Sebagai muslim, saya sangat senang dengan ghirah ke Islam dari anak-anak muda saat ini yang banyak memakai busana muslim dalam kesehariannya. Saya sendiri tidak tahu ini pertanda rasa kesadaran dari diri mereka sendiri atau ikut-ikutan saja dari remaja putri khususnya dan ibu-ibu umumnya. Kalau di sekolah-sekolah Islam hal ini memang diwajibkan bagi remaja putri tetapi di sekolah-sekolah umumpun sekarang ini semakin banyak saja remaja-remaja putri yang mengenakan jilbab di kesehariannya.
Ghirah ke Islaman ini tentulah patut diapresiasi oleh orang tua dari remaja putri yang bersangkutan sebab selain merupakan syariat yang dianjurkan juga merupakan tameng dari kejahatan kejahatan seksual yang marak akhir akhir ini.
Fungsi jilbab sendiri selain sebagai penutup aurat juga sebagai penutup atau penyembunyi lekak lekuk tubuh wanita yang bisa mengundang syahwat laki-laki dewasa yang melihatnya. Sehingga orang yang mengenakan jilbab dengan benar tentu tidak dapat ditebak lekak lekuk tubuhnya karena tertutup olah pakaian yang dikenakannya. Sehingga menghilangkan 'andai andai' dari lelaki dewasa yang melihatnya.
Namun ada yang mengganjal hati saya selaku muslim ketika maraknya jilbab modis yang dikenakan oleh remaja putri akhir-akhir ini. Saya sering melihat remaja putri mengenakan jeans ketat sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas plus penutup kepala yang modis. Saya hanya bertanya apa ini yang dianjurkan agama ?
Sepertinya pemahaman remaja putri saat ini jilbab itu adalah penutup kepalanya saja sedang yang lainnya tidak....jadi mereka melupakan fungsi bahwa jilbab yang benar adalah jilbab yang longgar dan menyembunyikan lekak lekuk tubuh bukan sebaliknya.
Sudah menjadi tugas orang tua untuk memberikan pengertian kepada remaja putrinya untuk memberi tahu tentang pengenaan jilbab yang benar. Tugas orang tua WAJIB menyampaikan hal ini dan memberikan teguran KERAS bila putrinya mengenakan jilbab secara setengah setengah. Selaku orang tua hendaklah menyampaikan dan memberi teguran keras kepada putrinya bahwa bila ingin mengenakan jilbab...kenakanlah secara benar menurut tuntunan AGAMA bukan memelintirnya dengan alasan MODERNISASI jilbab.
Mudah mudahan ALLAH tidak murka dan selalu memberikan hidayah Nya kepada remaja remaja putri Islam sebagai generasi penerus ISLAM dan harapan bangsa. SEMOGA
Friday, November 30, 2007
Tuesday, November 27, 2007
BIROKRASI dan KERUWETAN
Ketika saya bertemu dengan ibu mertua saya ...saya melihat ada duka menghiasi wajah beliau. Saya lantas bertanya "ada apa bu...?". Ibu akhirnya bercerita bahwa setelah meninggalnya Bapak Mertua surat tanah dengan status tanah IJO yang ditempati sekarang harus di balik nama atas nama ibu.
Keruwetan muncul ketika ipar saya yang mengurus tanah tersebut bersama temannya sering menemui salah satu staf di pemerintahan kota Surabaya untuk membayar biaya yang diminta, staf tersebut berinisial 'W'. Keruwetan semakin bertambah ketika setelah beberapa bulan kok proses tidak ada progresnya. Sampai akhirnya saya tahu bahwa ternyata ada masalah dengan staf yang mengurusi proses balik nama tersebut, ternyata staf yang berinisial 'W' tadi sudah dimutasi di kecamatan Tegalsari. Mungkin inilah yang membuat ibu mertua saya sedih...karena biaya yang diminta sudah dipenuhi semua dan proses tidak ada kemajuan. Setelah ditanyakan dengan salah satu staf di pemkot jawabannya nanti akan kami bantu tetapi ketika dilacak berkas belum masuk.
Sampai akhirnya ipar saya mengadukan kasus ke polisi dengan maksud memberikan pelajaran kepada ibu tersebut. Akhirnya ibu tersebut datang ke rumah ibu mertua dengan menangis tersedu sedu sambil mengatakan bahwa berkas sebetulnya masih sama dia dan disimpannya. Walah...walah....uang sudah keluar sampai hampir sepuluh jutaan tetapi berkas mandek di tangan ibu 'W' ini. Ibu 'W' berjanji akan mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan oleh ibu mertua dengan tanda tangan di atas materai sebagai penguat.
Satu pertanyaan saya bahwa mengapa di negara ini bila kita berhubungan dengan birokrasi selalu dan banyak sekali menemui keruwetan ? Dimana permasalahannya? Sampai kapan kita terus begini? Padahal kita selalu mendengar slogan-slogan 'good governance'. Kapan itu bisa kita nikmati ?
Mungkin memang si pencipta birokrasi dulu sudah memikirkan bahwa inilah yang namanya birokrasi dan bahwa birokrasi itu selalu identik dengan keruwetan. Apa iya ya...
Atau mungkin birokrasi dianggap sebagai bentuk lain dari proyek yang menghasilkan pendapatan tambahan sehingga timbul jargon 'KALAU BISA DIPERSULIT KENAPA DIPERMUDAH' dan untuk menjadi mudah kita harus mengeluarkan ekstra fulus....fulus lagi...fulus lagi...
Apa memang begitu ya? Padahal gaji pns dinegara ini sering naik tetapi tingkat inflasi pun selalu mengikuti ketika gaji pegawai pemerintahan naik. Inilah mungkin letak permasalahannya dinegara ini? Atau mungkin pemerintah juga tidak bisa menghitung tingkat kebutuhan pegawai sehingga menggelembung seperti sekarang ini dan pemerintah tentu merasa berat bebannya melalui apbn untuk membayar gaji pegawainya? Atau juga pemerintah tidak bisa mengintervensi pasar sehingga ketika gaji pegawai naik harga tidak ikut-ikutan naik. Saya dengar dari teman-teman yang sudah berhaji beberapa kali pernah bilang bahwa harga roti ketika dia naik haji pertama kali dengan yang ke sekian sama ..padahal rentang waktunya cukup lama...saya terus bertanya dalam hati...kok bisa ya...? Kenapa kita gak bisa...?
Dari situlah timbul ide menulis ini karena saya berkesimpulan memang birokrasi diciptakan untuk keruwetan. Di institusi institusi lain pun sering saya menemukan hal-hal seperti ini. Yang paling saya herankan adalah bahwa sebetulnya dalam pengamatan sekilas bahwa jenis pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh 2 orang saja tetapi yang mengerjakan bisa sampai 5 orang. Nah dari ketidak efisienan inilah sudah terlihat benih-benih keruwetan karena kita terkadang menemui benturan nyata di lapangan bahwa untuk membuat efisien waktu dan tenaga kita harus mengeluarkan ekstra fulus yang telah saya sebutkan di muka....sebetulnya ini sangat menarik untuk diteliti...tetapi akhirnya timbul juga pertanyaan...apa karena pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan ?
Menjawab itu..saat ini dikampus kampus marak dengan kurikulum kewirauasahaan dengan harapan yang lulus dari kampus tersebut bisa membuat pekerjaan sendiri dan menyerap pengangguran sehingga membantu pemerintah.
Sudah terbukti memang bahwa Jepang dengan penduduknya yang 2% pengusaha terus jadi negara yang bingung mau ngutangin siapa besok. Timbul lagi pertanyaan apakah terus presiden republik ini harus dari pengusaha biar segala sesuatunya dibuat seperti model kerja pengusaha?
Sebagai bahan perbandingan di Kabupaten Sragen katanya bupatinya dari pengusaha dan perkembangan daerahnya pesat sekali bahkan menjadi model nasional untuk pelayanan terpadu satu atap...terus di Lamongan sama juga peningkatakan kemajuan daerahnya cukup signifikan ketika pimpinannya seorang pengusaha. Ah...ini masih perlu dibuktikan lewat penelitian...yang jelas menurut bupati Sragen...bila kebijakan pusat gak bisa diterima akal maka dia akan menerobosnya dengan kebijakan sendiri yang itu sudah difikirkan demi kemajuan daerahnya, nah lo...!
Apa ada bupati yang berani seperti bupati Sragen ini? Kebanyakan yang saya amati masih tetap mengekor dengan kebijakan pusat yang tidak memiliki implikasi untuk kemajuan daerah dengan otonominya itu. Kalau begitu buat apa dong otonomi...kalau bungkusnya beda isinya sama ??? Kalau sudah begini apa kita perlu mengkampanyekan presiden berikutnya dari kalangan pengusaha ? Terserah Anda....!!
Bila kita ingin melihat republik ini maju mari kita berbuat sesuatu dengan modal kejujuran dan keberanian untuk membela kepentingan publlik. Berani !!!
Sebab kalau tidak begitu ...sila ke 5 Pancasila hanya akan menjadi slogan entah sampai kapan....coba renungkan mengapa bencana selalu menimpa negara ini...renungkanlah....renungkanlah....renungkanlah....sampai kau menemukan jawabannya
Keruwetan muncul ketika ipar saya yang mengurus tanah tersebut bersama temannya sering menemui salah satu staf di pemerintahan kota Surabaya untuk membayar biaya yang diminta, staf tersebut berinisial 'W'. Keruwetan semakin bertambah ketika setelah beberapa bulan kok proses tidak ada progresnya. Sampai akhirnya saya tahu bahwa ternyata ada masalah dengan staf yang mengurusi proses balik nama tersebut, ternyata staf yang berinisial 'W' tadi sudah dimutasi di kecamatan Tegalsari. Mungkin inilah yang membuat ibu mertua saya sedih...karena biaya yang diminta sudah dipenuhi semua dan proses tidak ada kemajuan. Setelah ditanyakan dengan salah satu staf di pemkot jawabannya nanti akan kami bantu tetapi ketika dilacak berkas belum masuk.
Sampai akhirnya ipar saya mengadukan kasus ke polisi dengan maksud memberikan pelajaran kepada ibu tersebut. Akhirnya ibu tersebut datang ke rumah ibu mertua dengan menangis tersedu sedu sambil mengatakan bahwa berkas sebetulnya masih sama dia dan disimpannya. Walah...walah....uang sudah keluar sampai hampir sepuluh jutaan tetapi berkas mandek di tangan ibu 'W' ini. Ibu 'W' berjanji akan mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan oleh ibu mertua dengan tanda tangan di atas materai sebagai penguat.
Satu pertanyaan saya bahwa mengapa di negara ini bila kita berhubungan dengan birokrasi selalu dan banyak sekali menemui keruwetan ? Dimana permasalahannya? Sampai kapan kita terus begini? Padahal kita selalu mendengar slogan-slogan 'good governance'. Kapan itu bisa kita nikmati ?
Mungkin memang si pencipta birokrasi dulu sudah memikirkan bahwa inilah yang namanya birokrasi dan bahwa birokrasi itu selalu identik dengan keruwetan. Apa iya ya...
Atau mungkin birokrasi dianggap sebagai bentuk lain dari proyek yang menghasilkan pendapatan tambahan sehingga timbul jargon 'KALAU BISA DIPERSULIT KENAPA DIPERMUDAH' dan untuk menjadi mudah kita harus mengeluarkan ekstra fulus....fulus lagi...fulus lagi...
Apa memang begitu ya? Padahal gaji pns dinegara ini sering naik tetapi tingkat inflasi pun selalu mengikuti ketika gaji pegawai pemerintahan naik. Inilah mungkin letak permasalahannya dinegara ini? Atau mungkin pemerintah juga tidak bisa menghitung tingkat kebutuhan pegawai sehingga menggelembung seperti sekarang ini dan pemerintah tentu merasa berat bebannya melalui apbn untuk membayar gaji pegawainya? Atau juga pemerintah tidak bisa mengintervensi pasar sehingga ketika gaji pegawai naik harga tidak ikut-ikutan naik. Saya dengar dari teman-teman yang sudah berhaji beberapa kali pernah bilang bahwa harga roti ketika dia naik haji pertama kali dengan yang ke sekian sama ..padahal rentang waktunya cukup lama...saya terus bertanya dalam hati...kok bisa ya...? Kenapa kita gak bisa...?
Dari situlah timbul ide menulis ini karena saya berkesimpulan memang birokrasi diciptakan untuk keruwetan. Di institusi institusi lain pun sering saya menemukan hal-hal seperti ini. Yang paling saya herankan adalah bahwa sebetulnya dalam pengamatan sekilas bahwa jenis pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh 2 orang saja tetapi yang mengerjakan bisa sampai 5 orang. Nah dari ketidak efisienan inilah sudah terlihat benih-benih keruwetan karena kita terkadang menemui benturan nyata di lapangan bahwa untuk membuat efisien waktu dan tenaga kita harus mengeluarkan ekstra fulus yang telah saya sebutkan di muka....sebetulnya ini sangat menarik untuk diteliti...tetapi akhirnya timbul juga pertanyaan...apa karena pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan ?
Menjawab itu..saat ini dikampus kampus marak dengan kurikulum kewirauasahaan dengan harapan yang lulus dari kampus tersebut bisa membuat pekerjaan sendiri dan menyerap pengangguran sehingga membantu pemerintah.
Sudah terbukti memang bahwa Jepang dengan penduduknya yang 2% pengusaha terus jadi negara yang bingung mau ngutangin siapa besok. Timbul lagi pertanyaan apakah terus presiden republik ini harus dari pengusaha biar segala sesuatunya dibuat seperti model kerja pengusaha?
Sebagai bahan perbandingan di Kabupaten Sragen katanya bupatinya dari pengusaha dan perkembangan daerahnya pesat sekali bahkan menjadi model nasional untuk pelayanan terpadu satu atap...terus di Lamongan sama juga peningkatakan kemajuan daerahnya cukup signifikan ketika pimpinannya seorang pengusaha. Ah...ini masih perlu dibuktikan lewat penelitian...yang jelas menurut bupati Sragen...bila kebijakan pusat gak bisa diterima akal maka dia akan menerobosnya dengan kebijakan sendiri yang itu sudah difikirkan demi kemajuan daerahnya, nah lo...!
Apa ada bupati yang berani seperti bupati Sragen ini? Kebanyakan yang saya amati masih tetap mengekor dengan kebijakan pusat yang tidak memiliki implikasi untuk kemajuan daerah dengan otonominya itu. Kalau begitu buat apa dong otonomi...kalau bungkusnya beda isinya sama ??? Kalau sudah begini apa kita perlu mengkampanyekan presiden berikutnya dari kalangan pengusaha ? Terserah Anda....!!
Bila kita ingin melihat republik ini maju mari kita berbuat sesuatu dengan modal kejujuran dan keberanian untuk membela kepentingan publlik. Berani !!!
Sebab kalau tidak begitu ...sila ke 5 Pancasila hanya akan menjadi slogan entah sampai kapan....coba renungkan mengapa bencana selalu menimpa negara ini...renungkanlah....renungkanlah....renungkanlah....sampai kau menemukan jawabannya
Tuesday, November 20, 2007
MACET LAGI MACET LAGI
Menyikapi kemacetan yang ada di kota kota besar di Indonesia saya sempat geleng geleng kepala karena, katanya negara kita ini miskin tapi kok kendaraan di jalan raya banyak sekali. Kalau sudah begini yang keliru itu ekonom atau hasil survey nya ?? Disisi lain kota-kota di luar Jakarta tidak mau belajar dari kemacetan Jakarta yang sudah terkenal itu.
Surabaya sekarang juga sudah mulai menuai hasil dari pembangunan yang tidak mengindahkan kenyamanan publik dengan tekanan kenyamanan publik. Mengapa ? Karena semua merasa membayar pajak mungkin atau juga karena pemerintahnya tidak mengerti bagaimana cara mengelola uang publik untuk kepentingan dan kenyamanan publik.
Saya sempat berkata kepada teman saya dinegara ini bila menjadi RI-1 itu seharusnya sudah siap mati baik mati secara wajar ataupun tidak wajar alias disantet. Mengapa disantet karena banyaknya lawan politik dan pengusaha yang tidak terakomodasi kepentingannya sehingga berulah.
Sudah 62 tahun merdeka PEMERINTAH tidak berani mengeluarkan kebijakan tentang pelayanan dan kenyamanan publik. Misal kendaraan bermotor yang lebih dari 10 tahun harus dimusnahkan dan didaur ulang. Angkutan publik diperbaiki armada dan kualitas layanannya. Yang melanggar aturan lalu lintas ditindak tegas dengan tidak boleh mengendarai selama 1 tahun tergantung berat ringannya pelanggaran.
Setelah saya amati kadang-kadang kebijakannya sudah benar tapi tindakan untuk melakukan dan mengamankan kebijakan itu tidak tegas? Kenapa ya ? Apa karena wajah peradilan kita ? Atau karena negara ini tidak punya panutan dengan meminjam istilah bung EMHA Ainun Najib bahwa dinegara ini semuanya sesat.
Pemimpin merupakan simbol sebuah negara dan mau dibawa kemana negara ini tergantung pemimpinnya. Lihatlah bagaimana mantan presiden India yang diminta untuk berbicara di Jakarta baru-baru ini dengan memaparkan bagaiman negaranya membangun sistim informasi sehingga menjadi negara modern dengan sistim informasinya saat ini.
Negara yang penuh dengan orang pintar tetapi terpuruk dari sisi kesejahteraan tentunya ada yang salah dan tidak beres. Sampai kapan ini akan berakhir ??? Mungkinkah tidak berakhir sampai ALLAH menurunkan azab kubronya sehingga hanya menyisakan orang-orang baik dinegeri ini? Wallahu'alam....
Surabaya sekarang juga sudah mulai menuai hasil dari pembangunan yang tidak mengindahkan kenyamanan publik dengan tekanan kenyamanan publik. Mengapa ? Karena semua merasa membayar pajak mungkin atau juga karena pemerintahnya tidak mengerti bagaimana cara mengelola uang publik untuk kepentingan dan kenyamanan publik.
Saya sempat berkata kepada teman saya dinegara ini bila menjadi RI-1 itu seharusnya sudah siap mati baik mati secara wajar ataupun tidak wajar alias disantet. Mengapa disantet karena banyaknya lawan politik dan pengusaha yang tidak terakomodasi kepentingannya sehingga berulah.
Sudah 62 tahun merdeka PEMERINTAH tidak berani mengeluarkan kebijakan tentang pelayanan dan kenyamanan publik. Misal kendaraan bermotor yang lebih dari 10 tahun harus dimusnahkan dan didaur ulang. Angkutan publik diperbaiki armada dan kualitas layanannya. Yang melanggar aturan lalu lintas ditindak tegas dengan tidak boleh mengendarai selama 1 tahun tergantung berat ringannya pelanggaran.
Setelah saya amati kadang-kadang kebijakannya sudah benar tapi tindakan untuk melakukan dan mengamankan kebijakan itu tidak tegas? Kenapa ya ? Apa karena wajah peradilan kita ? Atau karena negara ini tidak punya panutan dengan meminjam istilah bung EMHA Ainun Najib bahwa dinegara ini semuanya sesat.
Pemimpin merupakan simbol sebuah negara dan mau dibawa kemana negara ini tergantung pemimpinnya. Lihatlah bagaimana mantan presiden India yang diminta untuk berbicara di Jakarta baru-baru ini dengan memaparkan bagaiman negaranya membangun sistim informasi sehingga menjadi negara modern dengan sistim informasinya saat ini.
Negara yang penuh dengan orang pintar tetapi terpuruk dari sisi kesejahteraan tentunya ada yang salah dan tidak beres. Sampai kapan ini akan berakhir ??? Mungkinkah tidak berakhir sampai ALLAH menurunkan azab kubronya sehingga hanya menyisakan orang-orang baik dinegeri ini? Wallahu'alam....
Wednesday, November 07, 2007
DEBAT KUSIR DI TV
Sungguh nikmat rasanya ketika saya menikmati debat antara menhut ms ka'ban, manajer humas kehutanan walhi propinsi sumatera utara, anggota DPR komisi Iv dan dari fihak kepolisian dengan pangkat irjen.
Yang membuat saya menikmatinya adalah antara ketidak puasan dari fihak WALHI dan KEPOLISIAN terhadap lepasnya atau diputus bebasnya sang AL tersangka kasus pembalakan liar di hutan lindung mandailing natal sumut. Sungguh terlihat perbedaan sudut pandang antara fihak kepolisian, menhut dan walhi sedang si anggota DPR sebagai fihak pengamat.
Satu hal yang saya lihat bahwa sebagai konsumsi publik debat ini menarik dan membuat saya menduga-duga karena ketidak seragaman sudut pandang dalam memandang masalah pembalakan liar...tapi terlepas dari itu semua yang jelas memang di republik ini sulit sekali untuk berkoordinasi. Mulai zaman pemerintahan orde baru sampai saat ini selalu saja saling tuding sepertinya memang setiap departemen itu memiliki kekuatan sendiri-sendiri sehingga tidak mau berinteraksi secara 'arif' untuk memperbaiki keadaan republik sehingga kami-kami rakyat ini merasakan perbaikan dari sisi kebijakan dan tindakan nyata dari hasil penerapan kebijakan. PERLU PEMBACA KETAHUI BAHWA REPUBLIK INI MEMANG MILIK SEGELINTIR ORANG YANG MEMILIKI KUASA DAN UANG. PERLU DICATAT ITU !!!
Yang jelas dari kacamata saya justru dari debat kusir itulah kelihatan bahwa pemerintah kurang serius dalam melindungi hutan yang katanya sebagai aset dunia sehingga orang luar pun ikut memperdulikan hutan republik ini sebab hutan mereka sudah habis ditebangi ketika revolusi industri dulu.
Satu hal yang membuat saya sangat terkesan dari debat publik ini bahwa ketika anda memiliki uang anda bisa melakukan segala galanya di republik ini termasuk membeli KEKUASAAN. Karena itulah seorang budayawan sampai bersumpah dengan menyebut DEMI ALLAH bahwa seluruh pemimpin dunia bersatu untuk memperbaiki keadaan di republik ini pasti mereka tidak akan mampu karena pelik dan kompleksnya permasalahan yang ada dan sebagai orang yang beragama sang budayawan berkata hanya ALLAH yang dapat mengubah republik ini ke arah yang lebih baik.
Kalau sudah begitu akhirnya saya berfikir bahwa dengan aktifnya beberapa gunung api akhir akhir ini mungkinkah itu sebagai skenario ALLAH untuk menumpas orang-orang jahat di bumi pertiwi ini dengan ledakan secara berbarengan (semoga) dan akhirnya menyisakan orang-orang baik untuk perbaikan dan kelangsungan republik ini ? Wallahu 'alam...tetapi dari debat ini semua publik tahu bagaimana kualitas pemerintahan kita sekarang ini dalam memerangi dan menangani kasus pembalakan liar.
Kalau sudah begitu timbul lagi pertanyaan apakah nanti anak cucu kita nanti masih dapat merasakan segarnya udara pagi ketika bangun dari tidur...karena bukan tidak mungkin ketika hutan sudah habis maka pohon pohon di dalam kota pun ditebangi semua oleh para pengusaha yang katanya memiliki izin itu...semoga itu tidak terjadi.
Yang membuat saya menikmatinya adalah antara ketidak puasan dari fihak WALHI dan KEPOLISIAN terhadap lepasnya atau diputus bebasnya sang AL tersangka kasus pembalakan liar di hutan lindung mandailing natal sumut. Sungguh terlihat perbedaan sudut pandang antara fihak kepolisian, menhut dan walhi sedang si anggota DPR sebagai fihak pengamat.
Satu hal yang saya lihat bahwa sebagai konsumsi publik debat ini menarik dan membuat saya menduga-duga karena ketidak seragaman sudut pandang dalam memandang masalah pembalakan liar...tapi terlepas dari itu semua yang jelas memang di republik ini sulit sekali untuk berkoordinasi. Mulai zaman pemerintahan orde baru sampai saat ini selalu saja saling tuding sepertinya memang setiap departemen itu memiliki kekuatan sendiri-sendiri sehingga tidak mau berinteraksi secara 'arif' untuk memperbaiki keadaan republik sehingga kami-kami rakyat ini merasakan perbaikan dari sisi kebijakan dan tindakan nyata dari hasil penerapan kebijakan. PERLU PEMBACA KETAHUI BAHWA REPUBLIK INI MEMANG MILIK SEGELINTIR ORANG YANG MEMILIKI KUASA DAN UANG. PERLU DICATAT ITU !!!
Yang jelas dari kacamata saya justru dari debat kusir itulah kelihatan bahwa pemerintah kurang serius dalam melindungi hutan yang katanya sebagai aset dunia sehingga orang luar pun ikut memperdulikan hutan republik ini sebab hutan mereka sudah habis ditebangi ketika revolusi industri dulu.
Satu hal yang membuat saya sangat terkesan dari debat publik ini bahwa ketika anda memiliki uang anda bisa melakukan segala galanya di republik ini termasuk membeli KEKUASAAN. Karena itulah seorang budayawan sampai bersumpah dengan menyebut DEMI ALLAH bahwa seluruh pemimpin dunia bersatu untuk memperbaiki keadaan di republik ini pasti mereka tidak akan mampu karena pelik dan kompleksnya permasalahan yang ada dan sebagai orang yang beragama sang budayawan berkata hanya ALLAH yang dapat mengubah republik ini ke arah yang lebih baik.
Kalau sudah begitu akhirnya saya berfikir bahwa dengan aktifnya beberapa gunung api akhir akhir ini mungkinkah itu sebagai skenario ALLAH untuk menumpas orang-orang jahat di bumi pertiwi ini dengan ledakan secara berbarengan (semoga) dan akhirnya menyisakan orang-orang baik untuk perbaikan dan kelangsungan republik ini ? Wallahu 'alam...tetapi dari debat ini semua publik tahu bagaimana kualitas pemerintahan kita sekarang ini dalam memerangi dan menangani kasus pembalakan liar.
Kalau sudah begitu timbul lagi pertanyaan apakah nanti anak cucu kita nanti masih dapat merasakan segarnya udara pagi ketika bangun dari tidur...karena bukan tidak mungkin ketika hutan sudah habis maka pohon pohon di dalam kota pun ditebangi semua oleh para pengusaha yang katanya memiliki izin itu...semoga itu tidak terjadi.
Monday, November 05, 2007
Teknologi dan Kemacetan
Sering sekali saya melihat di jalan mobil-mobil dan sepeda motor saling berlomba membunyikan bel kendaraannya. Itu karena mobil di depannya jalannya melambat dan tanpa merasa bersalah tidak memberikan kesempatan kepada kendaraan lain yang ada di belakangnya untuk dapat mendahuluinya dengan cara meminggirkan kendaraan atau sedikit menepi. Mengapa itu terjadi ?
Ternyata setelah diamati dengan asyiknya sang pengendara memencet mencet keypad handphone nya ber SMS ria dengan rasa tanpa bersalah yang telah mengakibat kan pengendara lainnya sedikit melambat dan membentuk antrian panjang ke belakang.
Hal seperti ini sering terjadi di jalanan di republik ini, apa sebabnya ? Selain karena ketidakmengertian tentang safety di jalanan dan menghormati kepentingan publik tapi ada hal lain yang sebetulnya bisa dibilang 'kemaruk teknologi'. Kemaruk teknologi maksudnya bisa beli tetapi tidak mengerti atau tidak familiar dalam penggunaannya.
Selain tidak memanfaatkan aksesoris pelengkap handset/HP ini juga karena perlakuan hukum yang tidak tegas. Ini tugas dari polisi untuk memberikan sanksi pada pelaku yang tidak memperhatikan tingkat safety pengguna jalan lainnya di jalanan. Kepada user Hp juga sebaiknya mengerti bahwa untuk menggunakan HP di jalanan sebaiknya bila sedang berkendara gunakanlah aksesoris pelengkap seperti handsfree, earphonr ataupun yang lainnya seperti yang banyak beredar di pasaran dan canggih canggih lagi. Herannya sang 'pelaku' biasanya orang yang dari sisi ekonomi dan pendidikan cukup maju tapi cara berfikirnya mundur. Apa Anda juga ingin di cap sebagai orang yang memiliki cara berfikir mundur ?
Ternyata setelah diamati dengan asyiknya sang pengendara memencet mencet keypad handphone nya ber SMS ria dengan rasa tanpa bersalah yang telah mengakibat kan pengendara lainnya sedikit melambat dan membentuk antrian panjang ke belakang.
Hal seperti ini sering terjadi di jalanan di republik ini, apa sebabnya ? Selain karena ketidakmengertian tentang safety di jalanan dan menghormati kepentingan publik tapi ada hal lain yang sebetulnya bisa dibilang 'kemaruk teknologi'. Kemaruk teknologi maksudnya bisa beli tetapi tidak mengerti atau tidak familiar dalam penggunaannya.
Selain tidak memanfaatkan aksesoris pelengkap handset/HP ini juga karena perlakuan hukum yang tidak tegas. Ini tugas dari polisi untuk memberikan sanksi pada pelaku yang tidak memperhatikan tingkat safety pengguna jalan lainnya di jalanan. Kepada user Hp juga sebaiknya mengerti bahwa untuk menggunakan HP di jalanan sebaiknya bila sedang berkendara gunakanlah aksesoris pelengkap seperti handsfree, earphonr ataupun yang lainnya seperti yang banyak beredar di pasaran dan canggih canggih lagi. Herannya sang 'pelaku' biasanya orang yang dari sisi ekonomi dan pendidikan cukup maju tapi cara berfikirnya mundur. Apa Anda juga ingin di cap sebagai orang yang memiliki cara berfikir mundur ?
Thursday, November 01, 2007
Profesor...oh profesor..
Ketika ngobrol serius dengan salah satu profesor baru dari salah satu universitas negeri di Jawa Timur saya kaget dan memberikan ucapan selamat karena yang bersangkutan tidak pernah menceritakan kalau yang bersangkutan sudah dikukuhkan menjadi guru besar (apa memang selama ini masih guru kecil hehe). Obrolan berlanjut dengan basa basi biasa dan si profesor pamit.
Tak lama kemudian datanglah si doktor yang sering saya motivasi untuk segera mengurus segala keperluan yang dibutuhkan untuk segera dikukuhkan menjadi guru besar. Setelah ngobrol ngalor ngidul saya berkomentar bahwa di perguruan tinggi A banyak profesornya ya... Si doktor terus berkomentar bahwa di PT A itu enak karena bila ingin mengumpulkan kum sang kandidat guru besar bisa menyantolkan kum untuk penelitiannya pada rekan sejawat atau mahasiswa bimbingannya (apa boleh ya...??)
Sang doktorpun berkomentar ada lagi perguruan tinggi negeri di daerah B bahwa profesornya lebih banyak lagi yah sama karena sistim cantol menyantol (kayak listrik saja) sering dilakukan sehingga pengumpulan kum dari penelitian lebih cepat terkumpul.
Saya hanya jadi bertanya-tanya apa memang harus begitu sih untuk menjadi guru besar sebagai panutan mahasiswa ? Atau karena motif lain sehingga rating nya meningkat bila diundang seminar karena keguru besarannya atau juga karena motif motif lain secara ekonomi tadi sehingga terkadang untuk cantol menyantolpun dilakukan? Atau juga karena di fakultas di PT tersebut kering dengan guru besar, alah mak...
Setahu saya yang namanya guru besar itu selain merupakan jenjang kepangkatan juga karena kepakaran dibidang ilmunya. Cobalah kita lihat bagaimana dan berapa banyak buku yang diterbitkan oleh profesor profesor kita ? Selain mengajar tugas profesor yah memang meneliti dan menerbitkannya dalam jurnal sehingga diakui kepakarannya.
Tapi mungkin zaman sudah bergeser sehingga untuk mendapatkan predikat guru besar seorang kandidat profesor gampang mengumpulkan kum karena kebaikan kolega ataupun karena merasa membimbing mahasiswanya sehingga menganggap bahwa itupun menjadi penelitiannya dan bukan karya mahasiswa sepenuhnya yang memiliki ide dasar ? Bener gak sih....?? Bingung aku....
Tak lama kemudian datanglah si doktor yang sering saya motivasi untuk segera mengurus segala keperluan yang dibutuhkan untuk segera dikukuhkan menjadi guru besar. Setelah ngobrol ngalor ngidul saya berkomentar bahwa di perguruan tinggi A banyak profesornya ya... Si doktor terus berkomentar bahwa di PT A itu enak karena bila ingin mengumpulkan kum sang kandidat guru besar bisa menyantolkan kum untuk penelitiannya pada rekan sejawat atau mahasiswa bimbingannya (apa boleh ya...??)
Sang doktorpun berkomentar ada lagi perguruan tinggi negeri di daerah B bahwa profesornya lebih banyak lagi yah sama karena sistim cantol menyantol (kayak listrik saja) sering dilakukan sehingga pengumpulan kum dari penelitian lebih cepat terkumpul.
Saya hanya jadi bertanya-tanya apa memang harus begitu sih untuk menjadi guru besar sebagai panutan mahasiswa ? Atau karena motif lain sehingga rating nya meningkat bila diundang seminar karena keguru besarannya atau juga karena motif motif lain secara ekonomi tadi sehingga terkadang untuk cantol menyantolpun dilakukan? Atau juga karena di fakultas di PT tersebut kering dengan guru besar, alah mak...
Setahu saya yang namanya guru besar itu selain merupakan jenjang kepangkatan juga karena kepakaran dibidang ilmunya. Cobalah kita lihat bagaimana dan berapa banyak buku yang diterbitkan oleh profesor profesor kita ? Selain mengajar tugas profesor yah memang meneliti dan menerbitkannya dalam jurnal sehingga diakui kepakarannya.
Tapi mungkin zaman sudah bergeser sehingga untuk mendapatkan predikat guru besar seorang kandidat profesor gampang mengumpulkan kum karena kebaikan kolega ataupun karena merasa membimbing mahasiswanya sehingga menganggap bahwa itupun menjadi penelitiannya dan bukan karya mahasiswa sepenuhnya yang memiliki ide dasar ? Bener gak sih....?? Bingung aku....
Subscribe to:
Posts (Atom)
