Sebetulnya judul di atas sedang saya buat untuk sebuah tulisan menjadi buku tapi belum kelar-kelar karena sibuk sehingga tidak fokus.
Manajemen jarno ini merupakan jargon sindiran bagi siapa saja yang berusaha untuk tidak menuntaskan tanggung jawab yang seharusnya dia lakukan sehingga sebuah permasalahan itu menjadi selesai. Jarno sendiri dari bahasa jawa yang artinya biarkan. Kita harus jujur mengakui bahwa hal ini banyak terjadi dan dapat kita rekam dalam otak kita yang kadang kadang kita sendiri tidak menyadarinya bahwa itu masuk kategori jargon tadi hehehe....
Di kampung tempat saya tinggal saya memiliki teman yang pintar tapi menggelikan...mengapa begitu karena kalau diundang rapat jarang datang tetapi bila kesepakatan sudah dicapai maka dia belagak pilon mengusulkan usulan yang sepertinya harus diterima dan kadang kadang membuat suasana menjadi tidak kondusif lagi. Untuk mengatasi hal ini teman-teman kadang membiarkannya alias menjarnokannya. Saya terkadang emosi dibuatnya...saya sudah bilang pintar di atas karena dia berpendidikan dan saya juga bilang oon karena dia sepertinya tidak memahami mekanisme rapat yang sebenarnya. Ini yang membuat orang lain terkadang geleng-geleng kepala karena heran....mari sejenak kita geleng geleng kepala dulu untuk menghilangkan penat. Saya beri aba-aba satu....dua.....tiga....
Dalam lingkup kehidupan sosial...kita terkadang sering dibuat gregetan karena lambannya penyelesaian masalah yang sering membuat sengsara atau tidak adanya kepastian bagi sebagian rakyat yang dikategorikan miskin, bagaimana tidak...kasus pengungsi yang terkena dampak lumpur saja sampai sekarang belum selesai padahal sudah satu tahunan.
Di Surabaya pembangunan yang paling kelihatan hasilnya cuma pertamanan lainnya tak kelihatan karena memang pengguna jalan dapat merasakan kian asrinya jalan-jalan di Surabaya dengan tamannya yang mulai dan sudah merimbun. Anehnya ini kok tidak diikuti oleh yang lainnya misalnya dinas perhubungannya yang menyediakan angkutan publik yang nyaman sehingga untuk menurunkan tingkat polusi di Surabaya dapat lebih cepat lagi karena para pekerja tentu lebih memilih angkutan umum yang nyaman dan murah serta tepat waktu. Ah...biarkan saja...mungkin begitu jawab dari sang birokrat ya...? Nanti juga diam sendiri (kalau ada yang protes....hihihihi)
Negaraku yang sudah 60 tahunan merdeka kok masih saja belum baik dalam memberikan pelayanan publik padahal katanya pejabatnya sering bertandang ke luar negeri untuk studi banding. Lha...kalau sering sering studi banding tetapi sampai saat ini ndak ada hasilnya ya...mending uangnya buat beli cendol. Anak-anak yatim yang ada di seluruh pelosok Surabaya dikumpulkan dan di beri semangkuk cendol...jauh lebih bermanfaat ketimbang pejabat nya jalan-jalan tapi gak ada hasil.
Tentulah anak-anak yatim itu akan bergembira karena semangkuk cendol...sambil mengusap mulut dengan ujung baju mereka dan berdoa semoga pejabat-pejabat lebih sering menjamu mereka karena si pejabat kekayaannya semakin bertambah.
Beruntung masih ada juga orang yang peduli dengan kemajuan bangsanya sehingga ada warga yang didaerah rungkut membuat masyarakatnya menjadi melek informasi dengan kampung cyber nya. Dengan semangat patriotisme yang tinggi dia rela menjual mobilnya untuk melengkapi peralatan yang harus disediakan untuk mensupport cita-citanya menjadikan kampung mereka kampung cyber.
Kalau mau menunggu pemerintah...kapan...inilah seperti yang dikatakan Soekarno si presiden pertama "jangan tanya apa yang negara berikan kepada engkau tetapi tanyalah apa yang sudah engkau berikan buat negara". Saya bukan tidak setuju tetapi saya harus mengkoreksi perkataan yang sudah tidak populer lagi itu, saya koreksi karena pemerintah juga harus peduli pada rakyatnya dan bertanggung jawab dong...kan rakyat sudah bayar pajak; pemerintah juga harus bersih dong...kan rakyat sudah mati-matian bayar pajak ....kalau pemerintah tidak memperdulikan rakyatnya atau menjarnokan rakyatnya ya...tidak boleh marah kalau ada yang ingin merdeka sendiri-sendiri karena merasa bahwa sebetulnya kekayaan yang mereka miliki bila dikelola sendiri mampu membuat mereka sejahtera dan kaya.
Lihat negara tetangga yang gak punya sumberdaya alam saja seperti Singapura itu kok sejahteranya luar biasa ya....?? Berarti ada yang JARNO dalam sistim kehidupan berbangsa dan sosial dalam masyarakat kita ??? AH masa...!!! (ini sih kata pejabat)

No comments:
Post a Comment