Kalau saya mengingat peristiwa minggu lalu saya terkadang ingin tertawa sendiri kadang geli dan kadang haru. Anak saya yang berusia 4 tahun menangis sesenggukan karena mengingat cerita ku.
Yah sore itu saya pulang ke rumah lebih awal dari biasanya karena memang hari itu saya letih sekali. Sesampai di rumah aku menemui anak ku Cici sedang bermain dengan kakanya Fira. Seperti biasa aku selalu memeluk anakku dan menimangnya sambil menciuminya. Menanyakan bagaimana pelajaran di sekolah TK nya, apakah ada PR dan segala tetek bengek yang dialaminya seharian itu. Komunikasi itu tetap aku lakukan dan kujaga untuk membuat hubungan kami tidak hanya sebatas bapak dan anak tetapi juga sebagai sahabat.
Cici mengikuti ku ke kamar dan aku menggendongnya. Sambil tiduran aku bercanda bersamanya, sedang si Fira membaca saja di ruang keluarga. Kebiasaan membaca memang aku tanamkan sejak anak mulai kecil. Sering ketika libur mereka aku ajak ke toko buku hanya untuk sekedar jalan-jalan ataupun membeli buku baru cerita untuk anak yang mereka belum punya. Walau Cici belum bisa membaca dia selalu minta dibacakan cerita dari buku baru yang dipilihnya ketika sebelum tidur baik oleh kakanya Fira, mamanya ataupun saya sendiri. Saya terkadang tersenyum sendiri dibuatnya ketika dia kadang-kadang membaca buku sendiri lagaknya orang yang sudah pandai membaca dengan melihat gambar di buku dan meramu kata katanya berdasarkan daya ingat yang dimilikinya ketika dia menyimak mendengarkan cerita yang dibacakan kakaknya, mamanya ataupun aku sendiri. Itulah Cici dengan segala gaya dan celotehnya.
Entah dari mana asalnya pernyataan Cici sore itu tiba-tiba dia mengemukakan
“Ayah aku ingin keliling dunia”
“Ho…bagus itu dik…tapi kalau mau keliling dunia adik harus rajin belajar dan pandai membaca dan tentunya harus berprestasi di sekolah,” jawabku sambil memeluknya.
“Kalau nanti berprestasi di sekolah dan bahasa asingnya bagus, adik nanti bisa sekolah gratis karena dapat beasiswa. Beasiswa dari luar negeri banyak lo dik…nanti akan ayah carikan informasi,” jawabku. Aku lantas menirukan dengan pura-pura membaca surat panggilan diterima nya anakku Cici di salah satu universitas di Amerika, Ohio State University. Dengan bahasa Inggris ku yang gratal gratul aku membaca sekenaku. Anakku Cici hanya melongo memperhatikan ku.
“Terus nanti adik..ayah uruskan paspornya, visanya dan pada saatnya berangkat ayah akan antar adik ke bandara,” celotehku dengan sangat menjiwai peran ku sebagai seorang ayah.
Ketika akan berangkat ayah akan memeluk adik
“Ayah …akan sangat merindukan mu dik,” kataku sambil memeluk anak ku sungguhan. Dengan mimik terharu dan meneteskan air mata aku melanjutkan
“Jaga diri baik-baik ya nak…di rantau… jangan lupa sholat dan mengajinya…ayah akan bangga pada adik dan sekolahlah yang rajin. Jangan lupa kirim kabar bila nanti sudah tiba di Amerika,” celoteh ku sambil sesenggukan.
“Sampai di Amerika adik terus kirim kabar ke ayah dan mama melalui kcanggihan teknologi bisa internet bisa telepon atau nanti bisa pake teknologi baru yang belum dikenal saat ini,” lanjutku.
“Halo ayah..hallo mama adik sudah sampai di Amerika di sekolah Adik dan tinggal di asrama…adik baik-baik saja dan disini udaranya sangat dingin gak kayak di Indonesia,” aku sambil menirukan suara anak perempuan kecil.
Keletihan membuatku tidak melanjutkan ceritaku…tapi yang terjadi kemudian Cici anakku nyeletuk
“Ayah terus aku kalau udah selesai sekolah pulang ke Surabaya dan kerja di Surabaya kan?” tanyanya meyakinkan ku
“Oh iya…dik,” jawabku
“Ayah aku sedih…HUA..HUA..HUA….,” aku kaget dibuatnya.
Aku mengira giliran anakku ini yang akting…gak tahunya betulan dia nangis sungguhan dan sesenggukan sambil teriak “MAMAAA….MAMAA….heng…heng…,” aku kalang kabut dibuatnya.
Kugendong anakku… tangisnya tak mau berhenti juga…akhirnya aku minta bantuan emak yang biasa membantu kami di rumah untuk menggendongnya sebentar…sembari aku mengerjakan kewajibanku sholat Asyar. Sampai aku selesai sholat tangis anakku ini belum berhenti juga. Aku lantas memanggil anakku Cici untuk datang kepadaku. Ini biasa kulakukan selesai sholat fardu untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anakku sambil meniupkannya di kening mereka.
Sambil kugendong aku berdo’a dan meniupkan ke ubun-ubun Cici yang masih sesenggukan. Aku lantas berfikir apa yang salah ya….akhirnya aku punya ide untuk melanjutkan cerita yang belum selesai tadi.
“Ketika adik selesai kuliah di Amerika..adik terus telpon ayah mengabarkan bahwa adik sudah selesai kuliah dan akan segera pulang ke Surabaya,” aku bercerita terus dan Cici mulai diam dari tangisnya dengan terus menyimak ceritaku.
“Ayah, mama dan kak Fira menjemput kedatangan adik di bandara,” lanjutku
“Harap-harap cemas ayah memperhatikan setiap penumpang yang keluar di pintu kedatangan dan ayah sungguh pangling ketika melihat adik Cici yang lebih tinggi badannya dan lebih putih dengan mata sedikit kebiru-biruan mungkin karena kebanyakan makan keju di sana, “ kataku sambil memencet hidungnya.
“Adik ! hei …ini Ayah….,” kataku sambil menirukan gaya melambaikan tangan.
“Ayah memeluk adik. Oh….ayah sungguh merindukan mu adik…terus mama juga memeluk adik..dan kak Fira juga memeluk adik,” kataku melanjutkan
“Terus adik cari kerja di Surabaya dan diterima. Waktu adik dapat gaji pertama kali adik ngajak ayah, mama dan kak Fira makan bersama di restoran, nraktir ayah, mama dan kak Fira,” kataku.
Anak ku ini mulai tersenyum, aku mengakhiri cerita…tapi ternyata anakku ini nyeletuk
“Ayah besok-besok jangan cerita yang sedih lagi ya…adik ikut sedih…terutama ketika ayah nganter ke bandara,” aku kaget mendengar komentarnya.
Anak ku anak ku…mudah-mudahan keinginan mu terkabul ingin keliling dunia hehehe ternyata anak kecil juga bisa diajak berimajinasi. Semoga cita-citamu terkabul nak…amiinn
Wednesday, August 06, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment