Pada tanggal 26 Januari 2009 bertepatan dengan tahun baru imlek saya mengikuti seminar ekonomi syariah di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya. Ketika saya datang jam 7.30 pagi belum kelihatan tanda-tanda panitia bersiap-siap untuk mempersiapkan acara hari itu. Saya masuk pukul 7.45 dan nomor satu dibagian registrasi karena memang baru saya peserta yang hadir waktu itu.
Saya mengamati kerja panitia hari itu dan ketika barisan sebelah kiri banyak dipenuhi oleh kelompok perempuan maka saya memutuskan pindah ke bagian sebelah kanan dengan harapan saya tidak ingin bercampur baur dengan tempat duduk kaum perempuan/hawa. Benar saja peserta yang datang berikutnya adalah para lelaki yang langsung mengambil posisi duduk di sebelah kanan dimana tempat saya duduk.
Selang beberapa menit kemudian datanglah salah seorang dosen teknik kelautan dari ITS yang langsung duduk disamping saya dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu (makanya saya tau beliau dosen teknik kelautan). Tak berapa lama kemudian selang beberapa menit datanglah para perempuan yang duduk dideretan bangku yang kami duduki. Bapak dosen tadi mulai uring-uringan "katanya belajar syariah tetapi kok tidak syariah sama sekali", celetuknya. Saya memahami dan tanggap dan menimpali dengan cerita bagaimana dan dimana tadi nya saya duduk dan terus pindah hanya karena menilai bahwa deretan sebelah kiri akan diisi oleh kelompok perempuan, ternyata dugaan saya meleset dan bahkan ada beberapa perempuan duduk dideretan bangku kami.
"Sebentar mas, biar saya sms dulu panitianya," ucap beliau sambil asyik memainkan keypad dari hape nya.
Saya menimpali "Biar saya saja bicara ke panitia pak".
"Gak usah dulu..mas kita tunggu dulu responnya bagaimana".
Ternyata tunggu punya tunggu panitia tidak merespon sama sekali. Saya langsung refleks dan bergerak keluar dari deretan kursi dan menemui panitia adik-adik mahasiswa dan saya kemukakan tentang hal yang menjadi permasalahan. Panitia tidak bisa memutuskan dan saya memberikan solusi bahwa "acara kan belum dimulai dan masih punya waktu untuk memberikan pengumuman kepada para peserta untuk pindah tempat duduk agar sektor sebelah kiri yang memang banyak dipadati perempuan untuk para perempuan dan sektor kanan untuk para laki-laki".
"wes kadung pak," kata panitia.
Akhirnya teman duduk disebelah saya angkat kaki dan keluar meninggalkan ruangan dan tidak mengikuti seminar hari itu. Sebelum beranjak meninggalkan tempat duduknya beliau bilang kepada saya "saya ini mas ketua majelis tafsir Qur'an untuk wilayah Sukolilo (nama daerah di seputaran kampus ITS) dan kalau saya mengadakan acara dan saya yang menyampaikan kata sambutan mesti hal yang seperti ini saya ingatkan dan saya meminta peserta untuk duduk terpisah antara laki-laki dan perempuan,". Saya termangu dan mengiyakan. Saya jadi teringat ketika saya diundang oleh sekolahan anak saya untuk seminar tempat duduk perempuan dan laki-laki memang dipisahkan. Karena memang label sekolahan tersebut jelas Islam, Muhammadiyah.
Saya masih mendengarkan rentetan kekecewaan dari bapak dosen tersebut dan menimpali seandainya tempat duduk perempuan sudah penuh sebaiknya perempuan boleh duduk di bagian belakang laki-laki yang bangkunya masih kosong.
Tak berapa lama setelah meninggalkan ruangan seminar, saya menerima sms yang berbunyi "mas kalau butuh ustad di tempat anda hubungi saya dan saya akan kirim ustad ..gratis". Memang sebelumnya saya juga sempat cerita bahwa saya pernah menjadi pengurus masjid di tempat tinggal saya dan sering mengundang pembicara untuk memberikan pencerahan kepada para jamaah.
Obrolan kami sebelum pak dosen tadi meninggalkan ruanganpun tentunya seputar agama. Dia juga sempat bertanya dari mana tahu majelis tafsir Qur'an ? Saya menjawab dari buletin Jum'at yang biasanya ada di masjid-masjid....saya juga bilang menghargai perjuangan mereka dengan selalu mengirimkan ustad gratis seperti promosinya dalam buletin Jum'at.
Saya membalas sms bapak tersebut dan mengucapkan terima kasih sambil saya berjanji akan menyampaikan hal itu pada forum atau panitia. Kebetulan saya kenal dengan Wakil Dekan 1 yang kebetulan juga hadir dan saya sms rupanya setali tiga uang jawabannya "wes kadung" (sudah terlanjur). Untuk kali ini saya hanya bisa mesem dan hal tersebut saya sampaikan pada bapak dosen yang kecewa tadi melalui sms. Beliau membalas sms saya dengan "semestinya tidak kadung wong tadi belum mulai kok".
Seminar hari itu menarik bagi saya dan terasa gayeng walau saya bisa menarik kesimpulan bahwa ummat Islam di Indonesia masih belum syariah minded tetapi paling tidak sosialisasi tentang ekonomi syariah telah menabuh gongnya dan mendengungkan ke telinga para peserta yang hampir 150 orang, itu sudah bagus. Tinggal bagaimana diri kita sendiri mensupport atau memberikan dukungan bagi tegaknya enokomi syariah yang sudah mulai di akui dunia karena ketangguhannya dalam menghadapi krisis finansial global.
Sedihnya ..dalam paparan seminar menurut data statistik 97% rakyat di Jawa Timur yang beragama Islam hanya 10% saja yang mengetahui tentang produk perbankan syariah. Tugas berat memang bagi teman-teman yang tergabung dalam masyarakat ekonomi syariah.
Memang bila orang ingin mencapai kesempurnaan dalam hidup dunia dan akhirat sudah selayaknyalah dalam segala sendi kehidupan, Qur'an dan hadits selalu menjadi rujukan disetiap langkah seperti apa yang termaktub dalam Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi
"Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu".
Sabarlah pak dosen kita masih dalam tahap pembelajaran dan saya selalu mendo'akan bapak semoga bapak diberi kekuatan untuk menyebarkan ajaran ini dengan teguh dan diberikan kekuatan dalam segala cobaan dalam menegakkan ajaran Islam secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam hati hambanya.
Monday, January 26, 2009
Friday, January 16, 2009
Seandainya RW digaji Rp. 10 Juta
Ide tulisan
Ide tulisan ini muncul sebagai rasa keprihatinan pribadi atas kondisi lingkungan di bumi dimana manusia telah di tetapkan Nya untuk tinggal setelah Adam as dan Siti Hawa melanggar perjanjian dengan Tuhannya. Tulisan ini juga lahir karena keprihatinan pada kondisi lingkungan dimana sekelompok manusia yang sangat heterogen berkumpul dalam satu komunitas administratif dalam struktur organisasi pemerintahan yang kecil yaitu RT (Rukun tetangga) dan RW (Rukun Warga).
Nun jauh di sebelah Barat Suratabaya berbatasan dengan Kabupaten Gresik terdapatlah namanya Desa yang dari sisi sejarah mempunyai nama yang cukup unik PELEMWATU. Saya sendiri tidak tahu dan belum menelusuri mengapa sejarahnya kok dinamai Pelemwatu. Hanya katanya kebanyakan orang mungkin karena tanahnya sedikit keras (paras dalam bahasa Jawa) dan juga memang saya lihat pertama kali saya pindah banyak sekali pohon mangga (pelem dalam bahasa Jawa). Mungkin itu lah yang menyebabkan desa ini dinamai Pelemwatu.
Di Pelemwatu ini ada sebidang tanah yang luas yang diatasnya telah dibangun perumahan dengan nama Palem Pertiwi. Orang-orang sering menyebutnya Menganti Palem Pertiwi karena memang masuk dalam wilayah Kecamatan Menganti. Sehingga kalau ditanya “tinggalnya di mana Pak?” maka banyak sekali yang menjawab “Menganti Palem Pertiwi Pak”. Walau di pintu gerbang masuk perumahan ini hanya tertulis PALEM PERTIWI.
Ide tulisan ini juga timbul karena sulitnya mencari figur atau pun orang yang mau dengan sukarela untuk menjadi pengurus di lingkungan di mana mereka tinggal. Apakah itu setingkat RT ataupun yang lebih besar lagi setingkat RW. Ini saya amati setelah saya tinggal di Palem Pertiwi ini mulai tahun 2001.
Dalam kacamata saya ada yang salah dalam logika berfikir orang-orang di Palem Pertiwi (PP) ini. Mengapa? Karena memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa penduduk yang menetap karena menghuni rumah sendiri atau pun kontrak adalah kaum pendatang dari berbagai daerah disamping kondisi geografis Menganti yang strategis sebagai perbatasan antara Surabaya Barat dengan Kabupaten Gresik di sebelah Selatan. Palem Pertiwi sebagai tandon alternatif pemukiman yang cukup memiliki nilai jual karena berbagai alasan tadi. Disamping pada awal berdirinya memang harga jual rumah relatif murah. Semakin tahun PP ini semakin menjadi pilihan bagi orang yang berkantong tebal untuk menjadikan PP sebagai tempat tinggal dan investasi.
Disinilah justru awal permasalahan bermula, mungkin pada awal-awal nya PP berdiri dengan hanya segelintir manusia yang menempatinya ‘tingkat ke sukarelaan untuk menjadi pengurus’ masih tinggi. Ini dibuktikan dengan begitu mudahnya (dari cerita pengurus laaamaaaaaa) seseorang ditunjuk untuk menjadi RT ataupun RW. Semakin tahun PP semakin berkembang dan penghuni yang tinggal semakin kompleks dan akhirnya memunculkan konlik (dalam bahsa saya). Ada yang konstruktif tetapi ada pula yang destruktif dan ada pula yang apatis. Memang itulah sifat manusia.
Manusia sebagai mahluk sosial ???
Walaupun banyak buku-buku sosiologi yang menulis bahwa manusia sebagai mahluk social atau zoon politicon, tetapi dalam kacamata penulis itu mungkin perlu dikaji ulang khususnya untuk PP ini. Karena ini tidak terbukti, sebagai daerah margin dipinggiran kota yang seharusnya masih sangat erat kekentalan mahluk sosialnya telah bergeser ke mahluk individualis. Bagaimana tidak, ketika terjadi pergantian pengurus di lingkungan selalu saja menemui kesulitan karena tidak adanya calon pengganti yang mau dicalonkan menjadi pengurus dengan berbagai alasan mulai tidak mampu, tidak punya waktu, istri tidak mengizinkan, dan banyak lagi. Sehingga ada semacam anekdot “bila kau sekali menjadi pengurus di PP ini maka kau akan jadi pengurus selamanya”.
Pengalaman penulis sebagai salah satu dari tim formatur atau panitia bentukan untuk proses pemilihan calon ‘ketua’ di lingkungan PP ini terulang pada proses pemilihan ketua-ketua dilingkungan PP berikutnya. Alasan yang munculpun sama. Seperti sudah terduga sebelumnya alasan yang saya tulis di atas terulang lagi, tidak mampu, tidak punya waktu, istri tidak mengizinkan dan sederet alasan yang serupa. Sebagai tim formatur yang harus bekerja mendatangi individu-individu yang dianggap mampu ‘menjaga gawang’ administratif di PP selau menemui kesulitan Sehingga ketika tim formatur mendatangi salah seorang calon ketua statemen dari judul tulisan ini muncul. Dengan berseloroh penulis berujar “Seandainya RW itu digaji sepuluh juta rupiah rupiah sebulan, mungkin tim formatur gak usah susah-susah mendatangi calon, duduk diam manis di sekretariat dan menerima pendaftaran dari calon yang saya yakin akan antri”. Si calon yang dipinang tim formatur tertawa terbahak. Ini dijawab langsung pula oleh Sang Pencipta Langit dan Bumi ini ketika tim formatur istirahat sejenak sehabis keliling mendatangi calon. Salah satu teman di PP ini sempat berujar memberikan perumpamaan bahwa kalo di salah satu tempat di daerah Benowo itu jabatan RW menjadi rebutan karena memiliki nilai ekonomi.
Inilah kesimpulan sementara yang membuat statemen bahwa sebenarnya kita ini hidup selalu dipenuhi motif ekonomi dan statemen zoon politicon perlu dikaji ulang di PP ini.
Manusia sebagai binatang ekonomi
Banyak pakar berpendapat bahwa manusia sebagai binatang ekonomi sehingga apapun diusahakan untuk dieksploitasi menjadi memiliki nilai ekonomi. Entah itu alam, lingkungan sekitar, teman, jabatan bahkan sampai hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. Inilah yang dalam Islam (sebagai agama penulis) melalui Al Qur’an manusia itu telah diingatkan melalui surah Ar-Ruum ayat 41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”
Inilah awal mengapa alasan-alasan serupa sering muncul ketika terjadi pergantian pengurus karena kita sudah menjadi binatang ekonomi dan motif ekonomi itu menjadikan kita galau bahwa dengan menjadi pengurus bagaimana nanti dengan kondisi ekonomi kita. Pembagian waktu antara mengurusi kampung dengan mengurusi ekonomi keluarga membuat memori otak kita menjadi sedikit terganggu. Membayangkan lembar demi lembar rupiah dengan membayangkan kerja bakti tanpa rupiah dan celatuan dari masyarakat yang hanya bisa nyelatu tapi tidak pernah memberikan ide konstruktif dan turut berpartisipasi langsung untuk kampungnya. Hal ini (kesimpulan sementara) menjadikan kita selalu diliputi rasa galau ketika dipinang untuk menjadi pengurus.
Disisi lain pengurus yang itu-itu saja menandakan penyakit tadi semakin akut dan tingkat partisipasi masyarakat dalam membangun kampungnya akan mengalami stagnasi bahkan cenderung menurun karena tidak pernah dilibatkan secara bergilir dalam kepengurusan sehingga tidak pernah bersentuhan langsung dengan kondisi dan permasalahan masyarakat sesungguhnya.
Berpartisipasi dalam masyarakat bukan hanya masalah membayar iuran yang wajib yang sudah ditetapkan pengurus tetapi perlu tingkat kepedulian manusia di PP ini sehingga efeknya akan terasa pada generasi penerus. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran lingkunganpun sangat kuat membangun karakter sebuah masyarakat khususnya generasi penerus.
Saudaraku, berperanlah seimbang dalam hidup ini, berperan seimbang dalam lingkungan di mana kita berada, berperan seimbanga dalam setiap sendi kehidupan sehingga menjadikan kita manusia yang selalu memberikan sisi lain dalam hidup kita ini untuk kepentingan sosial sebagai amal bakti yang berguna di akhirat kelak sebagai timbangan amal kebaikan untuk menyeimbangkan keburukan-keburukan kita selama hidup di dunia ini.
Solusi : SIMBOL ADMINISTRASI
Sahabat saya sebagai salah satu tim formatur dan juga pernah jadi pengurus dan lamaaaa berpendapat bahwa seandainya tidak ada yang mau menjadi pengurus mungkin perlu bentukan RT atau RW sebatas simbol administrasi saja sehingga tugasnya hanya sebagai tukang stempel dan segala macam kegiatan tidak perlu diadakan semisal peringatan hari besar nasional dan semacamnya.
Ada lagi yang berpendapat dalam rapat awal tim formatur bahwa mungkin perlu kaum ibu yang menjadi RT atau RW karena sebetulnya kaum ibu lebih banyak waktunya di PP ini, lebih banyak di rumah.
Kalau penulis tetap memberikan solusi, bagaimanapun tingkat kesadaran warga harus tetap digugah sehingga mentalnya berubah, bahwa memang menjadi pengurus itu bukan perkara mudah dan tidak memiliki nilai ekonomi, dan harus tetap terjadi pergantian pengurus sehingga peran serta masyarakat di PP ini dalam membangun kampungya akan menemukan bentuk idealnya. Kapan ?
AlLahu ‘alam AlLahummasy had
Ide tulisan ini muncul sebagai rasa keprihatinan pribadi atas kondisi lingkungan di bumi dimana manusia telah di tetapkan Nya untuk tinggal setelah Adam as dan Siti Hawa melanggar perjanjian dengan Tuhannya. Tulisan ini juga lahir karena keprihatinan pada kondisi lingkungan dimana sekelompok manusia yang sangat heterogen berkumpul dalam satu komunitas administratif dalam struktur organisasi pemerintahan yang kecil yaitu RT (Rukun tetangga) dan RW (Rukun Warga).
Nun jauh di sebelah Barat Suratabaya berbatasan dengan Kabupaten Gresik terdapatlah namanya Desa yang dari sisi sejarah mempunyai nama yang cukup unik PELEMWATU. Saya sendiri tidak tahu dan belum menelusuri mengapa sejarahnya kok dinamai Pelemwatu. Hanya katanya kebanyakan orang mungkin karena tanahnya sedikit keras (paras dalam bahasa Jawa) dan juga memang saya lihat pertama kali saya pindah banyak sekali pohon mangga (pelem dalam bahasa Jawa). Mungkin itu lah yang menyebabkan desa ini dinamai Pelemwatu.
Di Pelemwatu ini ada sebidang tanah yang luas yang diatasnya telah dibangun perumahan dengan nama Palem Pertiwi. Orang-orang sering menyebutnya Menganti Palem Pertiwi karena memang masuk dalam wilayah Kecamatan Menganti. Sehingga kalau ditanya “tinggalnya di mana Pak?” maka banyak sekali yang menjawab “Menganti Palem Pertiwi Pak”. Walau di pintu gerbang masuk perumahan ini hanya tertulis PALEM PERTIWI.
Ide tulisan ini juga timbul karena sulitnya mencari figur atau pun orang yang mau dengan sukarela untuk menjadi pengurus di lingkungan di mana mereka tinggal. Apakah itu setingkat RT ataupun yang lebih besar lagi setingkat RW. Ini saya amati setelah saya tinggal di Palem Pertiwi ini mulai tahun 2001.
Dalam kacamata saya ada yang salah dalam logika berfikir orang-orang di Palem Pertiwi (PP) ini. Mengapa? Karena memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa penduduk yang menetap karena menghuni rumah sendiri atau pun kontrak adalah kaum pendatang dari berbagai daerah disamping kondisi geografis Menganti yang strategis sebagai perbatasan antara Surabaya Barat dengan Kabupaten Gresik di sebelah Selatan. Palem Pertiwi sebagai tandon alternatif pemukiman yang cukup memiliki nilai jual karena berbagai alasan tadi. Disamping pada awal berdirinya memang harga jual rumah relatif murah. Semakin tahun PP ini semakin menjadi pilihan bagi orang yang berkantong tebal untuk menjadikan PP sebagai tempat tinggal dan investasi.
Disinilah justru awal permasalahan bermula, mungkin pada awal-awal nya PP berdiri dengan hanya segelintir manusia yang menempatinya ‘tingkat ke sukarelaan untuk menjadi pengurus’ masih tinggi. Ini dibuktikan dengan begitu mudahnya (dari cerita pengurus laaamaaaaaa) seseorang ditunjuk untuk menjadi RT ataupun RW. Semakin tahun PP semakin berkembang dan penghuni yang tinggal semakin kompleks dan akhirnya memunculkan konlik (dalam bahsa saya). Ada yang konstruktif tetapi ada pula yang destruktif dan ada pula yang apatis. Memang itulah sifat manusia.
Manusia sebagai mahluk sosial ???
Walaupun banyak buku-buku sosiologi yang menulis bahwa manusia sebagai mahluk social atau zoon politicon, tetapi dalam kacamata penulis itu mungkin perlu dikaji ulang khususnya untuk PP ini. Karena ini tidak terbukti, sebagai daerah margin dipinggiran kota yang seharusnya masih sangat erat kekentalan mahluk sosialnya telah bergeser ke mahluk individualis. Bagaimana tidak, ketika terjadi pergantian pengurus di lingkungan selalu saja menemui kesulitan karena tidak adanya calon pengganti yang mau dicalonkan menjadi pengurus dengan berbagai alasan mulai tidak mampu, tidak punya waktu, istri tidak mengizinkan, dan banyak lagi. Sehingga ada semacam anekdot “bila kau sekali menjadi pengurus di PP ini maka kau akan jadi pengurus selamanya”.
Pengalaman penulis sebagai salah satu dari tim formatur atau panitia bentukan untuk proses pemilihan calon ‘ketua’ di lingkungan PP ini terulang pada proses pemilihan ketua-ketua dilingkungan PP berikutnya. Alasan yang munculpun sama. Seperti sudah terduga sebelumnya alasan yang saya tulis di atas terulang lagi, tidak mampu, tidak punya waktu, istri tidak mengizinkan dan sederet alasan yang serupa. Sebagai tim formatur yang harus bekerja mendatangi individu-individu yang dianggap mampu ‘menjaga gawang’ administratif di PP selau menemui kesulitan Sehingga ketika tim formatur mendatangi salah seorang calon ketua statemen dari judul tulisan ini muncul. Dengan berseloroh penulis berujar “Seandainya RW itu digaji sepuluh juta rupiah rupiah sebulan, mungkin tim formatur gak usah susah-susah mendatangi calon, duduk diam manis di sekretariat dan menerima pendaftaran dari calon yang saya yakin akan antri”. Si calon yang dipinang tim formatur tertawa terbahak. Ini dijawab langsung pula oleh Sang Pencipta Langit dan Bumi ini ketika tim formatur istirahat sejenak sehabis keliling mendatangi calon. Salah satu teman di PP ini sempat berujar memberikan perumpamaan bahwa kalo di salah satu tempat di daerah Benowo itu jabatan RW menjadi rebutan karena memiliki nilai ekonomi.
Inilah kesimpulan sementara yang membuat statemen bahwa sebenarnya kita ini hidup selalu dipenuhi motif ekonomi dan statemen zoon politicon perlu dikaji ulang di PP ini.
Manusia sebagai binatang ekonomi
Banyak pakar berpendapat bahwa manusia sebagai binatang ekonomi sehingga apapun diusahakan untuk dieksploitasi menjadi memiliki nilai ekonomi. Entah itu alam, lingkungan sekitar, teman, jabatan bahkan sampai hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. Inilah yang dalam Islam (sebagai agama penulis) melalui Al Qur’an manusia itu telah diingatkan melalui surah Ar-Ruum ayat 41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”
Inilah awal mengapa alasan-alasan serupa sering muncul ketika terjadi pergantian pengurus karena kita sudah menjadi binatang ekonomi dan motif ekonomi itu menjadikan kita galau bahwa dengan menjadi pengurus bagaimana nanti dengan kondisi ekonomi kita. Pembagian waktu antara mengurusi kampung dengan mengurusi ekonomi keluarga membuat memori otak kita menjadi sedikit terganggu. Membayangkan lembar demi lembar rupiah dengan membayangkan kerja bakti tanpa rupiah dan celatuan dari masyarakat yang hanya bisa nyelatu tapi tidak pernah memberikan ide konstruktif dan turut berpartisipasi langsung untuk kampungnya. Hal ini (kesimpulan sementara) menjadikan kita selalu diliputi rasa galau ketika dipinang untuk menjadi pengurus.
Disisi lain pengurus yang itu-itu saja menandakan penyakit tadi semakin akut dan tingkat partisipasi masyarakat dalam membangun kampungnya akan mengalami stagnasi bahkan cenderung menurun karena tidak pernah dilibatkan secara bergilir dalam kepengurusan sehingga tidak pernah bersentuhan langsung dengan kondisi dan permasalahan masyarakat sesungguhnya.
Berpartisipasi dalam masyarakat bukan hanya masalah membayar iuran yang wajib yang sudah ditetapkan pengurus tetapi perlu tingkat kepedulian manusia di PP ini sehingga efeknya akan terasa pada generasi penerus. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran lingkunganpun sangat kuat membangun karakter sebuah masyarakat khususnya generasi penerus.
Saudaraku, berperanlah seimbang dalam hidup ini, berperan seimbang dalam lingkungan di mana kita berada, berperan seimbanga dalam setiap sendi kehidupan sehingga menjadikan kita manusia yang selalu memberikan sisi lain dalam hidup kita ini untuk kepentingan sosial sebagai amal bakti yang berguna di akhirat kelak sebagai timbangan amal kebaikan untuk menyeimbangkan keburukan-keburukan kita selama hidup di dunia ini.
Solusi : SIMBOL ADMINISTRASI
Sahabat saya sebagai salah satu tim formatur dan juga pernah jadi pengurus dan lamaaaa berpendapat bahwa seandainya tidak ada yang mau menjadi pengurus mungkin perlu bentukan RT atau RW sebatas simbol administrasi saja sehingga tugasnya hanya sebagai tukang stempel dan segala macam kegiatan tidak perlu diadakan semisal peringatan hari besar nasional dan semacamnya.
Ada lagi yang berpendapat dalam rapat awal tim formatur bahwa mungkin perlu kaum ibu yang menjadi RT atau RW karena sebetulnya kaum ibu lebih banyak waktunya di PP ini, lebih banyak di rumah.
Kalau penulis tetap memberikan solusi, bagaimanapun tingkat kesadaran warga harus tetap digugah sehingga mentalnya berubah, bahwa memang menjadi pengurus itu bukan perkara mudah dan tidak memiliki nilai ekonomi, dan harus tetap terjadi pergantian pengurus sehingga peran serta masyarakat di PP ini dalam membangun kampungya akan menemukan bentuk idealnya. Kapan ?
AlLahu ‘alam AlLahummasy had
Sunday, January 04, 2009
HIDUP SEDERHANA & PERINGATAN ALLAH
Di penghujung tahun 2008 dunia dihebohkan dengan krisis keuangan yang mendunia. Indonesia turut kebakaran jenggotnya. Amerika menjadi sorotan dunia karena awal krisis bermula dari sana sebagai pemicu dari harga minyak yang sampai tembus 150 dolar per barel, sejarah baru. Dari sanalah mulai krisis berawal dan akhirnya terus merambat kemana-mana. Bank-bank dan institusi keuangn yang telah memiliki nama bertumbangan. PHK dimana-mana. Orang banyak yang menjadi pengangguran dan mendapatkan perlindungan dari pemerintah melalui program sosial, terutama di negara Amerika. Di Inggris orang berbelanja sudah jarang yang pergi ke supermarket lagi mereka mulai mengalihkan ke pasar-pasar tradisional yang lebih murah. Sumua ini menjadi konsumsi kita melalui berita-berita di televisi, internet dan banyak lagi sumber berita lainnya. Peristiwa ini menggemparkan sampai sampai CEO Jawa Pos group pun menulis tentang ini.
Saya tidak akan bercerita panjang tentang krisis yang mendunia itu. Hikmah yang kita bisa ambil apa? Saya hanya menilai bahwa sudah sewajarnyalah manusia itu hidup SEDERHANA seperti yang telah dicontoh kan para nabi dan rasul di zamannya. Mengapa? Karena itulah yang telah diajarkan oleh pembawa PELITA bagi bumi setelah menerima wahyu dari ALLAH, sederhana.
Seandainya para nabi dan rasul itu mau tentulah dengan sangat mudahnya mereka mendapatkan dunia dan seisinya ini. Tapi apa yang mereka lakukan, hidup sederhana dan bersahaja. Muhammad saw sendiri tidur di atas pelepah kurma dan itu nampak membekas pada punggungnya ketika beliau bangun dari tidur. Sulaiman as sendiri dengan sangat terpaksa meminta bantuan ahli sufi untuk memindahkan istana ratu Balqis karena menyangkut kewibawaan kenabian dan ingin menjamu tamu dan mematahkan kesombongan si Balqis, yang membuat Balqis takjub dengan istana yang diduduki Sulaiman as. Padahal menurut riwayat,itu katanya istana Balqis sendiri dengan segala modifikasinya, ALLAHU AKBAR.
Sederhana itu nikmat, mengapa? Kita tidak dipusingkan untuk bermewah-mewah dan selalu perhitungan dalam pengelolaan keuangan. Bukan kah Muhammad saw telah berujar bahwa ummat Islam itu adalah ummat pertengahan. Artinya segala sesuatunya penuh perhitungan dan tidak bermegah-megahan. Tapi apa lacur, semuanya pada kebablasan. Banyak yang memiliki hand phone lebih dari satu, televisi 4 samapai 5 buah dalam satu rumah, mobil 3 buah. Padahal semua diperoleh dengan cara utang melalui proses kredit. SubahanalLah.
Rasul sebagai Qur'an berjalan telah menyatakan bahwa 'hutang akan mendatangkan kehinaan' apa mungkin ummat Islam lupa akan hal itu? Tetapi dijawab ummat Islam saat ini dengan jawaban 'kalo tidak punya hutang tidak akan semangat dalam hidup'. Apakah hutang tidak boleh? Boleh! Wong Rasul sendiri pun pernah berhutang akan tetapi hutang yang bagaimana dulu? Yang betul-betul dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan itupun sangat perlu bukan hutang untuk bermegah-megahan. Coba renungkan!
Allah sudah memenuhi janjinya dengan banyaknya orang bunuh diri karena banyak bermain di sektor yang berbau riba. Di koran-koran diberitakan si Madof yang keturunan Yahudi itu ternyata penipu besar. Sebetulnya di Indonesia sendiri peristiwa model begini sudah seringkali terjadi dan yang menjadi korbannya adalah orang-orang yang sangat tergiur dengan keuntungan besar dan cepat. Tetapi yang didapat kemudian hanyalah kekecewaan karena uang yang mereka investasikan di larikan ke luar negeri, hehehehe....bahkan kolega saya sendiri pernah tertipu dengan nilai yang cukup besar dalam ukuran saya.
Allah telah memberi peringatan kepada ummat manusia di bumi ini bahwa riba dan penipuan dalam sistim perdagangan akan mendatangkan bencana di bumi. Bukankah para nabi dan rasul yang diutus dulu-dulu itu selau membawa berita tentang KEJUJURAN dan KEADILAN? Allah sebetulnya secara langsung telah mengingatkan manusia di bumi kembalilah ke pola hidup sederhana, jujur dan adil.
Dengan hidup sederhana kita tidak akan dicemburui secara sosial oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Dengan hidup sederhana kita tidak dipusingkan memikirkan pengeluaran untuk membiayai operasional 3 mobil setiap harinya, tidak pula dipusingkan membayar cicilan barang-barang elektronik di rumah yang sebetulnya kurang perlu. Itu adalah jeratan dari kaum kapitalis yang penipu itu. Lihatlah sekarang bagaimana jadinya?
Hidup sederhana adalah sebuah keharusan walaupun secara materi kita berlimpah karena diberi kekuasaan oleh Allah untuk menguasai harta yang dititipkan Nya selama kita hidup. Kesederhanaan, sebuah keniscayaan karena kita dituntut oleh Allah untuk menggunakan harta dengan benar. Kesederhanaan adalah sebuah tuntutan dari Allah dari mana kita peroleh harta berlimpah yang kita kuasai. Sudahkah kita memikirkan ini ? Karena sebetulnya ALLAH telah menegur ummat manusia saat ini secara langsung bahwa kelolalah hartamu dengan baik dan benar dan jauhkan lah dari praktik-praktik penipuan dan riba dalam mengembangkannya.
Wallahu'alam bissawab
Saya tidak akan bercerita panjang tentang krisis yang mendunia itu. Hikmah yang kita bisa ambil apa? Saya hanya menilai bahwa sudah sewajarnyalah manusia itu hidup SEDERHANA seperti yang telah dicontoh kan para nabi dan rasul di zamannya. Mengapa? Karena itulah yang telah diajarkan oleh pembawa PELITA bagi bumi setelah menerima wahyu dari ALLAH, sederhana.
Seandainya para nabi dan rasul itu mau tentulah dengan sangat mudahnya mereka mendapatkan dunia dan seisinya ini. Tapi apa yang mereka lakukan, hidup sederhana dan bersahaja. Muhammad saw sendiri tidur di atas pelepah kurma dan itu nampak membekas pada punggungnya ketika beliau bangun dari tidur. Sulaiman as sendiri dengan sangat terpaksa meminta bantuan ahli sufi untuk memindahkan istana ratu Balqis karena menyangkut kewibawaan kenabian dan ingin menjamu tamu dan mematahkan kesombongan si Balqis, yang membuat Balqis takjub dengan istana yang diduduki Sulaiman as. Padahal menurut riwayat,itu katanya istana Balqis sendiri dengan segala modifikasinya, ALLAHU AKBAR.
Sederhana itu nikmat, mengapa? Kita tidak dipusingkan untuk bermewah-mewah dan selalu perhitungan dalam pengelolaan keuangan. Bukan kah Muhammad saw telah berujar bahwa ummat Islam itu adalah ummat pertengahan. Artinya segala sesuatunya penuh perhitungan dan tidak bermegah-megahan. Tapi apa lacur, semuanya pada kebablasan. Banyak yang memiliki hand phone lebih dari satu, televisi 4 samapai 5 buah dalam satu rumah, mobil 3 buah. Padahal semua diperoleh dengan cara utang melalui proses kredit. SubahanalLah.
Rasul sebagai Qur'an berjalan telah menyatakan bahwa 'hutang akan mendatangkan kehinaan' apa mungkin ummat Islam lupa akan hal itu? Tetapi dijawab ummat Islam saat ini dengan jawaban 'kalo tidak punya hutang tidak akan semangat dalam hidup'. Apakah hutang tidak boleh? Boleh! Wong Rasul sendiri pun pernah berhutang akan tetapi hutang yang bagaimana dulu? Yang betul-betul dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan itupun sangat perlu bukan hutang untuk bermegah-megahan. Coba renungkan!
Allah sudah memenuhi janjinya dengan banyaknya orang bunuh diri karena banyak bermain di sektor yang berbau riba. Di koran-koran diberitakan si Madof yang keturunan Yahudi itu ternyata penipu besar. Sebetulnya di Indonesia sendiri peristiwa model begini sudah seringkali terjadi dan yang menjadi korbannya adalah orang-orang yang sangat tergiur dengan keuntungan besar dan cepat. Tetapi yang didapat kemudian hanyalah kekecewaan karena uang yang mereka investasikan di larikan ke luar negeri, hehehehe....bahkan kolega saya sendiri pernah tertipu dengan nilai yang cukup besar dalam ukuran saya.
Allah telah memberi peringatan kepada ummat manusia di bumi ini bahwa riba dan penipuan dalam sistim perdagangan akan mendatangkan bencana di bumi. Bukankah para nabi dan rasul yang diutus dulu-dulu itu selau membawa berita tentang KEJUJURAN dan KEADILAN? Allah sebetulnya secara langsung telah mengingatkan manusia di bumi kembalilah ke pola hidup sederhana, jujur dan adil.
Dengan hidup sederhana kita tidak akan dicemburui secara sosial oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Dengan hidup sederhana kita tidak dipusingkan memikirkan pengeluaran untuk membiayai operasional 3 mobil setiap harinya, tidak pula dipusingkan membayar cicilan barang-barang elektronik di rumah yang sebetulnya kurang perlu. Itu adalah jeratan dari kaum kapitalis yang penipu itu. Lihatlah sekarang bagaimana jadinya?
Hidup sederhana adalah sebuah keharusan walaupun secara materi kita berlimpah karena diberi kekuasaan oleh Allah untuk menguasai harta yang dititipkan Nya selama kita hidup. Kesederhanaan, sebuah keniscayaan karena kita dituntut oleh Allah untuk menggunakan harta dengan benar. Kesederhanaan adalah sebuah tuntutan dari Allah dari mana kita peroleh harta berlimpah yang kita kuasai. Sudahkah kita memikirkan ini ? Karena sebetulnya ALLAH telah menegur ummat manusia saat ini secara langsung bahwa kelolalah hartamu dengan baik dan benar dan jauhkan lah dari praktik-praktik penipuan dan riba dalam mengembangkannya.
Wallahu'alam bissawab
Subscribe to:
Posts (Atom)
