Monday, January 26, 2009

Seminar Ekonomi Syariah, syariah kah ?

Pada tanggal 26 Januari 2009 bertepatan dengan tahun baru imlek saya mengikuti seminar ekonomi syariah di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya. Ketika saya datang jam 7.30 pagi belum kelihatan tanda-tanda panitia bersiap-siap untuk mempersiapkan acara hari itu. Saya masuk pukul 7.45 dan nomor satu dibagian registrasi karena memang baru saya peserta yang hadir waktu itu.

Saya mengamati kerja panitia hari itu dan ketika barisan sebelah kiri banyak dipenuhi oleh kelompok perempuan maka saya memutuskan pindah ke bagian sebelah kanan dengan harapan saya tidak ingin bercampur baur dengan tempat duduk kaum perempuan/hawa. Benar saja peserta yang datang berikutnya adalah para lelaki yang langsung mengambil posisi duduk di sebelah kanan dimana tempat saya duduk.

Selang beberapa menit kemudian datanglah salah seorang dosen teknik kelautan dari ITS yang langsung duduk disamping saya dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu (makanya saya tau beliau dosen teknik kelautan). Tak berapa lama kemudian selang beberapa menit datanglah para perempuan yang duduk dideretan bangku yang kami duduki. Bapak dosen tadi mulai uring-uringan "katanya belajar syariah tetapi kok tidak syariah sama sekali", celetuknya. Saya memahami dan tanggap dan menimpali dengan cerita bagaimana dan dimana tadi nya saya duduk dan terus pindah hanya karena menilai bahwa deretan sebelah kiri akan diisi oleh kelompok perempuan, ternyata dugaan saya meleset dan bahkan ada beberapa perempuan duduk dideretan bangku kami.

"Sebentar mas, biar saya sms dulu panitianya," ucap beliau sambil asyik memainkan keypad dari hape nya.
Saya menimpali "Biar saya saja bicara ke panitia pak".
"Gak usah dulu..mas kita tunggu dulu responnya bagaimana".
Ternyata tunggu punya tunggu panitia tidak merespon sama sekali. Saya langsung refleks dan bergerak keluar dari deretan kursi dan menemui panitia adik-adik mahasiswa dan saya kemukakan tentang hal yang menjadi permasalahan. Panitia tidak bisa memutuskan dan saya memberikan solusi bahwa "acara kan belum dimulai dan masih punya waktu untuk memberikan pengumuman kepada para peserta untuk pindah tempat duduk agar sektor sebelah kiri yang memang banyak dipadati perempuan untuk para perempuan dan sektor kanan untuk para laki-laki".
"wes kadung pak," kata panitia.
Akhirnya teman duduk disebelah saya angkat kaki dan keluar meninggalkan ruangan dan tidak mengikuti seminar hari itu. Sebelum beranjak meninggalkan tempat duduknya beliau bilang kepada saya "saya ini mas ketua majelis tafsir Qur'an untuk wilayah Sukolilo (nama daerah di seputaran kampus ITS) dan kalau saya mengadakan acara dan saya yang menyampaikan kata sambutan mesti hal yang seperti ini saya ingatkan dan saya meminta peserta untuk duduk terpisah antara laki-laki dan perempuan,". Saya termangu dan mengiyakan. Saya jadi teringat ketika saya diundang oleh sekolahan anak saya untuk seminar tempat duduk perempuan dan laki-laki memang dipisahkan. Karena memang label sekolahan tersebut jelas Islam, Muhammadiyah.
Saya masih mendengarkan rentetan kekecewaan dari bapak dosen tersebut dan menimpali seandainya tempat duduk perempuan sudah penuh sebaiknya perempuan boleh duduk di bagian belakang laki-laki yang bangkunya masih kosong.

Tak berapa lama setelah meninggalkan ruangan seminar, saya menerima sms yang berbunyi "mas kalau butuh ustad di tempat anda hubungi saya dan saya akan kirim ustad ..gratis". Memang sebelumnya saya juga sempat cerita bahwa saya pernah menjadi pengurus masjid di tempat tinggal saya dan sering mengundang pembicara untuk memberikan pencerahan kepada para jamaah.

Obrolan kami sebelum pak dosen tadi meninggalkan ruanganpun tentunya seputar agama. Dia juga sempat bertanya dari mana tahu majelis tafsir Qur'an ? Saya menjawab dari buletin Jum'at yang biasanya ada di masjid-masjid....saya juga bilang menghargai perjuangan mereka dengan selalu mengirimkan ustad gratis seperti promosinya dalam buletin Jum'at.

Saya membalas sms bapak tersebut dan mengucapkan terima kasih sambil saya berjanji akan menyampaikan hal itu pada forum atau panitia. Kebetulan saya kenal dengan Wakil Dekan 1 yang kebetulan juga hadir dan saya sms rupanya setali tiga uang jawabannya "wes kadung" (sudah terlanjur). Untuk kali ini saya hanya bisa mesem dan hal tersebut saya sampaikan pada bapak dosen yang kecewa tadi melalui sms. Beliau membalas sms saya dengan "semestinya tidak kadung wong tadi belum mulai kok".

Seminar hari itu menarik bagi saya dan terasa gayeng walau saya bisa menarik kesimpulan bahwa ummat Islam di Indonesia masih belum syariah minded tetapi paling tidak sosialisasi tentang ekonomi syariah telah menabuh gongnya dan mendengungkan ke telinga para peserta yang hampir 150 orang, itu sudah bagus. Tinggal bagaimana diri kita sendiri mensupport atau memberikan dukungan bagi tegaknya enokomi syariah yang sudah mulai di akui dunia karena ketangguhannya dalam menghadapi krisis finansial global.

Sedihnya ..dalam paparan seminar menurut data statistik 97% rakyat di Jawa Timur yang beragama Islam hanya 10% saja yang mengetahui tentang produk perbankan syariah. Tugas berat memang bagi teman-teman yang tergabung dalam masyarakat ekonomi syariah.

Memang bila orang ingin mencapai kesempurnaan dalam hidup dunia dan akhirat sudah selayaknyalah dalam segala sendi kehidupan, Qur'an dan hadits selalu menjadi rujukan disetiap langkah seperti apa yang termaktub dalam Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi

"Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu".

Sabarlah pak dosen kita masih dalam tahap pembelajaran dan saya selalu mendo'akan bapak semoga bapak diberi kekuatan untuk menyebarkan ajaran ini dengan teguh dan diberikan kekuatan dalam segala cobaan dalam menegakkan ajaran Islam secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan.

Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati hambanya.

0 comments: