Ketika habis subuh saya menaiki anak tangga ke tempat jemuran yang berada dilantai 1,5 rumah saya. Tak sengaja saya melihat Mbah Sani sedang mengais tong sampah dengan memikul karung plastik yang sepertinya sudah berisi barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan untuk dijual ke penadah.
Mbah Sani, biasa kami memanggilnya, beliau merupakan pengurus Musholla di tempat tinggal kami. Orangnya sudah berusia 70 tahunan, saya sendiri tidak mengetahui dengan pasti usia Mbah Sani ini karena saya merasa tidak enak bila ingin menanyakan usianya sudah berapa. Sama seperti Mbah Sani, sebagai pengurus Mushollah Baitul Jannah di lingkungan tempat kami tinggal saya selalu melibatkan Mbah Sani dalam setiap musyawarah.
Yang membuat saya ingin menulis tentang Mbah Sani ini adalah ketika Idul Adha tahun 1428 H kemarin, Mbah Sani salah satu jamaah kami yang turut berpartisipasi dalam memberikan hewan kurban pada Musholla kami. Saya memang sempat dibisiki oleh Mbah Sani bahwa dia berkeinginan untuk kurban pada tahun itu. Saya menyarankan untuk menemui Pak Yasin yang biasa mencarikan hewan kurban untuk jamaah.
Pada hari H, sebelum sholat dimulai panitia membacakan laporan berapa banyak hewan kurban yang diperoleh panitia. Salah satunya Mbah Sani. Bagi saya pemberitahuan ini adalah hal biasa karena memang sudah menjadi kebiasaan setempat. Menjadi tidak biasa adalah ketika saya bersama pengurus lain sedang sibuk mengurusi kurban datanglah pengurus lainnya yang bernama Pak Khusnun untuk mengajak saya menghitung kotak infaq yang didapat pada hari itu. Tanpa sengaja Pak Khusnun berguman “Wah aku kalah sama Mbah Sani. Mbah Sani bisa kurban saya tidak”. Saya sedikit kaget tetapi saya tidak menampakkan ekspresi itu dan saya menanggapinya dengan perkataan yang membesarkan hati Pak Khusnus “Wah mudah-mudahan tahun depan Bapak bisa seperti Mbah Sani”.
Iri pak Khusnun ini adalah iri yang baik dan sangat dianjurkan dalam agama. Iri untuk berbuat kebaikan sama atau bahkan lebih dari sesama kaum mukmin merupakan sebuah penampakan secara lahiriah iman seseorang. Allah lah yang akan menilai hatinya, ikhlas atau tidak.
Kalimat Pak Khusnun sempat saya maknai ‘masak kalah sama tukang pungut sampah’. Yah…memang begitulah kenyataannya. Mbah Sani selain diberi upah lelah sebagai pengurus Musholla dengan tugas menutup dan membuka pintu serta membersihkan Musholla memiliki pendapatan sampingan dengan memungut plastik bekas, kardus bekas, atau barang rongsokan lain yang sudah tidak digunakan warga perumahan dimana kami tinggal. Bahkan terkadang jamaah ada yang memberikan langsung kepada Mbah Sani atau juga menyuruh Mbah Sani datang kerumah jamaah untuk mengambil barang yang sudah tidak dipergunakan lagi. Oleh Mbah Sani barang-barang tersebut dijual kepada langganannya yang secara ajek mengambil barang bekas tersebut. Mbah Sani pun memperoleh penghasilan tambahan.
Hal lain yang saya tangkap dari Mbah Sani selain sederhana dalam hidup juga zuhud terhadap dunia dan kuat dalam niat sehingga apa yang menjadi ‘keinginannya’ dapat terkabul. Allahu Akbar.
Sosok Mbah Sani ini memberikan pelajaran pada diri saya khususnya bahwa segala sesuatu yang kita inginkan dapat berhasil bila kita ulet, kerja keras dan hemat. Semoga Mbah Sani sebagai penyemangat hidup saya dan jamaah lainnya menjadi contoh nyata dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Itulah sosok sederhana Mbah Sani yang selalu mengumandangkan azan diwaktu subuh untuk memanggil kaum muslimin berjamaah di Musholla. (Yang muda-muda kapan mau jadi muadzin ???)
Tuesday, February 12, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment