Ide tulisan
Ide tulisan ini muncul sebagai rasa keprihatinan pribadi atas kondisi lingkungan di bumi dimana manusia telah di tetapkan Nya untuk tinggal setelah Adam as dan Siti Hawa melanggar perjanjian dengan Tuhannya. Tulisan ini juga lahir karena keprihatinan pada kondisi lingkungan dimana sekelompok manusia yang sangat heterogen berkumpul dalam satu komunitas administratif dalam struktur organisasi pemerintahan yang kecil yaitu RT (Rukun tetangga) dan RW (Rukun Warga).
Nun jauh di sebelah Barat Suratabaya berbatasan dengan Kabupaten Gresik terdapatlah namanya Desa yang dari sisi sejarah mempunyai nama yang cukup unik PELEMWATU. Saya sendiri tidak tahu dan belum menelusuri mengapa sejarahnya kok dinamai Pelemwatu. Hanya katanya kebanyakan orang mungkin karena tanahnya sedikit keras (paras dalam bahasa Jawa) dan juga memang saya lihat pertama kali saya pindah banyak sekali pohon mangga (pelem dalam bahasa Jawa). Mungkin itu lah yang menyebabkan desa ini dinamai Pelemwatu.
Di Pelemwatu ini ada sebidang tanah yang luas yang diatasnya telah dibangun perumahan dengan nama Palem Pertiwi. Orang-orang sering menyebutnya Menganti Palem Pertiwi karena memang masuk dalam wilayah Kecamatan Menganti. Sehingga kalau ditanya “tinggalnya di mana Pak?” maka banyak sekali yang menjawab “Menganti Palem Pertiwi Pak”. Walau di pintu gerbang masuk perumahan ini hanya tertulis PALEM PERTIWI.
Ide tulisan ini juga timbul karena sulitnya mencari figur atau pun orang yang mau dengan sukarela untuk menjadi pengurus di lingkungan di mana mereka tinggal. Apakah itu setingkat RT ataupun yang lebih besar lagi setingkat RW. Ini saya amati setelah saya tinggal di Palem Pertiwi ini mulai tahun 2001.
Dalam kacamata saya ada yang salah dalam logika berfikir orang-orang di Palem Pertiwi (PP) ini. Mengapa? Karena memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa penduduk yang menetap karena menghuni rumah sendiri atau pun kontrak adalah kaum pendatang dari berbagai daerah disamping kondisi geografis Menganti yang strategis sebagai perbatasan antara Surabaya Barat dengan Kabupaten Gresik di sebelah Selatan. Palem Pertiwi sebagai tandon alternatif pemukiman yang cukup memiliki nilai jual karena berbagai alasan tadi. Disamping pada awal berdirinya memang harga jual rumah relatif murah. Semakin tahun PP ini semakin menjadi pilihan bagi orang yang berkantong tebal untuk menjadikan PP sebagai tempat tinggal dan investasi.
Disinilah justru awal permasalahan bermula, mungkin pada awal-awal nya PP berdiri dengan hanya segelintir manusia yang menempatinya ‘tingkat ke sukarelaan untuk menjadi pengurus’ masih tinggi. Ini dibuktikan dengan begitu mudahnya (dari cerita pengurus laaamaaaaaa) seseorang ditunjuk untuk menjadi RT ataupun RW. Semakin tahun PP semakin berkembang dan penghuni yang tinggal semakin kompleks dan akhirnya memunculkan konlik (dalam bahsa saya). Ada yang konstruktif tetapi ada pula yang destruktif dan ada pula yang apatis. Memang itulah sifat manusia.
Manusia sebagai mahluk sosial ???
Walaupun banyak buku-buku sosiologi yang menulis bahwa manusia sebagai mahluk social atau zoon politicon, tetapi dalam kacamata penulis itu mungkin perlu dikaji ulang khususnya untuk PP ini. Karena ini tidak terbukti, sebagai daerah margin dipinggiran kota yang seharusnya masih sangat erat kekentalan mahluk sosialnya telah bergeser ke mahluk individualis. Bagaimana tidak, ketika terjadi pergantian pengurus di lingkungan selalu saja menemui kesulitan karena tidak adanya calon pengganti yang mau dicalonkan menjadi pengurus dengan berbagai alasan mulai tidak mampu, tidak punya waktu, istri tidak mengizinkan, dan banyak lagi. Sehingga ada semacam anekdot “bila kau sekali menjadi pengurus di PP ini maka kau akan jadi pengurus selamanya”.
Pengalaman penulis sebagai salah satu dari tim formatur atau panitia bentukan untuk proses pemilihan calon ‘ketua’ di lingkungan PP ini terulang pada proses pemilihan ketua-ketua dilingkungan PP berikutnya. Alasan yang munculpun sama. Seperti sudah terduga sebelumnya alasan yang saya tulis di atas terulang lagi, tidak mampu, tidak punya waktu, istri tidak mengizinkan dan sederet alasan yang serupa. Sebagai tim formatur yang harus bekerja mendatangi individu-individu yang dianggap mampu ‘menjaga gawang’ administratif di PP selau menemui kesulitan Sehingga ketika tim formatur mendatangi salah seorang calon ketua statemen dari judul tulisan ini muncul. Dengan berseloroh penulis berujar “Seandainya RW itu digaji sepuluh juta rupiah rupiah sebulan, mungkin tim formatur gak usah susah-susah mendatangi calon, duduk diam manis di sekretariat dan menerima pendaftaran dari calon yang saya yakin akan antri”. Si calon yang dipinang tim formatur tertawa terbahak. Ini dijawab langsung pula oleh Sang Pencipta Langit dan Bumi ini ketika tim formatur istirahat sejenak sehabis keliling mendatangi calon. Salah satu teman di PP ini sempat berujar memberikan perumpamaan bahwa kalo di salah satu tempat di daerah Benowo itu jabatan RW menjadi rebutan karena memiliki nilai ekonomi.
Inilah kesimpulan sementara yang membuat statemen bahwa sebenarnya kita ini hidup selalu dipenuhi motif ekonomi dan statemen zoon politicon perlu dikaji ulang di PP ini.
Manusia sebagai binatang ekonomi
Banyak pakar berpendapat bahwa manusia sebagai binatang ekonomi sehingga apapun diusahakan untuk dieksploitasi menjadi memiliki nilai ekonomi. Entah itu alam, lingkungan sekitar, teman, jabatan bahkan sampai hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. Inilah yang dalam Islam (sebagai agama penulis) melalui Al Qur’an manusia itu telah diingatkan melalui surah Ar-Ruum ayat 41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”
Inilah awal mengapa alasan-alasan serupa sering muncul ketika terjadi pergantian pengurus karena kita sudah menjadi binatang ekonomi dan motif ekonomi itu menjadikan kita galau bahwa dengan menjadi pengurus bagaimana nanti dengan kondisi ekonomi kita. Pembagian waktu antara mengurusi kampung dengan mengurusi ekonomi keluarga membuat memori otak kita menjadi sedikit terganggu. Membayangkan lembar demi lembar rupiah dengan membayangkan kerja bakti tanpa rupiah dan celatuan dari masyarakat yang hanya bisa nyelatu tapi tidak pernah memberikan ide konstruktif dan turut berpartisipasi langsung untuk kampungnya. Hal ini (kesimpulan sementara) menjadikan kita selalu diliputi rasa galau ketika dipinang untuk menjadi pengurus.
Disisi lain pengurus yang itu-itu saja menandakan penyakit tadi semakin akut dan tingkat partisipasi masyarakat dalam membangun kampungnya akan mengalami stagnasi bahkan cenderung menurun karena tidak pernah dilibatkan secara bergilir dalam kepengurusan sehingga tidak pernah bersentuhan langsung dengan kondisi dan permasalahan masyarakat sesungguhnya.
Berpartisipasi dalam masyarakat bukan hanya masalah membayar iuran yang wajib yang sudah ditetapkan pengurus tetapi perlu tingkat kepedulian manusia di PP ini sehingga efeknya akan terasa pada generasi penerus. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran lingkunganpun sangat kuat membangun karakter sebuah masyarakat khususnya generasi penerus.
Saudaraku, berperanlah seimbang dalam hidup ini, berperan seimbang dalam lingkungan di mana kita berada, berperan seimbanga dalam setiap sendi kehidupan sehingga menjadikan kita manusia yang selalu memberikan sisi lain dalam hidup kita ini untuk kepentingan sosial sebagai amal bakti yang berguna di akhirat kelak sebagai timbangan amal kebaikan untuk menyeimbangkan keburukan-keburukan kita selama hidup di dunia ini.
Solusi : SIMBOL ADMINISTRASI
Sahabat saya sebagai salah satu tim formatur dan juga pernah jadi pengurus dan lamaaaa berpendapat bahwa seandainya tidak ada yang mau menjadi pengurus mungkin perlu bentukan RT atau RW sebatas simbol administrasi saja sehingga tugasnya hanya sebagai tukang stempel dan segala macam kegiatan tidak perlu diadakan semisal peringatan hari besar nasional dan semacamnya.
Ada lagi yang berpendapat dalam rapat awal tim formatur bahwa mungkin perlu kaum ibu yang menjadi RT atau RW karena sebetulnya kaum ibu lebih banyak waktunya di PP ini, lebih banyak di rumah.
Kalau penulis tetap memberikan solusi, bagaimanapun tingkat kesadaran warga harus tetap digugah sehingga mentalnya berubah, bahwa memang menjadi pengurus itu bukan perkara mudah dan tidak memiliki nilai ekonomi, dan harus tetap terjadi pergantian pengurus sehingga peran serta masyarakat di PP ini dalam membangun kampungya akan menemukan bentuk idealnya. Kapan ?
AlLahu ‘alam AlLahummasy had
Friday, January 16, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment