Tuesday, November 20, 2007

MACET LAGI MACET LAGI

Menyikapi kemacetan yang ada di kota kota besar di Indonesia saya sempat geleng geleng kepala karena, katanya negara kita ini miskin tapi kok kendaraan di jalan raya banyak sekali. Kalau sudah begini yang keliru itu ekonom atau hasil survey nya ?? Disisi lain kota-kota di luar Jakarta tidak mau belajar dari kemacetan Jakarta yang sudah terkenal itu.

Surabaya sekarang juga sudah mulai menuai hasil dari pembangunan yang tidak mengindahkan kenyamanan publik dengan tekanan kenyamanan publik. Mengapa ? Karena semua merasa membayar pajak mungkin atau juga karena pemerintahnya tidak mengerti bagaimana cara mengelola uang publik untuk kepentingan dan kenyamanan publik.

Saya sempat berkata kepada teman saya dinegara ini bila menjadi RI-1 itu seharusnya sudah siap mati baik mati secara wajar ataupun tidak wajar alias disantet. Mengapa disantet karena banyaknya lawan politik dan pengusaha yang tidak terakomodasi kepentingannya sehingga berulah.

Sudah 62 tahun merdeka PEMERINTAH tidak berani mengeluarkan kebijakan tentang pelayanan dan kenyamanan publik. Misal kendaraan bermotor yang lebih dari 10 tahun harus dimusnahkan dan didaur ulang. Angkutan publik diperbaiki armada dan kualitas layanannya. Yang melanggar aturan lalu lintas ditindak tegas dengan tidak boleh mengendarai selama 1 tahun tergantung berat ringannya pelanggaran.

Setelah saya amati kadang-kadang kebijakannya sudah benar tapi tindakan untuk melakukan dan mengamankan kebijakan itu tidak tegas? Kenapa ya ? Apa karena wajah peradilan kita ? Atau karena negara ini tidak punya panutan dengan meminjam istilah bung EMHA Ainun Najib bahwa dinegara ini semuanya sesat.

Pemimpin merupakan simbol sebuah negara dan mau dibawa kemana negara ini tergantung pemimpinnya. Lihatlah bagaimana mantan presiden India yang diminta untuk berbicara di Jakarta baru-baru ini dengan memaparkan bagaiman negaranya membangun sistim informasi sehingga menjadi negara modern dengan sistim informasinya saat ini.

Negara yang penuh dengan orang pintar tetapi terpuruk dari sisi kesejahteraan tentunya ada yang salah dan tidak beres. Sampai kapan ini akan berakhir ??? Mungkinkah tidak berakhir sampai ALLAH menurunkan azab kubronya sehingga hanya menyisakan orang-orang baik dinegeri ini? Wallahu'alam....