“Hoi…jam berapa buka loketnya ! Inikan sudah jam lapan! Pinggang sudah pegal-pegal ini !”, teriak seorang ibu yang sudah berumur di belakang saya.
Ya itulah pengalaman saya ketika bulan Juli 2009 antri tiket kereta dengan tujuan Surabaya dari stasiun Gambir di Jakarta.
Wajar memang kalau ibu itu berteriak keras karena memang kita sudah antri sejak jam tujuh malam kurang sepuluh menit. Saya sendiri waktu itu juga jengkel karena pas saya di depan loket dan mau membayar tiba tiba loket ditutup dan kemudian oleh sang penjaga loket diberi tulisan ”TIKET HABIS”. Waduh betapa kagetnya saya...wah bisa bengkak lagi ini biaya hidup di Jakarta kalau harus menginap lagi. Setelah saya tanyakan, sang penjaga loket memberikan informasi bahwa akan ada tambahan satu gerbong tetapi loket akan dibuka pukul 8 malam. Karena saya nomor antrian jadi, nomor satu ..akhirnya saya menunggu di depan loket sambil mengobrol dengan teman yang mengantarkan saya. Padahal sebelumnya kita sudah berjanji akan makan martabak Palembang di daerah Roxy, itu menurut teman saya yang paling mirip taste nya dengan martabak yang menjadi makanan khas orang di kota Palembang, kota Pempek. Alahasil saya harus menahan keinginan menyantap martabak bersama teman saya ini.
Waktu terus berlalu sampai akhirnya ketika waktu telah menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit saya menanyakan ke penjaga loket ”Bagaimana Pak, apa bisa dibuka loketnya ?”. Sang penjaga loket menjawab ”Nunggu berita dari Manggarai Mas, keretanya sudah siap apa belum”. Haduh...seandainya kereta belum siap terus gimana dong tanyaku dalam hati...sia-sialah aku menunggu sekian lama, mana sudah batal makan martabak lagi.
Waktu menunjukkan pukul 8 tepat, tanda-tanda loket dibuka belum juga kelihatan. Jam 8 lebih 5 menit masih juga belum kelihatan tanda-tanda kehidupan loket akan dibuka....jam 8 lebih 10 menit...masih sama saja...akhirnya ibu yang mengantri jauh dibelakang saya berteriak seperti kalimat di atas tadi hehehehehe....
Saya hanya bergumam dalam hati....inilah kinerja orang Indonesia. Saya menoleh ke belakang dan melihat antrian sudah begitu panjang dan saya dengar kapasitas 1 gerbong kurang lebih 52 tempat duduk. Melihat antrian yang begitu panjang dan kapasitas gerbong sepertinya akan ada orang yang tidak kebagian tiket. Akhirnya loket dibuka pada pukul 8 hampir 15 menit ..saya lega...karena berhasil mendapatkan tiket pulang ke Surabaya.
Akhirnya melihat waktu keberangkatan 21.30 yang kurang satu jam lebih saya dan teman saya mengurungkan niat untuk makan martabak dan makan di kantin saja sambil mendiskusikan peristiwa barusan yang saya alamai. Teman saya bilang, kasihan yang punya dana terbatas karena dia tidak akan memiliki alternatif selain menunggu dan menunggu. Waktu itu teman saya juga menawarkan untuk go show ke bandara untuk melalui jalur udara tapi setelah saya dan teman saya berhitung dengan waktu maka kita putuskan untuk tetap menunggu di depan loket karena nomor antrian satu dan terus berdo’a semoga ada tambahan gerbong. Pukul 9 malam lebih 15 menit saya berpamitan pada teman saya. Apa boleh buat ..mungkin karena gerbong tambahan ya...agak kurang nyaman kursinya dan baunya juga agak pesing hihihihi..padahal katanya kereta paling mahal..lha terus bagaimana kalau kereta paling murah ?
Inilah potret pelayanan publik di negeri tercinta ini, sudah 64 tahun merdeka masih saja terseok-seok dalam memberikan pelayanan pada rakyatnya dari sektor transportasi massa. Apa hendak dikata, bolehlah kita amati bagaimana sektor-sektor pelayanan publik di negeri ini dalam melayani publik lebih banyak TIDAK PUASNYA dari pada PUASNYA. Mudah-mudahan ada perbaikan ....... amien.
Gambir, 23-7-09
Saturday, August 22, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment