Tuesday, February 26, 2008

PLN lagi.....insentif DisinsentiF ?

Pagi sebelum saya berangkat kerja, saya menonton berita bahwa PLN akan memberlakukan program insentif dan disinsentif bagi pelanggannya khususnya rumah tangga. Bagi pelanggan yang memakai tidak lebih dari 75KWH per bulannya maka akan mendapat insentif sebaliknya yang menggunakan lebih dari 75KWH akan dikenakan disinsentif berupa yang gak jelas,tarif khusus mungkin. Dalam tayangan bagaimana tanggapan konsumen, seorang ibu rumah tangga mengatakan tidak setuju dan keberatan karena rasanya gak mungkin bisa berhemat sampai segitu dan itu hanya akal-akalan PLN saja katanya.

Kenapa seh akhir-akhir ini kita selalu diributkan masalah bidang energi? Mengapa baru terfikirkan sekarang? Terus selama ini ngapain saja? Apa program ini mendapat dukungan pemerintah melalui DPR? Apa program ini sudah terintegrasi secara sistemik diseluruh jajaran bidang usaha milik pemerintah lainnya. Secara sederhana saya bisa katakan bahwa masalah energi memang tambah pelik akhir-akhir ini karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Jawa dan Bali sangat rawan krisis pada akhir-akhir ini terutama PLTU karena tidak mampunya kapal tongkang memenuhi kuota aman untuk operasi PLTU. Nah lo....? Banyak yang menyayangkan hal ini karena cuaca kan bisa diprediksikan jauh hari melalui BMG. Inilah salah satu jawaban yang saya pertanyakan di atas.

Dari sisi politis saya menilai keadaan yang memanas ditingkat bawah akibat tidak menentunya keadaan ditambah dengan proses mendekati pemilu membuat saya menilai lain. Walaupun harus diakui bahwa pemerintah sebenarnya tidak tegas dalam menerapkan kebijakannya untuk penghematan energi, semisal saja bahwa setiap kantor harus memiliki bus karyawan sendiri dan karyawan dilarang menggunakan mobil pribadi untuk ke kantor tetapi memang harus dibarengi dengan fasilitas yang memadai terutama transportasi publiknya. Ini saja gak bisa...koq !

Proses penghematan energi tidak semudah yang kita bayangkan karena anak bangsa ini sudah terbiasa boros karena mencontoh pemimpinnya juga. Seperti kata pepatah 'Pemimpin kencing berdiri rakyat kencing sprint'. Disisi lain apa pernah anak anak SD diajari cara berhemat untuk bidang apapun? Karena itulah nanti potret bangsa 15 tahun ke depan.

Saya cuma berfikir bahwa kitapun perlu mengkhayal bahwa PLN menerapkan model ponsel operator yang bisa beli pulsa untuk beli listrik. Jadi rumah tangga bisa beli listrik 75KWH perbulan dan bila itu habis maka gelap lah rumahnya. Apa mungkin ? Atau listrik ditransfer seprti frekuensi ke rumah-rumah begitu ya...???

Apapun namanya program penghematan ini bila tidak dikaji secara matang akan selalu menjadikan kami rakyat-rakyat kecil menjadi korban karena rakyat selalu menjadi bahan 'kambing congek' percobaan kebijakan petinggi di pusat. Jangan salahkan rakyatnya bila nanti mereka bedemo dan meminta pemerintahan yang sah dibubarkan saja dan mereka minta merdeka sendiri-sendiri. Bukankah pemerintahan itu sah bila diakui rakyatnya?

Itu tadi fikiran ekstrim, tapi apapun itu mbok ya tolonglah dikaji secara matang jangan sampai seperti pengalihan bahan bakar minyak tanah ke gas sekarang ini yang banyak menimbulkan masalah....siapa yang jadi korban ? Ya...rakyatnya lah...
Bila pemerintah tak pernah memikirkan rakyatnya dan tidak pernah mendengarkan mereka percayalah dengan tulisan saya ini...negara ini akan selalu begini sampai kiamat dan tidak akan pernah maju dan berubah...

Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kami pemimpin pemimpin yang amanah bukan pemimpin yang serakah. Ya Allah...ambil dan cabutlah pemimpin pemimpin kami yang serakah dan tidak mendengarkan rintihan rakyatnya sekarang dari bumi Indonesia ini dan jadikanlah mereka penghuni kubur dengan siksa yang berat sampai nanti menunggu hari kebangkitan yang Kau janjikan, amiinnnn...

Sunday, February 24, 2008

Kesenjangan di ENTIKONG KALBAR

Keinginan saya menulis hari ini karena salah satu TV Swasta kemarin yang meliput tentang kesenjangan kesejahteraan antara penduduk Indonesia yang tinggal diperbatasan dengan negara tetangga Malaysia di daerah Entikong Kalbar.

Mengapa daerah ini diliput? Saya yakin ini tidak lain karena santernya isu banyaknya warga Indonesia yang direkrut menjadi Laskar Wataniyah, untuk menjaga perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

Dalam liputan...diceritakan bahwa ada sebagian yang WNI yang berpindah warga negara karena tidak kuat dengan kemiskinan yang mendera mereka tetapi...disisi lain juga dicounter dengan ada sebagian WNI yang masih tetap mencintai ke WNI annya dengan mengatakan 'walau susah bagaimanapun akan tetap mencintai negara ini'. Ironi...

Dalam liputan tersebut ..Saya menjadi trenyuh ketika menayangkan betapa dedikasi seorang guru SD negeri di Entikong yang rela mengmabil gaji 3 bulan sekali ke kecamatan karena besarnya ongkos transportasi bila mengambil gaji dilakukan 1 bulan sekali...biaya perjalan pulang pergi untuk mengambil gaji hampir mencapai 250ribuan. Tidak hanya itu sang guru yang berdedikasi ini hanya mengajar sendirian untuk murid yang hampir 120 orang dari berbagai kelas karena dua orang rekannya hengkang karena tidak kuat menahan derita, coba anda bayangkan...

Alah...mak...negaraku ini kapan majunya kalau sektor pendidikannya saja potretnya seperti itu. Syafi'i Maarif mantan ketua Muhammadiyah pernah menulis disalah satu kolom harian pagi Jakarta bahwa gaji dewan di negara tetangga tersebut lebih kecil dari gaji guru...hal yang sangat kontras dengan negara ini gaji dewan berpuluh kali lipat dibanding gaji guru ???

Saudaraku yang di Entikong, Allah menciptakan bumi ini begitu luas ... yang bisa merubah nasib kalian adalah kalian sendiri. Negara hanya sebatas sebagai pengatur administratif. Jadi berbuatlah sesuatu untuk kesejahteraan diri kalian sendiri dan jangan terpaku pada batas teritorial ataupun apalah namanya.

Saya jadi ingat pengalaman pribadi diri saya sendiri ketika saya masih kecil dan sekolah di sekolah dasar di Medan sana. Untuk berangkat sekolah saya harus bangun pagi-pagi dan ikut dengan mobil truk tentara yang membawa orang tua saya yang memang tentara untuk berangkat dinas ke kantornya. Fasilitas yang memang bisa dikatakan lebih baik ketimbang saudara saya yang di Entikong sana. Keadaan berubah ketika keluarga kami pindah ke Palembang...waduh untuk sekolah saya harus jalan kaki hampir 5 kilo pulang pergi setiap hari. Sudah begitu air bersihnya tidak ada beda dengan ketika saya di Medan. Tapi saya tidak mau menyerah...saya tinggalkan daerah tempat tinggal saya setelah saya tamat SMA dan pergi merantau ke Jawa yang katanya bergelimang fasilitas. Sebuah kesenjangan yang sudah diketahui masyarakat negara ini.

Tapi saya pun cukup miris ketika saya mengunjungi pelosok pelosok pulau Jawa ini ternyata tidak jauh berbeda..hanya mungkin fasilitas jalan jalannya saja yang sudah baik. Padahal untuk teori ini saya sudah baca beberapa tahun sebelumnya tentang teori membangun pertanian yang ditulis oleh AT Mosher bahwa hal yang paling penting bagi pemerintah adalah membangun jalan-jalan disetiap daerah.

Repotlah kawan setelah saya mengetahui pula bahwa negara ini baru tahun 2003 yang lalu, menurut berita bisa melunasi utang peninggalan kolonial Belanda yang hampir 45 triliun itu. Aduh mak....ternyata kita ini baru merdeka dari penjajahan Belanda tahun 2003.

Saudara ku yang di Entikong. Sekali lagi saya berpesan bahwa berpindah atau tidak kewarganegaraan kalian dari WNI ke yang lainnya...itu tidak akan menjadi pertanyaan malaikat ketika nanti saudara-saudara ku di kubur. Paling penting adalah bila memang anda berpindah itu dapat memperbaiki kesejahteraan saudara mengapa tidak ? Banyak orang di negara ini yang berpindah kewarganegaraan karena alasan alasan tertentu yang tidak bisa saya sebutkan di sini dan salah satunya tadi ya itu...kok gak berubah berubah nasibnya....

Agama yang saya anut Islam mengajarkan bertebaranlah kamu di muka bumi ini dan berhijrahlah kamu dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu niatkan dalam hijrah mu. Nah..artinya masalah kewarganegaraan itu adalah masalah ke 301...jadi bukan masalah yang utama. Paling penting adalah kalian yakin bahwa dengan berhijrah kalian akan lebih baik...selamat memikirkannya saudara saudara ku....

Friday, February 15, 2008

Kyai Politik

Kyai kyai politik merupakan istilah yang sebetulnya tidak baru karena kita sudah mulai sering mendengarkan ini. Menariknya adalah banyak cerita miring ketimbang cerita baiknya pada kyai kyai yang berpolitik ini. Mulai dari money politic sampai dengan 'memajaki' konstituen yang mencoba hearing. Apakah ini yang disebut dengan kita sudah memasuki zaman atau masa kyai atau ulama yang jahat ?

Berpolitik dalam pandangan Islam tidaklah tabu karena itu merupakan siasah atau siasat. Yang paling penting adalah bagaiman berpolitik dengan cara Islami bukan malah menodai perilaku politik sehingga menyeret nama Islam menjadi negatif dan tentunya tidak memanfaatkan gelar kharismatik kyai yang diberikan dengan standar yang tidak jelas untuk mencapai tujuan dengan cara-cara yang tidak simpatik.

Kyai memiliki otoritas yang mewilayahi struktur informal dalam sosiologi masyarakat yang mayoritas Islam di Indonesia. Belakangan dengan banyaknya bendera organisasi massa Islam maka banyak pulalah bermunculan para kyai (yah..ini tadi dak jelas standarnya apa seh kyai itu?). Yang mengherankan hiruk pikuk itu akan bertambah lagi ketika mendekati pemilihan umum karena para kandidat pemimpin ini merasa kyai memiliki massa yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan suara perolehannya sehingga bisa memenangkan pemilihan.

Yang lucu lagi kyainya sudah terkontaminsai dan tidak jernih penglihatan mata bathinnya sehingga kadang kadang mengarahkan massanya untuk kandidat tertentu yang justru perilakunya tidak bisa dijadikan contoh publik.

Peran organisasi massa Islam tertentu pun sudah mulai latah dengan menjagokan kyainya untuk menduduki posisi politk tertentu dengan harapan yang tidak jelas. Belakangan kita tahu bahwa katanya netral dan kembali ke 'barak' nya. Mudah-mudahan ini bukan hanya lips service saja.

Saran saya mbok ya kyai itu ngurusi pesantren saja sehingga ummat ini tambah dalam ilmu agamanya dan berikanlah contoh perilaku yang baik kepada massa sehingga 'saran' yang diberikan kyai untuk pemerintah akan didengar karena perilakunya bukan karena kata-katanya. Kedepan kyai juga harus lebih hati-hati lagi dalam menerima undangan dari orang-orang tertentu sehingga tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak jelas karena untuk urusan politik serahkanlah pada yang ahlinya dan fungsi kyai sebaiknya menjadi penasehat dengan kekuatan akhlaqnya. (ojo nesu lo pak kyai...)

Wednesday, February 13, 2008

Valentine Day HARAM ! Rokok ???

Menarik Head Line koran harian pagi di Surabaya hari ini, Valentine di fatwakan HARAM!. Saya terus bertanya, kenapa kok baru sekarang ? Apa dulu belum merasakan bahwa sebetulnya semua itu adalah agenda dunia barat untuk merusak moral anak bangsa yang tidak sesuai dengan kebudayaan orang timur. Memang terkadang kita ini ‘ganjen’, semua budaya barat ditiru mentah mentah tanpa melihat sisi lain atau efek dari budaya tersebut bila diterapkan di negara ini.

Inilah mungkin tipikal anak bangsa, seharusnya memang ‘mencegah lebih baik dari pada mengobati’. Ada benarnya memang bahwa pada hari Valentine itu disalahgunakan oleh remaja ingusan yang lemah iman untuk berpesta dalam hiruk pikuk kasih sayang (katanya) yang mengarah ke pesta sex.

Aneh memang tapi itulah kenyataannya. Informasi yang menyusup sampai pelosok desapun telah membuat remaja-remaja putus sekolah saja mengerti apa itu valentine day.
Sebagai orang beragama sebenarnya perlu dipertanyakan kasih sayang itu apa cuma satu hari itu saja, tanggal 14 Februari ? Sama juga dengan hari hari yang lainnya….hari ibu, hari aids, hari bumi…..dan lain lain. Ini membuktikan bahwa manusia pada saat ini lupa bahwa sebetulnya kita memang harus mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan yang kita miliki untuk kemaslahatan bersama, setiap hari…. tidak pada hari-hari tertentu saja.

Bila kesadaran ini telah terbentuk maka banyak hal-hal yang perlu ditinggalkan karena alasan mudharatnya lebih banyak ketimbang manfaatnya. Permasalahannya adalah mengapa kyainya baru mengeluarkan fatwanya saat ini. Apa karena tekanan masyarakat akibat banyak dampak buruknya. Atau karena latah saja sebab di Saudi pemerintahannya melarang hal ini dan itu diliput media sehingga merasa tidak enak sendiri… kalau begitu di negara ini juga perlu seperti negara sana.

Timbul pertanyaan mengapa kok kyainya tidak mengeluarkan fatwa bahwa merokok itu HARAM. Seperti puisi Bung Taufiq Ismail ‘tuhan sembilan centi’. Apa karena kyainya ikut-ikutan merokok. Padahal kalau diteliti memang mudharatnya lebih banyak dari pada manfaatnya karena kandungan racunnya. Kalau sudah begini perlulah kita pertanyakan otoritas kyai di negara ini. Sekedar figur publik atau memang tokoh panutan untuk kemaslahatan ummat ??? Jawabannya yang tahu cuma kyainya sendiri. (ojo nesu karo aku lo kyai-kyai)

tuhan Sembilan Senti

tuhan Sembilan Senti
oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, dikantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan
cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di
toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat
merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang
merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI
sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan
bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi,orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab
ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari
tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya,
putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan
kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan
tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul
yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh
itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi
mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging
khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya
rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang
diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap
rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan
sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan
fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap
tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Tuesday, February 12, 2008

MBAH SANI

Ketika habis subuh saya menaiki anak tangga ke tempat jemuran yang berada dilantai 1,5 rumah saya. Tak sengaja saya melihat Mbah Sani sedang mengais tong sampah dengan memikul karung plastik yang sepertinya sudah berisi barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan untuk dijual ke penadah.

Mbah Sani, biasa kami memanggilnya, beliau merupakan pengurus Musholla di tempat tinggal kami. Orangnya sudah berusia 70 tahunan, saya sendiri tidak mengetahui dengan pasti usia Mbah Sani ini karena saya merasa tidak enak bila ingin menanyakan usianya sudah berapa. Sama seperti Mbah Sani, sebagai pengurus Mushollah Baitul Jannah di lingkungan tempat kami tinggal saya selalu melibatkan Mbah Sani dalam setiap musyawarah.

Yang membuat saya ingin menulis tentang Mbah Sani ini adalah ketika Idul Adha tahun 1428 H kemarin, Mbah Sani salah satu jamaah kami yang turut berpartisipasi dalam memberikan hewan kurban pada Musholla kami. Saya memang sempat dibisiki oleh Mbah Sani bahwa dia berkeinginan untuk kurban pada tahun itu. Saya menyarankan untuk menemui Pak Yasin yang biasa mencarikan hewan kurban untuk jamaah.

Pada hari H, sebelum sholat dimulai panitia membacakan laporan berapa banyak hewan kurban yang diperoleh panitia. Salah satunya Mbah Sani. Bagi saya pemberitahuan ini adalah hal biasa karena memang sudah menjadi kebiasaan setempat. Menjadi tidak biasa adalah ketika saya bersama pengurus lain sedang sibuk mengurusi kurban datanglah pengurus lainnya yang bernama Pak Khusnun untuk mengajak saya menghitung kotak infaq yang didapat pada hari itu. Tanpa sengaja Pak Khusnun berguman “Wah aku kalah sama Mbah Sani. Mbah Sani bisa kurban saya tidak”. Saya sedikit kaget tetapi saya tidak menampakkan ekspresi itu dan saya menanggapinya dengan perkataan yang membesarkan hati Pak Khusnus “Wah mudah-mudahan tahun depan Bapak bisa seperti Mbah Sani”.

Iri pak Khusnun ini adalah iri yang baik dan sangat dianjurkan dalam agama. Iri untuk berbuat kebaikan sama atau bahkan lebih dari sesama kaum mukmin merupakan sebuah penampakan secara lahiriah iman seseorang. Allah lah yang akan menilai hatinya, ikhlas atau tidak.

Kalimat Pak Khusnun sempat saya maknai ‘masak kalah sama tukang pungut sampah’. Yah…memang begitulah kenyataannya. Mbah Sani selain diberi upah lelah sebagai pengurus Musholla dengan tugas menutup dan membuka pintu serta membersihkan Musholla memiliki pendapatan sampingan dengan memungut plastik bekas, kardus bekas, atau barang rongsokan lain yang sudah tidak digunakan warga perumahan dimana kami tinggal. Bahkan terkadang jamaah ada yang memberikan langsung kepada Mbah Sani atau juga menyuruh Mbah Sani datang kerumah jamaah untuk mengambil barang yang sudah tidak dipergunakan lagi. Oleh Mbah Sani barang-barang tersebut dijual kepada langganannya yang secara ajek mengambil barang bekas tersebut. Mbah Sani pun memperoleh penghasilan tambahan.

Hal lain yang saya tangkap dari Mbah Sani selain sederhana dalam hidup juga zuhud terhadap dunia dan kuat dalam niat sehingga apa yang menjadi ‘keinginannya’ dapat terkabul. Allahu Akbar.

Sosok Mbah Sani ini memberikan pelajaran pada diri saya khususnya bahwa segala sesuatu yang kita inginkan dapat berhasil bila kita ulet, kerja keras dan hemat. Semoga Mbah Sani sebagai penyemangat hidup saya dan jamaah lainnya menjadi contoh nyata dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Itulah sosok sederhana Mbah Sani yang selalu mengumandangkan azan diwaktu subuh untuk memanggil kaum muslimin berjamaah di Musholla. (Yang muda-muda kapan mau jadi muadzin ???)

Monday, February 11, 2008

Laskar Wong Kito (Galo) Double Winner

Euforia Sriwijaya FC nampak begitu bingar ketika kuli tinta menjepretkan kamera kesana kemari. Itu nampak jelas pada saat seremoni penyerahanan piala dan hadiah uang diserahkan. Tangis bahagia bercampur menjadi satu. Berbeda dengan tim lawan si ayam kinantan, pemain mereka sedih…terutama pemain asing mereka James, mereka larut dalam kekecewaan. Tapi itulah permainan harus ada yang menang dan kalah tetapi sportivitas harus tetap dijunjung tinggi. Sayangnya final ini ternoda oleh ulah supporter pada pertandingan semifinal sebelumnya sehingga final kali ini sepi dari penonton.

Di belahan dunia lain klub sepakbola merupakan industri yang dikelola secara profesional karena tanpa penonton fanatik dan sponsor yang mensupport dunia sepakbola akan mati rasa. Di Indonesia bedanya mungkin sang sponsor adalah perusahaan rokok yang itu akan menjadi tabu untuk sponsor olah raga di belahan dunia lain.

Apapun hasilnya Sriwijaya FC telah menunjukkan kualitasnya sehingga menjadi juara di dua ajang laga COPA dan LIGA. Tetapi semoga saja Sriwijaya FC tidak seperti tim tim sebelumnya yang setelah meraih juara liga terus terpuruk ke papan tengah atau bahkan terdegradasi. Belajar dari itu semua apa yang menyebabkannya?

Biasanya setelah menjadi juara Liga banyak pemain inti menjadi incaran klub klub lain yang menginginkan perbaikan peringkat dalam ajang laga berikutnya. Walaupun soal transfer mentransfer pemain dalam liga sepakbola itu biasa tetapi perlu dicermati bahwa hal ini bila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan efek yang buruk bagi klub-klub papan atas. Mengapa? Keterbatasan jumlah pemain berkualitas dan iming-iming gaji yang lebih menggiurkan akan membuat mental pemain goyah sehingga membuat mereka bisa lepas kontrol dan berpindah ke klub lain.

Disinilah perlunya manajemen yang baik dari klub terutama official dan dewan pembina untuk pandai mengelola hati pemain. Gaji masih merupakan faktor penentu di Indonesia. Berbeda dengan dunia sana dimana iklim klub dan fanatisme supporter ikut mempengaruhi secara signifikan untuk membuat pemain terbaik tetap membela klub yang sama dalam jangka waktu cukup lama. Ada hal lain bila kita menonton berita di televisi bahwa klub-klub raksasa di belahan dunia sana selalu memiliki stok pemain muda dari klub anak bawang (anak gawang) mereka sehingga bila sudah waktunya bisa diorbitkan maka pemain yang bersangkutan akan naik kelas menjadi pemain inti. Di Indonesia…????

Harapan saya pada Sriwijaya FC, mudah-mudahan hal ini dicermati sehingga nasib Sriwijaya FC tidak seperti klub lainnya setelah juara terus terpuruk atau bahkan terdegradasi. Sriwijaya FC juga telah membuka mata orang Indonesia karena mereka yang selama ini pengetahuan geografinya kurang bagus akan tahu bahwa Sriwijaya FC itu klubnya orang Sumatera Selatan alias Palembang.

Pemilihan nama Sriwijaya FC juga patut diacungi jempol karena telah menghidupkan fanatisme kebesaran sejarah masa lampau bahwa dahulu kala ada kerajaan besar yang menguasai wilayah nusantara ini yang sampai saat ini pusat kerajaannya masih diperdebatkan dari sisi ilmu antropologi. Kerajaan itu adalah KERAJAAN SRIWIJAYA.

Tidak hanya itu semoga Sriwijaya FC ini nantinya akan menjadi klub yang diperhitungkan di percaturan Liga Indonesia, Asia dan bahkan dunia. Walau sedikit gamang saya juga berharap semoga ke depan muatan pemain lokal lebih dipertimbangkan sebagai atmosfer baru untuk menggugah anak-anak bumi Sriwijaya menggilai bola dan tentunya juga sebagai gantungan hidup alias sebagai pekerjaan. Sehingga bukan tidak mungkin nanti KTP anak-anak Sriwijaya berbunyi “Atlet Sriwijaya FC” pada kolom pekerjaan. Semoga, amiin….

Thursday, February 07, 2008

SARJANA DAN SISTEM PEMERINTAHAN

Pemikiran ini muncul sekilas dan saya tidak mau membuang ide untuk menulis yang memenuhi kepala ini pada saat saya membaca leadership centre nya universitas Lancester University UK. Saya hanya berfikir sederhana bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia akan menjadi mandul dalam mengaplikasikan etika (akademik) di lapangan ketika di dunia kerja atau dunia praktis dipenuhi dengan dominasi bias yang tidak pernah mereka bayangkan sama sekali ketika di bangku kuliah. Apakah jawabannya perlunya dunia perguruan tinggi melakukan link and match seperti pada zaman Wardiman menjadi menteri pendidikan dulu ?

Saya memikirkan model yang berkecamuk di kepala saya bahwa jawabannya adalah sistem pemerintahannya 'bagus dulu' dalam arti memang memenuhi standard kriteria pemerintahan yang bersih alias clean governance atau mutu pendidikan tingginya bagus dulu?

Jawabannya begini, bila mutu lulusannya bagus atau qualified tentunya hal ini akan menguntungkan pemerintah karena bangsa ini memiliki sumberdaya manusia yang hebat-hebat tetapi begitu lulusannya masuk ke lingkar praktik melalui dunia kerja dan sistim pemerintahan yang sebetulnya sudah mereka rasakan ketika duduk di bangku kuliah tentulah tidak berguna karena bagaimana mungkin mereka akan menjalankan teori yang relevan ke dalam praktik nyata bila kondisi dan sistem di lapangan tidak memungkinkan untuk itu. Jadilah mubazir ilmunya karena tidak akan pernah berguna dalam memperbaiki sistem negara ini. Kemauan dan keinginan ada tetapi tekanan sistem lebih kuat. Apa lacur malah sipintar ini tentu akan mengikuti sistem yang sudah ada, syukur kalau memang lulusan pendidikan tinggi Indonesia yang bermutu ini berfikir hijrah ke negara lain yang sistemnya lebih tertata dan tentunya dengan salary yang lebih baik. Tetapi kalau sebaliknya malah mereka yang pintar-pintar ini akhirnya malah menjadi biang bagi tambah mapannya sistem yang kurang baik, wah apalah jadinya negara ini.

Saya sempat berdiskusi dengan istri saya ketika hari libur bahwa dalam sistem pemerintahan SBY-JK ini agak lebih mendinglah pemimpin pemimpin yang jelas merugikan negara di penjara alias dimasukkan bui. Hanya mungkin sosialisasinya saja yang kurang banyak sebagai bagian shock therapy bagi pejabat lainnya yang bermental maling. Tetapi siapa yang mau disalahkan kalau memang sistim politik kita kurang atau belum memungkinkan untuk itu, karena jelas bahwa dalam proses pemilihan untuk menjadi pemimpin di negeri ini tentulah harus memiliki dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Itu sudah diketahui oleh publik di negara ini.

Saya pernah mendapat cerita bahwa salah satu tetangga yang ingin mencalonkan menjadi bupati sampai harus merogoh kocek sampai lebih kurang 5 M hanya untuk bursa pencalonan, mudah-mudahan tidak benar. Kalau sudah begini apa jadinya negara ini? Jadi tidak salahlah kalau negara ini selalu dirundung bencana karena seperti lagu Ebiet G Ade 'mungkin Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita....'.

Kembali ke topik bahasan, bahwa untuk membenahi pendidikan dan moral di negeri ini perlu ada sinergi antara sistem pemerintahan dengan dunia pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Bila sinergi itu tidak terjadi kita hanya mimpi berbicara tentang clean governance alias pemerintahan yang bersih. Bersih apanya ya....?? Bajunya kali....habis necis necis hehehe

Sunday, February 03, 2008

BIKE TO WORK (BTW) BUKAN SOLUSI

Banyak sekali pekerja-pekerja yang mulai menggandrungi pergi kerja dengan bersepeda. Awal mula berangkat dari komunitas kecil bersepeda di Jakarta yang merasa jenuh dengan kemacetan yang ada dan selalu begitu setiap hari. Timbullah kesadaran dari mereka untuk memberikan solusi dengan contoh pergi kerja dengan bersepada, selain menyehatkan juga membuat mereka enjoy meliak liuk dijalanan yang padat.

Di Surabaya pun sudah mulai tumbuh komunitas bersepeda seperti ini, bike to work. Saya merenung apakah ini salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan di jalan raya selama ini yang setiap hari semakin meningkat ? Akhirnya saya membuat kecimpulan dengan pengamatan yang mungkin keliru dalam kacamata saya.

BTW bukanlah solusi. Dalam pandangan saya pemerintah harus turut campur tangan dan tegas dalam menyikapi masalah ini. Mengingat selama ini Indonesia juga merasakan krisis energi yang tidak terbarukan. Tetapi...apakah pemerintah berani untuk mengambil resiko dengan kebijakan yang tegas dan demi kepentingan Indonesia dalam jangka panjang.

Saya lihat bahwa Indonesia ini negara yang unik, katanya krisis tetapi mobil-mobil baru di jalanan semakin bertambah banyak. Pemerintah belum pernah tegas untuk melahirkan kebijakan publik bagi transportasi massal ini. Coba kita lihat bagaimana transportasi massal di negara ini, semua memble...semestinya pemerintah memberikan batasan usia pada kendaraan sehingga jalan tidak penuh dengan kendaraan karena ada kendaraan yang usianya sudah 15 tahun lebih tetap beroperasi.

Pemerintah mungkin takut akan banyak pengangguran bila kebijakan transportasi massal diberlakukan..karena dalam kacamata saya semestinya cukuplah bus saja yang melintasi jalan jalan protokol di kota untuk mengangkut penumpang baik itu pekerja, pelajar maupun penumpang lainnya.

Pemerintah juga harus berani mengeluarkan kebijakan publik kepada pemilik kendaraan pribadi (setelah transportasi massal sudah bagus) untuk beroperasi di jalan-jalan hanya pada hari libur. Sepertinya memang nyeleneh...tetapi inilah salah satu solusi untuk menghemat energi dan mengurangi kemacetan di jalan-jalan selama ini.

Jalan-jalan diperbaiki sehingga membuat onderdil transportasi massal awet. Jalan yang baik, mulus dan rata akan membuat efisiensi. Kita tidak akan menemui lagi jalan-jalan yang berlubang atau tidak rata....

Bagaimana pendapat anda ? Pernahkan anda membayangkan bahwa dengan kebijakan seperti itu akan membuat orang Indonesia sehat-sehat karena selain busnya harus stop di halte dan penumpangnya akan jalan beberapa blok ke kantornya sehingga manusia Indonesia akan sehat karena sudah membakar kalori untuk menuju kantornya.

Sepertinya ini memang sulit tentu akan banyak menimbulkan pro dan kontra...tetapi percayalah kebijakan yang lahir selalu akan begitu. Bila pemerintah tetap tegas dan lurus menjalankan ini maka saya yakin masyarakat akan dapat merasakan hasilnya 10 tahun kemudian, kenapa 10 tahun....karena generasi berikutnya sudah terbentuk mind set nya bahwa negara ini benar-benar teratur dan rapi.

Tetapi otak saya jadi bermain main...karena kita tahu bahwa investor kendaraan terbesar di Indonesia ini adalah Jepang...bisa jadi pemerintah sulit untuk mengelak dan keluar dari tekanan kaum kapitalis.
Yah itu tadi...berani gak pemerintah keluar dari tekanan seperti itu tadi karena bagaimana pun fihak asing tentunya memiliki kepentingan sendiri di negeri ini?

Berani gak SBY dan JK ???