Sering kali saya melihat bahwa kemacetan lalu lintas itu akibat ulah segelintir orang yang tidak disiplin dan sedikit bersabar menunggu antrian. Walau harus juga diakui bahwa semua itu juga karena volume kendaraan yang berlebihan dari volume jalan. Tiap pagi saya melihat kejahatan di jalanan ini. Mulai dari menyerobot sampai berzig zag meliuk liuk dengan kecepatan tinggi dikeramaian lalu lintas.
Sambil merenung saya terus berfikir kenapa ya...tidak ada pembalap dunia di kelas Grand Prix tidak ada yang dari Indonesia? Sampai di tempat kerjaan saya diskusikan hal ini dengan teman. Teman saya bilang kalau orang Indonesia itu banyak yang jago kandang, banyak lo... Setelah saya telaah berdasarkan nalar dan kemampuan saya dalam menyerap informasi ada benarnya juga. Paling yang banyak mendunia akhir akhir ini adalah cuma olimpiade sains. Putra-putra bangsa banyak mengharumkan nama negara ini...tapi untuk ajang balapan Grand Prix baik yang 250 cc maupun 500 cc kok belum ya...apalagi balapan formula 1. Jauh kayaknya....??? Kesimpulan saya adalah tidak adanya relevansi antara kejahatan jalanan dengan prestasi olah raga balap motor atau balap mobil. Rentetan logika berfikir saya akhirnya merambat pada tataran kebijakan yang punya kuasa di negara ini....mungkin perlu ada pemandu bakat bagi pelaku kejahatan jalanan ini untuk disalurkan ke tempat yang membuat mereka bisa berprestasi di tingkat dunia dengan mengharumkan bangsa yang sudah sejak lama membusuk ini sehingga mereka tidak kebut kebutan lagi dijalanan, karena apa nafsunya sudah tersalurkan...semoga
Monday, July 21, 2008
Monday, July 07, 2008
Menjadi Pemimpin tidak GAMPANG
Saya hanya ingin menulis kejadian di seputar kita sehari harinya. Saya hanya mengamati banyak sekali seorang pemimpin yang ragu dalam membuat dan mengambil keputusan. Bahkan cenderung pada mengambil jalan pintas untuk keselamatn diri sendiri. Ini artinya obyektivitas dalam mengambil sebuah keputusan sangatlah dibutuhkan bila Anda seorang pemimpin sehingga dalam bertindak tidak ragu-ragu.
Ketika dihadapkan pada kondisi ‘mengorbankan satu orang untuk kepentingan banyak orang’ banyak sekali pemimpin yang salah dalam bertindak (dalam kaca mata saya). Apalagi satu orang tadi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kepemimpinannya tetapi tindakannya sudah banyak merugikan orang banyak ataupun organisasi.
Untuk itu saya mengingatkan diri saya sendiri dan saudara-saudara sekalian bahwa keberanian membuat keputusan publik demi kemaslahatan manusia dalam skala yang besar jauh lebih adil (sekali lagi dalam kacamata saya) ketimbang membuat keputusan untuk ‘memenangkan’ orang-orang dekat kita yang malah banyak merugikan fihak lain atau membuat organisasi berjalan di tempat.
Walau tidak segampang yang diucapkan, tetapi itulah resiko bila ANDA menjadi pemimpin atau sudah di anggap PEMIMPIN oleh komunitas saudara dengan resiko pahit sekalipun. Bagaimana menurut Anda ?
Ketika dihadapkan pada kondisi ‘mengorbankan satu orang untuk kepentingan banyak orang’ banyak sekali pemimpin yang salah dalam bertindak (dalam kaca mata saya). Apalagi satu orang tadi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kepemimpinannya tetapi tindakannya sudah banyak merugikan orang banyak ataupun organisasi.
Untuk itu saya mengingatkan diri saya sendiri dan saudara-saudara sekalian bahwa keberanian membuat keputusan publik demi kemaslahatan manusia dalam skala yang besar jauh lebih adil (sekali lagi dalam kacamata saya) ketimbang membuat keputusan untuk ‘memenangkan’ orang-orang dekat kita yang malah banyak merugikan fihak lain atau membuat organisasi berjalan di tempat.
Walau tidak segampang yang diucapkan, tetapi itulah resiko bila ANDA menjadi pemimpin atau sudah di anggap PEMIMPIN oleh komunitas saudara dengan resiko pahit sekalipun. Bagaimana menurut Anda ?
Subscribe to:
Posts (Atom)
