Sebetulnya saya agak jengah juga ingin menulis tulisan ini tetapi yah sekedar...tambah tambah pengalaman buat yang membacanya.
Ketika saya ditelpon teman-teman di tempat saya tinggal untuk kumpul bersama saya pun mendatangi undangan tersebut dengan senang hati. Teman yang mengundang ternyata mengajak makan bersama teman-teman lain yang diundang juga. Ketika bersantap panganan tradisi daerah Lamongan (nasi boran, saya juga gak pasti boran atau borang hehehehhe) teman teman berdiskusi kecil memperbincangkan tentang lingkungan kita tnggal sambil berkelakar sembari dibumbui lelucon lelucon yang cukup menyegarkan susana.
Pada saat sampai ketika memperbincangkan pemerintahan desa dengan lurah yang baru tibalah kelucuan itu menjadi menjadi. Ada yang cerita kalau istri lurah yang baru menanyakan ke lurah yang lama sebetulnya gaji lurah itu berapa ? Jawaban lurah yang lama dengan bahasa jawa "cangkulen bengkok iku sampe geger mu bongkok". Istri lurah yang lama dapatlah menangkap maksud tersebut artinya lurah tidak digaji dan gajinya dari tanah bengkok desa yang tidak subur dan kurang menguntungkan. Sampai akhirnya ada lagi cerita yang sangat menggelikan ketika lurah yang baru katanya didatangi oleh penduduk secara beramai ramai karena lurah menjual pohon randu dipinggir jalan tanpa kompromi lagi. Temen saya yang pengurus kampung menyeletuk "Wah lurahe bingung yok opo carane nggolek duit gae mbalekno bondo ketika proses pemilihan lurah" (Lurahnya bingung bagaimana caranya cari uang buat mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan ketika proses pemilihan lurah).
Ada lagi yang cerita ketika rapat dibalai desa terlontar pembicaraan dari lurah secara eksplisit ingin menjual kali yang dilewati lahan developer yang sedang mengembangkan perumahan. Semua orang banyak tertawa termasuk juga BPD nya....hehehehe
Saudara saudara ku lihat lah kualitas lurah dan proses pemilihan lurah di desa, yang saya dengar mertuanya membantu proses biaya pemilihan dengan menjual sawahnya bagaimana dengan proses pemilihan presiden ? Mungkin bukan sawah yang dijual oleh mertuanya calon presiden tetapi pengusaha-pengusaha yang melingkarinya bersiap membantu dan tentunya dengan KOMPENSASI KOMPENSASI KUE baik itu melalui kebijakan politik maupun yang lainnya, ah ANDA kan tau sendirilah...hehehehe
Begitulah kalau kita sudah mendewakan uang dan uang menjadi segalanya segala proses proses politik harus dengan uang untuk menghasilkan pemimpin dan juga kebijakan yang akhirnya tidak memihak pada kepentingan rakyat banyak tetapi lebih pada kepentingan bisnis kaum tertentu..WADUW...kepalaku sakit...
