Thursday, November 01, 2007

Profesor...oh profesor..

Ketika ngobrol serius dengan salah satu profesor baru dari salah satu universitas negeri di Jawa Timur saya kaget dan memberikan ucapan selamat karena yang bersangkutan tidak pernah menceritakan kalau yang bersangkutan sudah dikukuhkan menjadi guru besar (apa memang selama ini masih guru kecil hehe). Obrolan berlanjut dengan basa basi biasa dan si profesor pamit.

Tak lama kemudian datanglah si doktor yang sering saya motivasi untuk segera mengurus segala keperluan yang dibutuhkan untuk segera dikukuhkan menjadi guru besar. Setelah ngobrol ngalor ngidul saya berkomentar bahwa di perguruan tinggi A banyak profesornya ya... Si doktor terus berkomentar bahwa di PT A itu enak karena bila ingin mengumpulkan kum sang kandidat guru besar bisa menyantolkan kum untuk penelitiannya pada rekan sejawat atau mahasiswa bimbingannya (apa boleh ya...??)

Sang doktorpun berkomentar ada lagi perguruan tinggi negeri di daerah B bahwa profesornya lebih banyak lagi yah sama karena sistim cantol menyantol (kayak listrik saja) sering dilakukan sehingga pengumpulan kum dari penelitian lebih cepat terkumpul.

Saya hanya jadi bertanya-tanya apa memang harus begitu sih untuk menjadi guru besar sebagai panutan mahasiswa ? Atau karena motif lain sehingga rating nya meningkat bila diundang seminar karena keguru besarannya atau juga karena motif motif lain secara ekonomi tadi sehingga terkadang untuk cantol menyantolpun dilakukan? Atau juga karena di fakultas di PT tersebut kering dengan guru besar, alah mak...

Setahu saya yang namanya guru besar itu selain merupakan jenjang kepangkatan juga karena kepakaran dibidang ilmunya. Cobalah kita lihat bagaimana dan berapa banyak buku yang diterbitkan oleh profesor profesor kita ? Selain mengajar tugas profesor yah memang meneliti dan menerbitkannya dalam jurnal sehingga diakui kepakarannya.

Tapi mungkin zaman sudah bergeser sehingga untuk mendapatkan predikat guru besar seorang kandidat profesor gampang mengumpulkan kum karena kebaikan kolega ataupun karena merasa membimbing mahasiswanya sehingga menganggap bahwa itupun menjadi penelitiannya dan bukan karya mahasiswa sepenuhnya yang memiliki ide dasar ? Bener gak sih....?? Bingung aku....