Friday, October 13, 2006

Guru ...oh ... guru....

Sewaktu aku pulang ke kampung pada awal Oktober lalu cukup banyak perubahan yang terjadi setelah kota pempek ini aku tinggalkan selama 18 tahun lebih. Bandara yang baru dengan standar internasional (katanya...wong aku belum bisa membandingkan dengan bandara di luar negeri karena memang belum pernah keliling dunia). Komitmen pemerintah daerah cukup bagus dalam pandangan saya. Saya ingin bernostalgia dengan tempat tempat dimana aku sekolah dulu. Aku datangi tempat sekolah ku ketika sekolah dasar dulu ....sungguh mengenaskan karena tidak ada perubahan fisik bangunan dan aku sedih melihat kesejahteraan guru guru ku dulu tak berubah. Kemudian aku kunjungi SMP ku dulu didekat bandara yang lama sama saja terlihat tidak terawat bahkan lebih baik ketika zaman aku sekolah dulu yang berubah hanya ada musholla dan penambahan ruang belajar diatas lahan tempat parkir sepeda pancal. Aku tidak sempat bertemu salah satu guru ku tetapi yang aku dengar dari adikku yang juga guru ditempat lain bahwa pak anu bu anu dan guru anu sudah tidak disana lagi. Aku hanya ingin melihat guru-guru ku dulu bagaimana dengan 'kesejahteraannya'. Ketika aku melintas di depan SMA ku dulu yang kulihat banyak perubahan terutama pembangunan fisik ... kalau ini aku maklum karena memang SMA swasta dan cukup ternama di kota pempek dan kesejahteraan guru gurunya aku yakin jauh lebih baik dari sekolah SD dan SMP ku dulu yang sekolahan negeri.

Disinilah perbedaan guru dan murid sehingga ada yang bilang GURU YAH TETAP GURU ... MURIDNYA ADA YANG JADI ANGGOTA DPR, PENGUSAHA, PRESIDEN DAN GURU TETAP SAJA GURU setelah aku renungkan ada benarnya juga. Tetapi yang aku tidak mengerti kok kenapa kesejahteraannya teruta pada guru SD, SMP dan SMA negeri begitu begitu aja padahal negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun. Jadi tidak menyalahkan bila ada murid pandai yang di ambil negara tetangga untuk disekolahkan dengan perjanjian tertentu dan tentunya menguntungkan negara lain. Tapi mau bagaimana lagi wong negara kita sendiri tidak dapat memberikan yang terbaik bagi warga negaranya yang katanya hak-haknya dilindungi oleh undang undang (antah berantah).

Sebagai bahan perbandingan ada teman yang bercerita bahwa guru di negara tetangga yang masih serumpun untuk guru sekolah dasarnya saja bisa memiliki kendaraan mobil sedan yang untuk ukuran guru di negara ini sangatlah mewah, tetapi memang teman saya tidak cerita bahwa guru di negara tetangga saya itu memang sudah kaya dari sononya atau apa karena memang masih ada hubungan famili dengan teman saya itu sehingga ceritanya menjadi bagus. Cuma saya yakin teman saya itu tidak bohong.

Bagaimana kita mau menelurkan murid berkualitas bila mayoritas guru di republik ini untuk dikatakan hidup layak saja sangat jauh panggang dari api. Sehingga bukan menjadi rahasia umum kalau ada guru yang ngobyek jadi perpanjangan tangan penerbit buku dengan imbalam komisi dari 'penerbit' melalui sales force nya. Yang sangat mengenaskan profesi guru sekarang bukan karena memang cinta mengajar tetapi karena memang tidak ada pilihan lain dan BISA DIKATAKAN BAHWA PROFESI GURU ITU ADALAH PROFESI KEPEPET KETIMBANG TIDAK PUNYA PEKERJAAN LAIN ALIAS MENGANGGUR.

Sedangkan politisi kita pandai bicara itupun hasil dari didikan guru tetapi mengapa tidak apa idealisme untuk memperjuangkan guru-guru di republik ini sehingga percepatan kemajuan bangsa ini bisa terlihat dengan nyata. Kita tidak memiliki grand design untuk memajukan pendidikan bangsa ini dan setiap pergantian kurikulum selalu saja terjadi polemik yang berkepanjangan. Trus....mau jadi apa ??? Pakar pakar pendidikan tidak kurang di republik ini tetapi 'bisnis' sekali lagi memiliki power alias kekuasaan dalam menelurkan kebijakan yang 'menguntungkan' fihak fihak yang bermain dalam dunia pendidikan. Saya sependapat dengan teman saya ketika mengobrol di bandara sambil menunggu jadual keberangkatan. Karena saya tahu dia orang yang berkecimpung dengan pendidikan setiap harinya...saya pancing dengan pertanyaan "pak kok nggak mendirikan yayasan untuk buat sekolahan" Teman saya itu menjawab "wah pak kalau saya mau bikin sekolahan saya tidak mau sekolahan saya itu menjadi ajang bisnis dan semata-mata untuk mencari keuntungan seperti kebanyakan sekolahan" Waduh aku jadi menduga duga apa iya mayoritas orientasi nya kesana melulu sih ? Tetapi saya biarkan fikiran saya bermain main... mungkin juga ya ... karena kerjaan temen tersebut di diknas jadi mungkin tahu betul kenyataan di lapangan ketimbang saya yang banyak menduga duga.

Yang jelas saya sangat sependapat bahwa untuk memajukan pendidikan kita mungkin harus fokus meningkatkan kesejahteraan guru dulu baru ngomong kualitas lulusan. Kalau kita kerja dengan perut yang tidak lapar kan enak ya....tapi jangan di jawab yah puasa dong kalau tidak punya duit he..he... Jadi guru guru bisa fokus sehingga dalam mempersiapkan bahan ajar pun benar benar prima dan otomatis murid senang dan kreativitas terbangun dengan sendirinya. Kalau sudah begitu biarlah rakyat yang menilai sendiri ....berhasil tidaknya pembangunan pendidikan negara ini.

No comments: