Sehabis mengikuti sepeda santai dengan rute yang cukup melelahkan saya mampir ke toko sepeda dimana saya membeli sepeda dulu untuk menyerviskan sepeda. Alih-alih sambil menunggu sepeda dayung saya diproses maka saya berbincang-bincang dengan pemilik toko. Saya menatap ke jalanan yang semakin ramai saja dan sepertinya jalanan sekarang sebagai ajang balap bagi kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Akhir-akhir ini memang jalanan di Surabaya semakin padat saja sepertinya semua kendaraan serba ingin cepat dan tumpah ruah kejalan dan bahkan kadang memakan bahu jalan sehingga menakutkan bagi pejalan kaki yang memang pedestriannya tidak mencukupi.
Saya berkata ke pemilik toko sepeda dayung tersebut bahwa semakin ramai kendaraan di jalanan membuat saya semakin takut untuk bersepeda, apalagi setelah saya tunjukkan gigi saya yang patah karena kecorobohan lalu lintas. Tak lama berselang maka datanglah seorang pelanggan pemilik toko tersebut untuk menyerviskan sepeda dayungnya yang pelek belakangnya rusak akibat diseruduk mobil dari belakang. Ini lagi bukti bahwa pengendara di Surabaya semakin ‘ganas’ saja.
Saya bercerita bahwa dari internet saya mendapat informasi bahwa di Belanda rakyatnya rata-rata memiliki tiga sampai empat sepeda untuk satu orang. Betapa nyamannya bersepeda disana yaa…bayangan saya. Pemilik toko lantas menjawab bahwa tidak usah jauh jauh pak di Singapura saja bersepeda sangat menyenangkan dan bikin awet muda karena pemandangannya bagus. Wah…saya tidak tahu itu karena saya memang belum pernah ke Singapura.
Pemilik toko lantas terus bercerita hal lain tentang pengobatan di sana yang ‘ciamiikkk’ karena pengalaman oranga tuanya yang harus dikemoterapi dengan diagnosis mengidap penyakit leukimia oleh dokter di Surabaya. Waduh akhirnya sang pemilik toko membawa orang tuanya ke Singapura untuk berobat di sana. Alhasil…orang tuanya bukan terkena penyakit leukimia hanya infeksi usus…setelah menjalani operasi untuk potong usus dan menetap tiga hari di Singapura orang tuanya sudah bisa jalan-jalan dan makan seperti orang normal. “Waduh pak…soro dengan dokter disini…hati-hati pak karena sering salah diagnosis”. Saya jadi ingat cerita keluarga selebriti Helmi Yahya yang menceritakan tentang anaknya yang juga salah diagnosis oleh dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta..tetapi untungnya Helmi Yahya mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain yang vonisnya lebih menyejukkan…alah…maakkkk….bisa bisa banyak anak bangsa ini mati sia-sia karena kesalahan diagnosis ini alias malpraktik.
Singkat cerita kami masih meneruskan ngobrol sambil menunggu sepeda saya selesai diservis…”Wah negara kita ini bobrok pak dan sama saja dengan negara Afrika”. Waduh saya …saya tidak kaget ..karena memang saya mengamati sudah banyak sekali terjadi kemunduran dalam banyak bidang di republik ini. Lantas kami berdiskusi bagaimana cara mengurangi kendaraan yang semakin banyak di jalanan yang sudah tidak mencukupi untuk mengisi badan jalan dan over volume. Kami akhirnya sepakat bahwa pemerintah sebaiknya memberikan fasilitas transportasi massal bagi publik yang aman, nyaman, murah dan on time. Waduh kalau ni mah…saya sering tulis dan diskusikan ke teman-teman…tetapi yang perlu dipertanyakan adalah sampai kapan pemerintah ini peduli ? (dengan tanda tanya besar). Kamipun sepakat bahwa bila transportasi itu aman dan nyaman, murah serta on time maka akhirnya hasilnya akan tampak sendiri ….PERLU DICOBA INI PARA GUBERNUR dan PRESIDEN !
Sunday, March 30, 2008
Saturday, March 29, 2008
Kasih Judul Sendiri lah...
Saya teringat cerita teman saya bahwa betapa ruwetnya cara berfikir orang Indonesia ini...entah karena ewuh pakewuh...sungkan atau segan...sehingga birokrasi menjadi bertele tele. Bagaimana tidak, dalam sebuah organisasi posisi wakil tentunya sebagai backup dari pimpinan tertinggi bila sang pemimpin tidak berada di tempat.
Tetapi yang dialami organisasi dimana teman saya bekerja beda..budaya sungkan menyungkan itu masih sangat dipegang teguh..bila sang pemimpin tidak ada ditempat maka harus menunggu pimpinan datang...lah pertanyaannya kalau itu urgent bagaimana?
Yah..kalau masih besok hari harus ditunggulah...akibatnya tentunya menghambat alur proses gerak laju perjalanan sebuah birokrasi. Kalau sudah begini apa tidak jalan di tempat namanya?
Meneruskan cerita teman tadi yang minta tandatangan akhirnya menunggu sang pemimpin tiba dari tugas luar kotanya dan teman tadi diminta datang kerumah untuk tandatangan pengesahan. Saya tertawa tawa mendengar cerita ini sambil bergurau saya nyeletuk "kalau sudah begitu buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk tanda tangan pengesahan saja tidak ada pendelegasian, yang penting kan tidak merubah substansi dari isi yang harus dipertanggungjawabkan".
Alaamaakkk kalau sudah begini bagaimana bangsa ini mau maju dan berkembang apalagi ngomong efisien....(mimpiii...kaleeee)
Tetapi yang dialami organisasi dimana teman saya bekerja beda..budaya sungkan menyungkan itu masih sangat dipegang teguh..bila sang pemimpin tidak ada ditempat maka harus menunggu pimpinan datang...lah pertanyaannya kalau itu urgent bagaimana?
Yah..kalau masih besok hari harus ditunggulah...akibatnya tentunya menghambat alur proses gerak laju perjalanan sebuah birokrasi. Kalau sudah begini apa tidak jalan di tempat namanya?
Meneruskan cerita teman tadi yang minta tandatangan akhirnya menunggu sang pemimpin tiba dari tugas luar kotanya dan teman tadi diminta datang kerumah untuk tandatangan pengesahan. Saya tertawa tawa mendengar cerita ini sambil bergurau saya nyeletuk "kalau sudah begitu buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk tanda tangan pengesahan saja tidak ada pendelegasian, yang penting kan tidak merubah substansi dari isi yang harus dipertanggungjawabkan".
Alaamaakkk kalau sudah begini bagaimana bangsa ini mau maju dan berkembang apalagi ngomong efisien....(mimpiii...kaleeee)
Tuesday, March 25, 2008
LAKI-LAKI MEMANG EGOIS, WANITA...???
Banyak peristiwa dikehidupan kita sehari-hari yang menggambarkan judul di atas walaupun tidak absolut memang. Tetapi haruslah diakui sebagai laki-laki memang terkadang kita egois. Mengapa ini terjadi? Karena sebagai laki-laki kita merasa superior dan sangat gampang tersulut harga dirinya bila terusik.
Disisi lain statistik menunjukkan bahwa laki-laki sekarang jumlahnya lebih sedikit dibanding perempuan...bolehlah coba datang ke rumah sakit. Tanyakan berapa bayi laki-laki yang lahir pada hari itu dan berapa pula bayi perempuan? Walaupun saya tidak memiliki data yang akurat, tetapi inilah nubuat yang telah disampaikan oleh Baginda RaullulLah SAW bahwa pada akhir zaman nanti jumlah wanita akan lebih banyak dari pada jumlah pria. Bahkan akan datang satu masa dimana ada empat puluh wanita yang mendatangi seorang laki-laki untuk meminta perlindungannya.
Akibat surplus jumlah wanita ini maka tentunya lapangan kerja sekarang ini banyak diisi oleh wanita yang lebih memiliki tingkat ketelitian yang lebih baik, kerapihan dan familiar. coba saja lihat SPG SPG yang ada di plaza atau mall mall bisa dibilang 90% adalah wanita.
Saat inipun pendidikan kaum wanita telah lebih baik lagi karena kesempatan lebih terbuka...berbeda dengan tahun-tahun awal kemerdekaan negara ini bukan. Kita bisa lihat sekarang berbagai sektor sudah dirambah oleh kaum wanita. Banyak juga bidang pekerjaan yang bergengsi sudah pula di genggam oleh kaum wanita.
Pergeseran-pergeseran semacam ini pun telah melanda kehidupan rumah tangga dimana pada saat ini banyak sekali keluarga yang baik suami maupun istrinya bekerja. Walau ada juga yang beralasan karena tuntutan ekonomi tetapi ada juga yang beralasan karena 'sayang kalau ijazah' tidak bermanfaat bagi mahluk Tuhan di bumi ini.
Bagaimana tanggapan kaum pria tentang hal ini ? Ada yang berpendapat bahwa 'pokoknya kerjaan rumah tangga tidak terbengkalai dan anak anak tidak terlantar ya...gak papa'. Ada juga laki-laki yang melarang istrinya bekerja dengan alasan bahwa 'sudah kewajiban laki-laki untuk memenuhi kewajibannya untuk mencukupi kehidupan rumah tangganya'. Ada lagi yang bilang nanti timbul fitnah karena wanita itu gampang tergoda.
Apapun alasannya cobalah tengok bagaimana seandainya seorang wanita yang bekerja didalam keluarganya mendapat posisi yang lebih baik ? Bagaimana kira-kira sikap suaminya? Manusiawi memang...laki-laki merasa cemburu tetapi ada hal lain yang terkadang saya lihat bahwa dalam kehidupan berumah tangga banyak laki-laki yang tidak mau mengerti kondisi istrinya. Padahal RASULULLAH sudah mencontoh kan sendiri dengan belanja ke pasar, menjahit sendiri bajunya yang robek dan lain-lainnya. Tetapi kebanyakan laki-laki gengsi untuk melakukan semua itu, maka jadilah istrinya seperti babu dalam rumah tangganya.
Sisi lain, bila wanita sudah pandai mencari uang maka dia lupa akan tugasnya sebagai istri sehingga suaminya 'seperti kambing congek' dibuatnya. Semua main perintah dia lupa bahwa bagaimanapun bila itu di dalam rumah tangga suaminya adalah suami yang ingin diperlakukan wajar dan sejajar bukan pula sebagai babunya.
Akhirnya...Tuhan mencipatakan laki-laki dan wanita itu agar dunia ini seimbang bukan untuk gagah-gagahan. Tidak ada yang merasa superior dibanding yang lain walau banyak penelitian psikologi yang menyatakan bahwa laki-laki lebih rasional dibanding wanita itu sah-sah saja. Coba Tuhan menciptakan laki laki semua...saya tidak bisa membayangkan, begitu pula sebaliknya. Sebagai seorang muslim, isu feminism dan kesetaraan gender itu kuno karena Islam telah mengajarkan (kalau kita mau mengkaji) bahwa antara laki-laki dan wanita dimata Tuhannya sama...sama-sama mahluk Nya dan yang membedakannya hanya taqwanya.
Disisi lain statistik menunjukkan bahwa laki-laki sekarang jumlahnya lebih sedikit dibanding perempuan...bolehlah coba datang ke rumah sakit. Tanyakan berapa bayi laki-laki yang lahir pada hari itu dan berapa pula bayi perempuan? Walaupun saya tidak memiliki data yang akurat, tetapi inilah nubuat yang telah disampaikan oleh Baginda RaullulLah SAW bahwa pada akhir zaman nanti jumlah wanita akan lebih banyak dari pada jumlah pria. Bahkan akan datang satu masa dimana ada empat puluh wanita yang mendatangi seorang laki-laki untuk meminta perlindungannya.
Akibat surplus jumlah wanita ini maka tentunya lapangan kerja sekarang ini banyak diisi oleh wanita yang lebih memiliki tingkat ketelitian yang lebih baik, kerapihan dan familiar. coba saja lihat SPG SPG yang ada di plaza atau mall mall bisa dibilang 90% adalah wanita.
Saat inipun pendidikan kaum wanita telah lebih baik lagi karena kesempatan lebih terbuka...berbeda dengan tahun-tahun awal kemerdekaan negara ini bukan. Kita bisa lihat sekarang berbagai sektor sudah dirambah oleh kaum wanita. Banyak juga bidang pekerjaan yang bergengsi sudah pula di genggam oleh kaum wanita.
Pergeseran-pergeseran semacam ini pun telah melanda kehidupan rumah tangga dimana pada saat ini banyak sekali keluarga yang baik suami maupun istrinya bekerja. Walau ada juga yang beralasan karena tuntutan ekonomi tetapi ada juga yang beralasan karena 'sayang kalau ijazah' tidak bermanfaat bagi mahluk Tuhan di bumi ini.
Bagaimana tanggapan kaum pria tentang hal ini ? Ada yang berpendapat bahwa 'pokoknya kerjaan rumah tangga tidak terbengkalai dan anak anak tidak terlantar ya...gak papa'. Ada juga laki-laki yang melarang istrinya bekerja dengan alasan bahwa 'sudah kewajiban laki-laki untuk memenuhi kewajibannya untuk mencukupi kehidupan rumah tangganya'. Ada lagi yang bilang nanti timbul fitnah karena wanita itu gampang tergoda.
Apapun alasannya cobalah tengok bagaimana seandainya seorang wanita yang bekerja didalam keluarganya mendapat posisi yang lebih baik ? Bagaimana kira-kira sikap suaminya? Manusiawi memang...laki-laki merasa cemburu tetapi ada hal lain yang terkadang saya lihat bahwa dalam kehidupan berumah tangga banyak laki-laki yang tidak mau mengerti kondisi istrinya. Padahal RASULULLAH sudah mencontoh kan sendiri dengan belanja ke pasar, menjahit sendiri bajunya yang robek dan lain-lainnya. Tetapi kebanyakan laki-laki gengsi untuk melakukan semua itu, maka jadilah istrinya seperti babu dalam rumah tangganya.
Sisi lain, bila wanita sudah pandai mencari uang maka dia lupa akan tugasnya sebagai istri sehingga suaminya 'seperti kambing congek' dibuatnya. Semua main perintah dia lupa bahwa bagaimanapun bila itu di dalam rumah tangga suaminya adalah suami yang ingin diperlakukan wajar dan sejajar bukan pula sebagai babunya.
Akhirnya...Tuhan mencipatakan laki-laki dan wanita itu agar dunia ini seimbang bukan untuk gagah-gagahan. Tidak ada yang merasa superior dibanding yang lain walau banyak penelitian psikologi yang menyatakan bahwa laki-laki lebih rasional dibanding wanita itu sah-sah saja. Coba Tuhan menciptakan laki laki semua...saya tidak bisa membayangkan, begitu pula sebaliknya. Sebagai seorang muslim, isu feminism dan kesetaraan gender itu kuno karena Islam telah mengajarkan (kalau kita mau mengkaji) bahwa antara laki-laki dan wanita dimata Tuhannya sama...sama-sama mahluk Nya dan yang membedakannya hanya taqwanya.
Wednesday, March 12, 2008
Kemaruk Politik
Akhir akhir ini kemiskinan menjadi konsumsi bagi pemirsa televisi. Mulai dari kasus gizi buruk sampai yang meninggal bunuh diri karena kelaparan. SubhanAlLah....Ujian apa lagi yang akan Engkau timpakan pada bangsa ini ya ALLAH...
Inikah keberhasilan pembangunan yang kita banggakan? Inikah sistem demokrasi pada pemilihan pemimipin dinegeri ini yang dielu elukan pers BARAT? Atau inikah sistem pemerintahan presidensil yang di tuhankan itu? Ataukah ini yang diperjuangkan oleh para wakil rakyat di Senayan dengan segala macam pernak perniknya?
Apa para pemimpin dinegeri ini tidak tersentuh melihat betapa banyaknya rakyat negeri ini yang menderita kelaparan dikantung-kantung daerah yang rawan bencana maupun yang tidak ? Allahu Akbar....
Yang diributkan negeri ini selalu saja politik. Suksesi kepemimpinan negeri ini hiruk pikuk ketika mendekati pesta demokrasi pemilihan umum. Tapi mereka lupa bahwa banyak yang mesti diperhatikan oleh pemimpin negeri ini...cobalah tengok berapa rakyat yang tidak bisa makan 3x sehari? Mereka itulah yang butuh santunan dan tuntunan merubah hidup mereka ke arah yang lebih baik .....
Apakah para pemimpin negeri ini pernah berfikir seandainya itu menimpa keluarga mereka? Mudahan-mudahan saja....bagi mereka yang tidak peka hatinya...
Saya jadi teringat guru ngaji yang bercerita bagaimana zaman kekhalifahan salah seorang sahabat RASUL ketika tahu rakyatnya ada yang merintih kelaparan di malam hari dan beliau sendiri yang memikul gandum dipundaknya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya yang menderita kelaparan....bukan malah ribut-ribut mencari dukungan untuk pemilihan umum yang masih satu tahun lagi...
Mudah-mudahan mereka para pemimpin negeri ini sadar dari kekhilafannya sehingga mereka kembali kejalan yang benar...jalan ALLAH dan RASUL NYA bukan jalan politik yang menuhankan materi akibat tekanan kapitalis dunia sehingga para pemimpin negeri ini sudah menyembah taghut taghut baru berupa fasilitas jabatan yang mereka terima sementara rakyatnya mau makan saja tidak bisa.
Ya ALlah sadarkanlah pemimpin negeri ini agar mereka kembali ke jalan Mu ya Allah...jalan yang Engkau ridloi...dan bila mereka tidak sadar dan tiada peka hatinya bila melihat kesengsaraan rakyatnya maka hinakanlah mereka Ya Allah...amiin....
Inikah keberhasilan pembangunan yang kita banggakan? Inikah sistem demokrasi pada pemilihan pemimipin dinegeri ini yang dielu elukan pers BARAT? Atau inikah sistem pemerintahan presidensil yang di tuhankan itu? Ataukah ini yang diperjuangkan oleh para wakil rakyat di Senayan dengan segala macam pernak perniknya?
Apa para pemimpin dinegeri ini tidak tersentuh melihat betapa banyaknya rakyat negeri ini yang menderita kelaparan dikantung-kantung daerah yang rawan bencana maupun yang tidak ? Allahu Akbar....
Yang diributkan negeri ini selalu saja politik. Suksesi kepemimpinan negeri ini hiruk pikuk ketika mendekati pesta demokrasi pemilihan umum. Tapi mereka lupa bahwa banyak yang mesti diperhatikan oleh pemimpin negeri ini...cobalah tengok berapa rakyat yang tidak bisa makan 3x sehari? Mereka itulah yang butuh santunan dan tuntunan merubah hidup mereka ke arah yang lebih baik .....
Apakah para pemimpin negeri ini pernah berfikir seandainya itu menimpa keluarga mereka? Mudahan-mudahan saja....bagi mereka yang tidak peka hatinya...
Saya jadi teringat guru ngaji yang bercerita bagaimana zaman kekhalifahan salah seorang sahabat RASUL ketika tahu rakyatnya ada yang merintih kelaparan di malam hari dan beliau sendiri yang memikul gandum dipundaknya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya yang menderita kelaparan....bukan malah ribut-ribut mencari dukungan untuk pemilihan umum yang masih satu tahun lagi...
Mudah-mudahan mereka para pemimpin negeri ini sadar dari kekhilafannya sehingga mereka kembali kejalan yang benar...jalan ALLAH dan RASUL NYA bukan jalan politik yang menuhankan materi akibat tekanan kapitalis dunia sehingga para pemimpin negeri ini sudah menyembah taghut taghut baru berupa fasilitas jabatan yang mereka terima sementara rakyatnya mau makan saja tidak bisa.
Ya ALlah sadarkanlah pemimpin negeri ini agar mereka kembali ke jalan Mu ya Allah...jalan yang Engkau ridloi...dan bila mereka tidak sadar dan tiada peka hatinya bila melihat kesengsaraan rakyatnya maka hinakanlah mereka Ya Allah...amiin....
MENGANTI SAJA SUDAH MULAI MACET...
Menganti enam tahun yang lalu merupakan tempat yang menarik saya untuk membeli rumah dengan cara mencicil. Bagaimana tidak, ketika pagi hari kita masih bisa menikmati kabut dan suara burung secara alami bukan burung dalam sangkar piaraan. Lucunya lagi kalau saya berangkat kerja jam tujuh pagi rasanya saya kok kepagian sekali karena jalanan terasa lengang. Begitu pula pulangnya kalau saya jam delapan malam di jalan rasanya kok sepi sekali sepertinya kok saya sendiri. Air tanahnya masih bagus dan jernih walau dengan kandungan kapurnya tinggi. Harus diakui bahwa airnya lebih jernih dari air PDAM.
Saya masih ingat ketika pertama kali saya mengangkuti barang untuk pindah ke rumah baru saya ini...kami sempat dihadang di depan kuburan oleh sekelompok pemuda mabuk untuk dikompasi uang. Beruntung kami lolos dari hadangan itu karena driver kendaraan yang saya tumpangi Pak Sutrisno memilih untuk tetap menjaga mobil tetap melaju dan memilih untuk menabrak mereka. Para pemuda tersebut akhirnya memilih minggir dan saya melihat dari kaca belakang bahwa mereka tidak mengejar mobil yang kami tumpangi. Untungnya saya saat itu bersama teman laki-laki saja. Kalau saja ada istri saya mungkin dia memilih tidak untuk menempati rumah dulu sampai keadaan ramai atau aman dan tidak rawan seperti saat itu.
Pernah juga saya pulang malam sekitar pukul satu malam dari Surabaya sehabis kunjungan di Paiton Power Gen saya menyuruh pak driver Taxi yang saya tumpangi untuk memacu kendaraan secepat mungkin karena saya mengkhawatirkan kondisi istri saya yang hamil tua sendirian di rumah. Saya memang berpesan kepada istri saya kalau ada yang mengetuk rumah jangan hiraukan baik laki-laki maupun perempuan. Memang saat itu rumah yang kami tinggali belum kami pagari dengan pagar karena menurut saya belum perlu. Waktu itu memang perumahan yang kami tempati baru dihuni keluarga kurang lebih hanya 40 KK saja. Alhamdulillah akhirnya saya sampai di rumah dan saya lihat istri saya sehat-sehat saja..
Hari ini saya berangkat kerja seperti biasa, jam tujuh pagi.... tapi ada sesuatu yang lain dalam satu tahun terakhir ini karena saya sedikit bingung kemana arah kendaraan yang berlawanan arah dengan saya ? Apakah ini karena dampak dari LUMPUR LAPINDO ? Memang Menganti yang berjarak kurang lebih 30 km dari Surabaya bisa menjadi jalur alternatif bagi yang tidak mau terjebak kemacetan bagi kendaraan yang menuju ke Surabaya dan ke Malang atau Mojokerto. Sedangkan sisi lain yang saya amati, kendaraan yang roda dua khususnya yang searah dengan saya ke Surabaya seperti semut berarak-arakan di jalanan. Saya geleng geleng kepala dibuatnya. Kenapa? Karena saya bandingkan dengan satu tahun sebelumnya...tidak seperti ini jalanan menuju ke Surabaya dan kembali ke Menganti Gresik.
Memang perkembangan dua tahun terakhir ini Menganti Gresik mendapatkan imbas dari perkembangan Surabaya Barat. Apalagi setelah Ciputra membangun Citra Landnya yang sempat terhenti pada saat penguasa ordebaru lengser.
Pembangunan yang sekarang ini begitu pesat. Di Surabaya Barat Apartemen bermunculan dan Mall tempat berbelanja berdiri dengan megahnya. Satu hal yang saya cermati penduduk sekitar yang memiliki lahan menjadi orang kaya baru karena lahan mereka dibeli oleh pengembang untuk mengembangkan bisnis mereka. Saya kuatir saja bahwa orang kaya baru ini tidak pandai mengelola uangnya dan akhirnya akan menjadi orang miskin baru. Sisi lain positifnya pengembangan Surabaya Barat membuat harga lahan disekitar meningkat tajam dan pengembang perumahan rumah sederhana menggeliat dan penjualan meningkat.
Tapi saya tidak ingin membahas ini...tentang developer yang banyak mengais keuntungan dari sektor propertinya. Saya ingin membahas tentang semrawutnya kendaraan di jalanan menuju ke Surabaya. Saya cuma berfikir apa ini karena gampangnya konsumen mendapatkan fasilitas kredit dengan perang 'gampangnya' memperoleh kendaraan roda dua dari dealer? Atau karena kemampuan ekonomi masyarakat yang meningkat? Atau karena mahalnya ongkos angkutan umum? Atau karena macetnya jalanan? Atau .....atau....
Saya cuma mau mencermati bahwa pada saat krisis energi seperti sekarang ini pemerintah kok tidak bersikap melihat banyaknya keluhan masyarakat tentang macetnya jalan ini? Timbul pertanyaan yang sangat besar dalam kepala saya? Atau karena memang para pejabatnya sudah pada TULI semua ? Atau karena pejabatnya tidak peka akan lingkungan sekitar? Bisa Anda bayangkan kalau pemerintahnya peka dan mengeluarkan kebijakan publik untuk moda transportasi masal sehingga berapa energi yang sudah dihemat dan ini tentunya tidak memberatkan APBN yang sudah direvisi karena keteteran akibat harga minyak dunia yang meningkat.
Semestinya moda transportasi bus dengan jalur khusus itu perlu dimasalkan dengan diikuti aturan pembatasan usia kendaraan dan menaikkan pajak kendaraan bermotor sampai tujuh kali lipatnya. Juga dengan diikuti oleh dicabutnya atau membatasi izin trayek angkutan umum. Saya sangat yakin bahwa dampaknya akan sangat terasa dalam dua atau tiga tahun ke depan.
Memang kebijakan sebaik apapun tentu akan menimbulkan kerugian dan keuntungan tetapi yang namanya kebijakan publik tentunya harus tetap berfihak pada publik. Bila keuntungan untuk publik dirasa lebih banyak itu berarti memang begitulah seharusnya sehingga tidak usah kaget dan takut akan di demo oleh supir dan pemilik angkot misalnya.
Dari hasil survey terakhir di Surabaya, satu diantara empat orang laki-laki memiliki kendaraan sepeda motor. Seandainya 30 persen saja dari jumlah penduduk Surabaya yang 3 jutaan itu laki-laki maka ada 900 sepeda motor yang telah berhemat dengan BBM. Bila 900 sepeda motor ini satu hari menghabiskan rata-rata 2 liter BBM berarti kita sudah menghebat BBM 1800 liter dan silahkan konversikan sendiri berapa rupiahnya ? Ini baru kendaraan roda dua saja. Belum lagi ditambah kendaraan roda empat pribadi yang pemiliknya tergiur dengan ramahnya moda transportasi masal yang disediakan pemerintah. Berapa BBM yang bisa kita hemat ? Sehingga ini akan berdampak secara makro untuk perekonomian secara nasional dan tentunya APBN pun akan semakin berdaya guna untuk kemaslahatan rakyat Indonesia ini. Ini bila satu kota saja. Bila itu diterapkan untuk semua kota di kota-kota Indonesia? Berapa yang bisa kita hemat ? Hitung sendirilah....artinya apa pemerintah bisa melakukan itu bila pemerintah berani dan sekali lagi BERANI mengeluarkan kebijakan publik yang bermafaat untuk publik! MERDEKA OIIIIII.......KAPAN MERDEKA SUNGGUHAN......?????
Saya masih ingat ketika pertama kali saya mengangkuti barang untuk pindah ke rumah baru saya ini...kami sempat dihadang di depan kuburan oleh sekelompok pemuda mabuk untuk dikompasi uang. Beruntung kami lolos dari hadangan itu karena driver kendaraan yang saya tumpangi Pak Sutrisno memilih untuk tetap menjaga mobil tetap melaju dan memilih untuk menabrak mereka. Para pemuda tersebut akhirnya memilih minggir dan saya melihat dari kaca belakang bahwa mereka tidak mengejar mobil yang kami tumpangi. Untungnya saya saat itu bersama teman laki-laki saja. Kalau saja ada istri saya mungkin dia memilih tidak untuk menempati rumah dulu sampai keadaan ramai atau aman dan tidak rawan seperti saat itu.
Pernah juga saya pulang malam sekitar pukul satu malam dari Surabaya sehabis kunjungan di Paiton Power Gen saya menyuruh pak driver Taxi yang saya tumpangi untuk memacu kendaraan secepat mungkin karena saya mengkhawatirkan kondisi istri saya yang hamil tua sendirian di rumah. Saya memang berpesan kepada istri saya kalau ada yang mengetuk rumah jangan hiraukan baik laki-laki maupun perempuan. Memang saat itu rumah yang kami tinggali belum kami pagari dengan pagar karena menurut saya belum perlu. Waktu itu memang perumahan yang kami tempati baru dihuni keluarga kurang lebih hanya 40 KK saja. Alhamdulillah akhirnya saya sampai di rumah dan saya lihat istri saya sehat-sehat saja..
Hari ini saya berangkat kerja seperti biasa, jam tujuh pagi.... tapi ada sesuatu yang lain dalam satu tahun terakhir ini karena saya sedikit bingung kemana arah kendaraan yang berlawanan arah dengan saya ? Apakah ini karena dampak dari LUMPUR LAPINDO ? Memang Menganti yang berjarak kurang lebih 30 km dari Surabaya bisa menjadi jalur alternatif bagi yang tidak mau terjebak kemacetan bagi kendaraan yang menuju ke Surabaya dan ke Malang atau Mojokerto. Sedangkan sisi lain yang saya amati, kendaraan yang roda dua khususnya yang searah dengan saya ke Surabaya seperti semut berarak-arakan di jalanan. Saya geleng geleng kepala dibuatnya. Kenapa? Karena saya bandingkan dengan satu tahun sebelumnya...tidak seperti ini jalanan menuju ke Surabaya dan kembali ke Menganti Gresik.
Memang perkembangan dua tahun terakhir ini Menganti Gresik mendapatkan imbas dari perkembangan Surabaya Barat. Apalagi setelah Ciputra membangun Citra Landnya yang sempat terhenti pada saat penguasa ordebaru lengser.
Pembangunan yang sekarang ini begitu pesat. Di Surabaya Barat Apartemen bermunculan dan Mall tempat berbelanja berdiri dengan megahnya. Satu hal yang saya cermati penduduk sekitar yang memiliki lahan menjadi orang kaya baru karena lahan mereka dibeli oleh pengembang untuk mengembangkan bisnis mereka. Saya kuatir saja bahwa orang kaya baru ini tidak pandai mengelola uangnya dan akhirnya akan menjadi orang miskin baru. Sisi lain positifnya pengembangan Surabaya Barat membuat harga lahan disekitar meningkat tajam dan pengembang perumahan rumah sederhana menggeliat dan penjualan meningkat.
Tapi saya tidak ingin membahas ini...tentang developer yang banyak mengais keuntungan dari sektor propertinya. Saya ingin membahas tentang semrawutnya kendaraan di jalanan menuju ke Surabaya. Saya cuma berfikir apa ini karena gampangnya konsumen mendapatkan fasilitas kredit dengan perang 'gampangnya' memperoleh kendaraan roda dua dari dealer? Atau karena kemampuan ekonomi masyarakat yang meningkat? Atau karena mahalnya ongkos angkutan umum? Atau karena macetnya jalanan? Atau .....atau....
Saya cuma mau mencermati bahwa pada saat krisis energi seperti sekarang ini pemerintah kok tidak bersikap melihat banyaknya keluhan masyarakat tentang macetnya jalan ini? Timbul pertanyaan yang sangat besar dalam kepala saya? Atau karena memang para pejabatnya sudah pada TULI semua ? Atau karena pejabatnya tidak peka akan lingkungan sekitar? Bisa Anda bayangkan kalau pemerintahnya peka dan mengeluarkan kebijakan publik untuk moda transportasi masal sehingga berapa energi yang sudah dihemat dan ini tentunya tidak memberatkan APBN yang sudah direvisi karena keteteran akibat harga minyak dunia yang meningkat.
Semestinya moda transportasi bus dengan jalur khusus itu perlu dimasalkan dengan diikuti aturan pembatasan usia kendaraan dan menaikkan pajak kendaraan bermotor sampai tujuh kali lipatnya. Juga dengan diikuti oleh dicabutnya atau membatasi izin trayek angkutan umum. Saya sangat yakin bahwa dampaknya akan sangat terasa dalam dua atau tiga tahun ke depan.
Memang kebijakan sebaik apapun tentu akan menimbulkan kerugian dan keuntungan tetapi yang namanya kebijakan publik tentunya harus tetap berfihak pada publik. Bila keuntungan untuk publik dirasa lebih banyak itu berarti memang begitulah seharusnya sehingga tidak usah kaget dan takut akan di demo oleh supir dan pemilik angkot misalnya.
Dari hasil survey terakhir di Surabaya, satu diantara empat orang laki-laki memiliki kendaraan sepeda motor. Seandainya 30 persen saja dari jumlah penduduk Surabaya yang 3 jutaan itu laki-laki maka ada 900 sepeda motor yang telah berhemat dengan BBM. Bila 900 sepeda motor ini satu hari menghabiskan rata-rata 2 liter BBM berarti kita sudah menghebat BBM 1800 liter dan silahkan konversikan sendiri berapa rupiahnya ? Ini baru kendaraan roda dua saja. Belum lagi ditambah kendaraan roda empat pribadi yang pemiliknya tergiur dengan ramahnya moda transportasi masal yang disediakan pemerintah. Berapa BBM yang bisa kita hemat ? Sehingga ini akan berdampak secara makro untuk perekonomian secara nasional dan tentunya APBN pun akan semakin berdaya guna untuk kemaslahatan rakyat Indonesia ini. Ini bila satu kota saja. Bila itu diterapkan untuk semua kota di kota-kota Indonesia? Berapa yang bisa kita hemat ? Hitung sendirilah....artinya apa pemerintah bisa melakukan itu bila pemerintah berani dan sekali lagi BERANI mengeluarkan kebijakan publik yang bermafaat untuk publik! MERDEKA OIIIIII.......KAPAN MERDEKA SUNGGUHAN......?????
Sunday, March 02, 2008
Korban Kecerobohan Lalu Lintas
Keinginan saya menulis kali ini...karena tiga hari sebelumnya saya mengalami kecelakaan akibat kecerobohan berlalu lintas para pengguna jalan di Surabaya.
Kejadian berawal ketika saya ingin membawa sepeda Polygon saya pulang ke rumah setelah seminggu sebelumnya mengikuti Fun bike yang diadakan oleh BI Syariah. Sepeda memang beberapa hari saya biarkan di kantor karena memang kondisi saya masih belum memungkinkan untuk mengayuh dengan jarak yang lumayan jauh sekitar 30 km. Apalagi ditambah bila sore hari Surabaya selalu diguyur hujan....
Nah...saya sudah berniat bahwa saya akan membawa sepeda saya pada Sabtu 1 Maret nya...jadi ketika Jum'at malam tanggal 29 Februari saya sudah membawa perlengkapan berupa pakaian dan celana yang biasa saya gunakan bila berkendaraan bersepeda 'ontel'. Ketika melihat cuaca malam yang bagus dan udara tidak terlalu berangin maka saya memutuskan untuk mengontel sepeda saya malam hari itu juga Jum'at 29 Februari 2008. Jadilah saya mengontel...
Satu kilo meter pertama saya lewati dengan gembira karena memang lalu lintas biarpun ramai tapi teratur rapi...Ketika memasuki kilometer ke 5 mulailah kejadian itu, waktu saya berbelok di depan taman bungkul dan melewati rumah dinas Pangdam V Brawijaya dan berbelok lagi ke kiri menuju arah ke jalan Kutai...karena posisi lampu sudah hijau maka saya tetap mengayuh sepeda dengan kecepatan stabil...dan lalu lintas dari jalan Diponegoro jelas jelas sudah menunjukkan lampu merah...tanpa dinyana kendaraan yang sudah melaju dan pengendara memacu kendaraannya mendadak mengerem yang mengeluarkan bunyi decitan...ternyata ada pengendara sepeda ontel yang nyelonong saja...Nah saya yang berada disisi kiri jalan mengira bahwa saya akan diberikan jalan lebih dulu karena pengendara yang nyelonong persis berhenti di tengah jalan 'safety body' dan sudah mau memasuki ruas jalan yang aman...posisi saya sendiri sudah dipertengahan jalan...tanpa dinyana dan diduga si penyelonong terus saja..yah...namanya juga nyelonong....nah inilah yang membuat saya kaget sehingga sepeda saya rem dengan kuat ...berbarengan belakang dan depan...maka yang terjadi ban sepeda ontel saya yang belakang naik keatas (mumbul istilah Jawanya) dan saya seperti ditumpahkan ke depan.
Dalam posisi begitu saya refleks dan menjatuhkan tangan kiri saya dulu sebagai tumpuan dan kemudian dada kanan sedikit untuk mengurangi hentakan...malangnya...saya sedikit kehilangan keseimbangan dan akhirnya bibir saya duluan nyium aspal ...akibatnya dua gigi saya patah ditempat, kontan dan lunas. Saya pun masih sempat sadar dan bergumam dalam hati "wah gigi saya protol". Saya bangkit dan membawa sepeda saya menyeberangi jalan. Darah yang terus mengucur dari mulut saya membuat saya memutuskan untuk ke UGD Rumah Sakit RKZ atau Santo Paulo yang ada di depan. Saya minta perawatan...singkat cerita bibir saya dijahit sembilan jahitan...
Gigi yang patah dua saya ikhlaskan..dan esoknya setelah dipijat saya cek ke dokter gigi dan dokonsulkan ke ortodontist sore harinya. Karena gigi yang satu sering terasa ngilu akhirnya syarafnya diambil atau dimatikan dengan begitu saya tidak tersiksa bila ingin makan....AlhamdulilLah.
Minggunya saya sudah bisa olah raga kembali bermain badminton bersama teman-teman karena kebetulan klub saya mengadakan latih tanding persahabatan dengan klub dari daerah Tanjung Sari surabaya. aktivitas saya sudah seperti biasa walau dengan bibir diplester itu tidak membuat saya malu...pe de aja lage...
Hikmah yang saya petik dari peristiwa ini yah itu...tadi walaupun posisi kita ketika di traffic light sudah pada posisi hijau jangan anggap aman bahwa kita bisa melenggang dengan enaknya karena di Indonesia itu banyak pengendara yang tidak terdidik dan saya tidak mau membahas mengenai mengapa ini kok bisa? Ruwet membahasnya atau nanti akan saya sediakan sendiri tulisan mengenai analisis mengapa lalu lintas di Indonesia ruwet ??
Yang jelas akibat keruwetan ini akan banyak orang yang menjadi korban dari kecerobohan pengendara yang itu bisa berakibat fatal, celaka permanen atau bahkan kematian......bagaimana ini penguasa ...??? please deh..tegas dan keras...tapi tetap sopan....
Kejadian berawal ketika saya ingin membawa sepeda Polygon saya pulang ke rumah setelah seminggu sebelumnya mengikuti Fun bike yang diadakan oleh BI Syariah. Sepeda memang beberapa hari saya biarkan di kantor karena memang kondisi saya masih belum memungkinkan untuk mengayuh dengan jarak yang lumayan jauh sekitar 30 km. Apalagi ditambah bila sore hari Surabaya selalu diguyur hujan....
Nah...saya sudah berniat bahwa saya akan membawa sepeda saya pada Sabtu 1 Maret nya...jadi ketika Jum'at malam tanggal 29 Februari saya sudah membawa perlengkapan berupa pakaian dan celana yang biasa saya gunakan bila berkendaraan bersepeda 'ontel'. Ketika melihat cuaca malam yang bagus dan udara tidak terlalu berangin maka saya memutuskan untuk mengontel sepeda saya malam hari itu juga Jum'at 29 Februari 2008. Jadilah saya mengontel...
Satu kilo meter pertama saya lewati dengan gembira karena memang lalu lintas biarpun ramai tapi teratur rapi...Ketika memasuki kilometer ke 5 mulailah kejadian itu, waktu saya berbelok di depan taman bungkul dan melewati rumah dinas Pangdam V Brawijaya dan berbelok lagi ke kiri menuju arah ke jalan Kutai...karena posisi lampu sudah hijau maka saya tetap mengayuh sepeda dengan kecepatan stabil...dan lalu lintas dari jalan Diponegoro jelas jelas sudah menunjukkan lampu merah...tanpa dinyana kendaraan yang sudah melaju dan pengendara memacu kendaraannya mendadak mengerem yang mengeluarkan bunyi decitan...ternyata ada pengendara sepeda ontel yang nyelonong saja...Nah saya yang berada disisi kiri jalan mengira bahwa saya akan diberikan jalan lebih dulu karena pengendara yang nyelonong persis berhenti di tengah jalan 'safety body' dan sudah mau memasuki ruas jalan yang aman...posisi saya sendiri sudah dipertengahan jalan...tanpa dinyana dan diduga si penyelonong terus saja..yah...namanya juga nyelonong....nah inilah yang membuat saya kaget sehingga sepeda saya rem dengan kuat ...berbarengan belakang dan depan...maka yang terjadi ban sepeda ontel saya yang belakang naik keatas (mumbul istilah Jawanya) dan saya seperti ditumpahkan ke depan.
Dalam posisi begitu saya refleks dan menjatuhkan tangan kiri saya dulu sebagai tumpuan dan kemudian dada kanan sedikit untuk mengurangi hentakan...malangnya...saya sedikit kehilangan keseimbangan dan akhirnya bibir saya duluan nyium aspal ...akibatnya dua gigi saya patah ditempat, kontan dan lunas. Saya pun masih sempat sadar dan bergumam dalam hati "wah gigi saya protol". Saya bangkit dan membawa sepeda saya menyeberangi jalan. Darah yang terus mengucur dari mulut saya membuat saya memutuskan untuk ke UGD Rumah Sakit RKZ atau Santo Paulo yang ada di depan. Saya minta perawatan...singkat cerita bibir saya dijahit sembilan jahitan...
Gigi yang patah dua saya ikhlaskan..dan esoknya setelah dipijat saya cek ke dokter gigi dan dokonsulkan ke ortodontist sore harinya. Karena gigi yang satu sering terasa ngilu akhirnya syarafnya diambil atau dimatikan dengan begitu saya tidak tersiksa bila ingin makan....AlhamdulilLah.
Minggunya saya sudah bisa olah raga kembali bermain badminton bersama teman-teman karena kebetulan klub saya mengadakan latih tanding persahabatan dengan klub dari daerah Tanjung Sari surabaya. aktivitas saya sudah seperti biasa walau dengan bibir diplester itu tidak membuat saya malu...pe de aja lage...
Hikmah yang saya petik dari peristiwa ini yah itu...tadi walaupun posisi kita ketika di traffic light sudah pada posisi hijau jangan anggap aman bahwa kita bisa melenggang dengan enaknya karena di Indonesia itu banyak pengendara yang tidak terdidik dan saya tidak mau membahas mengenai mengapa ini kok bisa? Ruwet membahasnya atau nanti akan saya sediakan sendiri tulisan mengenai analisis mengapa lalu lintas di Indonesia ruwet ??
Yang jelas akibat keruwetan ini akan banyak orang yang menjadi korban dari kecerobohan pengendara yang itu bisa berakibat fatal, celaka permanen atau bahkan kematian......bagaimana ini penguasa ...??? please deh..tegas dan keras...tapi tetap sopan....
Subscribe to:
Posts (Atom)
