemkot atau pemkab. Anehnya fihak pemkot atau pemkab ‘malas’ turun ke lapangan untuk melakukan cross check luas lahan yang dikuasai pengembang sehingga bisa menghitung berapa lahan untuk fasum dan fasos yang seharusnya diserahkan. Tanpa berniat menuduh fihak-fihak tertentu saya menduga bahwa paradigma lama masih tetap bermain dalam proses serah terima ini. Fihak pemkot atau pemkab seharusnya sudah tahu berapa luas lahan yang dikuasai fihak pengembang karena dalam proses perizinan jelas tertera berapa lahan yang dikuasai. Akibat dari tidak bekerjanya dan jujurnya ke dua fihak ini tentulah konsumen selalu menjadi korban. Korban kerakusan dan keserakahan dari dua fihak yang seharusnya itu menjadi hak penghuni atau publik.
Dalam ulang tahunnya yang ke 37 pada tahun ini REI (Real Estat Imdonesia) seharusnya bisa bersikap sebagai pengawas di era keterbukaan ini untuk memberikan tindakan berupa sanksi keras kepada fihak pengembang ‘nakal’ yang tidak memenuhi ketentuan yang berlaku ini. Kalau tidak begitu REI akan sama dengan sekumpulan penjahat pengembang yang tidak dapat memenuhi hak-hak publik atau user sebagai konsumen mereka. Fihak pemkot pun seharusnya juga tidak tinggal diam seperti yang dilakukan oleh Bu Risma (Bapeko Surabaya; Kalau Bu Risma ini dalam kaca mata saya memang cocok memegang amanah pejabat publik karena ketika beliau menjabat di dinas pertamananlah Surabaya menjadi hijau dan banyak ruang publik yang hijau berfungsi dengan benar) dengan melakukan penelusuran inventarisasi asset-aset pengembang yang sudah diserahkan ke pemkot.
Polemikpun terbuka sementara fihak KPK bekerja, ada fraksi partai yang berpendapat sebaiknya fasum atau fasos diserahkan dimuka ketika pengembang sudah mengantongi izin untuk mengerjakan lahan yang dikuasainya. Bagi saya apapun itu kalau memang itu hak-hak publik atau konsumen sebaiknya pengembang memberikan hak itu kepada konsumen atau user. Sisi lain fihak pemkot atau pemkab juga seharusnya menelusuri dan melakukan pengecekan di lapangan berapa luas lahan yang seharusnya menjadi hak publik karena para pegawai pemerintahan itu dibayar oleh rakyat sehingga akan terjadi keseimbangan dalam atmoster kehidupan ini.
Di perumahan tempat saya tinggalpun terlihat sekali ketidak seimbangan itu. Hak-hak yang seharusnya dipenuhi fihak pengembang tidak dipenuhi bila tidak di ‘demo’ dulu. Itu istilah teman-teman saya yang gregetan dengan fihak pengembang. Papan promo yang besar mengiklankan fasilitas publik pun hanya sebagai promo belaka tanpa diikuti dengan realitas sesungguhnya. Fihak pengurus di perumahan terkadang mengelus dada. Komuikasi antara fihak pengembang (PT. Abdi Bangun Pertiwi) dengan pengurus di perumahan di daerah Menganti Gresik sebelah Barat Surabaya ini dengan proyeknya PERUMAHAN MENGANTI PALEM PERTIWI selalu berakhir dengan kebuntuan. Pengurus selalu mengistilahkan dengan ‘manajemen akan’ pada fihak pengembang, karena sudah bertahun-tahun janji yang ditancapkan melalui papan promosi belum (atau tidak) menjadi kenyataan. Belakangan manajemen akan telah berubah nama menjadi manajemen SEGERA tetapi tetap saja tinggal papan promo. Saya hanya berfikir apa karena pada awalnya perumahan ini diperuntukkan bagi kaum menengah ke bawah yang belakangan berkembang membidik kaum menengah ke atas dengan promosinya REGENCY yang merubah image sebelumnya dari kata-kata RS (rumah sederhana) ? Sehingga daya tawar warga dianggap sebelah mata? Ah…kalau itu sih cuma Tuhan yang tahu, karena itu saya ibaratkan dengan seorang MUSLIM yang selalu tunggat tunggit sholat tapi perilakunya belum tentu mencerminkan Islam yang sesungguhnya.
Sebagai contoh pada saat pemilihan ketua RW saja warga harus meminjam rumah salah seorang warga yang akan dijual karena alasan yang saya tidak tahu. Warga ketika itu minta izin dengan sedikit membujuk 'biar orang satu RW tahu bahwa rumah bapak di jual karena fihak pengembang tidak memberikan izin untuk pinjam tempat pemilihan ketua RW dan Takmir di kantor pemasaran'. Saya tertawa sendiri melihat kreatifitas warga mengompori bapak yang mau menjual rumahnya tersebut. Tidak hanya sampai disitu warga dengan sedikit emosional juga membuat tulisan yang bernuansa ketidak puasan yang tentunya ditujukan pada fihak pengembang. Saya hanya berfikir bahwa itu adalah bagian dari DEMOKRASI dan harus DIHORMATI. Bila fihak pengembang responsif mestinya berdialog dengan warga dengan mengambil inisiatif pertemuan bukan malah warga saja yang selalu berinisiatif mengajak dialog.
Dunia sudah berubah dan paradigma bisnis juga berubah karena di dunia ini yang tidak pernah berhenti adalah PERUBAHAN itu sendiri. Inilah foto-foto ketika warga PERUMAHAN MENGANTI PALEM PERTIWI melaksanakan pesta demokrasi untuk pemilihan RW dan Takmir periode 2009-2012, kebetulan saja saya ditunjuk jadi tim formatur
Wajah-wajah melas, dari kiri ke kanan : Pak Joni (ketua RW demisioner), Pak Harijono (kandidat ketua RW), warga dan Lurah Pelemwatu Pak Fauzi.
Ki-ka: Pak Zaini dan Pak Mustaji anggota KPU Palem Pertiwi sebagai tim pengarah warga ke bilik coblos
Para ketua RT di lingkungan RW 006 yang ikut dilibatkan karena merekalah yang tahu WAJAH warganya. Dari ki-ka: Pak Hutajulu ketua RT 11, Pak Irham ketua RT 14, Pak Syamsuddin mewakili RT 12 dan Pak Solichin mewakili RT 15, RT 16 dan 17 tidak tampak
Anggota tim KPU Palem Pertiwi yang punya terget 5 tahun ke depan jadi anggota KPU Jawa Timur. Dari ki-ka: Pak Suliyanto (ketua), Pak Gumay (wakil ketua) dan Pak Choiri (anggota). Lihat Background tulisan RUMAH DIJUAL
Wajah-wajah harap-harap cemas dari ki-ka: Pak Arifin dan putrinya (kandidat ketua Ta'mir), Pak Dullah (yang rokokan anggota KORAMIL Menganti), Pak Saymsul (Babinsa) dan Pak Joni (ketua RW demisioner).
Ekspresi kekecewaan warga Palem Pertiwi lewat bentuk tulisan seperti ini. Ah...manusiawi sekali dan wajar-wajar saja
Gaya yang punya hajat 'sak' Perumahan Palem Pertiwi (yang pake baju batik) Pak Choiri dan Pak Supriyanto
Antusiasme warga menyaksikan pemilu di kampungnya, pemilihan gubernur dan presiden saja tidak seperti ini...
Penghitungan suara oleh anggota KPU Palem Pertiwi. Lihat Pak Suliyanto berteriak keras " NOMOR LIMA.. SAH !!! NOMOR SATU...SAH !!"
Papan score kandidat Ketua Ta'mir setelah hasil penghitungan suara
Ketua Ta'mir terpilih Pak Yasin (berbaju hijau tua) dengan ekspresinya. Ketua RW terpilih kebetulan waktu itu tidak ada ditempat ...sedang ke luar kota katanya...
Pak Lurah dan Pak Joni (ketua RW demisioner)terlibat diskusi serius membicarakan tentang gaji ketua RW ke depan yang rencananya Rp. 10 Juta per bulan. Iya Pak Lurah gitu dong...jangan kalau mau pemilihan LURAH, BUPATI, GUBERNUR, DPR/DPRD dan PRESIDEN saja ketua RW didekati untuk menggiring suara ke arah calon tertentu atau parpol tertentu, ya...nggak...??
Saya tidak tahu persis berapa prosentase lahan yang harus diberikan atau diserahkan oleh pengembang dari total luas lahan sebagai fasilitas umum (fasum) dalam proses serah terima dari pengembang ke pemkot atau pemkab. Yang pasti sangat sedikit sekali pengembang yang terbuka dalam hal ini dan menyerahkan prosentase yang seharusnya pada pemkot atau pemkab. Anehnya fihak pemkot atau pemkab ‘malas’ turun ke lapangan untuk melakukan cross check luas lahan yang dikuasai pengembang sehingga bisa menghitung berapa lahan untuk fasum dan fasos yang seharusnya diserahkan. Tanpa berniat menuduh fihak-fihak tertentu saya menduga bahwa paradigma lama masih tetap bermain dalam proses serah terima ini. Fihak pemkot atau pemkab seharusnya sudah tahu berapa luas lahan yang dikuasai fihak pengembang karena dalam proses perizinan jelas tertera berapa lahan yang dikuasai. Akibat dari tidak bekerjanya dan jujurnya ke dua fihak ini tentulah konsumen selalu menjadi korban. Korban kerakusan dan keserakahan dari dua fihak yang seharusnya itu menjadi hak penghuni atau publik.
Dalam ulang tahunnya yang ke 37 pada tahun ini REI (Real Estat Imdonesia) seharusnya bisa bersikap sebagai pengawas di era keterbukaan ini untuk memberikan tindakan berupa sanksi keras kepada fihak pengembang ‘nakal’ yang tidak memenuhi ketentuan yang berlaku ini. Kalau tidak begitu REI akan sama dengan sekumpulan penjahat pengembang yang tidak dapat memenuhi hak-hak publik atau user sebagai konsumen mereka. Fihak pemkot pun seharusnya juga tidak tinggal diam seperti yang dilakukan oleh Bu Risma (Bapeko Surabaya; Kalau Bu Risma ini dalam kaca mata saya memang cocok memegang amanah pejabat publik karena ketika beliau menjabat di dinas pertamananlah Surabaya menjadi hijau dan banyak ruang publik yang hijau berfungsi dengan benar) dengan melakukan penelusuran inventarisasi asset-aset pengembang yang sudah diserahkan ke pemkot.
Polemikpun terbuka sementara fihak KPK bekerja, ada fraksi partai yang berpendapat sebaiknya fasum atau fasos diserahkan dimuka ketika pengembang sudah mengantongi izin untuk mengerjakan lahan yang dikuasainya. Bagi saya apapun itu kalau memang itu hak-hak publik atau konsumen sebaiknya pengembang memberikan hak itu kepada konsumen atau user. Sisi lain fihak pemkot atau pemkab juga seharusnya menelusuri dan melakukan pengecekan di lapangan berapa luas lahan yang seharusnya menjadi hak publik karena para pegawai pemerintahan itu dibayar oleh rakyat sehingga akan terjadi keseimbangan dalam atmoster kehidupan ini.
Di perumahan tempat saya tinggalpun terlihat sekali ketidak seimbangan itu. Hak-hak yang seharusnya dipenuhi fihak pengembang tidak dipenuhi bila tidak di ‘demo’ dulu. Itu istilah teman-teman saya yang gregetan dengan fihak pengembang. Papan promo yang besar mengiklankan fasilitas publik pun hanya sebagai promo belaka tanpa diikuti dengan realitas sesungguhnya. Fihak pengurus di perumahan terkadang mengelus dada. Komuikasi antara fihak pengembang (PT. Abdi Bangun Pertiwi) dengan pengurus di perumahan di daerah Menganti Gresik sebelah Barat Surabaya ini dengan proyeknya PERUMAHAN MENGANTI PALEM PERTIWI selalu berakhir dengan kebuntuan. Pengurus selalu mengistilahkan dengan ‘manajemen akan’ pada fihak pengembang, karena sudah bertahun-tahun janji yang ditancapkan melalui papan promosi belum (atau tidak) menjadi kenyataan. Belakangan manajemen akan telah berubah nama menjadi manajemen SEGERA tetapi tetap saja tinggal papan promo. Saya hanya berfikir apa karena pada awalnya perumahan ini diperuntukkan bagi kaum menengah ke bawah yang belakangan berkembang membidik kaum menengah ke atas dengan promosinya REGENCY yang merubah image sebelumnya dari kata-kata RS (rumah sederhana) ? Sehingga daya tawar warga dianggap sebelah mata? Ah…kalau itu sih cuma Tuhan yang tahu, karena itu saya ibaratkan dengan seorang MUSLIM yang selalu tunggat tunggit sholat tapi perilakunya belum tentu mencerminkan Islam yang sesungguhnya.
Sebagai contoh pada saat pemilihan ketua RW saja warga harus meminjam rumah salah seorang warga yang akan dijual karena alasan yang saya tidak tahu. Warga ketika itu minta izin dengan sedikit membujuk 'biar orang satu RW tahu bahwa rumah bapak di jual karena fihak pengembang tidak memberikan izin untuk pinjam tempat pemilihan ketua RW dan Takmir di kantor pemasaran'. Saya tertawa sendiri melihat kreatifitas warga mengompori bapak yang mau menjual rumahnya tersebut. Tidak hanya sampai disitu warga dengan sedikit emosional juga membuat tulisan yang bernuansa ketidak puasan yang tentunya ditujukan pada fihak pengembang. Saya hanya berfikir bahwa itu adalah bagian dari DEMOKRASI dan harus DIHORMATI. Bila fihak pengembang responsif mestinya berdialog dengan warga dengan mengambil inisiatif pertemuan bukan malah warga saja yang selalu berinisiatif mengajak dialog.
Dunia sudah berubah dan paradigma bisnis juga berubah karena di dunia ini yang tidak pernah berhenti adalah PERUBAHAN itu sendiri. Inilah foto-foto ketika warga PERUMAHAN MENGANTI PALEM PERTIWI melaksanakan pesta demokrasi untuk pemilihan RW dan Takmir periode 2009-2012, kebetulan saja saya ditunjuk jadi tim formatur
Wajah-wajah melas, dari kiri ke kanan : Pak Joni (ketua RW demisioner), Pak Harijono (kandidat ketua RW), warga dan Lurah Pelemwatu Pak Fauzi.
Ki-ka: Pak Zaini dan Pak Mustaji anggota KPU Palem Pertiwi sebagai tim pengarah warga ke bilik coblos
Para ketua RT di lingkungan RW 006 yang ikut dilibatkan karena merekalah yang tahu WAJAH warganya. Dari ki-ka: Pak Hutajulu ketua RT 11, Pak Irham ketua RT 14, Pak Syamsuddin mewakili RT 12 dan Pak Solichin mewakili RT 15, RT 16 dan 17 tidak tampak
Anggota tim KPU Palem Pertiwi yang punya terget 5 tahun ke depan jadi anggota KPU Jawa Timur. Dari ki-ka: Pak Suliyanto (ketua), Pak Gumay (wakil ketua) dan Pak Choiri (anggota). Lihat Background tulisan RUMAH DIJUAL
Wajah-wajah harap-harap cemas dari ki-ka: Pak Arifin dan putrinya (kandidat ketua Ta'mir), Pak Dullah (yang rokokan anggota KORAMIL Menganti), Pak Saymsul (Babinsa) dan Pak Joni (ketua RW demisioner).
Ekspresi kekecewaan warga Palem Pertiwi lewat bentuk tulisan seperti ini. Ah...manusiawi sekali dan wajar-wajar saja
Gaya yang punya hajat 'sak' Perumahan Palem Pertiwi (yang pake baju batik) Pak Choiri dan Pak Supriyanto
Antusiasme warga menyaksikan pemilu di kampungnya, pemilihan gubernur dan presiden saja tidak seperti ini...
Penghitungan suara oleh anggota KPU Palem Pertiwi. Lihat Pak Suliyanto berteriak keras " NOMOR LIMA.. SAH !!! NOMOR SATU...SAH !!"
Papan score kandidat Ketua Ta'mir setelah hasil penghitungan suara
Ketua Ta'mir terpilih Pak Yasin (berbaju hijau tua) dengan ekspresinya. Ketua RW terpilih kebetulan waktu itu tidak ada ditempat ...sedang ke luar kota katanya...
Pak Lurah dan Pak Joni (ketua RW demisioner)terlibat diskusi serius membicarakan tentang gaji ketua RW ke depan yang rencananya Rp. 10 Juta per bulan. Iya Pak Lurah gitu dong...jangan kalau mau pemilihan LURAH, BUPATI, GUBERNUR, DPR/DPRD dan PRESIDEN saja ketua RW didekati untuk menggiring suara ke arah calon tertentu atau parpol tertentu, ya...nggak...??
Wednesday, February 11, 2009
OUT BOUND Dewe
Senin pagi 9 Februari 2009, saya mengantarkan anak saya ke sekolah seperti biasanya tetapi pada Senin kali ini kegiatan anak saya sudah dijadualkan untuk out bound ke luar kota. Sehari sebelumnya saya dan istri sudah mempersiapkan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan oleh anak saya sesuai edaran disekolahnya.
Pagi itu cuaca sangat kurang bersahabat, awan tebal hitam menggelantung dan semakin pekat. Sesuai jadual anak saya seharusnya berangkat pukul 6.30 pagi. Tetapi seperti yang sudah saya duga bahwa hujan deras terus mengguyur mulai malam hari terkadang berhenti terkadang hujan lagi disertai dengan angin kencang yang menerpa. Saya merasa was-was dan kurang tenang untuk melepas kepergian anak saya. Apalagi setibanya di sekolah baru anak saya dan satu temannya yang sudah tiba sedang lainnya belum kelihatan. Saya berfikir ini karena cuaca hari itu yang kurang bersahabat. Saya juga berfikir bahwa anak saya yang masih kelas satu SD ini tentulah masih banyak memerlukan bantuan dalam out boundnya nanti. Apalagi kondisi cuaca seperti ini tentu akan membuat kondisi mereka cepat lapar karena menahan dinginnya udara.
Hujan yang terus mengguyur membuat saya tidak tenang dan saya lantas mengontak gurunya yang menurut istri saya belum juga tiba di sekolah. Saya sms dengan harapan bahwa kekhawatiran saya untuk melepas anak dapat dimengerti mengingat memang musim seperti ini ditambah lagi dengan berita di televisi dimana-mana banjir membuat saya semakin was-was. Saya mengingatkan melalui sms bahwa lain kali sekolah kalau mengagendakan out bound harus mempertimbangkan faktor musim demi keselamatan siswa dan guru. Sms saya direspon dengan jawaban akan disampaikan kepada kepala sekolah.
Akhirnya saya memutuskan tidak membolehkan anak saya berangkat out bound ke daerah Nongko Jajar di Pasuruan. Apalagi ketika saya menelepon saudara yang ada di Malang juga mengabarkan bahwa cuaca di sana kurang bersahabat dan terpaan angina begitu kerasnya. Dia juga menyarankan dalam bahasa Jawa “ojok mas nek iso…angine banter banget..opo mane neng Nongko Jajar seng medane koyok ngono”. Atas pertimbangan itu saya menyuruh istri saya untuk bernegosiasi ke guru kelas anak saya untuk tidak ikut acara hari itu. Saya juga sebelumnya menelepon guru kelas anak saya tetapi tidak diangkat. Kepada istri saya, saya menganjurkan bahwa tidak ikutnya anak kita jangan jadi pemicu acara yang sudah menjadi agenda sekolah. Walaupun dalam hati saya agak kurang setuju sebab saya sudah sms lagi sebelumnya ke guru kelas bahwa agendakan bisa diagendakan kembali tinggal bagaimana bernegosiasi dengan fihak-fihak terkait yang sudah menjadi rekanan sekolah untuk agenda out bound. Sms saya tidak mendapat respon karena mungkin sang guru enggan beradu argumen dengan saya. Saya sendiri berusaha logis. Dalam benak saya iya kalau itu anak kelas 5 atau kelas 6 yang sudah sangat mandiri. Sebuah kekhawatiran orang tua yang sangat manusiawi.
Akhirnya anak saya, saya ajak pulang dan dalam perjalanan istri saya menyampaikan bahwa sang guru kelas memperbolehkan tetapi dengan catatan bahwa anak dapat bercerita untuk kegiatan LKRS nya adalah out bound itu. Saya sendiri tidak tahu apa itu LKRS. Dari istri saya juga saya tahu bahwa out bound ke Nongko Jajar itu adalah kegiatan berkebun. Saya lantas meng-sms guru kelas anak saya “maaf bu, bukan saya tidak mendukung program sekolah tetapi atas pertimbangan lain saya tidak mengizinkan anak saya dan untuk kegiatan LKRS nya saya akan menyediakan waktu untuk menemani anak saya ke kebun di dekat rumah saja, terima kasih”.
Pulang dari sekolah maka saya mengajak anak saya untuk ke kebun yang tidak jauh dari rumah. Melewati jalan yang licin dan sedikit berlumpur anak saya Fira sangat menikmatinya. Saya membiarkan anak saya bergelayutan dengan memegang ujung baju saya di belakang. Dengan tertawa-tawa dia sangat riang. Sebelumnya memang saya memberikan pengertian kepadanya bahwa ayah “bukannya tidak mengizinkan kamu mengikuti out bound…tetapi karena faktor cuaca dan demi keselamatan maka ayah mengajak kamu out bound yang bisa ayah awasi sendiri”. Saya kan sangat mahfum dengan faktor security yang ada di Indonesia ini jadi saya bukannya tidak percaya dengan fihak sekolah tetapi masih menyangsikannya.
Sampai di kebun Fira saya ajak untuk menanam bibit nangka yang saya bawa dari rumah sebanyak tiga batang. Saya tidak menduga bahwa Fira sangat menyukainya. Saya biarkan dia bermain tanah yang hampir menjadi bubur lumpur karena memang kondisinya habis hujan deras. Fira berlari kesana kemari di atas tanah kebun yang licin…sudah pasti bajunya kotor semua. Saya hanya memandanginya saja dan sesekali dia berjalan diantara guludan tanah yang dipenuhi air sambil tertawa …kelihatan sekali dia menikmatinya.
Hampir tiga jam saya membiarkan dia bermain-main sendiri. Sesekali saya menjelaskan bahwa kangkung dan sawi yang tumbuh di kebun itu ditanam melalui biji. Saya juga melarangnya untuk menginjak-injak tanaman sawi yang sudah tumbuh. Dia juga bertanya kenapa pohon jati yang masih berdiameter 15 centi kok roboh karena diterjang angin. Saya menjelaskan bahwa itu karena begitu kuatnya energi yang dilepaskan oleh alam mini melalui angin. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa ayah tidak memperbolehkan kamu mengikuti out bound hari ini, kata saya. Fira sepertinya bisa menangkap apa yang saya maksudkan. Hari itu banyak yang dia tanyakan kepada saya dan saya berusaha menjawabnya dengan pemahaman seusia Fira.
Saya juga membawa kamera untuk mengabadikan peristiwa hari itu untuk dokumentasi saya sewaktu waktu mungkin bisa saya tunjukkan kepada guru kelasnya bahwa saya komitmen dengan ucapan saya “akan menyediakan waktu menemani anak saya berkebun sebagai pengganti kegiatan out bound yang tidak diikutinya hari itu”. Pulang dari kebun Fira minta gendong dan saya menurutinya karena memang jalanan becek dan berlumpur serta licin. Sampai di rumah saya memandikannya dan menyikat seluruh badannya yang memang sangat kotor sekali. Sehabis mandi Fira anak saya ini terus makan dengan lahapnya. Saya hanya tersenyum bila mengingat ingat betapa gembiranya dia di kebun hari itu. Inilah foto Fira ketika out bound dewe di kebun di daerah Desa Gading Watu Menganti Gresik.







Pagi itu cuaca sangat kurang bersahabat, awan tebal hitam menggelantung dan semakin pekat. Sesuai jadual anak saya seharusnya berangkat pukul 6.30 pagi. Tetapi seperti yang sudah saya duga bahwa hujan deras terus mengguyur mulai malam hari terkadang berhenti terkadang hujan lagi disertai dengan angin kencang yang menerpa. Saya merasa was-was dan kurang tenang untuk melepas kepergian anak saya. Apalagi setibanya di sekolah baru anak saya dan satu temannya yang sudah tiba sedang lainnya belum kelihatan. Saya berfikir ini karena cuaca hari itu yang kurang bersahabat. Saya juga berfikir bahwa anak saya yang masih kelas satu SD ini tentulah masih banyak memerlukan bantuan dalam out boundnya nanti. Apalagi kondisi cuaca seperti ini tentu akan membuat kondisi mereka cepat lapar karena menahan dinginnya udara.
Hujan yang terus mengguyur membuat saya tidak tenang dan saya lantas mengontak gurunya yang menurut istri saya belum juga tiba di sekolah. Saya sms dengan harapan bahwa kekhawatiran saya untuk melepas anak dapat dimengerti mengingat memang musim seperti ini ditambah lagi dengan berita di televisi dimana-mana banjir membuat saya semakin was-was. Saya mengingatkan melalui sms bahwa lain kali sekolah kalau mengagendakan out bound harus mempertimbangkan faktor musim demi keselamatan siswa dan guru. Sms saya direspon dengan jawaban akan disampaikan kepada kepala sekolah.
Akhirnya saya memutuskan tidak membolehkan anak saya berangkat out bound ke daerah Nongko Jajar di Pasuruan. Apalagi ketika saya menelepon saudara yang ada di Malang juga mengabarkan bahwa cuaca di sana kurang bersahabat dan terpaan angina begitu kerasnya. Dia juga menyarankan dalam bahasa Jawa “ojok mas nek iso…angine banter banget..opo mane neng Nongko Jajar seng medane koyok ngono”. Atas pertimbangan itu saya menyuruh istri saya untuk bernegosiasi ke guru kelas anak saya untuk tidak ikut acara hari itu. Saya juga sebelumnya menelepon guru kelas anak saya tetapi tidak diangkat. Kepada istri saya, saya menganjurkan bahwa tidak ikutnya anak kita jangan jadi pemicu acara yang sudah menjadi agenda sekolah. Walaupun dalam hati saya agak kurang setuju sebab saya sudah sms lagi sebelumnya ke guru kelas bahwa agendakan bisa diagendakan kembali tinggal bagaimana bernegosiasi dengan fihak-fihak terkait yang sudah menjadi rekanan sekolah untuk agenda out bound. Sms saya tidak mendapat respon karena mungkin sang guru enggan beradu argumen dengan saya. Saya sendiri berusaha logis. Dalam benak saya iya kalau itu anak kelas 5 atau kelas 6 yang sudah sangat mandiri. Sebuah kekhawatiran orang tua yang sangat manusiawi.
Akhirnya anak saya, saya ajak pulang dan dalam perjalanan istri saya menyampaikan bahwa sang guru kelas memperbolehkan tetapi dengan catatan bahwa anak dapat bercerita untuk kegiatan LKRS nya adalah out bound itu. Saya sendiri tidak tahu apa itu LKRS. Dari istri saya juga saya tahu bahwa out bound ke Nongko Jajar itu adalah kegiatan berkebun. Saya lantas meng-sms guru kelas anak saya “maaf bu, bukan saya tidak mendukung program sekolah tetapi atas pertimbangan lain saya tidak mengizinkan anak saya dan untuk kegiatan LKRS nya saya akan menyediakan waktu untuk menemani anak saya ke kebun di dekat rumah saja, terima kasih”.
Pulang dari sekolah maka saya mengajak anak saya untuk ke kebun yang tidak jauh dari rumah. Melewati jalan yang licin dan sedikit berlumpur anak saya Fira sangat menikmatinya. Saya membiarkan anak saya bergelayutan dengan memegang ujung baju saya di belakang. Dengan tertawa-tawa dia sangat riang. Sebelumnya memang saya memberikan pengertian kepadanya bahwa ayah “bukannya tidak mengizinkan kamu mengikuti out bound…tetapi karena faktor cuaca dan demi keselamatan maka ayah mengajak kamu out bound yang bisa ayah awasi sendiri”. Saya kan sangat mahfum dengan faktor security yang ada di Indonesia ini jadi saya bukannya tidak percaya dengan fihak sekolah tetapi masih menyangsikannya.
Sampai di kebun Fira saya ajak untuk menanam bibit nangka yang saya bawa dari rumah sebanyak tiga batang. Saya tidak menduga bahwa Fira sangat menyukainya. Saya biarkan dia bermain tanah yang hampir menjadi bubur lumpur karena memang kondisinya habis hujan deras. Fira berlari kesana kemari di atas tanah kebun yang licin…sudah pasti bajunya kotor semua. Saya hanya memandanginya saja dan sesekali dia berjalan diantara guludan tanah yang dipenuhi air sambil tertawa …kelihatan sekali dia menikmatinya.
Hampir tiga jam saya membiarkan dia bermain-main sendiri. Sesekali saya menjelaskan bahwa kangkung dan sawi yang tumbuh di kebun itu ditanam melalui biji. Saya juga melarangnya untuk menginjak-injak tanaman sawi yang sudah tumbuh. Dia juga bertanya kenapa pohon jati yang masih berdiameter 15 centi kok roboh karena diterjang angin. Saya menjelaskan bahwa itu karena begitu kuatnya energi yang dilepaskan oleh alam mini melalui angin. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa ayah tidak memperbolehkan kamu mengikuti out bound hari ini, kata saya. Fira sepertinya bisa menangkap apa yang saya maksudkan. Hari itu banyak yang dia tanyakan kepada saya dan saya berusaha menjawabnya dengan pemahaman seusia Fira.
Saya juga membawa kamera untuk mengabadikan peristiwa hari itu untuk dokumentasi saya sewaktu waktu mungkin bisa saya tunjukkan kepada guru kelasnya bahwa saya komitmen dengan ucapan saya “akan menyediakan waktu menemani anak saya berkebun sebagai pengganti kegiatan out bound yang tidak diikutinya hari itu”. Pulang dari kebun Fira minta gendong dan saya menurutinya karena memang jalanan becek dan berlumpur serta licin. Sampai di rumah saya memandikannya dan menyikat seluruh badannya yang memang sangat kotor sekali. Sehabis mandi Fira anak saya ini terus makan dengan lahapnya. Saya hanya tersenyum bila mengingat ingat betapa gembiranya dia di kebun hari itu. Inilah foto Fira ketika out bound dewe di kebun di daerah Desa Gading Watu Menganti Gresik.
Monday, January 26, 2009
Seminar Ekonomi Syariah, syariah kah ?
Pada tanggal 26 Januari 2009 bertepatan dengan tahun baru imlek saya mengikuti seminar ekonomi syariah di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya. Ketika saya datang jam 7.30 pagi belum kelihatan tanda-tanda panitia bersiap-siap untuk mempersiapkan acara hari itu. Saya masuk pukul 7.45 dan nomor satu dibagian registrasi karena memang baru saya peserta yang hadir waktu itu.
Saya mengamati kerja panitia hari itu dan ketika barisan sebelah kiri banyak dipenuhi oleh kelompok perempuan maka saya memutuskan pindah ke bagian sebelah kanan dengan harapan saya tidak ingin bercampur baur dengan tempat duduk kaum perempuan/hawa. Benar saja peserta yang datang berikutnya adalah para lelaki yang langsung mengambil posisi duduk di sebelah kanan dimana tempat saya duduk.
Selang beberapa menit kemudian datanglah salah seorang dosen teknik kelautan dari ITS yang langsung duduk disamping saya dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu (makanya saya tau beliau dosen teknik kelautan). Tak berapa lama kemudian selang beberapa menit datanglah para perempuan yang duduk dideretan bangku yang kami duduki. Bapak dosen tadi mulai uring-uringan "katanya belajar syariah tetapi kok tidak syariah sama sekali", celetuknya. Saya memahami dan tanggap dan menimpali dengan cerita bagaimana dan dimana tadi nya saya duduk dan terus pindah hanya karena menilai bahwa deretan sebelah kiri akan diisi oleh kelompok perempuan, ternyata dugaan saya meleset dan bahkan ada beberapa perempuan duduk dideretan bangku kami.
"Sebentar mas, biar saya sms dulu panitianya," ucap beliau sambil asyik memainkan keypad dari hape nya.
Saya menimpali "Biar saya saja bicara ke panitia pak".
"Gak usah dulu..mas kita tunggu dulu responnya bagaimana".
Ternyata tunggu punya tunggu panitia tidak merespon sama sekali. Saya langsung refleks dan bergerak keluar dari deretan kursi dan menemui panitia adik-adik mahasiswa dan saya kemukakan tentang hal yang menjadi permasalahan. Panitia tidak bisa memutuskan dan saya memberikan solusi bahwa "acara kan belum dimulai dan masih punya waktu untuk memberikan pengumuman kepada para peserta untuk pindah tempat duduk agar sektor sebelah kiri yang memang banyak dipadati perempuan untuk para perempuan dan sektor kanan untuk para laki-laki".
"wes kadung pak," kata panitia.
Akhirnya teman duduk disebelah saya angkat kaki dan keluar meninggalkan ruangan dan tidak mengikuti seminar hari itu. Sebelum beranjak meninggalkan tempat duduknya beliau bilang kepada saya "saya ini mas ketua majelis tafsir Qur'an untuk wilayah Sukolilo (nama daerah di seputaran kampus ITS) dan kalau saya mengadakan acara dan saya yang menyampaikan kata sambutan mesti hal yang seperti ini saya ingatkan dan saya meminta peserta untuk duduk terpisah antara laki-laki dan perempuan,". Saya termangu dan mengiyakan. Saya jadi teringat ketika saya diundang oleh sekolahan anak saya untuk seminar tempat duduk perempuan dan laki-laki memang dipisahkan. Karena memang label sekolahan tersebut jelas Islam, Muhammadiyah.
Saya masih mendengarkan rentetan kekecewaan dari bapak dosen tersebut dan menimpali seandainya tempat duduk perempuan sudah penuh sebaiknya perempuan boleh duduk di bagian belakang laki-laki yang bangkunya masih kosong.
Tak berapa lama setelah meninggalkan ruangan seminar, saya menerima sms yang berbunyi "mas kalau butuh ustad di tempat anda hubungi saya dan saya akan kirim ustad ..gratis". Memang sebelumnya saya juga sempat cerita bahwa saya pernah menjadi pengurus masjid di tempat tinggal saya dan sering mengundang pembicara untuk memberikan pencerahan kepada para jamaah.
Obrolan kami sebelum pak dosen tadi meninggalkan ruanganpun tentunya seputar agama. Dia juga sempat bertanya dari mana tahu majelis tafsir Qur'an ? Saya menjawab dari buletin Jum'at yang biasanya ada di masjid-masjid....saya juga bilang menghargai perjuangan mereka dengan selalu mengirimkan ustad gratis seperti promosinya dalam buletin Jum'at.
Saya membalas sms bapak tersebut dan mengucapkan terima kasih sambil saya berjanji akan menyampaikan hal itu pada forum atau panitia. Kebetulan saya kenal dengan Wakil Dekan 1 yang kebetulan juga hadir dan saya sms rupanya setali tiga uang jawabannya "wes kadung" (sudah terlanjur). Untuk kali ini saya hanya bisa mesem dan hal tersebut saya sampaikan pada bapak dosen yang kecewa tadi melalui sms. Beliau membalas sms saya dengan "semestinya tidak kadung wong tadi belum mulai kok".
Seminar hari itu menarik bagi saya dan terasa gayeng walau saya bisa menarik kesimpulan bahwa ummat Islam di Indonesia masih belum syariah minded tetapi paling tidak sosialisasi tentang ekonomi syariah telah menabuh gongnya dan mendengungkan ke telinga para peserta yang hampir 150 orang, itu sudah bagus. Tinggal bagaimana diri kita sendiri mensupport atau memberikan dukungan bagi tegaknya enokomi syariah yang sudah mulai di akui dunia karena ketangguhannya dalam menghadapi krisis finansial global.
Sedihnya ..dalam paparan seminar menurut data statistik 97% rakyat di Jawa Timur yang beragama Islam hanya 10% saja yang mengetahui tentang produk perbankan syariah. Tugas berat memang bagi teman-teman yang tergabung dalam masyarakat ekonomi syariah.
Memang bila orang ingin mencapai kesempurnaan dalam hidup dunia dan akhirat sudah selayaknyalah dalam segala sendi kehidupan, Qur'an dan hadits selalu menjadi rujukan disetiap langkah seperti apa yang termaktub dalam Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi
"Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu".
Sabarlah pak dosen kita masih dalam tahap pembelajaran dan saya selalu mendo'akan bapak semoga bapak diberi kekuatan untuk menyebarkan ajaran ini dengan teguh dan diberikan kekuatan dalam segala cobaan dalam menegakkan ajaran Islam secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati hambanya.
Saya mengamati kerja panitia hari itu dan ketika barisan sebelah kiri banyak dipenuhi oleh kelompok perempuan maka saya memutuskan pindah ke bagian sebelah kanan dengan harapan saya tidak ingin bercampur baur dengan tempat duduk kaum perempuan/hawa. Benar saja peserta yang datang berikutnya adalah para lelaki yang langsung mengambil posisi duduk di sebelah kanan dimana tempat saya duduk.
Selang beberapa menit kemudian datanglah salah seorang dosen teknik kelautan dari ITS yang langsung duduk disamping saya dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu (makanya saya tau beliau dosen teknik kelautan). Tak berapa lama kemudian selang beberapa menit datanglah para perempuan yang duduk dideretan bangku yang kami duduki. Bapak dosen tadi mulai uring-uringan "katanya belajar syariah tetapi kok tidak syariah sama sekali", celetuknya. Saya memahami dan tanggap dan menimpali dengan cerita bagaimana dan dimana tadi nya saya duduk dan terus pindah hanya karena menilai bahwa deretan sebelah kiri akan diisi oleh kelompok perempuan, ternyata dugaan saya meleset dan bahkan ada beberapa perempuan duduk dideretan bangku kami.
"Sebentar mas, biar saya sms dulu panitianya," ucap beliau sambil asyik memainkan keypad dari hape nya.
Saya menimpali "Biar saya saja bicara ke panitia pak".
"Gak usah dulu..mas kita tunggu dulu responnya bagaimana".
Ternyata tunggu punya tunggu panitia tidak merespon sama sekali. Saya langsung refleks dan bergerak keluar dari deretan kursi dan menemui panitia adik-adik mahasiswa dan saya kemukakan tentang hal yang menjadi permasalahan. Panitia tidak bisa memutuskan dan saya memberikan solusi bahwa "acara kan belum dimulai dan masih punya waktu untuk memberikan pengumuman kepada para peserta untuk pindah tempat duduk agar sektor sebelah kiri yang memang banyak dipadati perempuan untuk para perempuan dan sektor kanan untuk para laki-laki".
"wes kadung pak," kata panitia.
Akhirnya teman duduk disebelah saya angkat kaki dan keluar meninggalkan ruangan dan tidak mengikuti seminar hari itu. Sebelum beranjak meninggalkan tempat duduknya beliau bilang kepada saya "saya ini mas ketua majelis tafsir Qur'an untuk wilayah Sukolilo (nama daerah di seputaran kampus ITS) dan kalau saya mengadakan acara dan saya yang menyampaikan kata sambutan mesti hal yang seperti ini saya ingatkan dan saya meminta peserta untuk duduk terpisah antara laki-laki dan perempuan,". Saya termangu dan mengiyakan. Saya jadi teringat ketika saya diundang oleh sekolahan anak saya untuk seminar tempat duduk perempuan dan laki-laki memang dipisahkan. Karena memang label sekolahan tersebut jelas Islam, Muhammadiyah.
Saya masih mendengarkan rentetan kekecewaan dari bapak dosen tersebut dan menimpali seandainya tempat duduk perempuan sudah penuh sebaiknya perempuan boleh duduk di bagian belakang laki-laki yang bangkunya masih kosong.
Tak berapa lama setelah meninggalkan ruangan seminar, saya menerima sms yang berbunyi "mas kalau butuh ustad di tempat anda hubungi saya dan saya akan kirim ustad ..gratis". Memang sebelumnya saya juga sempat cerita bahwa saya pernah menjadi pengurus masjid di tempat tinggal saya dan sering mengundang pembicara untuk memberikan pencerahan kepada para jamaah.
Obrolan kami sebelum pak dosen tadi meninggalkan ruanganpun tentunya seputar agama. Dia juga sempat bertanya dari mana tahu majelis tafsir Qur'an ? Saya menjawab dari buletin Jum'at yang biasanya ada di masjid-masjid....saya juga bilang menghargai perjuangan mereka dengan selalu mengirimkan ustad gratis seperti promosinya dalam buletin Jum'at.
Saya membalas sms bapak tersebut dan mengucapkan terima kasih sambil saya berjanji akan menyampaikan hal itu pada forum atau panitia. Kebetulan saya kenal dengan Wakil Dekan 1 yang kebetulan juga hadir dan saya sms rupanya setali tiga uang jawabannya "wes kadung" (sudah terlanjur). Untuk kali ini saya hanya bisa mesem dan hal tersebut saya sampaikan pada bapak dosen yang kecewa tadi melalui sms. Beliau membalas sms saya dengan "semestinya tidak kadung wong tadi belum mulai kok".
Seminar hari itu menarik bagi saya dan terasa gayeng walau saya bisa menarik kesimpulan bahwa ummat Islam di Indonesia masih belum syariah minded tetapi paling tidak sosialisasi tentang ekonomi syariah telah menabuh gongnya dan mendengungkan ke telinga para peserta yang hampir 150 orang, itu sudah bagus. Tinggal bagaimana diri kita sendiri mensupport atau memberikan dukungan bagi tegaknya enokomi syariah yang sudah mulai di akui dunia karena ketangguhannya dalam menghadapi krisis finansial global.
Sedihnya ..dalam paparan seminar menurut data statistik 97% rakyat di Jawa Timur yang beragama Islam hanya 10% saja yang mengetahui tentang produk perbankan syariah. Tugas berat memang bagi teman-teman yang tergabung dalam masyarakat ekonomi syariah.
Memang bila orang ingin mencapai kesempurnaan dalam hidup dunia dan akhirat sudah selayaknyalah dalam segala sendi kehidupan, Qur'an dan hadits selalu menjadi rujukan disetiap langkah seperti apa yang termaktub dalam Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi
"Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu".
Sabarlah pak dosen kita masih dalam tahap pembelajaran dan saya selalu mendo'akan bapak semoga bapak diberi kekuatan untuk menyebarkan ajaran ini dengan teguh dan diberikan kekuatan dalam segala cobaan dalam menegakkan ajaran Islam secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati hambanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
