Ketika saya bertanya dengan teman saya yang baru pulang dari Jepang dalam rangka tugas perusahaan, saya mendapat cerita bahwa bagaimana disiplinnya bangsa Jepang tersebut dan juga santun. Di jalan raya tidak ada yang melanggar lalu lintas cerita teman saya dan yang paling lucu adalah ketika melalui tangga kalau orang Indon kan biasa ngobrol tanpa peduli dengan orang dibelakangnya. Kebiasaan seperti itu terbawa ke Jepang dan ketika sadar teman saya tersebut dan rekannya menoleh kebelakang (karena kebetulan tangganya tidak seberapa lebar) mereka melihat antrean panjang dan dengan sadar salah satu dari teman itu agak menepi dan barulah orang menyalip mereka berdua dan semakin banyak orang yang menyalip perjalanan mereka berdua dalam menaiki tangga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau itu terjadi di Surabaya, tentunya saya yakin sudah di "pisuhi" dengan khas "pisuhan" Surabaya.
Mirip dengan itu yang terjadi di Surabaya justru sangat berlawanan dengan yang di Jepang bagaimana mungkin di depan salah satu PLAZA ternama di Surabaya para pejalan kaki nya tidak disiplin sama sekali dan menyeberang seenaknya padahal sudah disediakan jembatan penyeberangan dan polisinya yah diam saja alias permisif mungkin pak polisi sudah bosen kali yah...menegur para pejalan kaki.
Itulah perbedaan yang kontras antara Jepang dan Surabaya, yang satu kota maju dengan penduduk dan budaya antrinya serta taat mematuhi setiap aturan dan yang satunya lagi (katanya juga) kota maju tapi maju dari segi apanya saya sendiri kok tidak tahu karena begitu semrawutnya kota Surabaya.
Saya menyimpulkan sementara bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang disiplin !!!
Untuk disiplin dan meningkatkannya bangsa ini perlu melakukan wajib militer bagi setiap warga negaranya, tidak ada alasan lain. Saya tetap merekomendasikan wajib militer bagi anak bangsa.
Friday, November 03, 2006
Friday, October 13, 2006
Guru ...oh ... guru....
Sewaktu aku pulang ke kampung pada awal Oktober lalu cukup banyak perubahan yang terjadi setelah kota pempek ini aku tinggalkan selama 18 tahun lebih. Bandara yang baru dengan standar internasional (katanya...wong aku belum bisa membandingkan dengan bandara di luar negeri karena memang belum pernah keliling dunia). Komitmen pemerintah daerah cukup bagus dalam pandangan saya. Saya ingin bernostalgia dengan tempat tempat dimana aku sekolah dulu. Aku datangi tempat sekolah ku ketika sekolah dasar dulu ....sungguh mengenaskan karena tidak ada perubahan fisik bangunan dan aku sedih melihat kesejahteraan guru guru ku dulu tak berubah. Kemudian aku kunjungi SMP ku dulu didekat bandara yang lama sama saja terlihat tidak terawat bahkan lebih baik ketika zaman aku sekolah dulu yang berubah hanya ada musholla dan penambahan ruang belajar diatas lahan tempat parkir sepeda pancal. Aku tidak sempat bertemu salah satu guru ku tetapi yang aku dengar dari adikku yang juga guru ditempat lain bahwa pak anu bu anu dan guru anu sudah tidak disana lagi. Aku hanya ingin melihat guru-guru ku dulu bagaimana dengan 'kesejahteraannya'. Ketika aku melintas di depan SMA ku dulu yang kulihat banyak perubahan terutama pembangunan fisik ... kalau ini aku maklum karena memang SMA swasta dan cukup ternama di kota pempek dan kesejahteraan guru gurunya aku yakin jauh lebih baik dari sekolah SD dan SMP ku dulu yang sekolahan negeri.
Disinilah perbedaan guru dan murid sehingga ada yang bilang GURU YAH TETAP GURU ... MURIDNYA ADA YANG JADI ANGGOTA DPR, PENGUSAHA, PRESIDEN DAN GURU TETAP SAJA GURU setelah aku renungkan ada benarnya juga. Tetapi yang aku tidak mengerti kok kenapa kesejahteraannya teruta pada guru SD, SMP dan SMA negeri begitu begitu aja padahal negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun. Jadi tidak menyalahkan bila ada murid pandai yang di ambil negara tetangga untuk disekolahkan dengan perjanjian tertentu dan tentunya menguntungkan negara lain. Tapi mau bagaimana lagi wong negara kita sendiri tidak dapat memberikan yang terbaik bagi warga negaranya yang katanya hak-haknya dilindungi oleh undang undang (antah berantah).
Sebagai bahan perbandingan ada teman yang bercerita bahwa guru di negara tetangga yang masih serumpun untuk guru sekolah dasarnya saja bisa memiliki kendaraan mobil sedan yang untuk ukuran guru di negara ini sangatlah mewah, tetapi memang teman saya tidak cerita bahwa guru di negara tetangga saya itu memang sudah kaya dari sononya atau apa karena memang masih ada hubungan famili dengan teman saya itu sehingga ceritanya menjadi bagus. Cuma saya yakin teman saya itu tidak bohong.
Bagaimana kita mau menelurkan murid berkualitas bila mayoritas guru di republik ini untuk dikatakan hidup layak saja sangat jauh panggang dari api. Sehingga bukan menjadi rahasia umum kalau ada guru yang ngobyek jadi perpanjangan tangan penerbit buku dengan imbalam komisi dari 'penerbit' melalui sales force nya. Yang sangat mengenaskan profesi guru sekarang bukan karena memang cinta mengajar tetapi karena memang tidak ada pilihan lain dan BISA DIKATAKAN BAHWA PROFESI GURU ITU ADALAH PROFESI KEPEPET KETIMBANG TIDAK PUNYA PEKERJAAN LAIN ALIAS MENGANGGUR.
Sedangkan politisi kita pandai bicara itupun hasil dari didikan guru tetapi mengapa tidak apa idealisme untuk memperjuangkan guru-guru di republik ini sehingga percepatan kemajuan bangsa ini bisa terlihat dengan nyata. Kita tidak memiliki grand design untuk memajukan pendidikan bangsa ini dan setiap pergantian kurikulum selalu saja terjadi polemik yang berkepanjangan. Trus....mau jadi apa ??? Pakar pakar pendidikan tidak kurang di republik ini tetapi 'bisnis' sekali lagi memiliki power alias kekuasaan dalam menelurkan kebijakan yang 'menguntungkan' fihak fihak yang bermain dalam dunia pendidikan. Saya sependapat dengan teman saya ketika mengobrol di bandara sambil menunggu jadual keberangkatan. Karena saya tahu dia orang yang berkecimpung dengan pendidikan setiap harinya...saya pancing dengan pertanyaan "pak kok nggak mendirikan yayasan untuk buat sekolahan" Teman saya itu menjawab "wah pak kalau saya mau bikin sekolahan saya tidak mau sekolahan saya itu menjadi ajang bisnis dan semata-mata untuk mencari keuntungan seperti kebanyakan sekolahan" Waduh aku jadi menduga duga apa iya mayoritas orientasi nya kesana melulu sih ? Tetapi saya biarkan fikiran saya bermain main... mungkin juga ya ... karena kerjaan temen tersebut di diknas jadi mungkin tahu betul kenyataan di lapangan ketimbang saya yang banyak menduga duga.
Yang jelas saya sangat sependapat bahwa untuk memajukan pendidikan kita mungkin harus fokus meningkatkan kesejahteraan guru dulu baru ngomong kualitas lulusan. Kalau kita kerja dengan perut yang tidak lapar kan enak ya....tapi jangan di jawab yah puasa dong kalau tidak punya duit he..he... Jadi guru guru bisa fokus sehingga dalam mempersiapkan bahan ajar pun benar benar prima dan otomatis murid senang dan kreativitas terbangun dengan sendirinya. Kalau sudah begitu biarlah rakyat yang menilai sendiri ....berhasil tidaknya pembangunan pendidikan negara ini.
Disinilah perbedaan guru dan murid sehingga ada yang bilang GURU YAH TETAP GURU ... MURIDNYA ADA YANG JADI ANGGOTA DPR, PENGUSAHA, PRESIDEN DAN GURU TETAP SAJA GURU setelah aku renungkan ada benarnya juga. Tetapi yang aku tidak mengerti kok kenapa kesejahteraannya teruta pada guru SD, SMP dan SMA negeri begitu begitu aja padahal negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun. Jadi tidak menyalahkan bila ada murid pandai yang di ambil negara tetangga untuk disekolahkan dengan perjanjian tertentu dan tentunya menguntungkan negara lain. Tapi mau bagaimana lagi wong negara kita sendiri tidak dapat memberikan yang terbaik bagi warga negaranya yang katanya hak-haknya dilindungi oleh undang undang (antah berantah).
Sebagai bahan perbandingan ada teman yang bercerita bahwa guru di negara tetangga yang masih serumpun untuk guru sekolah dasarnya saja bisa memiliki kendaraan mobil sedan yang untuk ukuran guru di negara ini sangatlah mewah, tetapi memang teman saya tidak cerita bahwa guru di negara tetangga saya itu memang sudah kaya dari sononya atau apa karena memang masih ada hubungan famili dengan teman saya itu sehingga ceritanya menjadi bagus. Cuma saya yakin teman saya itu tidak bohong.
Bagaimana kita mau menelurkan murid berkualitas bila mayoritas guru di republik ini untuk dikatakan hidup layak saja sangat jauh panggang dari api. Sehingga bukan menjadi rahasia umum kalau ada guru yang ngobyek jadi perpanjangan tangan penerbit buku dengan imbalam komisi dari 'penerbit' melalui sales force nya. Yang sangat mengenaskan profesi guru sekarang bukan karena memang cinta mengajar tetapi karena memang tidak ada pilihan lain dan BISA DIKATAKAN BAHWA PROFESI GURU ITU ADALAH PROFESI KEPEPET KETIMBANG TIDAK PUNYA PEKERJAAN LAIN ALIAS MENGANGGUR.
Sedangkan politisi kita pandai bicara itupun hasil dari didikan guru tetapi mengapa tidak apa idealisme untuk memperjuangkan guru-guru di republik ini sehingga percepatan kemajuan bangsa ini bisa terlihat dengan nyata. Kita tidak memiliki grand design untuk memajukan pendidikan bangsa ini dan setiap pergantian kurikulum selalu saja terjadi polemik yang berkepanjangan. Trus....mau jadi apa ??? Pakar pakar pendidikan tidak kurang di republik ini tetapi 'bisnis' sekali lagi memiliki power alias kekuasaan dalam menelurkan kebijakan yang 'menguntungkan' fihak fihak yang bermain dalam dunia pendidikan. Saya sependapat dengan teman saya ketika mengobrol di bandara sambil menunggu jadual keberangkatan. Karena saya tahu dia orang yang berkecimpung dengan pendidikan setiap harinya...saya pancing dengan pertanyaan "pak kok nggak mendirikan yayasan untuk buat sekolahan" Teman saya itu menjawab "wah pak kalau saya mau bikin sekolahan saya tidak mau sekolahan saya itu menjadi ajang bisnis dan semata-mata untuk mencari keuntungan seperti kebanyakan sekolahan" Waduh aku jadi menduga duga apa iya mayoritas orientasi nya kesana melulu sih ? Tetapi saya biarkan fikiran saya bermain main... mungkin juga ya ... karena kerjaan temen tersebut di diknas jadi mungkin tahu betul kenyataan di lapangan ketimbang saya yang banyak menduga duga.
Yang jelas saya sangat sependapat bahwa untuk memajukan pendidikan kita mungkin harus fokus meningkatkan kesejahteraan guru dulu baru ngomong kualitas lulusan. Kalau kita kerja dengan perut yang tidak lapar kan enak ya....tapi jangan di jawab yah puasa dong kalau tidak punya duit he..he... Jadi guru guru bisa fokus sehingga dalam mempersiapkan bahan ajar pun benar benar prima dan otomatis murid senang dan kreativitas terbangun dengan sendirinya. Kalau sudah begitu biarlah rakyat yang menilai sendiri ....berhasil tidaknya pembangunan pendidikan negara ini.
Thursday, October 12, 2006
FOTO FIRA dan CICI
Wednesday, October 11, 2006
good governance and kemacetan LL
Sewaktu berangkat kerja saya sangat sering geleng-geleng kepala karena heran dengan tingkah laku anak bangsa ini. Budaya bangsa kita yang tidak bisa bersabar untuk antri sudah menjadi buah bibir tetapi anehnya ketika hidup di negara lain mereka bisa bersabar. Mengapa ? mungkin karena selain malu karena lingkungannya yang berbeda dan aparatnya mungkin tidak bisa disogok dan juga law enforcement dari penegak hukumnya ok punya. Di negara ini sangat berbeda dalam manajemen transportasinya, mulai dari bus tua dengan asap yang mengepul hitam sampai dengan jalannya yang banyak lubangnya apalagi ketika musim hujan datang waduh...gak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh. Hal lain yang menarik para pengguna jalan yang katanya orang modern tidak mengindahkan etika dijalanan mulai dari tidak menaati rambu-rambu lalu lintas sampai dengan memfungsikan semua panel dari kendaraan bermotornya dengan baik dan benar misal bila ingin belok ke kiri atau ke kanan berikanlah tanda/sign bukan terus belok sak enak udelnya terutama bagi kendaraan yang mewah-mewah itu seperti BMW, Mercy, Camry, Jaguar dan lainnya.
Saya sempat merenung dan mengamati apa yang keliru dari bangsa ini sebenarnya kita tahukan kalau di negara ini musim itu adalah musim kemarau dan musim hujan. Tapi yang terjadi...adalah bila musim kemarau kita selalu kekeringan dan bila musim hujan kita selalu kebanjiran. Khusus untuk musim hujan milyaran dana sudah digelontorkan tetapi apa yang terjadi baru hujan 10 menit sudah jadi kubangan. Apa yang salah? Rencana tata kota atau sistim drainasenya? Yang jelas memang rencana tata kota itu tidak pernah dipublikasikan dan informasi itu hanya untuk kalangan tertentu sehingga yang mengetahui informasi tersebut dapat menuai keuntungan dalam tanda petik.
Kalau musim hujan kemacetan tambah menjadi dan banyak korban karena hujan, ada yang tersengat listrik, hanyut terbawa arus, sampai tertimpa pohon di pinggir jalan raya. Wah banyak sudah deretan peristiwa kesedihan anak negeri ini. Kalau musim kemarau sudah bisa dipastikan banyak terjadi kebakaran hutan, produksi asap meningkat dan korban berjatuhan terutama yang menggunakan lalu lintas udara. Banyak penerbangan di tunda sampai waktu yang tidak jelas sehingga membuat para pengguna jasa penerbangan bingung. Bingung karena informasinya gak jelas. Apa yang harus dilakukan pemerintah dan rakyatnya ? Pemerintah semestinya sudah memikirkan hal ini dengan melihat kondisi alam negara ini yang berada pada posisi negara tropis sehingga dalam membangun jalan semestinya perlu dipertimbangkan untung ruginya dari sisi konstruksi dengan kondisi musim. Kalau alasan tidak ada dana karena untuk membangun jalan yang kuat dan permanen ...wah keliru itu bukankah kita hobi ngutang? Dan bukankah banyak negara pendonor yang berbaik hati ngutangin kita ? Untuk rakyat nya yah..taatlah membayar pajak karena 73% pendapatan negara ini diperoleh dari pajak-pajak yang dipungut. Hanya saja tidak pernah transparan penggunaannya untuk bidang apa saja sementara rakyatnya juga selalu masa bodoh karena mungkin sudah capek ya? Sempat saya berfikir walaupun presidennya setingkat wali tapi kalau tidak pernah tegas menindak orang disekelilingnya yang jelas-jelas menggerogoti negara maka negara yang kata mbah-mbah saya pendiri republik ini akan menjadi "negara yang adil makmur dan sejahtera". Saya selalu bertanya KAPAN ? Sudah bosan selalu dijanjikan bagaimana mau maju...kalau antri tertib saja tidak bisa.
Masalah kedisiplinan ini sempat terjadi diskusi menarik...karena secara pribadi saya tetap merekomendasikan wajib militer bagi pemuda-pemuda harapan bangsa walaupun itu selalu menjadi polemik tetapi berkaca dari pengalaman negara tetangga yang katanya lebih baik dan lebih maju kita perlu mempertimbangkannya. Diskusi menarik terjadi sewaktu saya sharing dengan teman-teman mahasiswa dengan wacana wajib militer. Ada teman mahasiswa yang berpendapat bahwa di negara T itu wamil mau dihapuskan. Lantas saya bertanya berapa lama negara T itu sudah melakukan wamil ? Di jawab sama temen mahasiswa 15 tahun. Nah, dari sini saja kita sudah melihat bahwa dengan 15 tahun memberlakukan wamil secara konsisten negara yang kecil ini bisa baik dan budaya malunya terbentuk. Bayangkan kalau negara kita memberlakukan wamil 15 tahun apa jadinya? Saya tidak bisa membayangkan pada tahun 2021 nanti bagaimana jadinya negara ini dengan catatan wamilnya betul-betul diterapkan dan pemerintahnya berani menindak tegas para penyeleweng.
Wah mungkin lalu lintasnya sudah tertib, bus-busnya sudah baru dan mematuhi standar emisi gas buang (walaupun masih beli dari hasil utang), korupsi bisa ditekan sampai titik terendah dibawah 3% dan pendidikannya sudah maju karena biaya pendidikan murah dan berkualitas (bukan murah tapi jembret), anak bangsa ini semakin diperhitungkan di kancah dunia. Wah saya tidak bisa membayangkan kalau negara ini seperti itu...mudah-mudahan saya diberi umur panjang dan sempat menikmati zaman seperti itu. Tetapi kalau sampai saya di panggil sama yang 'ngecet' lombok negara ini tetap begini-begini aja wah...sumpah saya sumpahin itu pemimpinnya tidak mencium bau surga .... walaupun memang membuat perubahan itu tidak segampang membalikkan telapak tangan tapi saat ini memmang diperlukan pemimpin yang memeiliki keberanian. Berani untuk dimusuhi, berani untuk di cerca dan berani untuk diturunkan lawan politik yang tidak suka dengan kebijakan berantas korupsinya.
Yah...mudah-mudahan saja kedepan bangsa ini bisa lebih baik lagi...semoga...amiin
Saya sempat merenung dan mengamati apa yang keliru dari bangsa ini sebenarnya kita tahukan kalau di negara ini musim itu adalah musim kemarau dan musim hujan. Tapi yang terjadi...adalah bila musim kemarau kita selalu kekeringan dan bila musim hujan kita selalu kebanjiran. Khusus untuk musim hujan milyaran dana sudah digelontorkan tetapi apa yang terjadi baru hujan 10 menit sudah jadi kubangan. Apa yang salah? Rencana tata kota atau sistim drainasenya? Yang jelas memang rencana tata kota itu tidak pernah dipublikasikan dan informasi itu hanya untuk kalangan tertentu sehingga yang mengetahui informasi tersebut dapat menuai keuntungan dalam tanda petik.
Kalau musim hujan kemacetan tambah menjadi dan banyak korban karena hujan, ada yang tersengat listrik, hanyut terbawa arus, sampai tertimpa pohon di pinggir jalan raya. Wah banyak sudah deretan peristiwa kesedihan anak negeri ini. Kalau musim kemarau sudah bisa dipastikan banyak terjadi kebakaran hutan, produksi asap meningkat dan korban berjatuhan terutama yang menggunakan lalu lintas udara. Banyak penerbangan di tunda sampai waktu yang tidak jelas sehingga membuat para pengguna jasa penerbangan bingung. Bingung karena informasinya gak jelas. Apa yang harus dilakukan pemerintah dan rakyatnya ? Pemerintah semestinya sudah memikirkan hal ini dengan melihat kondisi alam negara ini yang berada pada posisi negara tropis sehingga dalam membangun jalan semestinya perlu dipertimbangkan untung ruginya dari sisi konstruksi dengan kondisi musim. Kalau alasan tidak ada dana karena untuk membangun jalan yang kuat dan permanen ...wah keliru itu bukankah kita hobi ngutang? Dan bukankah banyak negara pendonor yang berbaik hati ngutangin kita ? Untuk rakyat nya yah..taatlah membayar pajak karena 73% pendapatan negara ini diperoleh dari pajak-pajak yang dipungut. Hanya saja tidak pernah transparan penggunaannya untuk bidang apa saja sementara rakyatnya juga selalu masa bodoh karena mungkin sudah capek ya? Sempat saya berfikir walaupun presidennya setingkat wali tapi kalau tidak pernah tegas menindak orang disekelilingnya yang jelas-jelas menggerogoti negara maka negara yang kata mbah-mbah saya pendiri republik ini akan menjadi "negara yang adil makmur dan sejahtera". Saya selalu bertanya KAPAN ? Sudah bosan selalu dijanjikan bagaimana mau maju...kalau antri tertib saja tidak bisa.
