Saturday, February 28, 2009

KRESEK dan TIKUS

Dua tahun belakangan ini sangat sering kita jumpai kantung plastik hitam di tengah jalan dengan bangkai tikus di dalamnya. Saya sendiri heran mengapa kok itu bisa terjadi. Lebih mengherankan lagi saya sangat meyakini bahwa itu adalah sebuah unsur kesengajaan karena tikus tidak mungkin masuk sendiri ke dalam kantong plastik hitam seperti terjebak dan kemudian lari ke tengah jalan karena kebingungan dan akhirnya terlindas kendaraan yang melintas. Kalau dikatakan kemungkinan jelas kemungkinan itu sangat kecil sekali dan hanya tikus-tikus bodoh saja yang mau melakukan hal seperti itu karena frustasi.

Tikus dan kresek (bahasa jawa: untuk menyebut kantong plastik tipis yang biasa digunakan penjual di pasar untuk membungkus belanjaan pembeli) seolah sudah menjadi teman akrab yang sering kita jumpai di tengah jalan dengan kondisi tikus yang sudah terburai ususnya dan lama kelamaan menjadi pipih karena seringnya dilindas oleh kendaraan bermotor dan akhirnya hilang dengan sendirinya seiring waktu.

Kita sepertinya tidak perduli dengan pemandangan seperti ini. Seringnya pemandangan seperti ini membuat kita terbiasa karena sudah dianggap sebagai budaya kalau boleh dikatakan begitu. Aneh bin ajaib.

Kita mungkin lupa bahwa bangkai tikus di tengah jalan itu akan menyebarkan bibit penyakit ke setiap orang yang melindasnya ataupun pejalan kaki yang lewat disekitarnya. Mengapa begitu ? Ketika roda kendaraan bermotor lewat dan melindas bangkai tikus maka roda tersebut telah dihinggapi ribuan bibit penyakit dan ketika di parkir di halaman rumah maka telah terjadi imigrasi bibit penyakit dari jalanan ke rumah. Kelihatan sepele.

Tetapi yang lebih aneh lagi adalah mengapa kok masyarakat kita berperilaku seperti ini? Saya hanya berfikir bahwa apa karena unsur malas untuk menguburnya, apa karena tidak memiliki lahan berupa halaman di pekarangan rumah atau di belakang rumah untuk mengubur bangkai tikus tersebut, atau karena sudah dihinggapi penyakit ketidak pedulian pada sesama mahluk ciptaan Allah. Lebih parah lagi karena tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sehingga tidak pernah berfikir panjang efek dari membuang bangkai tikus di jalanan.

Penulis mengutip dari sumber kompas yang menyebutkan Ada 16 jenis kuman Leptospira yang bisa menginfeksi manusia. Namun, yang cukup banyak ditemukan di Indonesia sebanyak tujuh jenis. Kuman ini awalnya menginfeksi binatang mamalia, salah satunya tikus. Tikus yang terinfeksi akan mengeluarkan air kencing yang mengandung kuman tersebut. Kuman Leptospira dari tikus kemudian bisa terbawa aliran air sungai, selokan, dan lainnya.
Kuman ini biasa masuk melalui kulit yang luka atau selaput lendir tenggorokan dan mata. Ketika berada dalam tubuh manusia, kuman akan mengebor jaringan tubuh dan menghasilkan enzim tertentu, lalu masuk ke daerah otak, jantung, hati, atau organ tubuh lainnya.
Kerusakan organ inilah yang menyulitkan dan memperparah sakit si pasien. Organ yang rusak harus diperbaiki melalui berbagai terapi. Namun, jika cukup parah, kerusakan organ bisa menyebabkan kematian. Itu sebabnya, penyakit ini harus segera ditangani. Jika pendeteksiannya cepat, sesungguhnya leptospirosis mudah disembuhkan dan antibiotiknya tersedia dengan harga murah. Gejala leptospirosis antara lain demam mendadak, kulit kemerahan, dan pegal otot.
Leptospirosis tidak menular dari manusia ke manusia. Untuk mencegahnya, kita cukup membiasakan hidup bersih, menutup semua makanan dan air minum dengan rapi untuk menghindari dimakan atau dilewati tikus, serta membiasakan memasak makanan dan minuman dengan baik. Kalau sanitasinya bagus, kemunculan penyakit ini bisa dicegah.


Apa itu Leptospirosis? Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman leptospira patogen yang disebabkan bakteri yang mengenai manusia dan binatang. Penjangkitan leptospirosis biasanya disebabkan terkontaminasinya air oleh urine binatang yang terinfeksi. Banyak jenis binatang yang membawa bakteri; mereka mungkin akan sakit tetapi terkadang tidak memiliki gejala sama sekali. Dimana saja ditemukan Organisme Leptospirosis? Organisme leptospira telah ditemukan di dalam lembu, babi, kuda, anjing, binatang pengerat, dan binatang liar. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan air, makanan, atau tanah yang mengandung urine dari binatang yang terinfeksi.

Agama Islam menganjurkan kita untuk membunuh tikus seperti yang diriwayatkan dalam hadis sbb.:
Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Hafshah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Ada lima jenis binatang yang tidak berdosa jika seseorang membunuhnya, yaitu gagak, burung rajawali, tikus, kalajengking, dan anjing gila.’”

Dari Maimunah istri Nabi Muhammad SAW,bahwa ada seekor tikus yang jatuh ke dalam samin (sejenis mentega), lalu mati. Kemudian hal itu ditanyakan kepada Nabi dan beliau menjawab: “Buanglah tikus dan samin yang ada di sekitarnya, dan makanlah (samin yang tersisa)” Riwayat Bukhari.


Islam menganjurkan umatnya menjaga kebersihan. Dalam hadis di atas, menjelaskan bahwa jika tikus jatuh ke dalam samin, maka buanglah tikus dan sekitarnya jika samin itu beku, dan janganlah mendekatinya bila samin itu cair.

Pertanyaannya adalah apakah ummat Islam atau masyarakat lainnya sadar akan hal ini? Penulis menganalisa ini karena sistim hidup masyarakat kita yang sudah sangat dipengaruhi oleh budaya instant sehingga telah membunuh karakter kemanusiaan mereka untuk berfikir lebih jauh efek dari perbuatannya. Sederhana sekali kelihatannya tetapi dalam kacamata penulis ini adalah sebuah penyakit sosial dalam masyarakat kita sebagai akumulasi dari sistem sosial yang sakit sehingga membuang bangkai tikus dalam kresek sama sahnya seperti mereka membuang sampah biasa di jalanan. Kalau sudah begini siapa yang disalahkan?

Padahal pemerintah mencanangkan Indonesia sehat 2010 tetapi perilaku masyarakatnya seperti ini. Apakah ini tidak bertolak belakang? Mungkinkah ini karena kesulitan hidup yang menghimpit sehingga menjadikan mereka berfikir sempit ? Ah…Cuma Tuhan yang tahu…

0 comments: