Wednesday, March 12, 2008

MENGANTI SAJA SUDAH MULAI MACET...

Menganti enam tahun yang lalu merupakan tempat yang menarik saya untuk membeli rumah dengan cara mencicil. Bagaimana tidak, ketika pagi hari kita masih bisa menikmati kabut dan suara burung secara alami bukan burung dalam sangkar piaraan. Lucunya lagi kalau saya berangkat kerja jam tujuh pagi rasanya saya kok kepagian sekali karena jalanan terasa lengang. Begitu pula pulangnya kalau saya jam delapan malam di jalan rasanya kok sepi sekali sepertinya kok saya sendiri. Air tanahnya masih bagus dan jernih walau dengan kandungan kapurnya tinggi. Harus diakui bahwa airnya lebih jernih dari air PDAM.

Saya masih ingat ketika pertama kali saya mengangkuti barang untuk pindah ke rumah baru saya ini...kami sempat dihadang di depan kuburan oleh sekelompok pemuda mabuk untuk dikompasi uang. Beruntung kami lolos dari hadangan itu karena driver kendaraan yang saya tumpangi Pak Sutrisno memilih untuk tetap menjaga mobil tetap melaju dan memilih untuk menabrak mereka. Para pemuda tersebut akhirnya memilih minggir dan saya melihat dari kaca belakang bahwa mereka tidak mengejar mobil yang kami tumpangi. Untungnya saya saat itu bersama teman laki-laki saja. Kalau saja ada istri saya mungkin dia memilih tidak untuk menempati rumah dulu sampai keadaan ramai atau aman dan tidak rawan seperti saat itu.

Pernah juga saya pulang malam sekitar pukul satu malam dari Surabaya sehabis kunjungan di Paiton Power Gen saya menyuruh pak driver Taxi yang saya tumpangi untuk memacu kendaraan secepat mungkin karena saya mengkhawatirkan kondisi istri saya yang hamil tua sendirian di rumah. Saya memang berpesan kepada istri saya kalau ada yang mengetuk rumah jangan hiraukan baik laki-laki maupun perempuan. Memang saat itu rumah yang kami tinggali belum kami pagari dengan pagar karena menurut saya belum perlu. Waktu itu memang perumahan yang kami tempati baru dihuni keluarga kurang lebih hanya 40 KK saja. Alhamdulillah akhirnya saya sampai di rumah dan saya lihat istri saya sehat-sehat saja..

Hari ini saya berangkat kerja seperti biasa, jam tujuh pagi.... tapi ada sesuatu yang lain dalam satu tahun terakhir ini karena saya sedikit bingung kemana arah kendaraan yang berlawanan arah dengan saya ? Apakah ini karena dampak dari LUMPUR LAPINDO ? Memang Menganti yang berjarak kurang lebih 30 km dari Surabaya bisa menjadi jalur alternatif bagi yang tidak mau terjebak kemacetan bagi kendaraan yang menuju ke Surabaya dan ke Malang atau Mojokerto. Sedangkan sisi lain yang saya amati, kendaraan yang roda dua khususnya yang searah dengan saya ke Surabaya seperti semut berarak-arakan di jalanan. Saya geleng geleng kepala dibuatnya. Kenapa? Karena saya bandingkan dengan satu tahun sebelumnya...tidak seperti ini jalanan menuju ke Surabaya dan kembali ke Menganti Gresik.

Memang perkembangan dua tahun terakhir ini Menganti Gresik mendapatkan imbas dari perkembangan Surabaya Barat. Apalagi setelah Ciputra membangun Citra Landnya yang sempat terhenti pada saat penguasa ordebaru lengser.

Pembangunan yang sekarang ini begitu pesat. Di Surabaya Barat Apartemen bermunculan dan Mall tempat berbelanja berdiri dengan megahnya. Satu hal yang saya cermati penduduk sekitar yang memiliki lahan menjadi orang kaya baru karena lahan mereka dibeli oleh pengembang untuk mengembangkan bisnis mereka. Saya kuatir saja bahwa orang kaya baru ini tidak pandai mengelola uangnya dan akhirnya akan menjadi orang miskin baru. Sisi lain positifnya pengembangan Surabaya Barat membuat harga lahan disekitar meningkat tajam dan pengembang perumahan rumah sederhana menggeliat dan penjualan meningkat.

Tapi saya tidak ingin membahas ini...tentang developer yang banyak mengais keuntungan dari sektor propertinya. Saya ingin membahas tentang semrawutnya kendaraan di jalanan menuju ke Surabaya. Saya cuma berfikir apa ini karena gampangnya konsumen mendapatkan fasilitas kredit dengan perang 'gampangnya' memperoleh kendaraan roda dua dari dealer? Atau karena kemampuan ekonomi masyarakat yang meningkat? Atau karena mahalnya ongkos angkutan umum? Atau karena macetnya jalanan? Atau .....atau....

Saya cuma mau mencermati bahwa pada saat krisis energi seperti sekarang ini pemerintah kok tidak bersikap melihat banyaknya keluhan masyarakat tentang macetnya jalan ini? Timbul pertanyaan yang sangat besar dalam kepala saya? Atau karena memang para pejabatnya sudah pada TULI semua ? Atau karena pejabatnya tidak peka akan lingkungan sekitar? Bisa Anda bayangkan kalau pemerintahnya peka dan mengeluarkan kebijakan publik untuk moda transportasi masal sehingga berapa energi yang sudah dihemat dan ini tentunya tidak memberatkan APBN yang sudah direvisi karena keteteran akibat harga minyak dunia yang meningkat.

Semestinya moda transportasi bus dengan jalur khusus itu perlu dimasalkan dengan diikuti aturan pembatasan usia kendaraan dan menaikkan pajak kendaraan bermotor sampai tujuh kali lipatnya. Juga dengan diikuti oleh dicabutnya atau membatasi izin trayek angkutan umum. Saya sangat yakin bahwa dampaknya akan sangat terasa dalam dua atau tiga tahun ke depan.

Memang kebijakan sebaik apapun tentu akan menimbulkan kerugian dan keuntungan tetapi yang namanya kebijakan publik tentunya harus tetap berfihak pada publik. Bila keuntungan untuk publik dirasa lebih banyak itu berarti memang begitulah seharusnya sehingga tidak usah kaget dan takut akan di demo oleh supir dan pemilik angkot misalnya.

Dari hasil survey terakhir di Surabaya, satu diantara empat orang laki-laki memiliki kendaraan sepeda motor. Seandainya 30 persen saja dari jumlah penduduk Surabaya yang 3 jutaan itu laki-laki maka ada 900 sepeda motor yang telah berhemat dengan BBM. Bila 900 sepeda motor ini satu hari menghabiskan rata-rata 2 liter BBM berarti kita sudah menghebat BBM 1800 liter dan silahkan konversikan sendiri berapa rupiahnya ? Ini baru kendaraan roda dua saja. Belum lagi ditambah kendaraan roda empat pribadi yang pemiliknya tergiur dengan ramahnya moda transportasi masal yang disediakan pemerintah. Berapa BBM yang bisa kita hemat ? Sehingga ini akan berdampak secara makro untuk perekonomian secara nasional dan tentunya APBN pun akan semakin berdaya guna untuk kemaslahatan rakyat Indonesia ini. Ini bila satu kota saja. Bila itu diterapkan untuk semua kota di kota-kota Indonesia? Berapa yang bisa kita hemat ? Hitung sendirilah....artinya apa pemerintah bisa melakukan itu bila pemerintah berani dan sekali lagi BERANI mengeluarkan kebijakan publik yang bermafaat untuk publik! MERDEKA OIIIIII.......KAPAN MERDEKA SUNGGUHAN......?????

No comments: