Di negeri ini apa yang tidak membuat rakyat kecil menanggung semua beban akibat kerakusan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa berkuasa atas segala sesuatu di dunia dan merasa tidak akan mati ?
Waktu saya, untuk menonton TV adalah waktu untuk menonton berita mengikuti perkembangan negeri ini, MAU KEMANA... perkembangan yang terjadi tentang konversi energi dari minyak ke gas membuat sebagian besar kecil ikut menanggung beban derita...entah itu karena ditarik bayaran untuk ongkos lelah petugas entah itu antre karena minyak langka...lengkaplah sudah bukti buruknya manajemen negeri ini dalam hal layanan publik. Sementara di sisi lain banyak saya melihat spanduk membentang yang berbunyi "warga yang bijak adalah warga yang taat membayar pajak". Padahal kata orang-orang pintar bahwa pajak dari rakyat itulah yang digunakan untuk kepentingan dan layanan publik. Kalo begitu ada yang salah dari manajemen negeri ini.
Bagaimana tidak,....lalu lintas macet, kecelakaan transportasi yang sering terjadi sampai pada naiknya harga barang menjelang hari-hari besar agama tertentu dan menjelang akhir tahun. Padahal ada yang bilang di Arab Saudi harga roti dari dulu sampai sekarang (itu roti yang buat nampar kepala orang bisa pingsan-roti prancis) tetap 1 real. Ada lagi yang salah sama kita kan kalo begitu ..salahnya begini kalau orang lain bisa kenapa kita tidak ????
Ngomong-ngomong kembali masalah konversi dari minyak ke gas masyarakatlah yang selalu jadi korban kebijakan. Pada posisi ekonomi yang sulit seperti ini dan tingginya angka pengangguran tentu jadi masalah tersendiri.
Saya sempat memikirkan bagaimana jalan keluarnya dengan fikiran yang konyol bahwa satu keluarga itu sebetulnya bisa memasak dengan menggunakan gas pemberian Tuhan hanya tinggal bagaimana menciptakan alat yang dapat menyimpan dan mengubah bentuk energi dari 'gas buangan perut' menjadi gas yang setara dengan LNG atau yang buat masak itu. Kalau itu bisa dijamin...satu keluarga akan sangat hemat dengan kondisi ekonomi sekarang ini karena bila akan buang (maaf) kentut pastilah akan sayang bila terbuang percuma dan ditampung dalam tabung untuk kemudian diproses dan dikonversi menjadi gas apa ya...metan kali agar dapat digunakan untuk memasak.
Bila ini bisa terjadi maka saya sangat yakin rakyat negeri ini bisa sedikit berhemat untuk pengeluaran belanja keluarga. Hanya saja saya jadi bertanya-tanya berapa banyak atau berapa kali kentut yang harus ditampung dalam gas untuk mencukupi kebutuhan memasak dalam satu bulan ? Bila itu terjadi kesejahteraan rakyat negeri ini akan sedikit terangkat dengan sendirinya karena bila kita menunggu janji-janji "KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI MASYARAKAT INDONESIA" entah sampai kapan wong sampai saat ini saja ada yang masih belum menikmati listrik. Generasi ketiga saya pun belum tentu dapat menikmati sejahtera yang sesungguhnya karena apa?
Mungkin analisis saya keliru "karena politik dinegeri ini menjadi panglima dalam segala hal dan kekuatan itu selalu tarik menarik dan merasa paling hebat sendiri sehingga lupa BAHWA POLITIK ITU SESUNGGUHNYA ALAT UNTUK MENCAPAI VISI DAN MISI BAPAK BANGSA NEGERI INI DULU SESUAI DENGAN BUNYI SILA KELIMA yang selalu didengung-dengungkan ketika kita upacara memperingati hari kemerdekaan setiap tahunnya.
ala mak ...sampai kapan...rakyat negeri ini mencicipi sejahtera yang sesungguhnya ?? Allahu 'alam....