Masalah kedisiplinan ini sempat terjadi diskusi menarik...karena secara pribadi saya tetap merekomendasikan wajib militer bagi pemuda-pemuda harapan bangsa walaupun itu selalu menjadi polemik tetapi berkaca dari pengalaman negara tetangga yang katanya lebih baik dan lebih maju kita perlu mempertimbangkannya. Diskusi menarik terjadi sewaktu saya sharing dengan teman-teman mahasiswa dengan wacana wajib militer. Ada teman mahasiswa yang berpendapat bahwa di negara T itu wamil mau dihapuskan. Lantas saya bertanya berapa lama negara T itu sudah melakukan wamil ? Di jawab sama temen mahasiswa 15 tahun. Nah, dari sini saja kita sudah melihat bahwa dengan 15 tahun memberlakukan wamil secara konsisten negara yang kecil ini bisa baik dan budaya malunya terbentuk. Bayangkan kalau negara kita memberlakukan wamil 15 tahun apa jadinya? Saya tidak bisa membayangkan pada tahun 2021 nanti bagaimana jadinya negara ini dengan catatan wamilnya betul-betul diterapkan dan pemerintahnya berani menindak tegas para penyeleweng.
Wah mungkin lalu lintasnya sudah tertib, bus-busnya sudah baru dan mematuhi standar emisi gas buang (walaupun masih beli dari hasil utang), korupsi bisa ditekan sampai titik terendah dibawah 3% dan pendidikannya sudah maju karena biaya pendidikan murah dan berkualitas (bukan murah tapi jembret), anak bangsa ini semakin diperhitungkan di kancah dunia. Wah saya tidak bisa membayangkan kalau negara ini seperti itu...mudah-mudahan saya diberi umur panjang dan sempat menikmati zaman seperti itu. Tetapi kalau sampai saya di panggil sama yang 'ngecet' lombok negara ini tetap begini-begini aja wah...sumpah saya sumpahin itu pemimpinnya tidak mencium bau surga .... walaupun memang membuat perubahan itu tidak segampang membalikkan telapak tangan tapi saat ini memmang diperlukan pemimpin yang memeiliki keberanian. Berani untuk dimusuhi, berani untuk di cerca dan berani untuk diturunkan lawan politik yang tidak suka dengan kebijakan berantas korupsinya.
Yah...mudah-mudahan saja kedepan bangsa ini bisa lebih baik lagi...semoga...amiin
Cici & Fira
Buah hatiku ini sedang lucu-lucunya. Cici yang rajin bertanya dan begitu aktif untuk anak seusianya, mau menang sendiri dan suka memukul kakaknya apabila tidak menuruti kemauannya. Fira anak yang manis dan sedikit pendiam, baru terbebas dari ngompol kalau tidur malam itupun setelah saya kurangi minum susunya ketika malam hari dan saya suruh pipis dulu sebelum tidur dan tengah malam saya bangunin untuk pipis, kasihan kadang-kadang sih tapi kalau tidak begitu dia akan tetap pake pempes kalo tidur, masak sudah sekolah tk masih peppesan. Tentang perilaku Cici ini ketika istri saya hamil saya bertanya kepada Fira ingin adik laki atau perempuan dan Fira menjawab ingin adik perempuan begitu juga mamanya sedang saya ingin anak laki-laki karena biar lengkap. Rupanya Tuhan menghendaki anak kedua saya ini lahir perempuan dan dikaruniai sifat kelaki-lakian, suka mukul. Tentang pukul memukul ini ada ceritanya karena sewaktu Fira play group sering sekali pulang menangis karena diganggu temannya dan mamanya selalu bilang "kalau teman mu memukul kamu balas pukul juga". Akhirnya di kabulkan Tuhan melalui Cici. Cici ini tidak hanya mbak nya yang dipukul anak lain juga bahkan anak laki-laki dia pukul, saya sampai tidak mengerti apa karena ari-arinya saya buang ke laut sewaktu bayi dulu atau karena keinginan bawah sadar mamanya ketika melihat Fira selalu sering diganggu teman-temannya dan selalu menangis. Fira kalau kepalanya ke jedut sudah pasti dia akan menangis sedang Cici hanya bilang "aduh sakit ma...kepala adek kejedut". Tapi kalau aku sedang menyendiri aku selalu tersenyum bila mengingat mimik kedua malaikat ku ini he...ada ada saja tingkahnya. Itu pula yang membuat diriku kangen dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah
Orang Kampung
Saya orang kampung yang selalu ingin tahu dan tidak berpuas diri dengan apa yang saya dapatkan dari pengalaman-pengalaman hidup sebelumnya, saya menginginkan lebih terutama mengenai teknologi informasi. Saat ini saya ingin belajar jadi kalau salah mohon diberi pengarahan dari blogger yang lebih expert terima kasih
Subscribe to:
Posts (Atom)



