Ketika pagi tadi saya menyaksikan berita yang menyiarkan meningkatnya harga kebutuhan pokok untuk keperluan sehari-hari sangat menggugah saya untuk menulis. Dalam pandangan saya apapun alasannya bahwa menjelang bulan Ramadhan biasanya harga akan terus meningkat sampai menjelang akhir tahun adalah sesuatu yang aneh. Kenapa aneh, khususnya di bulan Ramadhan karena berarti selama ini kita tidak mengerti filosofi yang dalam dari Ramadhan itu sendiri (tentunya bagi yang menjalaninya). Mengapa begitu ? Karena harga pasar ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran berarti permintaan akan suatu barang pada menjelang Ramadhan ini meningkat pesat sehingga terjadi kelangkaan barang di pasaran. Bisa jadi juga ada yang menumpuk barang untuk nanti dijual kembali menjelang hari raya dengan harga yang tinggi.
Pembahasan kali ini lebih menekankan pada filosofi makna dari Ramadhan itu sendiri. Pada Ramadhan kita diperintahkan oleh Al Quran untuk menahan diri dari lapar dan dahaga, artinya tentu konsumsi kita akan lebih sedikit dibanding hari biasanya. Kan aneh kalau justru pada saat Ramadhan konsumsi kita meningkat sehingga menyebabkan barang langka di pasaran dan akhirnya harga melambung tinggi.
Keberhasilan kita dalam menjalani Ramadhan seprti hari hari biasanya merupakan puncak pemahaman filosofi mendalam terhadap perintah agama yang telah pula di lakoni oleh para pendahulu kita. Memang banyak kita lihat dalam kehidupan sehari-hari pada bulan Ramadhan ...terutama menu pada saat berbuka bahwa kita mengada adakan panganan yang pada hari biasanya tidak pernah ada. Padahal kita diperintahkan untuk menahan diri dalam arti yang sesungguhnya dan luas pengertiannya.
Untuk itu saya menyerukan kepada kaum muslimin dan muslimat yang melaksanakan Ramadhan untuk berbuat seperti biasanya, seperti hari biasa ketika tidak Ramadhan dalam pola konsumsi karena seperti itulah Insya Allah yang diajarkan oleh Islam kepada ummatnya. Bukannya malah merubah pola konsumsi sehingga mubazir dan tidak bermakna yang menyebabkan barang langka di pasaran dan akhirnya harganya melangit.
Tentunya kita harus lebih bijak dalam menyikapi Ramadhan kali ini dan juga kita patut bersyukur karena kita diberikan kesempatan untuk menjalaninya kembali, tentunya dengan lebih mengerti makna akan Ramdhan yang sesungguhnya.
