Wednesday, October 11, 2006

good governance and kemacetan LL

Sewaktu berangkat kerja saya sangat sering geleng-geleng kepala karena heran dengan tingkah laku anak bangsa ini. Budaya bangsa kita yang tidak bisa bersabar untuk antri sudah menjadi buah bibir tetapi anehnya ketika hidup di negara lain mereka bisa bersabar. Mengapa ? mungkin karena selain malu karena lingkungannya yang berbeda dan aparatnya mungkin tidak bisa disogok dan juga law enforcement dari penegak hukumnya ok punya. Di negara ini sangat berbeda dalam manajemen transportasinya, mulai dari bus tua dengan asap yang mengepul hitam sampai dengan jalannya yang banyak lubangnya apalagi ketika musim hujan datang waduh...gak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh. Hal lain yang menarik para pengguna jalan yang katanya orang modern tidak mengindahkan etika dijalanan mulai dari tidak menaati rambu-rambu lalu lintas sampai dengan memfungsikan semua panel dari kendaraan bermotornya dengan baik dan benar misal bila ingin belok ke kiri atau ke kanan berikanlah tanda/sign bukan terus belok sak enak udelnya terutama bagi kendaraan yang mewah-mewah itu seperti BMW, Mercy, Camry, Jaguar dan lainnya.
Saya sempat merenung dan mengamati apa yang keliru dari bangsa ini sebenarnya kita tahukan kalau di negara ini musim itu adalah musim kemarau dan musim hujan. Tapi yang terjadi...adalah bila musim kemarau kita selalu kekeringan dan bila musim hujan kita selalu kebanjiran. Khusus untuk musim hujan milyaran dana sudah digelontorkan tetapi apa yang terjadi baru hujan 10 menit sudah jadi kubangan. Apa yang salah? Rencana tata kota atau sistim drainasenya? Yang jelas memang rencana tata kota itu tidak pernah dipublikasikan dan informasi itu hanya untuk kalangan tertentu sehingga yang mengetahui informasi tersebut dapat menuai keuntungan dalam tanda petik.

Kalau musim hujan kemacetan tambah menjadi dan banyak korban karena hujan, ada yang tersengat listrik, hanyut terbawa arus, sampai tertimpa pohon di pinggir jalan raya. Wah banyak sudah deretan peristiwa kesedihan anak negeri ini. Kalau musim kemarau sudah bisa dipastikan banyak terjadi kebakaran hutan, produksi asap meningkat dan korban berjatuhan terutama yang menggunakan lalu lintas udara. Banyak penerbangan di tunda sampai waktu yang tidak jelas sehingga membuat para pengguna jasa penerbangan bingung. Bingung karena informasinya gak jelas. Apa yang harus dilakukan pemerintah dan rakyatnya ? Pemerintah semestinya sudah memikirkan hal ini dengan melihat kondisi alam negara ini yang berada pada posisi negara tropis sehingga dalam membangun jalan semestinya perlu dipertimbangkan untung ruginya dari sisi konstruksi dengan kondisi musim. Kalau alasan tidak ada dana karena untuk membangun jalan yang kuat dan permanen ...wah keliru itu bukankah kita hobi ngutang? Dan bukankah banyak negara pendonor yang berbaik hati ngutangin kita ? Untuk rakyat nya yah..taatlah membayar pajak karena 73% pendapatan negara ini diperoleh dari pajak-pajak yang dipungut. Hanya saja tidak pernah transparan penggunaannya untuk bidang apa saja sementara rakyatnya juga selalu masa bodoh karena mungkin sudah capek ya? Sempat saya berfikir walaupun presidennya setingkat wali tapi kalau tidak pernah tegas menindak orang disekelilingnya yang jelas-jelas menggerogoti negara maka negara yang kata mbah-mbah saya pendiri republik ini akan menjadi "negara yang adil makmur dan sejahtera". Saya selalu bertanya KAPAN ? Sudah bosan selalu dijanjikan bagaimana mau maju...kalau antri tertib saja tidak bisa.
Masalah kedisiplinan ini sempat terjadi diskusi menarik...karena secara pribadi saya tetap merekomendasikan wajib militer bagi pemuda-pemuda harapan bangsa walaupun itu selalu menjadi polemik tetapi berkaca dari pengalaman negara tetangga yang katanya lebih baik dan lebih maju kita perlu mempertimbangkannya. Diskusi menarik terjadi sewaktu saya sharing dengan teman-teman mahasiswa dengan wacana wajib militer. Ada teman mahasiswa yang berpendapat bahwa di negara T itu wamil mau dihapuskan. Lantas saya bertanya berapa lama negara T itu sudah melakukan wamil ? Di jawab sama temen mahasiswa 15 tahun. Nah, dari sini saja kita sudah melihat bahwa dengan 15 tahun memberlakukan wamil secara konsisten negara yang kecil ini bisa baik dan budaya malunya terbentuk. Bayangkan kalau negara kita memberlakukan wamil 15 tahun apa jadinya? Saya tidak bisa membayangkan pada tahun 2021 nanti bagaimana jadinya negara ini dengan catatan wamilnya betul-betul diterapkan dan pemerintahnya berani menindak tegas para penyeleweng.

Wah mungkin lalu lintasnya sudah tertib, bus-busnya sudah baru dan mematuhi standar emisi gas buang (walaupun masih beli dari hasil utang), korupsi bisa ditekan sampai titik terendah dibawah 3% dan pendidikannya sudah maju karena biaya pendidikan murah dan berkualitas (bukan murah tapi jembret), anak bangsa ini semakin diperhitungkan di kancah dunia. Wah saya tidak bisa membayangkan kalau negara ini seperti itu...mudah-mudahan saya diberi umur panjang dan sempat menikmati zaman seperti itu. Tetapi kalau sampai saya di panggil sama yang 'ngecet' lombok negara ini tetap begini-begini aja wah...sumpah saya sumpahin itu pemimpinnya tidak mencium bau surga .... walaupun memang membuat perubahan itu tidak segampang membalikkan telapak tangan tapi saat ini memmang diperlukan pemimpin yang memeiliki keberanian. Berani untuk dimusuhi, berani untuk di cerca dan berani untuk diturunkan lawan politik yang tidak suka dengan kebijakan berantas korupsinya.

Yah...mudah-mudahan saja kedepan bangsa ini bisa lebih baik lagi...semoga...amiin

No comments: