Wednesday, April 02, 2008

Sebutan itu tidak penting

Saya jadi terbahak bila ingat cerita teman saya yang mengikuti rapat ketika divisi nya bergabung dengan divisi yang lebih besar walau masih dalam satu atap. Ketika pimpinan mempresentasikan struktur organisasi yang baru banyak karyawan yang resah dan merasa ada rasa takut kehilangan kewenangan bagi yang sudah mapan pada organisasi yang lama.

Ketika tiba pada sesi tanya jawab maka ada pertanyaan dari salah satu temen saya tadi yang merasa bahwa posisi nya akan turun satu tingkat dengan proses 'merger' ini. Pada saat itulah temen saya ini nyeletuk "bagi saya sebutan ataupun apa itu tidak penting yang penting adalah salary nya". Kontan ruangan rapat jadi gerr....

Memang dalam kehidupan kerja tidak beda jauh dengan kehidupan politik dengan segala triknya. Ada yang lebih senang dengan posisi jabatannya walau salary tidak sebanding dengan sebutan dan tanggung jawab yang disandangnya.

Untuk hal ini saya juga kadang diskusi dengan istri saya yang sudah cukup lama berkecimpung dalam bidang sumberdaya manusia. Saya sangat jadi mengerti bahwa yang menentukan besar tidak salary seseorang selain karena keahlian yang didukung pendidikannya juga karena pengalaman yang pernah dijalaninya serta hal lain-lain juga seperti job deskripsi yang jelas menyangkut tanggung jawab. Hal lain yang penting adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan kesejahteraan pada karyawannya.

Filosofi yang saya pegang adalah bahwa dimanapun kita bekerja kondisi kerja yang kita temui akan sama saja. Tergantung bagaimana kita membawa diri dan berusaha seprofesional mungkin dalam menjalankan tugas, maka semua akan datang dengan sendirinya. Walaupun banyak penelitian tentang kepuasan kerja khususnya di Indonesia yang menemukan masih dominannya faktor seseorang berpindah kerja karena tawaran salary yang lebih baik, manusiawi bukan.

Jadi saya tidak bisa menyalahkan celetukan teman saya tersebut ketika diskusi rapat seperti di atas tadi bahwa sebutan itu tidak penting yang penting adalah gaji 'salary' nya. Dalam pandangan teman saya tersebut percuma saja sebutannya mentereng tetapi gaji atau salary yang diterima hanya sekelas staf biasa di luar perusahaannya apalagi tanpa fasilitas yang menyertainya ? Kalau sudah begini semua kembali kepada individu masing-masing bagaimana sebetulnya seseorang itu menghargai hidupnya, bahwa hidup adalah perjuangan itu sangat betul.

Bagaimana menurut Anda ?

No comments: