Wednesday, February 11, 2009

OUT BOUND Dewe

Senin pagi 9 Februari 2009, saya mengantarkan anak saya ke sekolah seperti biasanya tetapi pada Senin kali ini kegiatan anak saya sudah dijadualkan untuk out bound ke luar kota. Sehari sebelumnya saya dan istri sudah mempersiapkan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan oleh anak saya sesuai edaran disekolahnya.

Pagi itu cuaca sangat kurang bersahabat, awan tebal hitam menggelantung dan semakin pekat. Sesuai jadual anak saya seharusnya berangkat pukul 6.30 pagi. Tetapi seperti yang sudah saya duga bahwa hujan deras terus mengguyur mulai malam hari terkadang berhenti terkadang hujan lagi disertai dengan angin kencang yang menerpa. Saya merasa was-was dan kurang tenang untuk melepas kepergian anak saya. Apalagi setibanya di sekolah baru anak saya dan satu temannya yang sudah tiba sedang lainnya belum kelihatan. Saya berfikir ini karena cuaca hari itu yang kurang bersahabat. Saya juga berfikir bahwa anak saya yang masih kelas satu SD ini tentulah masih banyak memerlukan bantuan dalam out boundnya nanti. Apalagi kondisi cuaca seperti ini tentu akan membuat kondisi mereka cepat lapar karena menahan dinginnya udara.

Hujan yang terus mengguyur membuat saya tidak tenang dan saya lantas mengontak gurunya yang menurut istri saya belum juga tiba di sekolah. Saya sms dengan harapan bahwa kekhawatiran saya untuk melepas anak dapat dimengerti mengingat memang musim seperti ini ditambah lagi dengan berita di televisi dimana-mana banjir membuat saya semakin was-was. Saya mengingatkan melalui sms bahwa lain kali sekolah kalau mengagendakan out bound harus mempertimbangkan faktor musim demi keselamatan siswa dan guru. Sms saya direspon dengan jawaban akan disampaikan kepada kepala sekolah.

Akhirnya saya memutuskan tidak membolehkan anak saya berangkat out bound ke daerah Nongko Jajar di Pasuruan. Apalagi ketika saya menelepon saudara yang ada di Malang juga mengabarkan bahwa cuaca di sana kurang bersahabat dan terpaan angina begitu kerasnya. Dia juga menyarankan dalam bahasa Jawa “ojok mas nek iso…angine banter banget..opo mane neng Nongko Jajar seng medane koyok ngono”. Atas pertimbangan itu saya menyuruh istri saya untuk bernegosiasi ke guru kelas anak saya untuk tidak ikut acara hari itu. Saya juga sebelumnya menelepon guru kelas anak saya tetapi tidak diangkat. Kepada istri saya, saya menganjurkan bahwa tidak ikutnya anak kita jangan jadi pemicu acara yang sudah menjadi agenda sekolah. Walaupun dalam hati saya agak kurang setuju sebab saya sudah sms lagi sebelumnya ke guru kelas bahwa agendakan bisa diagendakan kembali tinggal bagaimana bernegosiasi dengan fihak-fihak terkait yang sudah menjadi rekanan sekolah untuk agenda out bound. Sms saya tidak mendapat respon karena mungkin sang guru enggan beradu argumen dengan saya. Saya sendiri berusaha logis. Dalam benak saya iya kalau itu anak kelas 5 atau kelas 6 yang sudah sangat mandiri. Sebuah kekhawatiran orang tua yang sangat manusiawi.

Akhirnya anak saya, saya ajak pulang dan dalam perjalanan istri saya menyampaikan bahwa sang guru kelas memperbolehkan tetapi dengan catatan bahwa anak dapat bercerita untuk kegiatan LKRS nya adalah out bound itu. Saya sendiri tidak tahu apa itu LKRS. Dari istri saya juga saya tahu bahwa out bound ke Nongko Jajar itu adalah kegiatan berkebun. Saya lantas meng-sms guru kelas anak saya “maaf bu, bukan saya tidak mendukung program sekolah tetapi atas pertimbangan lain saya tidak mengizinkan anak saya dan untuk kegiatan LKRS nya saya akan menyediakan waktu untuk menemani anak saya ke kebun di dekat rumah saja, terima kasih”.

Pulang dari sekolah maka saya mengajak anak saya untuk ke kebun yang tidak jauh dari rumah. Melewati jalan yang licin dan sedikit berlumpur anak saya Fira sangat menikmatinya. Saya membiarkan anak saya bergelayutan dengan memegang ujung baju saya di belakang. Dengan tertawa-tawa dia sangat riang. Sebelumnya memang saya memberikan pengertian kepadanya bahwa ayah “bukannya tidak mengizinkan kamu mengikuti out bound…tetapi karena faktor cuaca dan demi keselamatan maka ayah mengajak kamu out bound yang bisa ayah awasi sendiri”. Saya kan sangat mahfum dengan faktor security yang ada di Indonesia ini jadi saya bukannya tidak percaya dengan fihak sekolah tetapi masih menyangsikannya.

Sampai di kebun Fira saya ajak untuk menanam bibit nangka yang saya bawa dari rumah sebanyak tiga batang. Saya tidak menduga bahwa Fira sangat menyukainya. Saya biarkan dia bermain tanah yang hampir menjadi bubur lumpur karena memang kondisinya habis hujan deras. Fira berlari kesana kemari di atas tanah kebun yang licin…sudah pasti bajunya kotor semua. Saya hanya memandanginya saja dan sesekali dia berjalan diantara guludan tanah yang dipenuhi air sambil tertawa …kelihatan sekali dia menikmatinya.

Hampir tiga jam saya membiarkan dia bermain-main sendiri. Sesekali saya menjelaskan bahwa kangkung dan sawi yang tumbuh di kebun itu ditanam melalui biji. Saya juga melarangnya untuk menginjak-injak tanaman sawi yang sudah tumbuh. Dia juga bertanya kenapa pohon jati yang masih berdiameter 15 centi kok roboh karena diterjang angin. Saya menjelaskan bahwa itu karena begitu kuatnya energi yang dilepaskan oleh alam mini melalui angin. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa ayah tidak memperbolehkan kamu mengikuti out bound hari ini, kata saya. Fira sepertinya bisa menangkap apa yang saya maksudkan. Hari itu banyak yang dia tanyakan kepada saya dan saya berusaha menjawabnya dengan pemahaman seusia Fira.

Saya juga membawa kamera untuk mengabadikan peristiwa hari itu untuk dokumentasi saya sewaktu waktu mungkin bisa saya tunjukkan kepada guru kelasnya bahwa saya komitmen dengan ucapan saya “akan menyediakan waktu menemani anak saya berkebun sebagai pengganti kegiatan out bound yang tidak diikutinya hari itu”. Pulang dari kebun Fira minta gendong dan saya menurutinya karena memang jalanan becek dan berlumpur serta licin. Sampai di rumah saya memandikannya dan menyikat seluruh badannya yang memang sangat kotor sekali. Sehabis mandi Fira anak saya ini terus makan dengan lahapnya. Saya hanya tersenyum bila mengingat ingat betapa gembiranya dia di kebun hari itu. Inilah foto Fira ketika out bound dewe di kebun di daerah Desa Gading Watu Menganti Gresik.
















No comments: