Saturday, September 18, 2010

Urat Nadi atau Urat Geli

Sudah tiga hari ini saya selalu melihat berita di TV selalu membahas tentang ambrolnya jalan di daerah Jakarta Utara, Jl. R.E. Martadinata. Jalan kok bisa ambrol begitu fikirku. Tapi saya tidak heran sebetulnya karena gaya hidup dari masyarakat Indonesia dan pola penegakan hukumnya yang tidak jelas telah membuat banyak orang yang jeli sebetulnya telah menduga-duga. Mungkin saya bisa memberikan analogi, bahwa jalan dari arah perempatan pasar ke daerah rumah saya itu sangat sering dilewati oleh truk-truk besar yang jelas-jelas bukan kelas jalannya. Sudah bisa diduga tentu jalan akan bergelombang karena truk itu sangat 'sarat' muatan (berlebihan), sama seperti kita lihat sepeda motor yang membawa beban apa saja yang bisa dimuat ketika keluar dari pasar, bawaannya menggunung sampai sampai penumpangnya ditempatkan diatas muatannya, mirip sirkus. Anehnyakan polisi diam saja.

Kembali ke berita tentang amblesnya jalan di Jakarta Utara tersebut, presenter TV malah menambahkan bahwa Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050. Saya bergumam mendengar itu 'biarin aja biar para koruptor disana ikut tenggelam'. Saya hanya berfikir dari sisi manajemen dan sudut pandang pertumbuhan ekonomi. Sejak saya SD Jakarta sudah menjadi magnet bagi sejumlah penduduk Indonesia karena apa? Karena uang yang beredar di kota ini katanya 80% uang yang beredar di Indonesia. Sudut pandang agamapun sudah menukil bahwa tidaklah baik uang beredar hanya pada orang kaya saja. Memang sih mungkin orang kaya tidak semua di Jakarta tetapi bisnisnya bisa saja di Jakarta, mengapa? Saya tidak akan menjawab ini tetapi saya akan mengangkat isu tentang adanya rencana pemindahan ibu kota ke kota di Kalminatan yang terus menjadi polemik.

Akan saya bandingkan dengan cerita teman saya yang bekerja di Cayman Island. Dia bilang kepada saya 'orang Indonesia itu sulit membuat keputusan karena terlalu banyak pertimbangan maunya main aman'. Mengapa begitu saya bilang. 'Bos saya orang Perancis pernah menasehati saya bahwa dalam hidup ini kita harus membuat keptusan secara cepat dan siap menerima resikonya...jadi bila itu sudah kau pilih, jalanilah,' celoteh teman saya ketika bertemu di kelas pasar modal. Dia melanjutkan 'saya pernah bertanya kepada teman saya yang orang Turki pemerintahmu kalau mau membuat peraturan selalu disosialisasikan tidak?'. Temannya yang orang Turki itu menggeleng. Kesimpulan teman saya itu, pemerintah ini terlalu bertele-tele dan seringkali mempertimbangkan resiko-resiko kecil yang mungkin tidak perlu demi mengalahkan kepentingan-kepentingan BESAR ke depan. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar ceritanya ini. Aku hanya menukas dengan filosofi yang sering aku sampaikan "terlalu banyak diskusi untuk menolong orang yang sudah sekarat dan karena kebanyakan diskusi akhirnya orang yang sekarat itu tidak tertolong dan mati sedang diskusi masih terus berlangsung dengan topik yang sudah berubah, bagaimana cara menguburkannya, diskusi masih terus berlangsung tetapi mayat telah membusuk..terus menerus berganti topik tanpa penyelesaian yang jelas'. Banyak kasus-kasus di negara ini yang tak kunjung selesai dan akhirnya membeku.

Bila jalan Martadinata itu sangat begitu pentingnya seharusnya pemerintah melalui departemen terkait memiliki target untuk memperbaikinya. Ketika saya menulis tanggal 19 dan kejadian tanggal 9 progres belum begitu terlihat. Ini menyebabkan urat geli saya terusik. Bagaimana mungkin jalan itu kan urat nadi tetapi telah banyak membuat urat geli orang terusik. Inilah mungkin perlunya mengalihkan magnet Jakarta ke daerah lain. Tidak perlu untuk diskusi terlalu lama, resiko biaya besar itu sudah pasti tetapi ini untuk kepentingan ke DEPAN generasi berikutnya bukan untuk anak cucu sendiri.

No comments: