Thursday, August 09, 2007

Orang Miskin tidak boleh pintar

Saya tergugah untuk menulis setelah melihat judul buku "orang miskin tidak boleh sakit". Analog dengan itu saat ini banyak masyarakat yang ditindihi hutang karena keinginan nya untuk memperbaiki nasib generasi berikutnya. Betapa tidak untuk menyekolahkan anak saat ini tidaklah murah...bagaimana mungkin untuk sekolah TK pinggiran saja ada yang harus membayar uang sampai hampir 2 jutaan untuk uang pertama masuknya. Waduh ...saya tidak bisa membayangkan apakah saya juga nanti mampu menyekolahkan anak saya sampai ke jenjang yang paling tinggi sampai tingkat doktoral. Iseng iseng saya suka berselancar di dunia maya dan membanding-bandingkan bagaiman sih biaya pendidikan di negara tetangga Malaysia dan Singapura. Ternyata bila dibandingkan dengan di negara kita jauh lebih murah. Sampai pada suatu ketika saya bertemu dengan seorang ibu yang berdinas di instansi pemerintah bercerita,
"Wah kalau di Jakarta pak ibu-ibu banyak yang menyekolahkan anaknya ke Malaysia bila mau masuk SMA karena di sana semuanya jelas rincian uang yang harus kita bayarkan" celoteh sang ibu. "Saya tidak bisa membayangkan pak...bila ibu-ibu kita ini memiliki pemikiran yang sama bagaimana jadinya? Padahal dulu Malaysia itu mengirimkan guru-gurunya ke negara kita sekarang malah terbalik". Saya mengangguk-angguk setuju...benar juga ibu ini dalam hati saya.

Saya bukannya tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi tetapi realita yang ada saat ini memungkinkan setiap ibu-ibu berfikiran dan berperilaku sama pada anaknya demi masa depan generasi berikutnya. Kalau sudah begitu apa jadinya ya...???

Coba tengoklah potret pendidikan kita...mulai dari kurikulum yang sering berganti-ganti sampai dengan standar mutu yang gak jelas maksudnya sampai-sampai ada anak SMP yang bunuh diri karena gagal dan stres akibat diterapkannya standar mutu yang belum teruji tersebut. Saya terkadang miris melihat kondisi ini...sebagai bahan perbandingan...dulu ketika saya sekolah saya masih bisa menggunakan buku mbak saya...seperti anak saya yang kecil masih bisa make baju kakaknya. Sekarang setiap tahun buku bisa berganti yang membuat orang tua harus memutar otaknya untuk cari pinjaman karena pendapatannya tidak memungkinkan untuk mengcover biaya studi anaknya.

Wah repot juga ya...memikirkannya...semoga pemerintah mendapatkan jalan keluar untuk kemajuan anak bangsa sehingga semakin tua negara ini umurnya semakin cerdas dalam menyikapi permasalahan rakyatnya. Dan tentunya apa yang dicita-citakan mbah-mbah pendiri bangsa ini dapat terwujud,semoga.....tapi kapan ya...???

No comments: