Sebagai bangsa yang secara geografis condong ke agraris kita lupa akan akrarnya. Bagaimana tidak saya sering berjalan-jalan dan melihat bagaimana sawah-sawah produktif sudah berubah dan disulap menjadi bangunan pencakar langit dengan nilai jual yang selangit untuk ukuran kantong pegawai negeri atau petani.
Ras Asia yang dominan menyantap nasi sebagai bahan pokoknya setelah diolah dari beras tentulah perlu memikirkan ke depan nanti bagaimana ? Apalagi diversifikasi pangan belum menunjukkan hasilnya sehingga mayoritas bangasa ini masih suka menyantap nasi dan ada istilah "kalo gak makan nasi rasanya gak kenyang".
Terkait dengan nasi yang awalnya dari padi, tentulah kita memerlukan lahan untuk menanamnya agar dapat menghasilkan beras yang berkualitas. Pak tani yang setia dengan profesinya masih berusaha untuk bertahan dengan lahannya yang terkadang tidak menghasilkan keuntungan karena mereka selalu dipolitisasi. Saya masih ingat ketika dulu mengambil kuliah ekonomi pertanian, ada buku karangan Prof. Soekartawi yang sering bolak balik Malang - Philipina. Disitu dijelaskan dengan grafiknya bahwa ketika terjadi surplus atau panen padi yang berlebihan maka pemerintah akan melakukan perannya sebagai badan penyangga (BUFFER) melalui peran BULOG dengan membeli kelebihan panen padi tadi. Sehingga akan terjadi keseimbangan dan harga beras tidak akan jatuh. Ini adalah standar penjelasan dari teori atau hukum permintaan dan penawaran yang dimodifikasi melalui peran BULOG yang mengintervensi untuk membuat petani Indonesia sedikit lega.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa petani ketika panennya berhasil dan beras melimpah maka mereka tetap nelangsa karena harga gabah tidak menguntungkan. Padahal ketika musim panen tiba, untuk memenuhi sarana produksinya seperti pupuk, waduh mereka harus antri dan berjibaku untuk sekedar mendapatkan pupuk satu karung ukuran 50 kg. Apa sesungguhnya yang terjadi di negara tercinta ini?
Jadi tidak salah bila pada suatu masa nanti kita akan kekurangan lahan pertanian dan produksi beras kita akan menurun karena PETANI SUDAH BOSAN DAN SELALU DIBOHONGI TERUS. Apa buktinya? Media massa sudah menjawabnya dengan ramai-ramainya petani membakar hasil gabah mereka yang katanya akan dibeli oleh partai politik tertentu dan akan dijadikan bibit bagi petani di belahan bumi Indonesia yang lain. Masih ada lagi, produk prematur yang gagal karena syahwat politik orang - orang dekat presiden untuk mengangkat citra pemerintah melalu partai tertentu yang lagi berkuasa, dengan padi SUPER apa itu SUPER TOLOL nya yang membuat petani demam, panas dingin memikirkan kelanjutan dapurnya ngebul apa tidak.
Wong untuk menghasilkan varitas unggul saja perlu waktu bertahun-tahun dan melalui eksprimen yang tak henti-hentinya. Ini kok seperti sulapan mau pemilu terus berkoar-koar "INILAH BIBIT UNGGUL".
Petani Indonesia itu adalah petani yang selalu dibodohi sejak dulu terbukti sejak saya kecil hidup di lingkungan petani sampai saya memiliki istri dan istri saya melahirkan anak, petani yah tetap begitu saja, diBODOHI. Saran saya pada petani jangan mau dijadikan badut politik karena saya tahu bahwa petani Indonesia itu sebenarnya pandai tetapi tidak berdaya dalam ber-revolusi untuk membuat suatu perubahan. Sampai saya kadang berfikir apa jadinya kalau petani tidak menanam padi lagi terus hanya menanam singkong saja ? Bila kita kaitkan dengan statemen "kalau gak makan nasi gak kenyang".
Bagi petani mungkin tidak mengapa, karena saya tahu betul bahwa petani Indonesia itu sangat tabah dan memiliki ketahanan yang luar biasa.
Saya ingin berujar kepada petani Indonesia dalam menyongsong pesta pemilu nanti
"WAHAI PETANI INDONESIA JANGANLAH GAMPANG DIBODOHI OLEH BADUT-BADUT POLITIK WALAU BERGELAR DOKTOR SEKALIPUN. TERIMALAH UANGNYA KALAU MEREKA BERKAMPANYE PADA SAAT MENDEKATI PEMILU TAPI JANGAN KAU COBLOS GAMBARNYA BILA MEREKA TERBUKTI SUDAH MENIPU KARENA SYARAT JADI PEMIMPIN ITU ADALAH JUJUR. PETANI INDONESIA YANG AKU CINTAI, BERSABARLAH DALAM KEHIDUPAN INI KARENA SESUNGGUHNYA PROFESI KALIAN JAUH LEBIH MULIA DIMATA SANG PENCIPTA BILA KALIN MENIATINYA DENGAN IBADAH. JAUH LEBIH MULIA DARI PADA POLITIKUS BUSUK DENGAN PADI POLITIKNYA. JANGAN MAU DIJADIKAN BUDAK POLITIK MEREKA YA...PAK PETANI..."
Saya jadi teringat bagaimana seorang anak manusia yang bernama MUHAMMAD membuat suatu perubahan akhlaq dan peradaban dunia dengan KEJUJURANNYA bahkan sebelum terpilih menjadi nabi sekalipun, JUJUR adalah senjata utamanya sehingga semua orang percaya menitipkan apa saja padanya. Sungguh hebat MUHAMMAD ini. Bagaimana dengan MUHAMMAD MUHAMMAD sekarang ??
Tapi...seandainya MUHAMMAD ini menyaksikan bagaimana negara Indonesia yang begitu kayanya dan dengan mayoritas penduduk muslimnya mungkin MUHAMMAD akan menangis meratapi keadaan ummatnya. Sampai saya berfikir apa gak meratapi bangsa ini ya ketika sang MUHAMMAD ini menghadapi sakratul maut dengan berujar "UMMATI...UMMATI...UMMATI..".
Ah...mudah-mudahan MUHAMMAD mendoakan bangsa ini dari alam sana agar kaum muslimnya dan para petaninya tidak jadi korban PADI POLITIK lagi sehingga bangsa ini menjadi apa yang tertulis dalam KITAB yang dibawanya menjadi bangsa yang makmur aman sejahtera dan rakyatnya sumringah-sumringah karena apa ? Karena rakyatnya (presiden, menteri, anggota DPR dan semua warga negara ini) sudah jujur semua hehehe....kapan ya...???
Cuma ALLAH yang tahu....
Thursday, October 16, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment