Friday, September 28, 2007

Chauvinisme KORPS

Di TV atau di lingkungan sekitar kita sering kita mendengar tentara dan polisi saling baku hantam. Baru-baru ini di Ambon terjadi perkelahian antara aparat polisi dan tentara. Entah mana yang benar tetapi kejadian ini sering terjadi di masyarakat kita mungkin juga di belahan dunia lain. Saya msih ingat ketika masih SMP banyak orang tua yang sering bilang "Gak usah jadi polisi nak banyak musuhnya dan nanti kalau pensiun tidak akan dihargai rakyat lagi". Tetapi ada juga orang tua yang berkata pada anaknya "Cukup bapak saja yang susah nak..kalau kamu ingin jada aparat jadilah polisi biar gak susah kayak bapak alias kaya".

Mungkin teman saya mengikuti perkataan yang kedua dari orang tua terhadap anaknya, sehingga teman saya itu begitu selesai SMA terus mendaftar ke polisi dan diterima melalui jalur bintara. Tapi ada juga teman saya yang tetap berpendirian teguh dengan pendiriannya bahwa tentara tetap yang terbaik sehingga ketika selesai SMA masuk AKABRI dan diterima.

Menilik perkataan kedua orang tua yang menasehati anaknya tadi tentulah orang tua yang berpangkat bintara ke bawah. Tetapi kalau orang tuanya jenderal tentu perkataannya akan beda. Apapun itu yang jelas dua korps ini selalu saja bentrok di lapangan karena merasa bangga dengan korpsnya masing-masing. Bukan rahasia lagi bila ada anaknya atau keponakannya yang ditilang polisi maka yang mengambilnya tentara. Sepertinya tentara berada pada posisi yang superior tanpa melihat duduk permasalahannya, benar atau salah.

Citra ini terus berlangsung sampai saat ini sehingga menimbulkan tanda tanya bahwa apakah paradigma itu masih tetap akan berlaku hingga akhir zaman ? Wallahu 'alam.
Padahal bila ditilik dari sejarah kedua korps tersebut sama berjasanya dalam perjuangan dan mengisi sejarah kemerdekaan republik. Pada operasi militer pun sering polisi melalui brigade mobilnya turun tangan mengatasi kerusuhan dan kejahatan yang sifatnya sudah mengancam kedaulatan negara.

Itulah bila pengkultusan korps sudah mendarah daging sehingga mengalahkan cara kerja otak pemberian Tuhan yang semestinya dapat memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah dengan saringan yang bernama 'hati'. Semoga kedua korps ini bisa rukun ya...tapi entah kapan...???

Wednesday, September 05, 2007

Dokter Spesialis

Saya pernah membaca bahwa di banding vietnam perbandingan jumlah penduduk dengan dokter spesialis di negara ini sangat jauh dari harapan. Padahal vietnam itu kan baru agak tenangan sedikit dibanding negara ini yang sudah tenang sejak 60 tahuanan yang lalu. Apa yang salah kira-kira ya... Katanya kita membutuhkan 80 ribu dokter spesialis bahkan lebih. Ternyata ketika saya menjemput istri saya dan ngobrol di jalanan yang penuh debu terjawab sudah. Kebetulan istri saya bekerja sebagai hrd di salah satu rumah sakit swasta di surabaya. Istri saya bilang dokter si "A" itu sudah berulang kali tes di Surabaya, di Yogyakarta dan bahkan sampai Semarang tetapi tetap tidak diterima. Dokter "A" ini sudah lama praktek sebagai dokter di ugd rumah sakit tersebut dan berencana meningkatkan skillnya melalui sekolah mengambil spesialisasi.

Usut punya usut ternyata dokter "A" ini bukan lulusan universitas negeri tetapi lulusan universitas kedokteran swasta yang cukup di kenal di surabaya. Istri saya melanjutkan bahwa ada yang baru lulus S-1 tetapi karena anak dokter dan bekingannya profesor maka langsung diterima melanjutkan ke spesialisasi. Saya sebagai orang awam sangat tidak mengerti dengan hal-hal seperti ini tetapi mungkin untuk kalangan orang-orang yang berkecimpung dalam rumah sakit sangatlah maklum.

Yang saya mengerti cuma begini kalau memang orang tersebut mampu dari sisi akademis dan finansiil mengapa kok tidak diberi kesempatan untuk meningkatkan skill nya melalui sekolah spesialsisasi ? Apa karena lulusan S-1 dari swasta?

Terkecuali memang tidak memiliki kompetensi dua-duanya dan banyak terjadi mal praktek barangkali ini bisa dimaklumi. Kalau sudah begini timbul lagi pertanyaan "BUAT APA SEKOLAH SWASTA DIDIRIKAN?". Padahal harus kita akui banyak sekolah swasta yang lebih bermutu dari negeri untuk fakultas-fakultas tertentu.

Ah..negeri ku masih sakit...banyak memang yang perlu dibenahi sehingga anak bangsa ini bisa berkompetisi dengan fair, sportif sehingga dapat menciptakan mobilitas sosial yang tinggi yang dapat membuat bangsa ini lebih maju dan berkompetensi dengan bangsa lain di dunia. Kapan....ya.....????

Mungkin nunggu kucing keluar tanduknya kale....