Menyikapi rencana pemerintah menaikkan harga bbm, banyak polemik yang bermunculan mulai politisi gaek yang masih memiliki syahwat untuk mencalonkan presiden dalam pemilu berikutnya sampai dengan lurah yang rame-rame mengembalikan kartu tanda penerima BLT alias bantuan langsung tunai yang saya plesetkan bantuan lagi tapi….
Pemerintah terpaksa menaikkan harga bbm karena harga minyak mentah dunia yang terus melonjak bahkan pada saat tulisan ini dibuat di Asia harga sudah tembus 135 dolar per barel. Celakanya dalam kondisi ekonomi yang belum begitu baik dan banyaknya pengangguran dan bayi yang terkena gizi buruk pemerintah kurang cerdas dalam menelurkan kebijakan yang berfihak pada rakyat.
Kata rakyat yang akrab pada saat kampanye mendulang suara untuk mencapai cita-cita menjadi orang nomor satu di Negara yang kaya ini menjadi hilang dengan sendirinya ketika para pengusaha asing yang berinvestasi eksplorasi minyak dan memiliki SPBU di Negara ini.
Sudah 63 tahun Negara ini merdeka selalu BBM menjadi isu menarik untuk diperbincangkan tetapi coba tengok di jalan bagaimana mobil-mobil mewah berseliweran dan kendaraan roda dua yang sudah menyesakkan jalan. Penghematan ! penghematan ! itulah kampanye yang selalu pemerintah kumandangkan tetapi apa kebijakan untuk mendukung penghematan ini ? Rakyat kecil yang selalu menjadi korban.
Saya pernah melihat bahwa orang Indonesia ini banyak yang putus urat malunya bagaimana tidak orang yang pake kendaraan mercy saja antri premium karena merasa pertamax mahal (?). Kalo pemerintah ingin memberikan subsidi mengapa pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan dengan mengeluarkan peraturan pemerintah untuk kendaraan pribadi harus menggunakan pertamax dengan harga yang ditetapkan dan membangun transportasi publik yang nyaman. Untuk transportasi publik ini harus benar-benar professional, on time, murah, dan beroperasi 24 jam dengan interval waktu yang diatur secara professional pula. Subsidi silang ala begini saya kira akan sangat menguntungkan Negara ini dalam jangka panjang, biaya yang dibayarkan orang kaya pemilik kendaraan pribadi dengan harga bahan bakar yang mahal diperuntukkan bagi rakyat yang kekurangan dengan transportasi publik yang sudah disebutkan di atas tadi.
Sudah 63 tahun kita merdeka. Masih saja rakyat banyak menderita…apa yah yang salah ? Dalam kacamata saya memang ada unsur kesengajaan memiskinkan rakyat kebanyakan secara struktural. Mengapa ? Coba lihat di lapangan bila BBM naik apa yang terjadi ? semua harga barang naik kan ? Bagaimana pendidikan di negeri ini ? Mahal atau murah ? Apakah sudah menyentuh semua lapisan ? Masih segar dalam ingatan saya tahun lalu bahwa ada anak cerdas yang tidak jadi sekolah di perguruan tinggi negeri yang bergengsi hanya karena mahalnya biaya pendidikan dan akhirnya ditampung oleh perguruan tinggi swasta yang cukup ternama di Surabaya. Allahu Akbar.
Seandainya pemerintah setelah 63 tahun merdeka ini bisa menyediakan pendidikan murah dan bermutu dengan gaji guru dan dosen yang memadai, transportasi massal yang murah, nyaman dan aman serta on time dan harga bahan pokok murah. Kalau saja pemerintah bisa seperti ini maka rakyat sudah sangat terbantu dengan pendapatan mereka yang minim dan tidak sebandingnya kenaikan gaji mereka dengan realitas tuntutan dari biaya-biaya yang harus di penuhi di lapangan sebagai manusia yang ingin maju untuk meningkatkan status sosialnya. Bisakah pemerintah mengevaluasi ini ?
Sudah 63 tahun kita merdeka. Pemerintah semestinya memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk itu semua tapi apa daya ada yang salah dalam sistim pemerintahan di republik ini. Timbul pertanyaan sistimnya atau manusianya ? Apa perlu diganti sitim pemerintah ini dengan sistim sosialis, atau komunis sekalian ? Ah…hanya Allah yang tahu manusia dengan segala isi hatinya karena memang manusia itu ditakdirkan untuk selalu serakah, inilah mungkin pangkal penyebab dari semuanya, Allahu ‘alam.
Thursday, May 22, 2008
Monday, May 12, 2008
Minyak, hutan gundul dan banjir
Malam hari teman saya sempat menelpon menawarkan lahan sebagai plasma untuk perkebunan kelapa sawit di daerah Sumatera Selatan sana. Selang beberapa minggu saya juga ketemu dengan teman yang membuka lahan serupa di daerah Sulawesi. Teman yang dari daerah Sulawesi ini menawarkan harga yang lebih murah, se perempat dari harga lahan yang ada di Sumatera Selatan sana.
Dalam diskusi dengan teman yang dari Sulawesi ini saya hanya menggunakan logika bahwa lahan yang dibuka ini merupakan hutan produktif. Pembebasan lahan yang ratusan bahkan ribuan hektar ini tentunya akan berdampak dan merusak ekologi lingkungan disekitarnya. Semua ini dilakukan karena mahalnya CPO di dunia sebagai energi alternative mengantikan energi fosil yang sudah semakin langka dan menggila harganya.
Hal lain yang saya fikirkan adalah dampak dari penggundulan hutan untuk kepentingan ekonomi dengan dalih perkebunan kelapa sawit. Dalam diskusi saya melontarkan pertanyaan yang langsung menohok bahwa apakah pembukaan lahan untuk kepentingan emas hitam ini telah memberikan kontribusi terhadap banjir di daerah Sulawesi ? Dengan sedikit berat teman saya itu menjawab bahwa hal itu bisa dibenarkan.
Kalau sudah begini jelaslah bahwa kepentingan pembangunan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mencari energi alternative lain selain minyak fosil telah mengakibatkan warga atau rakyat menderita karena banjir bah yang melanda daerah pemukiman mereka. Tidak hanya itu infrastruktur yang juga sudah dibangun selama ini telah rusak binasa akibat yang ditimbulkan banjir ‘alternatif’ ini.
Allah sudah mengingatkan kita bahwa energi air ternyata besar dan dahsyat juga terbukti dengan tsunami di Aceh. Apakah kita yang tidak bisa menangkap semua perumpamaan alam ini ? tinggal kita bagaimana mengolahnya, WalLahu alam bis sawab
Dalam diskusi dengan teman yang dari Sulawesi ini saya hanya menggunakan logika bahwa lahan yang dibuka ini merupakan hutan produktif. Pembebasan lahan yang ratusan bahkan ribuan hektar ini tentunya akan berdampak dan merusak ekologi lingkungan disekitarnya. Semua ini dilakukan karena mahalnya CPO di dunia sebagai energi alternative mengantikan energi fosil yang sudah semakin langka dan menggila harganya.
Hal lain yang saya fikirkan adalah dampak dari penggundulan hutan untuk kepentingan ekonomi dengan dalih perkebunan kelapa sawit. Dalam diskusi saya melontarkan pertanyaan yang langsung menohok bahwa apakah pembukaan lahan untuk kepentingan emas hitam ini telah memberikan kontribusi terhadap banjir di daerah Sulawesi ? Dengan sedikit berat teman saya itu menjawab bahwa hal itu bisa dibenarkan.
Kalau sudah begini jelaslah bahwa kepentingan pembangunan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mencari energi alternative lain selain minyak fosil telah mengakibatkan warga atau rakyat menderita karena banjir bah yang melanda daerah pemukiman mereka. Tidak hanya itu infrastruktur yang juga sudah dibangun selama ini telah rusak binasa akibat yang ditimbulkan banjir ‘alternatif’ ini.
Allah sudah mengingatkan kita bahwa energi air ternyata besar dan dahsyat juga terbukti dengan tsunami di Aceh. Apakah kita yang tidak bisa menangkap semua perumpamaan alam ini ? tinggal kita bagaimana mengolahnya, WalLahu alam bis sawab
Subscribe to:
Posts (Atom)
